Muslimah Dan Tuan Mafia

Muslimah Dan Tuan Mafia
Jangan sentuh saya, tuan..


__ADS_3

Barnard kembali ke kamarnya. Dia mendapati Muslimah yang terduduk di sudut kamarnya antara tembok kamar dengan pintu kaca pembatas kamar dan balkon. Dia tampak ketakutan, seperti anak kucing yang masih takut pada tuan-nya karena baru dipungut.


"Tuan, saya mohon.. jangan sentuh saya. Saya akan melakukan apapun untuk melayani tuan, jadi pembantu bahkan jauh lebih baik bagi saya, asalkan jangan menyentuh saya." Muslimah mulai negosiasi dengan pimpinan mafia terkuat se Asia.


"Sayangnya aku membelimu untuk melayani kebutuhan biologisku, Muslimah."


Barnard melangkah semakin mendekat pada Muslimah, membuatnya semakin ketakutan.


"Ja-jangan tuan. Saya mohon.." Muslimah sampai bersujud memohon sambil menangis terisak.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku menghabiskan puluhan miliyar untuk membelimu. Dan kau tidak ingin aku sentuh!" Hardik Barnard menakuti Ima.


"Sungguh tuan, Tuhan saya akan sangat membenci saya jika saya merelakan tuan menyentuh saya tanpa adanya ikatan pernikahan."


Senyum seringai terlihat diwajah Barnard. Dia tidak begitu suka mendengar Muslimah mulai membawa bawa Tuhan dalam pembicaraan mereka.


"Itu perkara gampang, Muslimah. Sekarang juga aku bisa menikahi-mu dan kau menjadi milikku seutuhnya dimata Tuhan-mu."


Barnard tidak benar benar serius, dia sengaja ingin menakut nakuti Muslimah. Tentu dia sedikit paham tentang keyakinan yang di pegang Muslimah.


"Dalam keyakinan saya, tuan tidak bisa menikahi saya."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Ka-karena Tuhan kita berbeda, tuan." Jawab Muslimah ragu.


Meski Muslimah melihat jelas Liontin kalung emas yang dipakai Barnard adalah tanda salib, tapi mungkin saja kan Barnard bukanlah seorang non muslim. Itu membuat Muslimah merasa sedikit bersalah.


Mata Barnard bergetar saat Muslimah mengatakan itu. Entah mengapa mendengar itu membuatnya merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hati dan pikirannya.


"Aku tidak peduli. Aku akan tetap menyentuhmu, baik itu sekarang atau suatu saat nanti, kau hanya akan disentuh olehku, Muslimah."


Setelah menegaskan itu, Barnard masuk ke ruangan tempat dimana dia berganti pakaian dan semua pakaiannya tersusun rapi di lemari berdinding kaca itu.


Muslimah, terdiam putus asa sambil memeluk lututnya. Air matanya tidak henti hentinya menetes. Dia sangat ketakutan saat ini.


"Saya mohon tuan.. kasihani saya. Tolong jangan sentuh saya." Ucapnya dalam tangisan dengan suara dan seluruh tubuh gemetar ketakutan.


"Menggemaskan. Sungguh kau terlihat seperti Nini, kucing kesayanganku dulu." Pikir Barnard sambil tersenyum seringai manatap keadaan Muslimah.


Perlahan tangan Barnard menyentuh pundah Ima dengan lembut. "Aku tidak akan menyentuhmu, selama kau tidak mencoba kabur dari rumah ini." Ujar Barnard, lalu dia menyentuh puncak kepala Ima yang tentu saja tertutup kain jilbabnya.


Barnard hanya menyentuhnya sebentar dengan lembut, seperti menyentuh kepala seekor anak kuncing yang ketakutan. Setelah itu, Barnard pun pergi meninggalkan Ima sendirian di kamar itu dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk dalam hati dan pikirannya.

__ADS_1


"Ya Allah, apa yang akan terjadi padaku." gumam Ima dalam sedih dan rasa takutnya.


"Ayah, bunda.. Ima tidak bisa datang hari ini untuk menjenguk kalian. Ima terkurung di tempat asing ini sendirian. Ima takut." Bisiknya seakan dia sedang bicara pada kedua orangtuanya.


Ima teringat, setidaknya membacakan yaasin untuk kedua ayah dan bundanya. Karena hari ini baru hari kedua setelah mereka dimakamkan.


Pandangannya mengedar mencoba menemukan sesuatu yang sudah pasti tidak akan ada di dalam kamar itu. Ima mencari keberadaan handphone-nya. Dia ingat saat mengikuti pamannya semalam benda pipih itu dia bawa. Tapi, setelah itu dia tidak lagi mengingat di mana handphone-nya.


Ima mulai berdiri, dia melangkah perlahan menuju meja yang ada di samping ranjang. Matanya melihat ada tablet di sana. Tanpa pikir panjang segera saja Ima mengambil tablet itu dan mencoba menyalakannya.


(Silahkan masukkan kata sandi anda!)


Tulisan itu yang tertera di layar tablet.


Ima meletakkan kembali tablet itu dengan raut wajah yang kecewa. Tadinya Ima berharap untuk membuka aplikasi al-qur'an di sana untuk membaca surah Yaasin.


"Maafkan Ima, ayah. Maafkan Ima bunda. Kalian selalu meminta Ima untuk menghafal surah yaasin, tapi Ima tidak bersungguh sungguh. Maafkan Ima."


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Ima menyesal karena tidak mendengarkan omelan ayah dan bunda yang berkali kali memintanya untuk menghafal surah Yaasin. Ima malah menghafal setengah setengah saja. Alhasil, hari ini Ima benar benar menuai apa yang dia tanam selama ini.


Air mata Ima kembali menetes. Dia merasa dirinya sangat hina dihadapan Allah. Karena kesombongannya, dia tidak bisa membacakan surah yaasin untuk kedua orangtuanya tanpa adanya lembaran kertas yang bertulisan huruf huruf arab itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah, astaghfirullah.. astaghfirullah.." Ima menangis malu dihadapan Allah, karena tidak bisa membaca surah yaasin tanpa ada kitabnya sama sekali.


__ADS_2