Muslimah Dan Tuan Mafia

Muslimah Dan Tuan Mafia
Bukan cerita dalam novel


__ADS_3

"Jadi kamu tidak benar benar menjadi TKW di Thailand seperti yang diketahui orang orang selama ini, Re?"


Rere mengangguk. "Aku diselamatkan oleh tuan Barnard dan di jadikan pelayan di mansion ini."


Ya. Saat itu, tujuh tahun lalu mansion megah ini baru selesai di bangun dan Rere dengan beberapa orang temannya di pekerjakan untuk mengurus mansion ini. Mereka di gaji perbulan, dan setiap tanggal gajian diizinkan menghubungi keluarga mereka masing masing.


Rere menceritakan semuanya pada Ima. Dia juga mengatakan baru setahun terakhir bisa bertemu langsung dengan tuan Barnard yang baik hati yang telah menyelamatkannya dari sindikat perdagangan wanita.


"Siapa tuan Barnard yang kamu maksud itu, Re?" Ima berharap, tuan Barnard baik hati itu bukan pria kejam yang membelinya dengan harga lima kali lipat itu.


"Tuan Barnard pemilik mansion ini. Dia pemilik kamar ini, Ima." Jawab Rere.


Ima terdiam sejenak. Ternyata tuan Barnard yang baik hati kata Rere adalah pria menakutkan itu.


"Bukankah tadi pagi nona Muslimah sudah bertemu langsung dengan tuan Barnard, bukan?" Celetuk madam Osi ikut dalam obrolan dua sahabat itu.


"Berhentilah memanggilku nona, madam. Aku bukan nona." Ujar Ima lesu.


"Maafkan saya, nona Muslimah. Tapi, jika tuan Barnard tahu saya memanggil nona dengan nama saja, mungkin saya akan mendapat masalah." Madam Osi menjelaskan sambil tersenyum. Berharap Ima bisa memaklumi dirinya.


"Memangnya siapa dia? Apa dia telalu berkuasa sampai madam harus patuh padanya? Rere bilang dia baik, lalu mengapa dia memerintahkan madam untuk mematuhi semua kemauannya?" Ima semakin tidak mengerti sekarang.

__ADS_1


Matanya menatap tajam mata Rere yang tampak bergetar karena menyadari dirinya sejak tadi bicara santai dengan Muslimah yang harusnya dia perlakukan seperti majikan sesuai dengan apa yang diperintahkan tuan Barnard.


"Tuan Barnard sangat berkuasa, nona. Dia godfather, pimpinan mafia terkuat se Asia."


Mendengar penjelasan Rere barusan yang ikut ikutan memanggilnya dengan sebutan nona, membuat Ima tersenyum, lalu tiba tiba dia tertawa terbahak bahak. Tawa Ima membuat Rere dan madam Osi bingung, tentu saja.


"Ya ampun, Rere. Kamu kenapa sih? Apa kamu sedang menceritakan tentang novel yang pernah kamu baca dulu waktu kita masih sekolah… Novel tentang tuan mafia yang kejam? Kamu lucu, Re.." Celoteh Ima yang masih terus tertawa geli.


"Aku tidak sedang menceritakan novel, nona. Tapi ini kenyataan. Saat ini nona sedang berada di mansion godfather."


Hahahaahaa…


"Mansion! Kita di mansion sekarang?" ulang Ima masih tertawa.


"Kamu sedang syuting drama, ya Re? Atau ini kamu lagi ngeprank aku?" Selidik Ima yang masih mencoba untuk tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini.


Madam Osi dan Rere merespon dengan tatapan iba pada Muslimah yang pastinya merasa sangat bingung dan juga ketakutan dengan fakta yang ada dihadapannya saat ini.


"Aku tahu nona masih bingung dengan semua ini. Tapi, inilah kenyataannya nona." Jawab Rere pelan, menatap sendu wajah bingung Ima yang sudah berhenti tertawa.


Madam Osi yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, kembali menghampiri dua gadis muda itu.

__ADS_1


"Tuan Barnard adalah mafia terkuat asal Eropa. Saya sudah menjadi pelayannya sejak masih di Eropa dan setahun lalu, tuan Barnard membawa saya pindah ke mansion ini. Lalu, tiba tiba tadi malam, tuan Barnard membawa nona Muslimah dalam keadaan pingsan masuk ke kamar utama yang sebelumnya tidak pernah ada satupun orang yang boleh masuk ke sini. Tapi, tuan Barnard mengizinkan nona Muslimah bahkan tidur di atas kasurnya." Madam Osi menjelaskan dengan sangat serius dan menatap Muslimah dengan tatapan yang membuatnya merasa takut.


"Saya tidak tahu, mengapa tuan Barnard membawa nona Muslimah ke mansion dan menempatkan nona di kamar utama. Lalu, saya dan Rere yang tidak pernah diizinkan menginjakkan kaki di kamar ini, tiba tiba diperintahkan untuk melayani nona Muslimah dengan baik. Bukankah, tuan Barnard patut dikatakan baik hati?"


Ima terdiam, dia menundukkan pandangannya tidak berani menatap wajah madam Osi.


"Dia memang seorang mafia yang sangat amat kejam. Dia tidak akan segan membunuh siapa saja yang mengkhianatinya. Tapi, setidaknya dia memperlakukan kami para pelayannya dengan baik. Bahkan tuan Barnard juga memperlakukan nona Muslimah dengan perlakuan yang sangat baik. Semua ini nyata nona. Bukan sebuah cerita novel, dan juga bukan sebuah prank." Tutur madam Osi sangat hati hati menjelaskan pada Ima.


Rere menyentuh tangan Ima untuk membuat sahabatnya itu merasa sedikit lebih baik. Rere tahu, Ima saat ini merasa sangat bingung dan juga ketakutan, karena tiba tiba berada ditempat asing ini.


"Pergilah mandi, nona. Kami sudah membelikan pakaian untuk nona atas perintah tuan Barnard." Madam Osi memerintahkan Ima untuk mandi dan berganti pakaian.


Ima melirik pada Rere. "Re, aku takut." Bisiknya memegang erat tangan Rere.


"Tidak usah takut, semuanya akan baik baik saja. Sekarang pergilah mandi. Aku juga membelikan mukena dan qur'an untuk-mu." Rere menunjuk kearah ranjang.


Ima melihat ada satu set gamis cadar di atas kasur, lalu diatas baju itu ada mukena yang terbungkus rapi dalam tas kecil dan disampingnya ada qur'an kecil berwarna keemasan.


"Jika nona butuh sesuatu, pakailah benda ini." Rere memberikan satu alat yang mirip remot, tapi lebih kecil dan hanya ada dua tombol disana, merah dan hijau. "Jika nona butuh bantuan aku ataupun madam Osi, tekan saja tombol merah." Lanjut Rere menjelaskan.


Kemudian, Rere dan madam Osi meninggalkan Ima sendirian lagi di kamar itu.

__ADS_1


"Jangan menekan tombol hijau, nona Muslimah." Teriak madam Osi sebelum kembali menutup pintu kamar.


Mendengar itu, Muslimah langsung memeriksa tombol yang ada di remote kecil itu. Hanya ada dua tombol saja, merah dan hijau. Ima tidak peduli dengan remote itu sama sekali, hingga dia melemparkan remote itu sembarangan ke atas sofa begitu saja.


__ADS_2