Muslimah Dan Tuan Mafia

Muslimah Dan Tuan Mafia
Dia Muslimah


__ADS_3

Usai perundingan itu, Barnard menarik tangan Muslimah untuk keluar dari rumah itu. Tapi, Muslimah malah berontak dan terus menjerit minta dilepaskan. Itu sangat mengganggu Barnard. Hingga kesabaraanya habis. Membuatnya tidak tahan untuk melakukan sesuatu agar bisa membuat Muslimah diam.


Ttuukkk…


Barnard menyentuh satu titik dibagian depan bahu Muslimah yang bisa membuat Muslimah pingsan tanpa merasakan sakit yang berlebihan. Tubuh lemah tak sadarkan diri Muslimah jatuh dalam pelukan Barnard. Dengan jantannya dia menggendong Ima ala pengantin menuju mobilnya.


"Godfather, siapa dia!"


Don yang baru saja tiba di depan rumah itu terheran heran melihat tuan-nya keluar dengan menggendong seorang wanita.


"Dia Muslimah. Pamannya menjualnya. Aku sudah menebusnya sebanyak lima kali lipat. Urus semua itu."


"Baik, godfather." Jawab Don.


Meski ragu, Don tetap melangkah masuk ke rumah itu untuk menemui pemiliknya dan menyelesaikan transaksi pembayaran yang diperintahkan tuan-nya barusan.


Dengan sangat perlahan Barnard memasukkan tubuh Muslimah kedalam mobil yang di bawa Don. Karena kursi bagian belakang mobil ini jauh lebih nyaman untuk tempat membaringkan Muslimah. Sementara si hitam tidak berguna untuk situasi seperti saat ini.


Mobil itu melaju cepat, menuju pinggiran kota metropolitan, masuk ke dalam hutan dan barulah tiba di mansion megah milik sang pimpinan mafia.


Kedatangannya disambut oleh pengawalnya. Mereka menawarkan diri untuk membantu membawa tubuh Muslimah masuk ke mansion. Barnard menolak. Dia menggendong sendiri tubuh Muslimah masuk ke mansion dan langsung membawanya ke kamar utama yang sangat privasi baginya.


Para pengawal dan pelayan pun saling bersitatap mendapati apa yang baru saja mereka lihat.


"Ini pertama kalinya tuan Barnard menggendong wanita dan bahkan langsung membawanya masuk ke kamar utama yang sangat privasi baginya." Ujar wanita yang berusia sekitar pertengahan lima puluhan itu.


Dia adalah ketua maid atau pembantu di mansion milik Barnard bahkan saat Barnard masih tinggal di Eropa dulu.


"Benarkah, madam? Apa tuan tidak pernah membawa wanita ke kamar utama bahkan saat masih di Eropa?" Tanya maid yang lebih muda, mungkin seumuran dengan Muslimah.


"Ya. Tuan tidak suka siapapun masuk ke kamarnya termasuk Don sekalipun."


Maid muda itu mengangguk saja sekaan dia paham. Padahal dia sama sekali tidak mengerti.


"Madam!"

__ADS_1


Itu suara Barnard. Dia memanggil madam dari lantai atas.


"Iya tuan." Sahut madam sambil sedikit membungkuk, diikuti oleh maid lainnya.


"Mulai malam ini, madam saya perintahkan untuk merawat tamu saya."


"Baik tuan." Jawab Madam patuh, padahal dia masih belum mengerti seutuhnya. "Iya?!"


Wanita itu menegakkan tubuhnya, lalu mendongak keatas dengan wajah terkejutnya itu.


"Kau juga Rere. Bantu madam Osi."


"Baik tuan." Jawab maid muda yang bernama Rere itu tanpa berani menoleh pada godfather.


Madam Osi dan Rere saling bersitatap sebentar. Mereka masih terkejut karena diizinkan melangkahkan kaki masuk ke kamar utama. Hanya karena harus merawat gadis bercadar tamu sang mafia.


"Tunggu apa lagi, kenapa kalian belum bergerak!" Teriak Barnard kesal.


"Ba-baik tuan."


Madam Osi dan Rere segera melangkah cepat menaiki anak tangga menuju lantai atas tempat kamar utama berada. Pintu kamar itu terbuka lebar, hingga membuat madam Osi dan Rere langsung masuk dengan mudah.


Di ranjang itu terbaring seorang gadis bercadar. Rere merasa kenal dengan gadis itu saat melihat postur tubuhnya dan juga gamis yang dipakai gadis itu.


"Kau mengenalnya, Rere?" Tanya Barnard yang tentu saja bisa tahu hanya dengan menatap wajah Rere.


"Ma-maaf tuan. Sepertinya saya hanya salah menduga." Jawab Rere terbata karena dia takut salah mengira.


"Namanya Muslimah. Dia yatim piatu sekarang. Saya menemukannya di club rumah jajanan saat pamannya menjualnya di sana." Barnard memperkenalkan siapa tamu-nya itu pada dua maid kepercayaannya.


Ya, mereka setidaknya harus tahu siapa yang akan mereka layani mulai malam ini.


"Sa-saya rasa… saya mengenalnya, tuan." sahut Rere ragu.


"Bagus. Setidaknya saat dia bangun, dia akan melihat orang yang dia kenal."

__ADS_1


Barnard pun melangkah keluar dari kamarnya meninggalkan Rere dan madam Osi untuk melaksanakan tugas mereka membangunkan Muslimah dari pingsan-nya.


Sedangkan Barnard kini sudah berada di ruang kerjanya. Don juga sudah ada di sana.


"Kau sudah menyelesaikan urusanmu, Don?"


"Sudah godfather."


"Baguslah. Sekarang tugasmu, perintahkan Noah untuk mengawasi Joni secara diam diam. Katakan pada Noah untuk terus melaporkan padaku apapun yang dilakukan Joni." Titahnya pada Don.


"Baik godfather."


Don pun keluar dari ruangan itu untuk menemui Noah, kesatria kesayangan godfather setelah Don. Noah bertugas sebagai jendral perang, jika terjadi perperangan. Jika tidak ada perang, Noah hanya menjadi pelatih senjata api bagi anak anak godfather.


Saat Don tiba di area latihan menembak, dia melihat Noah sedang istirahat. Dia pun langsung menghampiri pria gagah itu.


"Kau sudah selesai berlatih?"


Noah menoleh kearah sumber suara. Tampak senyum ramah di wajahnya melihat kedatangan Don.


"Brother. Long time no see.."


Mereka melakukan tos dengan menyatukan kepalan tinju mereka sebanyak tiga kali. Sudah menjadi kebiasaan mereka sejak masih di Eropa dulu.


"Ada tugas baru untuk-mu dari godfather."


"Penuh tantangan atau tidak?"


"Tentu saja tidak. Kau hanya perlu mengawasi Joni." Don memperlihatkan poto laki laki bernama Joni yang ternyata adalah paman Muslimah.


"Warga sipil?"


"Yah, tapi pria ini adalah paman dari tamu spesial godfather."


Sebentar Noah mengerutkan dahinya, lalu dia tersenyum tanpa arti yang jelas.

__ADS_1


"Godfather benar benar membawa wanita ke kamar utama? Aku pikir itu hanya gosip belaka."


Don hanya mengangkat kedua bahunya sebagai respon dari Noah sahabat baiknya itu. Lalu mereka pun saling tersenyum geli membayangkan godfather mereka yang terkenal dingin pada wanita, kini malah membawa wanita masuk kamarnya.


__ADS_2