Muslimah Dan Tuan Mafia

Muslimah Dan Tuan Mafia
Berkeliling mansion


__ADS_3

Muslimah berjalan berdampingan dengan Rere. Dia bahkan menggenggam jemari Rere. Matanya mengedar menatap betapa megahnya seisi mansion itu. Bahkan terdapat beberapa hiasan berlapir emas. Sungguh luar biasa, melebihi kemegahan istana yang digambarkan dalam buku buku dongeng kerajaan.


"Kamu sudah tujuh tahun tinggal di sini, Re?" Tanya Muslimah.


"Iya, nona. Saat pertama saya tiba di mansion ini, keadaan mansion belum semegah ini. Tapi setiap tahunnya selama enam tahun, mansion ini terus di renovasi hingga berakhir seperti saat ini. Dan sejak setahun terakhir, sudah tidak ada lagi renovasi apapun." Ungkap Rere menjelaskan.


Langkah mereka semakin turun dari tangga hingga menapaki anak tangga terakhir dan berakhir di lantai dua mansion. Di lantai dua, tidak kalah megahnya dengan lantai atas tadi. Hanya saja di lantai atas, hanya ada tiga ruangan saja, ruangan pertama yaitu kamar utama, ruangan kedua adalah ruangan rahasia yang hanya Barnard yang tahu apa yang ada dalam ruangan itu dan ruangan ke tiga adalah ruangan tempatnya bersantai saat ingin menyendiri.


Sedangkan di lantai dua, banyak ruangan ruangan dengan nuansa dan pintu yang berbeda.


"Apakah semua ruangan itu kamar untuk tempat orang orang yang tinggal di sini?" Tanya Ima penasaran.


"Bukan, nona. Tidak ada kamar tidur di lantai dua. Ruangan dengan pintu hitam berhiasan emas di pinggirnya itu, ruangan kerja tuan Barnard."


Ima mengangguk kagum. "Lalu ruangan dengan pintu merah itu, ruangan apa Re?"


"Itu ruangan tempat tuan Barnard mengumpulkan orang orangnya untuk rapat ataupun menyusun misi misi mereka."


Ima kembali mengangguk, lalu dia menatap kiri dan kanan dimana ada ruangan ruangan lain dengan pintu pintu berwarna hijau pekat bertulisan aneh.


"Ruangan ruangan itu adalah ruangan tempat masing masing kepala tim untuk rapat bersama anggotanya sebelum rapat bersama tuan Barnard." Ujar Rere menjelaskan.

__ADS_1


Huh…


Muslimah hanya bisa menghela napas. Semua yang dilihatnya seakan hanya mimpi semata, tapi ini sungguh terasa nyata untuk dikatakan hanya sekedar mimpi.


Sementara ditengah tengah ruangan di lantai dua terdapat sofa sofa mewah yang tertata apik dan nyaman dipandang mata. Tentu ruangan ini adalah ruang santai saat para mafia itu saling mengobrol santai ketika tidak ada misi yang harus mereka kerjakan. Tidak lupa, ada ruangan kecil di bawah tangga, yaitu mini bar dan mini cafe yang menyediakan menu minuman dan cemilan cemilan ringan untuk mereka.


Langkah kaki Muslimah dan Rere mulai menuruni tangga lagi yang akan mengantar mereka ke lantai dasar mansion. Dan di lantai dasar, tidak ada ruangan berpintu seperti di lantai dua. Disini hanya ruangan yang luas dengan sofa sofa tepat di tengah tengah menghadap ke televisi yang cukup besar.


"Disini, biasanya tuan Barnard gunakan untuk berbincang dengan tamu tamunya saja." Jelas Rere.


Lalu Rere mengajak Ima melangkah kearah belakang tangga. Disana ada meja makan yang cukup panjang dengan belasan kursi. Tidak jauh dari meja itu, di sudut belakang terlihatlah dapur yang cukup luas dengan peralatan memasak yang super canggih serta ada lima kulkas empat pintu di sana.


"Jadi, kamu tidak bertugas memasak?" Tanya Ima bingung. Karena setahunya pembantu itu tugasnya memasak dan berberes rumah majikan.


"Tugas para maid mengerjakan semuanya kecuali memasak. Ya, kami membersihkan mansion, menjaga keindahan halaman mansion dan tentu saja mencuci dan menyetrika pakaian semua orang yang tinggal di mansion ini, termasuk pakaian kami sendiri. Tapi, khusus untuk pakaian tuan Barnard dan membersihkan kamar tuan Barnard, hanya madam Sinya."


"Madam Sinya?" Ulang Ima yang merasa nama itu aneh baginya.


"Ya, madam Sinya. Nona belum bisa menemuinya hari ini, karena madam Sinya sedang mendapat cuti untuk pulang kampung selama empat hari dan dia akan kembali besok." Rere menjelaskan dengan sangat rinci tentang seluruh isi mansion dan peraturan di mansion pada Muslimah.


Bukannya paham, Muslimah malah merasa semakin bingung dengan apa yang Rere jelaskan barusan padanya.

__ADS_1


Setelah memperlihatkan dapur, Rere membawa Ima melangkah ke sisi lain bawah tangga. Disana rupanya ada lorong lain yang menuju ke ruangan bwah tanah.


"Ini lorong menuju ruangan bawah tanah. Dan nona tidak boleh melewati lorong ini, jika nona tidak ingin kehilangan nyawa." Ucap Rere menjelaskan sambil mempraktekkan seakan leher akan dipenggal jika berani melewati lorong itu.


Ima bergedik ngeri, dia bahkan menggelengkan kepalanya saat pikirannya mulai membayangkan jika saja dia di hukum pancung hanya karena mencoba melewati lorong itu.


"Lihatlah pintu itu, nona. Pintu hitam kemerahan itu.." Tunjuk Rere ke arah sudut dari lorong menuju ruangan bawah tanah.


"Pintu apa lagi itu, Re?"


"Pintu yang tidak boleh di buka sama sekali. Karena, kalau ada yang sampai berani membuka pintu itu tanpa seizin tuan Barnard, maka sudah dipastikan dia tidak akan pernah bisa keluar lagi dari ruangan itu dalam keadaan bernapas."


Ima kembali bergedik ngeri. Dia bahkan mendekap sendiri kedua bahunya dengan kedua tangannya. Dia mulai merasa panas dingin merinding ketakutan.


"Apa kamu tidak takut, Re?" Tanya Ima dengan nada suara agak gemetar.


"Tentu takut, nona. Tapi, selama tidak melakukan kesalahan dan tidak melanggar peraturan, maka semuanya akan baik baik saja, kok nona. Jadi, kalau nona masih tetap ingin bernapas seperti saat ini, maka jangan melakukan apapun dan jangan penasaran dengan hal apapun itu." Tegas Rere memperingatkan pada sabahatnya yang kini sudah menjadi majikannya itu.


"Aku takut, Re. Aku mau pulang.. Tidak bisakah kamu menunjukkan jalan keluar dari mansion ini? Kamu pasti tahukan jalan keluar dari sini.." Ima memohon pertolangan pada sahabatnya itu.


"Saya tahu nona dan saya bisa membantu nona keluar dari mansion ini. Tapi, setelah nona berhasil keluar, maka saya akan langsung kehilangan nyawa saya. Jadi, saya juga memohon sama nona, bisakah nona tidak memikirkan cara kabur dari sini dan tolong selamatkan nyawa saya juga, nona.." gantian Rere yang menunduk memohon pada Ima yang hanya bisa terdiam mendengar apa yang dikatakan Rere dan tentu saja itu membuatnya semakin ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2