
Wuiiii..
Wwuuiii…
Suara ambulan terdengar di tengah malam. Membuat seisi komplek perumahan terbangun dan berlarian keluar rumah untuk memastikan kemana ambulan itu akan mengantarkan jenazah yang dibawanya.
"Astaghfirullah, kenapa suara itu makin dekat ke rumah?"
Gadis bermata kecoklatan itu juga terbangun, dia pun segera memakai jilbab sorongnya dan juga mengikatkan tali kain penutup wajahnya. Lalu dengan cepat dia melangkah ke luar rumah.
Wuiiii…
Wwwuuuiiiii…
Suara sirene itu makin dekat ke rumah gadis bercadar itu. Sehingga membuatnya makin khawatir.
"Ayah, bunda. Ya Allah lindungi kedua orangtuaku dimanapun mereka berada. Aamiin." Dia berdoa untuk keselamatan kedua orangtua-nya.
Namun, sepertinya doanya tidak terkabul kali ini. Karena nyatanya mobil ambulan itu berhenti tepat di depan rumahnya. Dibelakang mobil itu warga komplek mengekor dan mereka saling berbisik begitu ambulan berhenti tepat di depan rumah gadis bercadar itu.
Seseorang keluar dari ambulan. Dia adalah paman dari gadis bercadar itu.
"Paman, apa yang terjadi?" Tanya Gadis itu menghampiri pamannya.
__ADS_1
Laki laki itu tidak menjawab, dia langsung memeluk keponakannya itu dan dia menangis.
"Ayah sama bunda-mu, Ima. Mereka telah meninggal."
"Apa!! Tidak. Paman berbohong, kan?" Gadis bernama Ima itu menjauhkan diri dari pamannya. Dia melihat petugas mengeluarkan dua jenazah dari dalam ambulan.
"BUNDA… AYAH…" Pekiknya histeris.
Ima menghampiri tubuh kaku kedua orangtuanya. Dipeluk dan diciumnya bergantian wajah kedua orangtuanya yang masih berlumur darah itu.
"Kenapa kalian meninggalkan Ima sendirian.." Jeritnya histeris. Kain cadarnya sudah sangat basah oleh air matanya.
Warga mendekat, ada yang memeluk Ima dan yang lain membawa kedua jenazah masuk ke rumah duka.
Ima semakin menangis dan lama kelamaan dia jatuh pingsan.
"Dek Ima! Mas, pak.. tolong, dek Ima pingsan." Teriak ibu itu.
Segera saja beberapa orang membantu membawa tubuh Ima masuk ke rumahnya. Ima dibaringkan di kamarnya atas perintah pamannya.
Sementara, para warga mulai membaca surah yaasin, ada juga yang menggelar karpet di ruang tengah itu dimana kedua jenazah terbaring kaku tak bernyawa. Dan karena kedua tubuh korban dipenuhi darah, pak ustad menyarankan untuk membersihkan tubuh jenazah.
Semua orang sibuk malam itu. Sementara Ima masih belum sadarkan diri. Dia benar benar tidak sanggup menerima kenyataan yang begitu tiba tiba. Padahal, pagi tadi ayah dan bundanya pamitan untuk menjenguk sahabat mereka yang dikabarkan sakit. Dan malam ini, ternyata ayah dan bunda pulang dalam keadaan sudah tidak bernapas lagi.
__ADS_1
Di tempat lain. Tepatnya di mansion besar yang berdiri di tengah hutan pinggiran kota, tampak seorang pria menatap pantulan wajahnya di depan cermin besar di dalam ruang kerjanya.
"Aku tidak sengaja menabrak motor pasutri itu." Ujarnya pelan.
"Lupakan kejadian tadi Bar. Aku tahu kau tidak sengaja. Anggap saja memang sudah takdir dari pasutri itu untuk menemui ajal mereka." sahut pria lainnya yang duduk di sofa mewah yang ada di sudut ruangan itu.
"Cari tahu siapa pasutri itu, Don. Aku ingin setidaknya mengucapkan bela sungkawa untuk keluarga yang dia tinggalkan. Mungkin mereka memiliki keluarga lain seperti, anak mereka misalnya."
"Baik. Aku akan segera mencari tahu."
Pria bernama Don itu, segera mengotak atik layar tablet-nya. Lalu, hanya dalam hitungan detik dia sudah menemukan data tentang pasutri yang tidak sengaja ditabrak oleh pria bernama Bar yang mengakibatkan hilangnya nyawa pasutri itu.
"Aku sudah menemukannya, Bar. Pasutri itu memiliki seorang putri tunggal yang berusia 25 tahun." Don memperlihatkan hasil temuannya pada Bar.
Mata Bar membola melihat foto putri tunggal pasutri itu. Hanya bola mata kecoklatan gadis itu yang dapat dilihat olehnya. Karena gadis itu menutupi wajahnya dengan kain cadarnya.
"Namanya, Muslimah. Gadis bercadar ini putri tunggal mereka?"
"Iya. Dia seorang guru sekolah dasar."
"Apa gadis ini tidak memiliki keluarga lain?"
"Dia masih memiliki seorang paman. Aku rasa pamannya yang akan menjaganya mulai besok."
__ADS_1
Bar menganggukkan kepalanya. Dia merasa sedikit lebih lega karena gadis itu tidak tinggal sebatang kara.