Muslimah Dan Tuan Mafia

Muslimah Dan Tuan Mafia
Lima kali lipat


__ADS_3

Brrruuuuuummmm…


Suara buggati hitam milik sang godfather memecah jalanan di kota metropolitan malam itu. Warga sipil melihat takjub mobil mewah termahal dan hanya ada 10 unit di dunia. Mereka berdecak kagum pada pemiliknya yang mereka kira adalah salah satu selebriti tanah air atau anak dari seorang pengusaha kaya raya. Berbeda dengan warga sipil, orang orang dunia hitam, justru menatap takut saat si hitam itu sudah keluar dari sarangnya. Karena, si hitam kesayangan godfather itu hanya akan keluar jika ada pengkhianat yang harus dia habisi nyawanya.


"S i a l!"


Barnard mengeratkan gerahamnya. Dia tidak sabar ingin segera tiba di markas lalu menembak tepat di kepala pengkhianat itu.


"Ba ji ngan.. berani sekali dia bermain main denganku." Seringaian devil terlihat di wajah rupawannya.


Tidak begitu lama, akhirnya dia tiba di markas. Langkahnya begitu percaya diri dan tegas menuju ruang bawah tanah dimana pengkhianat itu di kurung.


"Godfather!" Semua orang tunduk padanya saat ia tiba di markas.


Namun, fokusnya bukan pada mereka, tapi hanya tertuju pada pria paruh baya yang berlutut ketakutan di depan sana.


"Ampuni saya, godfather. Beri saya kesempatan sekali lagi." Pria paruh baya itu memohon pengampunan.


"Kau tahu sejak awal aku sudah menegaskan, tidak ada ampunan untuk pengkhianat, meski pengkhianatannya hanya sekecil biji bayam sekalipun."


Barnard berjongkok. Diraihnya kerah baju pria paruh baya itu agar dia bisa menodongkan pistolnya tepat di kepala pengkhianat itu.


"Ampuni saya..."


Senyum devil kembali terlihat di wajah Barnard. "Tidak akan ada kesempatan kedua." Bisiknya.


Dooorrr…


Timah panas itu bersarang di kepala pria paruh baya itu. Tubuhnya jatuh terbaring di lantai dingin dengan darah segar yang mengalir deras di sana.


Meski Barnard masih memiliki hati nurani, dia tetaplah seorang mafia. Jangan lupakan itu. Mafia sindikat kriminal, pembunuhan, obat terlarang, transaksi ilegal, perdagangan manusia dan juga berjudian adalah pekerjaan utama seorang mafia.


Diusianya yang baru saja berkepala tiga, tentu Barnard sudah terbiasa melakukan pembunuhan seperti itu. Dia tidak merasakan apapun saat membunuh pengkhianat pengkhianat dari kalangan mafia. Namun, jika sudah berurusan dengan warga sipil, maka hati nurani kemanusiaannya akan keluar dengan sendirinya.


Usai melenyapkan pengkhianat itu. Dia meminta Don untuk menyusulnya ke club rahasia tempat perkumpulan para mafia. Orang orang biasa mengenal club itu sebagai rumah jajanan laki laki hidung belang.


Sementara itu. Di rumah-nya, Muslimah baru saja selesai sholat isa, membaca yaasin dan mengirim doa untuk ayah dan bundanya.


"Ayah, bunda.. Ima tidur dulu." Ucapnya sambil menatap potret kedua orangtua-nya.

__ADS_1


Namun, belum sempat Ima merebahkan tubuhnya di kasur. Dia mendengar suara pintu rumahnya dibuka.


"Paman. Kenapa datang malam malam begini?"


Ima memakai jilbab sorong panjangnya dan juga mengikatkan cadarnya. Lalu dia melangkah keluar dari kamarnya.


"Paman, ada apa?"


"Ima. Begini, nak…" Pamannya tampak bingung untuk mengatakan maksud kedatangannya.


"Ada apa paman?"


Huh…


"Begini, Ima. Kamu ikut paman sekarang." Pria itu langsung menarik paksa tangan Muslimah.


"Paman mau membawa Ima kemana?" Gadis itu mencoba berontak tapi tidak bisa.


"Maafkan paman, Ima. Nanti kamu akan tahu saat kita tiba di tempat itu."


Muslimah dimasukkannya kedalam mobil, di kursi belakang. Lalu dengan buru buru dia mengemudikan mobilnya berpacu di jalan raya metropolitan malam itu.


"Paman, kita mau kemana?"


Ima pun berhenti bertanya. Hingga mobil pamannya berbelok masuk ke simpang rumah jajanan yang terkenal itu, membuat Ima merasa takut dan khawatir.


"Tidak. Paman tidak mungkin membawaku kesana. Pasti paman mau ke tempat lain. Toh jalan ini bisa menuju banyak tempat." Pikirnya berprasangka baik pada pamannya.


Namun, prasangka baik Ima salah besar. Pamannya benar benar membawanya ke rumah jajanan laki laki hidung belang.


"Astaghfirullah, paman kenapa membawa Ima ketempat ini?"


Pria itu tidak menjawab. Dia turun dari mobil, lalu membuka pintu bagian belakang agar Ima turun dari mobil.


"Aku butuh banyak uang, Ima. Aku harus menikahi Milah." Tuturnya jujur.


"Paman mau menjual Ima?" Tebaknya tidak menyangka pamannya akan menjualnya demi bisa mendapatkan uang untuk menikahi kekasihnya.


"Maafkan aku Ima. Ini satu satunya cara agar aku tidak kehilangan Milah."

__ADS_1


"Tidak paman. Ima tidak mau!" Jerit Ima bergantung erat di kursi yang didudukinya.


"Jangan membantah Ima. Lagian kau sudah dewasa. Kau juga nanti akan mendapatkan banyak uang.." Paman menarik paksa Ima.


"Tidak mau!" Ima menjerit histeris.


Dua orang pria berbadan tegap menghampiri mereka. Ima kira pria itu akan membantunya, nyatanya pria itu malah menyeretnya secara paksa masuk ke rumah tempat maksiat meraja lela itu.


"Lepasss! Paman toloooong, jangan lakukan ini pada Ima…" Teriaknya ketakutan. Ima menangis dan menjerit juga meronta ronta mencoba melepaskan diri dari kedua pria berbadan tegap itu.


Seseorang mengahampiri paman dengan melemparkan tas besar berisi uang padanya. Dia tersenyum puas mendapat bayaran yang cukup banyak dari hasil menjual keponakannya.


"Paman! Paman jahat…"


"Diam!" Bentak salah satu pria itu yang berhasil membuat Ima terdiam.


Tubuhnya gemetar, Imah menahan tangisannya. Dalam hatinya dia berdoa meminta pertolongan pada Allah. Sholawatpun selalu Ima lantunkan dalam hatinya, berharap agar dia bisa terbebas dari orang orang yang mencoba menyakitinya.


Tubuh kecil nan rapuh itu terus di tarik paksa oleh kedua pria itu. Hingga akhirnya tiba tiba seorang pria lain menarik tangan Ima dengan kuat hingga tubuhnya terlepas dari kedua pria berbadan tegap itu.


"Apa apaan.."


Tadinya dua pria itu ingin memaki. Namun, begitu menatap siapa yang ada dihadapan mereka, dengan segera mereka menundukkan kepala pada pria yang kini menggenggam erat pergelangan tangan Ima.


Ima mengambil kesempatan itu untuk bisa melepaskan diri dari pria itu berhubung dia hanya menggenggam satu tangan Ima dengan satu tangannya juga. Ima berusaha melepaskan genggaman itu dengan tangannya yang lain. Namun, tidak bisa. Genggaman pria itu terlalu erat bahkan membuat pergelangan tangan Ima terasa perih. Tapi, Ima tidak menyerah dia terus saja berontak berusaha melepaskan diri.


"Godfather!" Seru seorang wanita paruh baya dengan mini dress-nya dan make up nya yang tebal, serta bibir yang merah merona khas wanita malam.


"Aku menginginkan gadis ini."


Satu kalimat pendek itu saja yang keluar dari mulut sang pimpinan mafia sudah membuat wanita paruh baya itu terdiam tak dapat berkutik.


"Berapa uang kau habiskan untuk membelinya?"


"Ti-tidak banyak godfather." Jawab wanita itu terbata.


Sebenarnya dia membayar lima miliyar pada paman Muslimah. Cukup banyak bukan. Tapi, dia tidak akan mengatakan itu banyak di hadapan seorang mafia yang bahkan bisa membeli seluruh Asia dengan harta kekayaan yang dia punya.


"Akan aku beli dengan lima kali lipat."

__ADS_1


Ima terdiam saat mendengar pria itu tiba tiba menawar dirinya dengan lima kali lipat jumlah uang dari yang didapatkan pamannya beberapa saat lalu.


"Ya Allah, lindungi hamba.. Ayah, bunda.. Ima takut." Bisiknya dalam hati. Sementara air matanya terus menetes hingga kain cadarnya benar benar telah basah seutuhnya.


__ADS_2