
Usaha madam Osi dan Rere membangunkan Muslimah tadi malam gagal. Hingga saat Barnard kembali ke kamar itu, mereka pun langsung undur diri.
Pagi ini, Barnard bangun disamping Muslimah yang masih setia memejamkan matanya. Barnard tersenyum geli menyadari untuk pertama kalinya dia berbaring diranjang yang sama dengan seorang wanita.
"Haruskah aku lihat wajahnya?" Bisik Barnard dalam hatinya.
Sungguh semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak karena terus terusan dihantui pikirannya sendiri yang memerintahkan untuk melihat wajah gadis itu. Memeluk tubuhnya dan mengecup keningnya. Namun, hatinya melarang untuk melakukan perbuatan seperti itu pada gadis yang masih terbilang asing untuknya.
Pagi ini, tangannya mulai menyentuh lagi kain cadar itu, tapi kemudian segera dia urungkan. Untuk mencegah terjadinya sesuatu dipagi hari, dia pun langsung turun dari ranjang, dan bergegas pergi menuju kamar mandi.
Saat itu juga Muslimah membuka matanya. Dia hanya diam menatap langit langit kamar berlukiskan suasana langit cerah di siang hari. Padahal tadi malam, langit langit itu gelap membentuk langit malam.
Muslimah sebenarnya sudah sadar sejak malam tadi tepat saat Bernard memerintahkan madam Osi dan Rere keluar dari kamar. Muslimah bahkan sempat membuka matanya menatap punggung Barnard saat pria itu berganti pakaian. Lalu, matanya kembali terpejam saat Barnard naik ke ranjang dan berbaring tepat di sebelahnya.
Muslimah sangat ketakutan sepanjang malam. Dia berdoa meminta perlindungan agar tidak disentuh oleh pria asing yang membelinya dengan harga lima kali lipat itu. Beruntungnya Ima benar benar tidak di sentuh. Ima hanya mendengar beberapa kali pria asing itu bergumam ingin membuka cadarnya untuk melihat wajahnya.
Tentu Ima sangat khawatir dan ketakutan. Tapi, untungnya Allah mendengar doanya, hingga pria itu mengurungkan niatnya untuk mencoba membuka cadarnya.
"Alhamdulillah, ya Allah. Engkau masih melindungiku sampai saat ini.." bisik Ima dalam hatinya.
Barnard keluar dari kamar mandi. Dia melihat mata Ima terbuka, tapi langsung dipejamkan lagi begitu mendengar suara pintu kamar mandi kembali di tutup.
Seringaian menakutkan terlihat diwajah Barnard. Dia pun mendekati Ima, duduk di pinggir ranjangnya tepat disamping Ima yang dia tahu gadis itu hanya pura pura tidur.
"Harusnya aku buka saja seluruh pakaian gadis ini.." Gumam Barnard menakut nakuti Ima.
Tangannya mulai menyentuh bagian lengan tangan Ima, lalu naik ke pundah Ima dan berhenti di punggung Ima. Tangannya mulai masuk ke jilbab sorong Ima untuk menemukan resleting gamisnya.
Ima menahan napasnya, keningnya mengkerut, matanya dipejamkannya seerat mungkin. Tentu Barnard melihat ekpresi ketakutan gadis itu. Dia pun semakin melanjutkan keusillannya.
"Ahh, harusnya aku buka saja dulu penutup wajahnya. Siapa tahu wajahnya jelek. Aku tidak sudi menyentuh gadis berwajah buruk rupa." Ucapnya sambil tersenyum usil.
__ADS_1
Tangannya mulai menyenyuh kain cadar diatas hidung Ima, perlahan dia menarik pelan kain itu…
"Jangan!" Jerit Ima, dia langsung bangkit dari posisi duduknya, beringsut menjauh dari Barnard.
"Saya hanya gadis buruk rupa, tuan. Jika tuan melihat wajah saya, mungkin tuan akan terkena sial." Ucap Ima terbata dengan suara serak dan gemetar. Kedua tangannya menahan erat cadarnya agar tidak terlepas dari wajahnya.
"Begitukah?"
Ima mengangguk cepat dan beringsut lagi semakin jauh dari Barnard, hingga dia tidak menyadari sudah berada di pinggir ranjang.
"Sayangnya aku tidak percaya. Aku ingin melihat langsung wajahmu.." Barnard kembali menakut nakuti Ima. Dia bahkan menggeser duduknya hendak mendekati Ima.
"Jangan tuan. Saya mohon..."
"Terlalu banyak uang yang aku habiskan hanya untuk membeli wanita yang bahkan tidak bisa aku lihat wajahnya. Rasanya sungguh menyebalkan." Ucapnya menatap Ima dengan tatapan devil-nya.
Ima beringsut lagi, semakin kebelakang dan akhirnya…
Bbuuukkkk…
"Kau baik baik saja?" Tanya Barnard yang menahan kaki Ima hingga kepala Ima tidak bernar benar terhantuk ke lantai yang keras.
Dan sebenarnya suara lantang barusan berasal dari tubuh Barnard yang menghambur ke permukaan kasur untuk meraih tangan Ima, namun ternyata hanya meraih pergelangan kaki Ima saja.
Kepala Ima terkulai lemah disana. Menggantung hingga membuatnya merasa mual.
"Kau akan terus seperti itu?"
"Ti-tidak." sahut Ima sambil memejamkan matanya.
Huh…
__ADS_1
Barnard menarik kedua pergelangan kaki Ima kearahnya, hingga tubuh Ima kembali keatas kasur. Setelah memastikan Ima sudah di posisi yang aman, barulah Barnard melangkah keluar dari kamar dengan hanya memakai handuk yang terlilit dipinggangnya.
Saat membuka pintu kamar, Barnard mendapati madam Osi dan Rere sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Selamat pagi, tuan." Sapa mereka sambil menundukkan kepala.
"Pagi. Kalian sudah disini sejak tadi?"
"Iya tuan."
"Kalau begitu, pergilah ke kota. Belikan pakaian untuk Muslimah."
"Baik tuan."
"Oh iya, Rere. Kau pasti tahu kan seperti apa pakaian yang harus kau beli untuk Muslimah?"
"Iya tuan. Saya tahu."
"Ya sudah pergi sana."
Madam Osi dan Rere pun hendak melangkah pergi.
"Tunggu!"
Langkah keduanya terhenti dan mereka langsung membalikkan badan untuk kembali menghadap pada tuan mereka.
"Apa kalian punya uang untuk membeli pakaian?"
Sebentar madam Osi dan Rere saling bersitatap, lalu mereka menggelang serentak.
"Kalau begitu, mintalah uang pada Don. Katakan padanya, aku yang memerintahkan kalian."
__ADS_1
"Baik tuan."
Kali ini madam Osi dan Rere benar benar melangkah pergi untuk menemui Don, meminta uang, lalu berangkat ke kota diantar sopir yang biasa mengantar madam Osi saat harus berbelanja kebutuhan dapur setiap satu bulan sekali.