
Barnard kini di bandara. Dia akan terbang ke Thailand untuk mengurus bisnisnya di sana tentu saja. Dia di temani Don dan dua orang lainnya yang terpilih untuk ikut bersamanya dalam misi kali ini.
"Bagaimana keadaan nona Muslimah, godfather?" tanya Don saat pesawat mulai lepas landas.
"Dia masih sangat ketakutan. Aku sengaja mengusilinya mengatakan akan menjadikan dia sebagai penuntas hasrat biologisku."
"Berarti, anda tidak benar benar akan menjadikannya jalaa…"
"Tentu tidak, Don. Dia adalah putri dari korban yang tidak sengaja mati karena misi-ku. Aku akan melindunginya seperti janjiku pada kedua orangtua-nya."
"Lalu, mengapa anda membawanya masuk ke kamar utama? Saya saja tidak pernah diizinkan untuk menginjakkan kaki di kamar itu." Ujar Don mengungkapkan rasa cemburunya.
"Dia sangat patuh pada Tuhan-nya. Lihatlah cara dia berpakaian. Kau tahu sendiri, di mansion ada banyak pengawal yang berkeliaran. Jika dia di tempatkan di kamar biasa, itu akan berbahaya. Dia akan kesulitan melindungi dirinya." Barnard mengungkapkan alasannya membawa Muslimah ke kamar utama.
"Terserah." Pikir Don sambil memalingkan wajahnya. "Aku rasa kau menyukai gadis itu Barnard." Gumamnya dalam hati.
Tiba tiba saja Branard tersenyum, dia teringat kejadian lucu pagi tadi bersama Muslimah.
Senyuman itu membuat Don semakin merasa cemburu. Bagaimana tidak, baru kali ini dia melihat godfather itu tersenyum manis seperti itu.
"Kau tahu Don, gadis itu sangat menggemaskan. Seperti anak kucing yang lucu." Ungkapnya mengingat setiap momen lucu pagi tadi.
Ya, hanya Barnard yang menganggap lucu kejadian pagi tadi. Sementara Muslimah hampir pingsan karena ketakutan. Dasar mafia usil dan menyebalkan.
Sementara, Muslimah masih dalam posisi seperti tadi. Dia tidak tahu harus melakukan apa dan harus bagaimana. Matanya menatap pintu yang tidak kunjung ada yang membukanya.
Kkrruuukkk…
__ADS_1
"Aku lapar.." Ima memegangi perutnya yang terasa keroncongan bahkan cacing sudah berteriak didalamnya minta makan.
Ima bahkan belum makan malam saat tiba tiba pamannya membawanya secara paksa untuk dijualnya tadi malam.
Ceklekkk…
Pintu kamar akhirnya terbuka. Muslimah langsung berdiri dan melangkah untuk menuju pintu itu. Tapi tiba tiba langkahnya terhenti saat melihat dua orang perempuan berseragam koki memasuki kamar.
"Maafkan kami terlambat mengantarkan sarapan pagi untuk anda nona Muslimah."
Kedua koki itu menunduk dihadapan Ima. Tentu saja itu membuat Ima merasa aneh dan yang lebih aneh karena dua wanita itu mengenal namanya.
"Si-siapa kalian?" Tanya Muslimah ragu.
"Saya Hani, kepala koki khusus memasak sarapan untuk tuan Barnard."
Wanita bernama Hani itu terlihat jauh lebih tua dari Ima. Tapi, wajahnya sangat cantik dengan mata sipitnya. Dia terlihat seperti orang Cina.
Wajah Qira sangat Indonesia, bahkan dia tampak seperti orang Jawa. Dari wajah mereka, Ima menebak Qira dan Hani seumuran.
"Ja-jangan menunduk begitu pada saya." Protes Ima, tidak suka karena dua wanita itu terus menunduk hormat padanya.
Kedua wanita itu tidak mengubris perintah dari nona yang harus mereka layani dan hormati seperti titah tuan mereka.
Hani mengambil piring yang diatasnya terdapat sepotong sandwich, lalu di piring lainnya ada roti tawar tanpa selai, karena selainya ada di dalam mangkuk mangkuk kecil lainnya. Semua makanan itu diletakkan diatas meja yang ada di dekat jendela kaca.
Kemudian, Qira juga meletakkan segelas jus apel segar dan segelas susu di atas meja itu juga.
__ADS_1
"Sarapannya sudah siap, nona. Selamat menikmati." Ucap mereka serentak dengan kembali menundukkan kepala pada Muslimah.
"Terimakasih." Jawab Muslimah yang juga menundukkan kepalanya pada mereka berdua.
Ya, meski bingung dan merasa aneh diperlakukan seperti ini, setidaknya Ima harus mengucapkan terimakasih pada dua koki yang telah berbaik hati menyiapkan sarapan untuknya.
"Kami permisi, nona."
Mereka pun melangkah keluar meninggalkan kamar itu dengan tidak lupa mengunci kembali pintu kamar.
Ima terdiam berdiri menatap makanan yang terhidang di atas meja. Perutnya sangat lapar, tapi dia tidak berani untuk memakan makanan itu. Ima merasa mungkin ada racun dalam makanan itu.
Kkrruuuuukkkk…
Suara cacing bergemuruh diperut Ima. Sungguh perutnya keroncongan. Dia sangat kelaparan.
"Baiklah, bismillah saja dulu.",
Ima duduk di sofa yang menghadap ke meja itu. Diambilnya roti tawar lalu diolesinya dengan selai coklat. Padahal ada selai stoberi dan juga serikaya kesukaannya. Tapi, dia lebih memilih selai coklat kali ini.
Dia makan roti roti itu dengan lahap. Bahkan Ima sudah menghabiskan dua potong roti dengan selai coklat, dan sepotong sandwich. Tapi, perutnya masih terasa lapar.
"Ya Allah, kenapa masih lapar juga. Ini pasti karena aku orang Indonesia. Kalau belum makan nasi, perutku tetap tidak akan kenyang."
Sambil memegangi perutnya yang masih terasa lapar, Ima melangkah menuju pintu kaca untuk menuju ke balkon. Dia ingin melihat keadaan di luar. Tapi, sayangnya pintu kaca itu terkunci rapat.
Huh…
__ADS_1
"Aku terkurung di tempat ini. Ayah, bunda… Ima merindukan kalian." Pikirnya menatap jauh menelisik ke luar menembus kaca tebal itu. Yang dapat dilihatnya hanya hamparan hutan dan pegunungan dengan pepohonan yang sangat rindang.
"Diamana aku? Tempat apa ini.." Pikirnya kembali merasa ketakutan saat menyadari kemungkinan dirinya tidak lagi berada di Jakarta. Mengingat Jakarta adalah kota yang padat dan sibuk. Namun, dari sini Ima tidak mendengar suara kendaraan sama sekali dan tidak melihat gedung gedung yang menjulang tinggi. Yang dapat di tangkap matanya hanya hamparan hutan lebat.