Muslimah Dan Tuan Mafia

Muslimah Dan Tuan Mafia
Chapter 15


__ADS_3

Usai sholat subuh, pintu kamar Ima diketuk oleh Don. Dia memanggil Ima untuk membawanya sesuai perintah dari Barnard.


"Siapa!" Seru Ima pura pura tidak tahu.


"Saya Don, nona Muslimah. Tuan Barnard memerintahkan saya untuk mengantar nona ke makam orangtua nona."


Ima sudah menduganya. Dia kini tampak khawatir.


"Apa yang harus aku lakukan?" Pikirnya.


Sebentar Ima akhirnya bersiap, tidak lupa dia membawa sebilah pisau pengupas apel yang dimasukkanya kedalam saku gamisnya.


CEKLEKK


Ima akhirnya membuka pintu kamar dan mendapati Don berdiri di sana sambil menundukkan kepala padanya tanda hormat.


"Nona sudah siap?" Tanya Don lembut.


"Sudah." Jawab Ima.


"Mari nona." Ajak Don.


Ima pun melangkah mengekor dibelakang Don. Saat kakinya sudah menginjak lantai dua, matanya menatap kearah ruang kerja Barnard yang masih tertutup rapat. Lalu saat mereka tiba di lantai bawah, mata Ima menoleh kearah lorong menuju ruang bawah tanah, dimana tempat Mafia kejam itu menghukum manusia lainnya.


Ima hanya bisa bergedik ngeri bahkan saat mencoba membayangkan apa yang dilakukan Barnard di ruang bawah tanahnya itu.


"Silahkan, nona."


Don membuka pintu belakang mobil dan mempersilahkan Ima masuk. Setelah Ima masuk dia pun langsung mengemudikan mobil menuju perkotaan. Nah saat ini lah kesempatan ini melihat jalanan yang mereka lewati.


"Mansion di tengah hutan? Apakah ini masih di Jakarta?" Pikir Ima.


Matanya menatap keluar jendela mobil yang tertutup rapat. Dan sepanjang jalan hanya ada pepohonan yang rindang berbaris rapi di pinggir jalan setapak yang mereka lalui.


"Bolehkah saya bertanya?" Tanya Muslimah ragu.


"Silahkan nona." Sahut Don.


"Apakah mansion berdiri di tengah hutan?"


"Benar nona. Dan tidak ada siapapun yang bisa masuk ke hutan ini untuk menuju mansion jika tidak mendapat izin dari tuan Barnard." Tutur Don menjelaskan.

__ADS_1


"Cck.. seberkuasa itu si mafia. Sampai sampai hutan ini dianggapnya seperti miliknya sendiri." Rutuk Ima dalam hatinya.


"Hutan ini adalah wilayah kekuasaan milik tuan Barnard. Bukan hanya hutan ini, tapi hampir seluruh hutan di kepulauan Indonesia adalah milik tuan Barnard." Lanjut Don menjelaskan seakan dia mendengar suara hati Ima barusan.


"Tuan Barnard sekaya itu?" Tanya Ima.


"Iya nona. Bahkan jauh lebih kaya dari yang nona pikirkan. Bukan hanya mengusai sebagaian wilayah di pulau Indonesia, tapi Tuan Barnard menguasai hampir seluruh wilayah di Asia."


Haahaaa


Haaahhaaa


Terdengar suara tawa Ima yang seperti tawa dibuat buat. Ya, bukan seperti tapi memang dia sengaja tertawa meski tidak ingin tertawa.


"Apa ada yang lucu, nona?" Tanya Don bingung karena Ima tiba tiba tertawa.


"Tentu lucu, cerita tuan sangat lucu. Saya seperti sedang mendengarkan tuan membacakan novel tentang biografi seorang mafia." jawab Ima yang masih saja sulit untuk mempercayai omongan orang orang tentang kekayaan si mafia Barnard Moore Lim.


"Nona masih belum percaya pada tuan Barnard?"


"Tentu aku tidak percaya. Mana ada mafia di Indonesia. Yang aku tahu para mafia bersembunyi dan hanya berada diwilayah yang tidak ada hukum di sana. Ya, seperti di Inggris sana misalnya." Tuturnya berpikir secara rasional.


"Anda benar nona. Sebelum tuan Barnard, di Indonesia tidak ada mafia. Yang ada hanya sekumpulan organisasi jual beli organ tubuh manusia dan juga obat obat terlarang. Ya, memang mereka menamakan diri mereka sebagai mafia, tapi bagi tuan Barnard mereka hanya preman preman gadungan yang suka merusak masyarakat awam."


"Baiklah, anggap saja saya percaya tuan Barnard adalah pimpinan mafia terkuat. Lalu, bisakah tuan memberitahu saya, apa alasan saya di tahan di mansion mafia?"


Pertanyaan itu membuat Don tidak bisa menjawab. Ya, dia satu satunya yang tahu alasan mengapa Ima di tahan di mansion. Tentu karena rasa bersalah Barnard yang tidak sengaja menyebabkan kedua orangtua Ima meninggal dunia. Mana mungkin Don mengatakan alasan yang sebenarnya, bisa bisa Barnard akan marah besar.


"Kenapa anda tidak menjawab tuan?" Tanya Ima.


"Maafkan saya nona. Tentang hal itu hanya tuan Barnard yang bisa menjawabnya."


Don menambah kecepatan laju mobil. Dan kini tidak ada lagi perbincangan antara mereka berdua. Din hanya fokus menyetir dan Ima fokus memikirkan cara untuk menggagalkan rencana jahat Barnard yang berencana akan membubuh seseorang.


Tidak terasa akhirnya mobil Don parkir di depan pagar tempat pemakaman umum dimana kedua orangtua Ima dikebumikan.


"Kita sudah sampai nona." Don membukakan pintu untuk Muslimah.


Ima turun dari mobil, matanya menatap cahaya matahari pagi yang sudah lama tidak dilihatnya karena terkurung di mansion.


"Saya akan menunggu nona di sini. Saya harap nona tidak berusaha kabur, karena jika itu nona lakukan, maka mungkin tuan Barnard akan benar benar menghukum nona." Tegas Don memperingatkan.

__ADS_1


Ima hanya mengangguk, lalu dia melangkah menuju makam ayah dan bunda nya.


"Asslamualaikum, ayah, bunda. Ima datang." Sapa Ima, lalu mencium nisan mereka bergantian.


"Ima baik baik saja. Ima sehat. Maaf karena Ima jarang berkunjung." Ucapnya.


Kemudian Ima membaca yaasin dan dilanjutkan dengan doa doa untuk kedua orangtuanya. Usai melakukan itu, Ima pun kembali berpamitan pada mereka.


Namun, saat langkah kaki Ima hampir mendekati Don. Tidak sengaja dia mendengar Don tengah bicara pada seseorang melalui telepon.


"Kau sudah membawa pengkhianat itu ke mansion?"


Don tampak serius bicara sampai tidak merasakan kehadiran Ima.


"Nona Muslimah masih membaca doa di makam orangtuanya. Kau tenang saja, aku tidak akan membawanya kembali ke mansion sebelum godfather menyelesaikan ritualnya." Sahut Don.


Tubuh Ima merinding mendengar Don mengatakan tentang ritual. Sungguh Ima semakin ketakutan. Sampai akhirnya dia berpikir untuk kabur mumpung Don masih belum mencarinya dan menyadari kehadirannya.


"Aku harus pergi ke kantor polisi. Ya, aku akan meminta bantuan pak polisi." Pikir Ima.


Kebetulan kantor polisi tidak jauh dari pemakaman.


Ima pun langsung berlari sekencang mungkin menjauhi Don yang masih belum menyadari bahwa Ima telah kabur.


Ima terus berlari, semakin kencang dia tidak peduli pada kendaraan yang mulai ramai di jalananan karena sudah jam keberangkatan orang orang untuk pergi bekerja ataupun berangkat kesekolah.


BUUUGGGGG


Ima jatuh di pinggir jalan. Seseorang langsung menghampirinya. Dia seorang pria berseragam dinas seperti seorang guru.


"Mbak bisa bangun? Atau perlu saya bantu!" Seru pria itu.


Ima mendongak, dia mengenal suara dan wajah pria itu. Segera saja Ima bangkit dengan susah payah.


"Pak Rangga!" Seru Ima yang berhasil membuat pria bernama Rangga itu terkejut.


"Ima? Ini benaran kamu, Ima?" Dia menatap lekat lekat kedua bola mata Ima yang saat ini berair. Ima menangis sambil mengangguk.


"Ya Allah, Ima. Kamu baik baik saja? Aku sangat khawatir, karena kamu tiba tiba menghilang dan rumahmu di jual oleh om Joni." Tutur Rangga.


"Tolong aku, tolong bawa aku pergi jauh, aku takuuuttt!!!" Ucap Ima gemetar.

__ADS_1


"Iya. Aku akan membawamu Ima. Mari, ikut aku."


Ima mengekor dibelakang Rangga untuk menuju sepeda motornya di seberang jalan sana. Dan setah sampai di motor, Rangga pun langsung tancap gas membawa Ima pergi jauh seperti yang Ima inginkan.


__ADS_2