MTMH (My Teacher My Husband)

MTMH (My Teacher My Husband)
BAB 2


__ADS_3

Kekesalan Dini pagi hari sepertinya tidak akan berakhir. Karna lelaki yang hampir menabraknya tadi pagi kini ada di hadapannya. Dan sial nya lelaki itu malah menjadi gurunya.


Mood Dini menjadi buruk. Yang dikira ia akan senang karna mata pelajaran Biologi adalah paforit nya. berhubung guru nya yang membuat kesal, membuat Dini tak berminat untuk belajar.


"Hei... kamu!" Panggil Zaviir sambil menujuk ke arah Dini.


Dini yang merasa terpanggil mendongkakkan wajahnya. Sambil celingukan melihat sekeliling, takut- takut salah manggil. Tapi tatapan semua siswa tertuju padanya. Kemudian kembali melihat ke arah Zaviir dengan menujuk dirinya sendiri.


"Sa--saya pak?" tanya Dini kemudian.


"Iya, kamu cepat sini!"


dengan berat hati Dini melangkah kedepan dengan langkah gontai.


"Jelaskan apa yang saya terangkan tadi di hadapan teman-teman kamu!" ucap Zaviir.


"Hah? Yang mana, Pak?" tanya Dini dengan menggaruk keningnya.


"Jadi dari tadi kamu tidak mendengarkan, hah?" sergahnya.


Zaviir belum menjelaskan apapun tentang tema hari ini, selain ia baru berkenalan saja. Tetapi karena Dini tertidur di kelas membuatnya merasa tidak dihargai sebagai seorang Guru.


Dia sudah memikirkan bagaimana cara memberi pelajaran kepada murid ceroboh seperti Dini, karena ia ingat bahwa gadis ini yang tadi pagi hampir saja ia tabrak karena tidak memperhatikan halan dengan baik.


Lihat saja hukuman apa yang akan aku berikan kepada gadis ceroboh seperti dia,


"Kenapa kamu tidur di jam ngajar saya? Ini hari pertama saya mengajar saya di sambut dengan seorang siswi tertidur di kelas!" ucap Zaviir.


"Ma'af, Pak. Saya tidak sengaja, tadi itu saya ngantuk sekali. Tanpa sadar tertidur deh," jelas Dini.


"Saya tidak suka jika saat jam pelajaran saya berlangsung itu terganggu dengan hal-hal seperti ini. Jadi kamu sekarang boleh mengikuti pelajaran, tapi sepulang sekolah kamu keruangan saya untuk menerima hukuman," ujar Zaviir.


"Yah, Pak. Nggak usah dihukum napa? Kita damai aja ya? piiis!" Dini menunjukan dua jari telunjuk dan tengah berbentuk hutuf V untyk mengajak damal.


"Tidak ada toleransi, sekarang kembali ke bangkumu!"


Dini mendengus kesal melihat sikaf Guru barunya yang menurutnya menjengkelkan itu.


***


Di sinilah di ruang 6 meter persegi Dini berada, ia sedang bersama Guru barunya. Karena tidak memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan, membuat Dini tidak bisa pulang seperti teman-temanya.


Dini mendapat tugas tambahan dari Zaviir, dia mengerjakan 30 soal esai yang harus segera di selesaikan. Tidak hanya soal, Dini juga di haruskan menulis kalimat 'saya tidak akan tidur lagi di kelas' sebanyak 100 kalimat.


Waktu sudah menunjukan pukul 17.30 Dini baru menyelesaikan tugasnya yang sangat membago__kan. Ia meregangkan otot-ototnya, kemudian menyerahkan tugas yang ia kerjakan.

__ADS_1


"Ini Pak, tugasnya udah selesai," ucapan Dini tidak dihiraukan. Zaviir masih asyik dengan ponselnya, ia sedang bermain game.


'Jiir, gue sibuk ngerjain tugas. Dia malah asik maen game, dasar Guru rese,' gumamnya pelan.


"Ngomong apa kamu?" tanya Zaviir. Ia meletakan ponselnya di meja, kemedian berjalan mendekat bahkan dia mencondongkan wajahnya kehadapan Dini.


"Coba ulang!" ujar Zaviir tegas.


"Hehe... nggak, Pak." Dini cengengesan sambil geleng kepala.


"Ulangi sekali lagi!" serunya lagi.


"Bapak ganteng," jawab Dini sambil senyum terpaksa.


"Oh, jelas dong. Kamu baru tau?" dengan PD-nya Zaviir menjawab, ia mengerakan kerahnya dengan bangga.


"Tapi sayang ... nggak laku," ejek Dini dengan entengnya.


Zaviir melotot tajam, "kamu.!!" tunjuk Zaviir.


Dini tertawa dan kemudian ia mengambil tasnya, secepat kilat ia lari dan membuka pintu.


Bruk..


Duk..


"Hahaha..." Tawa Zaviir pecah melihat Dini terjatuh, ia terpeleset saat hendak membuka pintu.


"Ish, malah ngetawain lagi," gerutu Dini.


"Ya itu karma buat kamu, karna udah ngatain saya," Zaviir masih belum berhenti tertawa, dia sampai memegangi perutnya karena merasa geli dengan tingkah Dini.


"Pak, bantuin napa. Kaki saya sakit ini," rajuk Dini


Dini berusaha bangkit, tapi ia kesakitan karena mungkin kakinya keseleo.


"Ya ya ya, saya bantu. hahaha..."


Zaviir berusah menolong Dini, ia menarik Dini untuk berdiri. Tapi karena kakinya terkilir ia jadi tidak bisa berjalan.


"Sini, biar saya gendong!" ujar Zaviir dengan segera menggendong Dini.


"Eh, Pak. Jangan!" ucapan Dini tidak di hiraukan. Zaviir tetap menggendong Dini dan membawanya keluar.


Setelh tiba di luar ruangan mereka di kejutkan dengan terdengarnya suara yang berteriak dengan lantang.

__ADS_1


"Zaviir...."


"Pak Zaviir...."


Zaviir menengok ke belakang. Dia melihat Pak Kepala Sekolah beserta papanya sudah berada di sana.


"Apa yang kamu lakukan, hah?" tanya Revan, Papa Zaviir. Sekaligus ketua Yayasan SMA CAHAYA HARAPAN.


Zaviir baru sadar bahwa ia sedang menggendong muridnya, Dini pun berusaha turun dari gendongan.


"Kita-kita ... nggak ngapa-ngapain, Pah." Zaviir menjawab dengan gugup.


"Nggak apa-apa, apanya? Kalian ... itu ... astagfirullah!" Pak Revan memalingkan wajahnya.


"Astagfirullah!" Pak Danu selaku Kepala Sekolah juga tidak kalah terkejut melihat penampilan Dini. Rambut sedikit berantakan dan ... satu kancing kemeja atasnya terbuka.


Zaviir dan Dini yang keheranan melirik ke arah pandang, tepatnya dibagian depan Dini.


"Akh... Ya Allah!" Dengan sigap Dini menutup bagian dadanya yang sedikit terekspos. Dini menggeleng-gelengkan kepala.


"Sumpah, Pak. Kami tidak melakukan apa-apa," Dini berusaha meyakinkan semua orang.


"Kalo nggak ngapa-ngapain, kenapa kalian keluar dari ruangan berdua saja. Dalam keadaan seperti ini, ditambah ini sudah petang tidak selayaknya seorang siswi baru pulang," ujar Pak Revan.


"Zaviir, begini kelakuan kamu dihari pertama kamu mengajar. Kamu sedah memberi contoh tidak baik, apalagi kamu bersama murid sendiri," lanjutnya menatap Zaviir.


"Pah, percaya sama aku. Aku nggak melakukan hal buruk, Pah." Penjelasan Zaviir seakan tidak ada pengaruhnya buat papanya. Meski keduanya terus mengelak, bahwa mereka tidak melakukan hal yang bukan-bukan.


"Papa tidak mau dengar, yang jelas kamu sudah salah. Ini bukan jam belajar lagi, tapi kamu membawa siswi masuk ruangan dan keluar pada jam petang." Revan merasa kecewa juga dengan Zaviir yang menurutnya ini salah.


"Tapi, Pah-"


"Cukup Zaviir, jangan beralasan lagi. Papa nggak mau tau, sekarang kita temui orang tuanya. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu." ucapan Zaviir tidak diindahkan oleh papanya.


"Pak, mohon dengarkan saya! Ini salah paham, Pak. Hiks...hiks..." Dini terisak.


"Ma'af siapa-" Revan menunjuk Dini.


"Dini, Pak." jawab Dini.


"Ya, Dini. Tidak ada saksi mata kalian ngapain saja di dalam. Jadi, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Bawa saya temui orangtuamu," ucapan Pak Revan seperti mandat yang tidak bisa di tolak lagi.


"Apa Pak?!" tanya Dini.


"Pa, mau ngapain ketemu orantuanya Dini, Pa?" tanya Zaviir.

__ADS_1


"Ya apalagi? Untuk mempertanggung jawabkan kelaukan kamu!" jawab Revan.


"Tanggung jawab apa si, Pa? Pa, Pa,!!" Zaviir memanggil-manggil papanya namun tidak di hiraukan.


__ADS_2