
Don yang sudah selesai menelpon pun merasa heran karena Muslimah sudah terlalu lama. Dia pun menyusul ke pemakaman dan betapa terkejutnya dia mendapati Muslimah sudah tidak berada di sana.
"S i al!!" Teriak Don kesal karena dia lengah dan kehilangan Muslimah.
Don mencari di sekitar tapi tidak menemukan Muslimah. Dia akhirnya menyusuri jalanan dan berhenti setiap melihat wanita bercadar. Tapi selalu salah sasaran.
"Aku harus menelpon Rere, dia yang tahu seperti apa wajah Muslimah." Gumamnya.
Don segera menelpon ke mansion mengabarkan bahwa dia telah kehilangan Muslimah.
Berita itu di dengar oleh Barnard yang baru akan menemui tawanannya di ruang bawah tanah. Niatnya dia urungkan dan dia langsung memeriksa titik keberadaan Ima melakui gps yang terpasang di bagian kancing gamis yang dipakai Ima.
"Gadis itu menuju ke Bogor. Dia bersama pria yang kau tunjukkan padaku waktu itu, Don." Gumam Barnard memberitahu Don.
"Maafkan saya godfather. Saya kehilangan gadis itu." Ujar Don menyesal.
"Sekarang bukan waktunya untuk menyesal Don. Kau harus menyusul gadis itu dan membawanya kembali ke mansion."
"Baik godfather."
Don segera melajukan mobilnya menuju arah Bogor untuk menyusul Ima. Dia sudah punya foto pria yang membawa Ima kabur. Setidaknya itu bisa membantunya untuk menemukan keberadaan gadis itu.
Sementara itu, kini Rangga dan Ima sudah melaju terlalu jauh. Mereka benar benar akan ke Bogor kalau saja ban motor Rangga tidak pecah.
"Bagaimana ini, pak Rangga. Saya harus buru buru pergi, seseorang mengejar saya.." Ujar Ima panik.
Rangga melihat ada mobil yang melaju kencang menuju kearah mereka. Dia pun melambaikan tangannya, sedangkan Ima terduduk lemas di pinggir jalan. Dia memukul mukul pelan kakinya yang terasa pegal karena belari dan terjatuh sebelum akhirnya bertemu dengan Rangga.
Mobil itu berhenti, Rangga mendekat kearah kaca mobil.
"Permisi, mas. Bisa kita numpang ke arah Bogor!" Seru Rangga saat pemilik mobil membuka kaca mobilnya.
Seringai penuh kemenangan terlihat diwajah pria pemilik mobil itu.
"Mari, mas. Kebetulan saya memang mau ke Bogor." Sahut pria itu.
Rangga yang kegirangan, langsung menghampiri Ima dan hendak mengajak Ima masuk ke mobil yang berhasil dihentikannya itu.
"Ima, ayok. Kita dapat tumpangan dari mobil itu, kebetulan mas nya juga mau ke Bogor." Ajak Rangga.
Perlahan Ima berdiri dengan susah payah. Lalu saat Ima berbalik untuk melihat Rangga, rupanya Don telah berdiri di belakang Rangga. Mata Ima membola, di hendak memberitahu Rangga untuk menjauh, tapi sebelum itu terjadi..
BUUUUGGGG
__ADS_1
Don memukul tengkuk Rangga secara tiba tiba hingga Rangga pingsan.
"Aaaakkkhhh!!! Pak Rangga..." Jerit Ima yang langsung berlari kecang ke arah depan.
"Mau kemana nona!"
Don lebih dulu menarik kuat pergelangan tangan Ima hingga Ima terpental kuat ke dinding mobil.
"Aaakkhh.. Toloooonggg!!!"
Ima berteriak minta tolong, dan sebelum orang lain datang Don langsung memaksa Ima masuk ke mobil.
"Lepaasssss!! Lepaskan saya.."
Ima mencoba membuka pintu mobil tapi sudah terkunci. Don pun kembali melajukan mobil, berputar arah untuk membawa Ima kembali ke mansion.
"Saya mohon, lepaskan saya tuan. Saya tidak mau kembali ke tempat itu lagi!!"
Suara tangisan pilu Ima memekakkan telinga Don. Ingin rasanya dia menampar atau memukul Ima agar menjadi lebih tenang dan diam. Tapi, dia tidak mau mati konyol karena menyentuh maianan milik tuannya.
Tiba tiba Ima teringat dia membawa pisau pengupas buah dalam saku gamisnya. Perlahan dia mengambilnya dan...
HIIYYYAAAKKKKK
"Aaakkrrrrgghhh!!!" Terdengar geraman Don dengan suaranya yang membuat Ima merinding.
Dengan cepat Ima menarik pisau itu lagi, lalu mencoba menancapkan lagi di pundah Don, tapi Don yang sudah terlatih, bisa dengan cepat menghindar lalu tidak sengaja mematahkan pergelangan tangan Ima hingga pisau itu jatuh darinya.
"Aaaakkkkhh!!!" Jerit Ima kesakitan dia merasa separuh nyawanya hilang saat Don mematahkan pergelangan tangannya.
Don juga benar benar marah karena Ima menyerangnya secara tiba tiba. Dia tidak menyangka wanita lugu itu akan menancapkan pisau di bahunya. Sangat dalam dan mengenai tulangnya. Sungguh rasanya sangat perih. Karena itulah Don sampai kehilangan kendali dan berakhir mematahkan pergelangan tangan Ima.
"Saakiiitttt... Allaaaahhhuuuu Sakiiiittt!!!" Teriak Ima terus menerus merasakan sakit pada pergelangan tangan kanannya yang dia gunakan untuk menusuk bahu Don beberapa saat yang lalu.
"Jika bukan karena kau wanitanya godfather, sudah aku bunuh kau sekarang juga ja-la-n-g!" teriak Don kesal. Dia hilang kendali karena rasa sakit yang didapatnya.
Bahunya mengeluarkan banyak darah. "Aaaakkk.." Rasanya nyilu dan Don tidak menyangka ternyata Ima punya energi yang cukup kuat juga hingga bisa menyakitinya.
BUUUUUGGGG
BUUUUGGG
BUUUGGG
__ADS_1
Ima berusaha menendang pintu mobil dengan kakinya meski dia menangis karena merasa sakit. Dia tidak peduli jika harus mati di tangan Don saat ini juga, asal tidak kembali lagi ke mansion dan tinggal bersama mafia kejam itu.
"Kau keras kepala sekali, nona." Gumam Don.
Ddrrrrrr
Iiiiitttttt
Dia mengerem mendadak. Ima terpental, kepalanya terhantuk ke langit langit mobil dan tangannya yang patah terhantuk ke permukaan pintu.
"Allah.. sakittt!!!" Jerit Ima sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran.
Don menatap kebelekang. Melihat Muslimah sudah tidak sadarkan diri membuatnya merasa sedikit lega.
"Untung kau pinsang lebih dulu, nona. Jika tidak aku mungkin yang akan membuatmu pingsan." gumam Don.
Dia kembali melajukan mobil, dengan kecepatan tinggi, karena harus segera sampai ke mansion sebelum Ima kembali sadarkan diri.
Dan pada akhirnya, mobil Don tiba di depan mansion. Barnard berdiri tegap menunggu di depan pintu utama. Kedua tangannya masuk kedalam saku celananya.
Don keluar dari mobil dalam keadaan bajunya berlumur darah, dan dia memegangi bahunya yang terluka. Melihat itu Barnard pun mengernyitkan dahinya.
"Apa yang terjadi Don?" Tanya Barnard.
"Maafkan saya godfather. Nona Ima memberontak dan dia menikam bahu saya, karena kaget saya pun melakukan perlawanan, hingga tidak sengaja saya mematahkan pergelangan tangan kanan nona Ima."
Don berlutut di hadapan Barnard. Dia mengakui apa yang telah terjadi pada tuannya itu.
"Obati lukamu, Don. Kau sudah bekerja keras." Gumam Barnard.
Dia melangkah mendekati Don, lalu berjongkok untuk menatap wajah Don yang juga terdapat noda darah disana.
"Lain kali, kau harus bisa mengendalikan diri." Bisik Barnard.
"Ampuni saya godfather." Sahut Don.
Barnard tidak lagi mendegarkan Don. Dia sudah melangkah menuju mobil, membuka pintu belakang mobil dan mendapati tubuh tak sadarkan diri Muslimah. Kepalanya terkulai ke lantai mobil, gamisnya sedikit tersingkap, jika Ima tidak memakai ledging mungkin kakinya akan terekspos.
Dengan segera Barnard mengangkat tubuh Ima masuk dalam gendongannya. Lalu dia melangkah masuk ke mansion membawa Muslimah.
Don hanya bisa menatap punggung Barnard. Ada perasaan bersalah dalam hatinya karena telah berani melukai Muslimah.
"Don, kau harus segera mengobati lukamu." Seorang pengawal menghampiri Don. Dia membantu Don berdiri dan memapahnya masuk ke mansion.
__ADS_1