Muslimah Dan Tuan Mafia

Muslimah Dan Tuan Mafia
Rere!


__ADS_3

Pukul 11:20 siang.


Muslimah tertidur lelap di atas sofa. Sangking nyenyaknya, dia bahkan tidak menyadari kehadiran Rere dan madam Osi.


"Apa yang kamu lakukan, Rere?" Tanya madam Osi saat melihat Rere mencoba melepaskan cadar Ima.


"Aku mau memastikan apakah dia benar benar Muslimah sahabatku, madam." sahut Rere.


Madam Osi mendekat kearah Rere yang sudah berhasil membuka cadar Ima. Mata madam Osi terperangah melihat wajah yang tersembunyi di balik kain cadarnya itu.


"Dia benar Muslimah sahabatku, madam." gumam Rere senang. Lalu dia kembali memasang kain cadar itu di wajah Ima.


Sedangkan madam Osi masih terdiam mematung terpesona dengan kecantikan yang tersembunyi dibalik kain cadar penutup wajah Muslimah.


"Madam!" Panggil Rere mencoba menyadarkan madam Osi.


"Apa kamu pernah melihat wajahnya, sebelum ini?"


Rere mengangguk sambil tersenyum. "Wajah Muslimah boleh kok dilihat orleh perempuan lain. Yang tidak boleh melihat wajahnya hanya laki laki asing yang bukan keluarganya." Lanjut Rere menjelaskan.


"Begitukah?"


"Iya madam."


Madam Osi mengangguk paham. Dia tidak terlalu paham dengan aturan yang diyakini kebanyakan masyarakat Indonesia. Bukan tidak ingin mencari tahu, tapi dia tidak punya waktu untuk mencari tahu. Karena sejak berusia tujuh belas tahun, dia sudah bekerja untuk mafia sebagai pembantu di mansion. Yang dia tahu, dia punya Tuhan. Hanya sebatas itu.

__ADS_1


"Madam, pakaian pakaian ini kita taruh dimana?" Tanya Rere bingung karena tidak menemukan lemari pakaian yang kosong untuk menaruh pakaian Muslimah yang baru mereka belikan tadi.


Madam Osi melangkah menuju lukisan yang ada di samping pintu menuju ruang ganti dan lemari pakaian berdinding kaca berlapis emas milik tuan mafia. Didorongnya lukisan berbingkai besar seukuran pintu itu dan dinding itu terbuka membentuk pintu menuju ke ruangan rahasia lainnya. Disana adalah ruang ganti yang sepertinya tidak pernah digunakan oleh Barnard, terbukti dengan lemari lemari pakaian yang dibiarkan kosong.


"Wuahhh, madam tahu dari mana kalau lukisan itu, pintu?"


Rere menghampiri madam Osi.


"Tentu saja aku tahu. Karena Godfather memberitahuku beberapa menit yang lalu." sahut madam Osi yang direspon dengan anggukan kepala Rere.


Saat madam Osi dan Rere hendak membawa pakaian pakaian Muslimah masuk ke ruangan itu, mata Muslimah membuka. Ya, dia terbangun dan mendapati ada dua punggung asing berdiri tidak jauh darinya.


"Si-siapa kalian!" Teriak Ima yang langsung bangkit dari posisi baringnya.


Mendengar teriakan itu, sontak saja membuat Rere dan madam Osi menoleh pada Muslimah.


Rere ternsenyum lega, karena ternyata Ima masih mengingatnya meski sudah tujuh tahun tidak lagi pernah bertemu sekalipun.


"Nona Muslimah sudah bangun." Sapa Rere dan madam Osi berbarengan, mereka juga menundukkan kepala pada Ima sama seperti dua koki pagi tadi.


"Apa dia bukan Rere? Mungkin hanya mirip.. tapi, dia terlihat seperti Rere.." celoteh Ima bingung karena Rere terlihat seakan tidak mengenalnya.


"Nona Muslimah butuh sesuatu?" Tanya madam Osi.


"Ti-tidak. Tolong jangan memanggil saya dengan sebutan nona. Panggil saja saya Ima."

__ADS_1


Ima menundukkan kepalanya pada madam Osi yang terlihat seumuran dengan almarhumah bundanya.


"Tuan Barnard memerintahkan kami untuk malayani dan membantu nona Ima, selama nona tinggal di sini." ujar madam Osi yang diikuti Rere.


Ima hanya bisa diam mendengar madam Osi memanggilnya masih dengan embel embel nona.


"Kamu butuh sesuatu, Ima?" Ulang Rere sambil tersenyum ramah pada Muslimah.


"Ka-kamu Rere.."


"Iya, Ima. Aku Rere yang kamu kenal." Jawab Rere cepat dan semangat.


"Rere." Ima berlari menghampiri Rere, lalu memeluk erat sahabatnya itu. "Rere, benarkah ini kamu?"


"Iya. Ini aku Rere, Ima." Mata Rere berkaca kaca. Ingin rasanya dia membalas pelukan Ima, tapi dia takut akan dimarahi tuan Barnard. Karena mafia itu memerintahkan agar Rere memperlakukan Muslimah seperti seorang majikan.


"Re, kenapa kamu disini? Apa pria menakutkan itu juga membelimu?" Pertanyaan itulah yang pertama dilontarkan oleh Ima yang masih terus memeluk sahabatnya itu.


"Tidak Ima. Tuan Barnard justru yang menyelamatkan aku dari sindikat perdagangan wanita tujuh tahun lalu." Jawab Rere.


"Apa? Perdagangan wanita.." Ima melepas pelukannya, dia menatap lekat wajah Rere.


"Nona pasti tahu, tujuh tahun lalu aku nekat menjadi TKW. Tapi, aku ditipu dan hampir saja di jual pada kelompok mafia di Thailand." Tutur Rere menjelaskan.


Ima menatap semakin lekat wajah Rere saat menceritakan tentang kisahnya tujuh tahun lalu, begitu mereka lulus SMA.

__ADS_1


Madam Osi membiarkan Rere mengobrol dengan Muslimah, sementara dia membawa pakaian Muslimah ke dalam ruangan tadi untuk di susun di dalam lemari. Tidak lupa madam Osi menyisakan satu set gamis bercadar untuk dipakai Ima setelah dia mandi nanti. Juga, tidak lupa Rere membelikan mukena dan qur'an kecil untuk sahabatnya itu. Dan benda itu kini ada di atas kasur bersamaan dengan gamisnya.


Meski Rere bukan seorang muslim, dia sangat mengenal Ima. Dulu kemanapun Ima pergi selalu membawa mukenanya dan juga qur'an kecilnya. Jadi, tadi Rere membelikan itu untuk Ima.


__ADS_2