Muslimah Dan Tuan Mafia

Muslimah Dan Tuan Mafia
Kecurigaan Ima


__ADS_3

Rere membiarkan Ima berkeliling sekitaran luar mansion sendirian. Tentu atas perintah dari Barnard. Sengaja dia membiarkan Ima sendirian agar Ima bisa merasa lebih leluasa dan bisa bebas melakukan apapun yang dia mau. Tapi, tetap saja Ima masih dalam pantauan kamera cctv.


Saat ini Ima berada di taman yang indah, rerumputan hijau yang rapi bahkan saat diinjak langsung dengan kaki telanjang akan terasa lembut. Tempat itu sangat harum berasal dari harumnya bunga bunga yang bermekaran. Sungguh suasana itu membuat Ima merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.


Rasa takutnya mulai berkurang, rasa rindu pada ayah dan bundanya juga tidak membuatnya terlalu merasa sedih lagi, karena dia membayangkan ayah dan bunda-nya sudah berada di tempat yang jauh lebih indah dari taman yang sedang di lihatnya saat ini.


"Ya Allah, semoga engkau tempatkan ayah dan bunda di tempat terindah disisi-mu. Aamiin."


Sebentar Ima melantunkan tasbih sambil menatap indahnya pemandangan yang ada di depan matanya. Setelah itu, Ima pun membuka Qur'an-nya dan mulai membacanya dengan suara pelan yang cukup terdengar oleh telinganya sendiri. Hatinya semakin terasa tenang saat melantunkan ayat ayat indah itu, ditambah dengan hembusan lembut angin pun menambah rasa nyaman dan tenang dalam hatinya.


Ima terus membaca ayat ayat indah itu, tanpa peduli pada beberapa maid yang bertugas merawat taman dan membersihkan halaman depan mansion. Ima terus membaca dan mereka pun tidak mengganggunya sama sekali.


Lima menit…


Sepuluh menit…


Dua puluh menit…


Tiga puluh menit…


Waktu berlalu dan Ima masih saja fokus membaca Qur'an. Hingga akhirnya Rere pun menghampirinya atas perintah dari Barnard juga yang mengkhawatirkan Ima yang sudah terlalu lama duduk di gazebo taman.


"Ima.." Panggil Rere pelan.


Muslimah langsung menoleh setelah menyudahi bacaannya. Dia menatap Rere yang tersenyum padanya dengan memegang piring berisi roti gulung dan juga es capucino di tangan yang lainnya.


"Nih makan dulu. Ini kiriman langsung dari tuan Barnard." tutur Rere yang tampak lebih santai pada Ima, berbeda dengan sebelumnya yang terkesan terlalu formal padanya.


"Kamu tadi manggil aku Ima?" Tanya Ima menatap bingung pada sahabatnya itu.


Rere mengangguk, lalu dia ikut duduk di dekat Ima. "Tuan mengizinkan aku untuk memanggilmu begitu."

__ADS_1


"Rere…" Ima langsung memeluk sahabatnya itu. Dia merasa senang karena akhirnya Rere tidak lagi memanggilnya dengan sebutan nona.


"Makanlah dulu, Ima. Nanti aku bisa dimarahi kalau kamu tidak makan." Ujar Rere sambil melepas pelukan Ima darinya.


"Aku tidak mau makan sendirian, lagi pula rotinya juga terlalu besar dan aku tidak bisa menghabiskannya, Re."


Ima mengatakan itu dengan maksud agar sahabatnya itu mau ikut makan bersama dengannya satu roti berdua.


"Iya iya, aku juga ikut makan." Jawab Rere setuju yang membuat Ima tersenyum senang.


Mereka pun akhirnya makan roti itu bersama dan minum es capucinonya juga bergantian dari sedotan yang sama tanpa rasa jijik sama sekali. Tentu saja mereka tidak jijik, karena memang mereka sudah sedekat itu sejak lama.


"Re, apa kamu punya handphone?" Tanya Ima tiba tiba disela sela menikmati makanan mereka.


"Punya. Kenapa?"


"Boleh aku pinjam?"


"Aku mau mencari tahu berita tentang saat malam kejadian kecelakaan ayah sama bunda-ku, Re." Ungkapnya.


Ima baru teringat, bahwa dia bahkan tidak mencari tahu seperti apa kecelakaan yang dialami ayah dan bundanya hingga sampai meninggal dunia. Padahal setahu Ima, ayah tidak pernah ngebut saat naik motor. Dan juga ayahnya selalu hati hati di jalanan saat berkendaraan.


Ya, kalau pun memang ayah dan bunda-nya sudah ditakdirkan untuk meninggal dalam kecelakaan, paling mereka hanya akan mendapat luka ringan saja. Tapi, apa yang Ima lihat di tubuh kedua orangtuanya benar benar luka yang sangat parah, seakan ayah dan bundanya jatuh karena ngebut di jalan raya saat berkendaraan lalu ditabrak kendaraan lain.


"Sebentar ya, aku ambil dulu."


Rere pun bergegas masuk ke mansion dan menuju kamarnya yang ada di lantai satu di gedung lain yang ada di belakang dapur. Ya, di tempat inilah kamar semua maid berada. Sementara kamar para anggota mafia lainnya ada di gedung yang lain yang ada di belakang mansion.


Setelah mendapatkan handphone-nya, Rere pun segera membawanya pada Ima.


"Nih handphone aku. Kamu boleh mencari apa saja kok. Internet disini sangat lancar."

__ADS_1


"Aku pinjam dulu ya, Re."


Rere mengangguk senang.


Ima pun mulai menggunakan handphone Rere untuk mencari tahu tentang kejadian kecelakaan ayah dan bundanya malam itu. Benar saja ada bebera artikel yang menulis tentang kejadian kecelakaan malam itu. Sayangnya yang tertulis di dalam artikel artikel itu tidak ada yang menyatakan bahwa ayah dan bundanya di tabrak kendaraan lain. Yang ada hanya keterangan saksi yang melihat motor ayahnya yang melaju sangat kencang tiba tiba hilang kendali dan terpental ke trotoar.


"Loh, ayah dulu tidak pernah ngebut saat naik motor.." Ujar Rere yang juga sangat tahu bagaimana ayah saat naik motor.


"Nah benar kan, Re. Aku juga mikirnya aneh. Ayah tidak pernah ngebut naik motor, tapi keadaan ayah dan bunda yang aku lihat saat kami memandikan jenazah mereka, luka yang mereka alami seakan mereka tertabrak truk, atau mungkin mobil, pokoknya aku yakin ayah dan bunda ditabrak bukan jatuh sendiri."


Rere terdiam sesaat. Dia tampak memikirkan sesuatu. "Apa mungkin paman yang melakukannya?" Tebaknya mencurigai pria itu.


"Kenapa kamu bisa berpikir paman pelakunya, Re?"


"Ya tentu saja aku menebak begitu, karena setelah ayah dan bunda meninggal, dia langsung menjual kamu dan juga menjual rumah-mu Ima." Tutur Rere yang juga bisa di percaya dan masuk akal menurut Ima.


"Kalau sampai paman yang melakukan itu, aku tidak akan memaafkanya, Re. Aku akan menuntutnya dan memenjarakannya setelah aku bebas dari tempat ini." Gertaknya geram penuh tekanan amarah dan emosi.


Melihat Ima seperti itu membuat Rere mengasihani sahabatnya itu. "Kamu tidak akan pernah bisa bebas dari tempat ini, Ima. Kalaupun tuan Barnard melepaskanmu, tentu kamu tidak akan dalam keadaan baik baik saja seperti saat ini. Dia pria yang kejam, dia mafia Ima. Dia akan mengurungmu selamanya di tempat ini." Gumam Rere menatap iba pada sahabatnya.


"Re, bantu aku.." Ima manatap dalam dalam wajah Rere.


"Aku tidak bisa membantu kamu untuk keluar dari tempat ini, Ima. Aku tidak mau kehilangan nyawa sia sia. Ibu dan adik adikku masih membutuhkan aku."


"Tidak. Bukan membantuku keluar dari tempat ini, Ima. Tapi, tolong aku untuk menyelidiki alasan mafia itu mengurungku di tempat ini."


"Ima, apa kamu lupa. Tuan Barnard membelimu dari paman. Itu alasan dia menjadikan kamu tawanannya di tempat ini."


"Aku tahu itu, Ima. Tapi kenapa dia memperlakukan aku seperti ini. Lihatlah, harusnya mafia itu menyiksaku, mengurungku di penjara bawah tanah atau apapun itu. Apa kamu lupa bagaimana alur novel mafia yang pernah kamu baca dulu, Ima. Mafia itu kejam dan haus darah juga haus hasrat biologis.."


Ima tidak terlalu polos untuk tidak mengerti tentang hal itu. Tentu saja, dia wanita yang sudah dewasa dan jangan lupakan dia adalah seorang guru dan juga dia pernah belajar cara membaca situasi, keadaan dan juga mimik wajah seseorang.

__ADS_1


Ima memang tidak tahu persis seperti apa mafia itu. Tapi, dari perlakuan mafia itu semalam dan pagi ini, Ima dapat menyimpulkan bahwa pria itu tidak berniat menyakitinya atau menjadikannya budak sama sekali. Pria mafia itu memperlakukannya dengan sangat hati hati dan juga mementingkan kenyamanannya. Itulah yang membuat Ima merasa penasaran, akan alasan sebenarnya mafia itu menahannya di mansion ini.


__ADS_2