
Malam ini Dini mendapat giliran tidur di kasur king size milik Zaviir. Serasa mimpi bisa tidur di kasur yang sangat empuk dan besar.
Dini sangat nyaman sekali tidur di sana, lain halnya dengan Zaviir. Ia tidak biasa tidur di sofa, ia tidak bisa nyenyak. Berguling sana guling sini mencari kenyamanan namun tidak juga ditemukan. Hingga akhirnya ia terjatuh dari atas sofa.
"Aduh, aws...," ringisnya.
"Gil4, tuh cewek. Anteng aja dia tidur nyenyak kayak gitu. Gue nih badan gue pegel-pegel," runtuknya kepada Dini. Ia memperhatikan Dini yang sedang tidur dengan nyenyaknya.
"Ni cewek, kalo lagi tidur cantik juga ya. Hidungnya mancung, bibirnya ... se×1, beuh bikin gue jadi kepengen-- ish, apaan sih otak gue udah terkontaminasi deh kayaknya." Zaviir terus bermonolog.
Suara dering alarm dari Handphone Dini membangunkan dia dari tidurnya. Ia meraba-raba Handphone yang semalam ia taruh di kasur sebelahnya.
Namun, buka Handphone yang dia temukan melainkan sebuah guling. Ya guling yang bisa berjalan. Dini membuka matanya betala kagetnya Zaviir sudah berada di sampingnya.
"Aaa...,"
Bug.
Bruk.
"Aww...sh..."
Dini menendang keras Zaviir hingga ia terjatuh ke lantai.
"Gi la lo, ngapain tendang gue 3ge?!" maki Zaviir.
"Ya om, ngapain tidur sini. Ini jatah gue tidur di kasur ya!" balas Dini.
"Kasur gue, kamar gue. Mau tidur dimana terserah gue. Lo masalah hah?" tantangnya.
"Oh masalah buanget. Om udah ngelanggar janji,"
"Gue nggak pernag bikin janji sama lo. Itu kan keinginan elo,"
"Dasar Om Om keras kepala!" umpat Dini.
"Heh, dasar bocah tengik!" Zaviir tidak kalah mengejek. Jadilah pagi ini mereka berperang dengan saling ejek.
Pagi ini seperti biasa mereka semua sarapan bersama sebelum memulai aktifitas masing-masing. Ziva yang melihat putranya berjalan dengan sesekali memegang punggung dan pinggangnya merasa heran.
"Kamu kenapa, Za?" tanya Ziva.
"Enggak, Ma. Cuma pegel-pegel aja," jawab Zaviir.
Ziva mengulum senyum mendengar jawaban anaknya.
"Makanya, jangan diporsir banget lah. Toh Dini masih sekolah," ujar Ziva.
"Maksud nya apa? Aku nggak nggak
Ngerti, Ma." Zaviir mengambil roti dan mengoleskan selai.
"Ya Dininya jangan digempur terus lah, kasih istirahat. Kan kamunya cape juga kan?"
__ADS_1
Uhuk uhuk.
Dini yang baru saja meneguk air minum jadi tersedak, setelah tau arah pembicaraan Mama mertuanya.
"Apaan sih Mama. Ngaur deh kalo ngomong," kesal Zaviir.
"Kita itu nggak--" ucapan Zaviir terputus kala Handphone papanya berbunyi.
"Hallo!"
...
"Iya, baiklah!"
Telephone terputus.
"Za, kamu ada jadwal ngajar jam berapa?" tanya Revan.
"Jam ketiga sih, Pa. Kenapa emang?"
"Papa ada meeting sama klien dari jepang. Temenin Papa ya, buat jadi translate." pinta papanya.
"Emang dia nggak bisa bahasa inggris apa?"
"Bisa tapi katanya kurang fasih. Jadi dia lebih leluasa menggunakan bahasa jepang. Sekalian juga lah kamu tau sedikit-sedikit tentang perusahaan." tukasnya.
Zaviir hanya manggut mengiyakan permintaan papanya.
Seperti hari kemarin, Dini berangkat dengan angkutan umum. Meski Ziva memaksa Dini setidaknya di antar supir, tapi Dini tetap menolak. Sedangkan Zaviir berangkat bareng papanya. Karena akan ikut meeting dengan kliennya.
Teman-teman dari kedua kelas itu sudah memenuhi tribun untuk menyaksikan pertandingan. Pertandingan berjalan dengan sangat sengit, karena dari kedua kubu semuanya jago dalam permainan.
Namun pada akhirnya tim Dini memenangkan pertandingan. Mereka melakukan selebrasi karena mampu mengalahkan tim dari Fira. Lea dan Nita menunjukan jempol yang di balik ke arah tim Fira, sedangkan Dini hanya memberi tatapan mengejek.
"Si al, kenapa gue bisa kalah sama mereka. Gue nggak terima dipermalukan kayak gini. Awas aja lo ya! Gue akan bales elo!" umpat Fira.
"Hebat lo Din. Lo bisa ngalahin tu si pampir," tutur Wahyu.
"Dini githu! Di lawan" sambung Lea.
"Si Fira pake ngelawan juara 1 Volly tingkat SMP ygy," timpal Nita.
"Yoyoy," jawab Wahyu dan Lea.
Dini tidak menanggapi ia hanya menggeleng dengan tersenyum. Kemudian melenggang memasuki kantin, karena sudah jam istirahat.
Setelah dari kantin Dini dan teman-temanya pergi ke toilet untuk berganti pakaian.
Seseorang telah mengawasi gerak-gerik mereka. Tepat saat Dini keluar dari toilet, Dini dikagetkan dengan seember berisi cairan yang kotor dan bau yang menyengat disiramkan tepat di depan muka oleh Fira.
Dini yang kaget merasa geram dengan perlakuan Fira.
"Fira, kurang aj4r lo!"
__ADS_1
Dini menghampiri Fira lalu ...
Plak.
Dini menampar keras pipi Fira hingga membuatnya menoleh, fira merasakn panas di pipinya yang memerah.
"Si alan!" Fira menjambak rambut Dini. Dini meringis tapi ia tidak tinggal dia. Ia pun menjambak balik Fira, dan terjadilah jambak menjambak hingga suara bariton menghentikan aksi mereka.
"Berhenti!!"
Suara bariton menghentikan aksi keduanya yang tengah saling jambak.
"Pak Zaviir!" lirik keduanya.
"Apa-apaan kalian ini?! Ini sekolah, enggak malu hah?! Kalian berdua ikut saya!" perintahnya.
Dini dan Fira mengikuti Zaviir, meski dalam perjalanan mereka terus saling ejek. Zaviir membawa keduanya ke hadapan guru BK.
"Ada apa ini?" tanya Bu Ratih.
"Mereka sok jago, mau jadi preman!" jawab Zaviir sembari bersedekap dad4.
"Siapa yang mulai? Dan kamu Dini kenapa basah kuyup begitu? Bau lagi," tanya Bu Ratih dengan menutup hidung.
"Dia yang mulai!" tunjuk Fira.
"Enak aja, dia Bu yang mulai duluan!" Dini tidak terima mendapat tuduhan seperti itu.
"Cukup! Dini kamu duluan!" pinta Bu Ratih.
"Gini, Bu. Saya baru keluar dari toilet tiba-tiba dia siram saya pake air comberan," jelas Dini.
"Fira! Kenapa kamu seperti itu? Kamu kakak kelas tidak memberi contoh baik," tegur Bu Ratih.
"Ma'af Bu. Tapi dia juga tadi duluan nampar saya, Bu," akunya.
"Ya karena lo siram gue duluan!" Dini melotot dan menunjuk Fira.
"Kalian bisa diem nggak sih?! Fira kenapa kamu sengaja siram Dini dengan air kotor?!" Bu Ratih menatap tajam kepada Fira. Tetapi Fira tidak bergeming.
"Karena tim dia kalah sama tim saya saat bertanding Volly, Bu!" Dini menjawab dengan tegas.
"Fira, Fira. Kamu ini enggak suportif banget sih! Karena kalian berantem dan untuk memberi efek jera, jadi Kalian berdua Ibu hukum! Bersihkan toilet sekolah!"
"Apa?!" sahut kedunya.
"Bu, kok saya juga kena hukum. Kan si Fira yang salah!" Dini protes kepada Bu Ratih.
"Ya karena kalian sama-sama berantem. Biar adil!" tegas Bu Ratih.
"Tunggu Bu Ratih! Kalau mereka dihukum di tempat yang sama, tidak menutup kemungkinan mereka akan kembali gelud. Jadi biar saya yang beri hukuman yang setimpal untuk Dini." Zaviir yang dari tadi hanya menyimak pun ikut bicara.
Dini membulatkan matanya, 'dia mau hukum gue dengan cara apa ya? Duh gue jadi deg-degan.' Dini membatin
__ADS_1
"Boleh deh Pak. Silahkan!"
Setelah mendapat izin dari Bu Ratih Zaviir membawa Dini untuk menerima hukuman. Sedangkan Fira digiring Bu Ratih menuju toilet sekolah.