MTMH (My Teacher My Husband)

MTMH (My Teacher My Husband)
BAB 12


__ADS_3

Saat ini Dini sudah berada di halte depan sekolah untuk menunggu kendaraan umum. Dari sebrang terlihat seorang pemuda dengan menaiki motornya medekat ke arah Dini.


Ya pemuda itu tidak lain adalah Rendi. Rendi masih tetap ingin berteman dengan Dini, meskipun Dini telah berstatus istri orang.


Motor Rendi berhenti di depan Dini. Dini yang awalnya hanya fokus dengan ponselnya, menjadi risih karena kemunculan Rendi. Kenapa juga Rendi tidak mau menjauh darinya. Meski sudah dikatakan berkali-kali agar menjauh dari hidupnya, tapi Rendi tetaplah Rendi si cowok tengil dan keras kepala.


"Ck, mau apalagi sih? Udah sana pulang gue nggak akan pulang bareng lo!" Decak Dini karena merasa kesal dengan Rendi.


"Gue datang sebagai sahabat lo, Ran." Rendi turun dari motornya dan menghampiri Dini yang sedang duduk di kursi halte.


"Gue 'kan ud--"


Ucapan Dini terputus karena ia melihat mobil Zaviir berhenti didekatnya. Zaviir turun dari mobil kemudian mendekat ke arah Dini dan Rendi. Dini segera berdiri karena ia tidak mau sampai Zaviir salah faham.


Tanpa diduga, Zaviir merangkul pinggang Dini mesra.


"Hei, kok di sini sih? Kan aku bilang tungguin bentar ada laporan dulu sama Kepala Sekolah. Malah nunggu di sini, ayo kita pulang!" ajak Zaviir dengan nada sangat lembut dan wajah yang berseri.


"Sorry, ya! Saya mau membawa pulang Istri saya!" Zaviir berucap kepada Rendi dengan menekankan kata 'Istri' lantas berlalu meninggalkan Rendi sendirian.


"Kenapa lo diem aja? Kesel? Karena keganggu lagi pacaran?" Petanyaan beruntun Zaviir lontarkan kepada Dini saat mereka berada di dalam mobil.


"Siapa yang pacaran? Orang gue enggak pernah punya pacar," ketus Dini.


"Haha... ternyata lo juga cewek enggak laku. Mana ngatain gue dulu lagi," ledek Zaviir tanpa henti ia tertawa.


"Sesama nggak laku 'gak usah saling ngatain!" peringat Dini.


Zaviir tidak hentinya meledek Dini disepanjang perjalanan, membuat Dini semakin jengkel dibuatnya.


Sesampainya di rumah Dini masih saja cemberut, karena sepanjang perjalanan Zaviir tidak hentinya mengganggu Dini. Entah kenapa melihat Dini mencak-mencak seperti itu menjadi kesenangan baru buat Zaviir.


"Kalian udah pulang!" sapa Ziva saat keduanya tiba di rumahnya, "itu Dini kenapa? Kok murem gitu?" tanyanya.


"Galau, Ma. Enggak jadi diantar pulang cowoknya," celetuk Zaviir yang mendapat plototan dari Dini.


"Cowoknya?" tanya Ziva dengan alis berkerut.


"Eh. Enggak, Ma boong. Apaan sih nuduh-nuduh kayak gitu. Nyebelin!" Setelah menyalami Ziva, Dini pun meninggalkan keduanya. Ia berjalan menuju lantai dua.


"Ya udah, Ma. Zaviir ke kamar dulu."


"Ya. Kamu jangan gangguin Dini dong, Vir. Kasian dia!" ujar Ziva.


"Iya, Ma." Zaviir pun ikut menyusul istrinya ke kamar di lantai dua.


Saat di dalam kamar Zaviir tidak menemukan keberadaan istrinya. Tapi terdengar suara gemercik air, dan ia yakin kalau istrinya itu ada di kamar mandi.


Setelah melepas sepatunya, Zaviir rebahan di atas kasur king sizenya. Ia menunggu Dini untuk bergantian ke kamar mandi. Karena saking capenya ia pun tertidur.

__ADS_1


Dini yang lupa membawa pakaian ganti ke dalam, terpaksa ia keluar hanya dengan balutan handuk. Sebelum ia ke luar, ia mengintip dulu apakah ada Zaviir atau tidak.


'Aman, dia lagi tidur.' gumamnya dalam hati. Perlahan Dini mengendap-endap menuju ruang ganti. Belum juga sampai ia sudah dikagetkan dengan suara deheman.


"Ehm..."


Mata Dini membola ia berbalik dan melihat Zaviir sedang duduk di atas kasur. Zaviir yang melihat Dini hanya berbalut handuk yang hanya menutupi bagian tengahnya, menelan saliva berkali-kali. Pemandangan di depan sana membuat fikirannya melayang entah kemana.


Dini yang sadar segara berlari menuju walk-in closet. Dengan perasaan campur aduk.


"Duh, si al. Kok dia malah bangun sih. Kan malu gue lagi kayak gini, mana dia ngeliatin gue mulu. Ih nyebelin," gerutu Dini.


_________


Dini merasa canggung duduk di dekat Zaviir, secara tidak langsung Zaviir sudah melihat bagian-bagian tertentu dari dirinya.


Keduanya tidak ada yang saling bicara, membuat kedua mertuanyanya mengerutkan kening. Sebenarnya bukan hanya Dini yang merasa canggung, tetapi Zaviir juga merasakan hal sama.


Bahkan dalam fikirannya masih teringat kala pakaian Dini yang basah saat di sekolah. Juga saat tadi di dalam kamar.


"Kalian kenapa sih? Lagi marahan?" tanya Ziva kemudian.


"E-enggak. Ya 'kan Din?" jawab Zaviir mengkode Dini dengan menyenggol kakinya.


"Ah, i-iya Ma. Kita nggak marahan kok," sambung Dini.


"Kirain, masa baru nikah, pengantin baru udah marahan aja." tutur Ziva.


"Hehe iya ya, duh Mama suka nonton sinetron jadi bayangannya kejauhan," aku Ziva.


"Makanya Mam, jangan keseringan nonton drama ikan terbang, jadi gini kan? Untung nya Mama enggak kayak mertua yang ada di sana, penuh drama." Zaviir menyahuti.


"Kok kamu juga tau, cerita yang mertuanya galak sama menantunya?" tanya Ziva.


"Ya tau lah orang Mama tiap hari nonton itu, mana volumenya kenceng banget lagi. Belom lagi kalo ada adegan menjengkelkan, Mama suka uring-uringan sendiri," jawab Zaviir.


"Iya mana kalau udah nonton cerita yang suaminya selingkuh. Papa ni ya, yang enggak tau apa-apa, pulang kerja langsung di cecar pertanyaan. Udah gitu di cemburuin, dan berakhir Papa tidur di kamar tamu." Revan menjelaskan dengan gamblang kelakuan istrinya di depan menantunya.


Dini yang mendengarkan hanya bisa menahan senyum, sedangkan Ziva ia merenggut karena anak dan suaminya berkompromi membuka kartu di depan menantu yang baru beberapa hari itu.


"Kalian ya, Anak sama Bapak sama sama saja." Ziva memberenggut.


Zaviir dan Revan tidak kuasa menahan tawa, hingga tawa Zaviir terhenti karena senggolan dan plototan dari Dini.


Tapi meski begitu Dini tetap tersenyum melihat kebersamaan keluarga ini, kekocakan dan hal-hal receh membuat ia merasa bahagia. Ternyata mertuanya tidak seburuk yang ia bayangkan.


Setelah makan malam kini pasangan muda itu tengah berada di kamar. Dini sedang sibuk mengarjakan PR.


"Napa sih lo? Misuh-misuh enggak jelas gitu," ucap Zaviir.

__ADS_1


"Shtt... diem gue lagi fokus nih ngejain tugas Matematian," jawan Dini asal.


"Matematika!" ralat Zaviir.


"Serah deh, pokoknya gue lagi pusyiing. Mana ini soal susah banget lagi," gerutu Dini.


Zaviir mendekat ke arah Dini, ia mencondongkan badannya di samping Dini. Tanpa di duga Dini pun menolah, sontah kedua hidungnya bertabrakan.


Deg deg. Deg deg


Untuk beberapa saat tatapanya terkunci, hingga Dini memutuskan kontaknya.


"Astagfirullah, apaan sih deket-deket. Sana-sana jauhan." Dini mengibas-ngibaskan tangannya di depan Zaviir.


"Gue mau bantuin elo, kalo enggak mau yaudah."


"Iya bantuin sih bantuin, tapi kagak deket kayak gitu juga kalee. Cari kesempatan aja sih om-om," umpat Dini.


"Siapa cari kesempatan sih, GR. Ya udah mau enggak dibantuin. Kalo nggak mau ya udah," ucap Zayyad sambil beranjak.


"E e eh, tunggu. Iya aku mau dibantuin." Dini maraih tangan Zaviir yang hendak pergi.


"Cie cie pegang-pegang," goda Zaviir saat melihat tangannya dicekal oleh Dini. Sebenarnya ia gugup hanya saja ia mengalihkan perhatiannya.


"Ish, apaan sih." Dini menepiskan tangan Zaviir.


"Geseran dikit, sini mana liat PR-nya!" Dini menggeser duduknya, jadilah ia duduk satu kursi berdua dengan Zaviir.


Hal itu membuat Dini tidak nyaman dengan jantungnya. Bukan hanya itu, Zaviir mendekatkan wajahnya untuk melihat soal di buku tulisnya. Bahkan hembusan nafasnya yang wangi mint itu terhirup di indra penciumannya. Bau parfum maskulin yang memabukan membuat Dini hampir saja kehilangan akalnya.


"Ngerti nggak?" tanya Zaviir tina-tiba.


"Hah? Apanya?" Dini terbengong.


"Jadi kamu tidak nyimak? Terus dari tadi yang kamu perhatiin itu apa? Wajah tampan saya?" tanya Zaviir dengan percaya dirinya.


"E-enggak. Jangan dijelasin lah, pusing kepalaku. Langsung aja kasih jawabannya. Simpel kan?"


"Ya enggak gitu dong. Kalo gue langsung kasih tau jawaban. Lo enggak bakalan mikir, terus kalo pas ulangan atau ujian nemu soal ini lo mau apa?"


'Benar juga sih' akhirnya setelah berulang-ulang Zaviir menjelaskan Dini sedikit mengerti, hanya sedikit saja. Selebihnya ia mulai menguap dan menjatuhkan kepalanya, jika saja tidak segera ditahan oleh Zaviir mungkin akan tersungkur ke bawah.


"Ck dasar, malah tidur. Dasar kebo!" Zaviir mengangkat tubuh Dini dan membaringkannya di atas tempat tidur lalu menyelimuti gadis itu hingga sebatas dada.


Gadis bar-bar ini kalo lagi tidur terlihat imut juga, sayang kalo lagi bangun selalu saja ada tingkah yang menjengkelkan.


Zaviir membereskan alat tulis Dini yang masih berserakan di atas meja. Dia menyimpannya di atas tumpukan buku lainnya. Tanpa sengaja ia menyenggol sebuah buku kecil yang terselip diantaranya.


Buk.

__ADS_1


Zaviir meraih buku tersebut, terlihat dari sampulnya itu adalah buku diary. Ada rasa ingin tau apa saja yang Dini tulis di dalamnya. Tapi ia urungkan mengingat hal itu adalah privasi, ia hanya mengambil dan menyimpannya kembali di tempat semula. Setelah itu Zaviir mengambil bantal dan selimut lalu merebshkan diri di Sofa.


__ADS_2