
Ima sendirian di kamar malam ini. Dia berdiri di balkon menatap hamparan hutan dan pegunungan di depan sana. Suara binatang di malam hari pun terdengar jelas ditelinganya. Bahkan sesekali Ima dapat mendengar suara jeritan rusa dari hutan sana. Sungguh suasana malam yang sunyi dan terasa mencengkam.
"Kau tidak takut berdiri sendirian di sana?"
Suara itu mengejutkan Ima, dia pun sontak menoleh kearah sumber suara yang berasal dari siapa lagi kalau bukan si mafia yang katanya kejam dan menakutkan sang godfather Barnard Moore Lim.
"Anda jauh lebih menakutkan dari suara malam di tengah hutan sana." Sahut Ima judes.
"Tapi kau terlihat tidak takut padaku." Barnard menghampiri Ima, dia berdiri di samping wanita bercadar itu.
"Aku tidak diajarkan untuk takut pada manusia. Aku hanya takut pada Tuhan."
Cara Ima menjawab membuat Barnard merasa heran pada wanita yang tadi pagi memohon mohon dan menangis ketakutan sampai gemetar. Kemana sosok wanita yang bisa ditakut takutinya itu?
"Kau punya dua kepribadian yang berbeda?"
"Tidak." Jawab Ima tegas.
"Tadi pagi kau gemetar ketakutan. Sekarang kau bahkan berani bicara tidak sopan padaku."
"Pagi tadi aku masih shock, maklum aku baru terbangun dan menyadari diriku berada di tempat asing. Tentu saja aku ketakutan. Aku manusia bukan robot." Sahutnya dengan nada suara judes dan juga tegas.
Barnard mengernyitkan dahinya, sebentar dia merogoh rokok didalam saku celananya. Dia menyulut sebatang rokok dihadapan Ima yang sangat anti rokok.
"Aku tidak suka bau rokok."
__ADS_1
"Lalu?" Tanya Barnard mulai tidak menyukai Ima.
"Berhenti merokok didekatku!"
"Kau punya hak apa berani melarangku? Apa kau lupa, ini adalah istanaku." Barnard menatap tajam tepat kedua bola mata Ima yang juga melotot tajam menatapnya tanpa ada rasa takut sama sekali dari sorot matanya.
"Anda juga, memangnya apa hak anda menahan aku ditempat ini?" Tantang Ima tanpa ada rasa takut sama sekali.
Barnard terdiam sebentar, kemudian terlihat seringai menakutkan di wajahnya. Tanpa aba aba, Barnard hendak menyentuh bahu Ima, tapi dengan cepat Ima melangkah mundur.
"Aku bukan wanita murahan yang bisa anda sentuh semau anda." Gertak Ima.
"Kau wanita yang aku beli di klub malam, nona. Jangan sombong hanya karena kau memakai pakaian serba tertutup. Aku bisa menyentuh-mu bahkan menp**k*s*-mu saat ini juga jika aku mau." Sahut Barnard mulai geram.
Gertakan Barnard sedikit membuat mata Ima bergetar dan untuk menyembunyikan itu dia pun mengalihkan padagannya kembali menatap hamparan hutan didepan sana.
Senyum seringai kembali terlihat di wajah Barnard. Dia tidak habis pikir pada wanita bercadar itu, semua orang menginginkan posisinya, tapi dia malah ingin menjadi maid. Sungguh wanita yang berprinsip dan sangat keras kepala, tapi Barnard semakin menyukainya.
"Kau yakin ingin menjadi maid?"
"Ya. Menjadi maid jauh lebih baik dari pada menjadi wanita murahan untuk anda."
Sebentar Barnard tampak menekan nekan pelipisnya dengan telunjuknya sambil memikirkan sesuatu.
"Baiklah, mulai besok kau akan diberikan seragam maid oleh madam Osi."
__ADS_1
Mendengar kalimat itu membuat Ima membayangkan bagaimana bentukan seragam maid yang dipakai oleh Rere dan madam Osi. Lantas mata Ima membola dan dia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan pernah mau memakai seragam maid seperti itu." Tegasnya.
Lagi lagi Barnard dibuat terkejut oleh Ima. Tadi dia meminta untuk menjadi maid, sekarang setelah disetuji, wanita bercadar itu malah menolak untuk memakai seragam maid.
"Peraturan di istanaku tidak boleh di langgar, nona. Jika kau ingin menjadi maid, maka kau harus memakai seragam maid." Bisik Barnard mendekatkan mulutnya kearah telinga Ima.
Suara Barnard terdengar mengintimidasi, hingga membuat Ima merinding seketika. Tapi dia tetap berusaha seakan dia baik baik saja.
"A-aku tidak mau memakai pakaian terbuka seperti itu." Ungkap Ima dengan suara lembut mengiba.
"Terserah kau saja. Pilihan ada di tanganmu. Jika kau ingin menjadi maid, maka kau harus memakai seragam maid. Jika tidak…" Barnard menatap Ima dari ujung kepala hingga ujung kaki dan tatapannya berhenti tepat di bawah dagu Ima.
Sontak saja Ima menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya dan dia pun melangkah mundur menjauh dari Barnard yang menatapnya dengan tatapan sarat akan nafsu.
"Tidurlah yang nyenyak malam ini. Nikmati kelembutan kasur yang empuk dan selimut yang selembut sutra ini untuk terakhir kalinya. Karena setelah menjadi maid, kau hanya akan tidur beralasan karpet tipis dan kecil serta permukaan karpet yang kasar. Punggungmu akan sakit saat berbaring diatasnya." Gumam Barnard sambil melangkah meninggalkan balkon dan dia juga meninggalkan kamar itu.
Saat Barnard sudah tidak terlihat, Ima terduduk lemah di lantai dengan punggungnya yang bersandar di pagar pembatas balkon. Dia menarik turunkan napasnya yang terasa pengap.
"Dia sangat menakutkan.." Gumam Ima sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Ima hanya berpura pura judes dan tegas di hadapan Barnard barusan. Aslinya, Ima gemetar ketakutan. Siapa yang tidak takut berhadapan langsung dengan pimpinan mafia terkuat dan terkenal kejam itu. Kelompok mafia lainpun segan dan takut padanya, apa lagi seorang Muslimah yang hanya manusia biasa, serta gadis manja yang selalu kemana mana ditemani kedua orangtuanya. Tapi kini dia berhadapan langsung dengan pimpinan mafia.
"Untung aku bisa menahan agar tidak buang air kecil sambil berdiri." Sahutnya bicara sendiri.
__ADS_1
Kemudian, dengan langkah cepat dan masih terhuyung huyung, Ima pun langsung menuju kamar mandi untuk buang air kecil yang sudah ditahannya sejak kedatangan Barnard di dekatnya beberapa saat yang lalu.