
Seminggu sudah berlalu semenjak Muslimah terkurung di istana mafia. Seminggu terakhir dia dibiarkan sendirian di mansion, tidak boleh ada siapapun yang menemaninya termasuk Rere dan madam Osi.
Pelayan dan pengawal hanya diizinkan mengawasi Ima dari kejauhan.
Ima benar benar dibiarkan bebas berkeliaran di sekeliling mansion, dibiarkan melakukan apapun yang dia suka. Makanan dan pakaian disediakan di kamarnya. Makanan akan ada di kamarnya setiap jam jam makan, sarapan, makan siang dan makan malam. Begitu juga dengan pakaian, Ima hanya perlu berganti pakaian tanpa harus mencuci pakaian yang kotor setelah di pakaianya seharian.
Dia diperlakukan bak putri di film si cantik dan si buruk rupa.
Barnard tidak selalu ada di mansion. Tapi, saat dia sedang di mansion, dia akan memerintahkan Ima untuk makan malam bersamanya di meja makan yang panjang di ruang dapur.
Seperti malam ini, Ima duduk di kursi ujung meja berhadapan langsung dengan Barnard yang juga duduk di kursi ujung meja. Jarak mereka cukup jauh sehingga membuat Ima merasa sedikit lebih nyaman untuk menyantap makanannya.
Tentu sulit untuk makan karena Ima memakai cadar. Tapi, karena jarak duduk mereka berjauhan, tentu sedikit membuat Ima lebih leluasa saat harus menyantap makanannya.
"Kau selalu makan seperti itu?" tanya Barnard menatap cara Ima memasukkan makanan kemulutnya yang tersimpan di balik kain cadarnya.
"Iya. Kenapa?" Jawab Ima judes.
"Kau selalu bicara kasar padaku. Apa kau tidak takut pada mafia sepertiku?"
"Tidak. Untuk apa aku takut pada mafia yang ingkar janji seperti anda."
Kening Barnard mengkerut mendengar Ima mengatainya ingkar janji.
"Apa aku menjanjikan sesuatu padamu?" Selidik Barnard yang ternyata benar benar telah melupakan janjinya.
"Anda bahkan telah melupakannya.."
__ADS_1
"Janji apa yang aku lupakan. Jika janji itu terlupakan berarti itu bukan hal yang penting untuk diingat, karena itulah aku melupakannya." Jawabnya tenang dan kembali melanjutkan makan malamnya.
"Memang bukan janji yang penting. Hanya janji anda yang katanya memberi saya izin untuk menjadi pelayan seperti Rere. Bukannya menepati janji, anda malah melarang semua orang untuk berkomunikasi dengan saya." ujar Ima tegas dengan raut wajah kesal.
Barnard tersenyum mendengar ocehan Ima, entah mengapa Ima terlihat menggemaskan saat mengoceh seperti itu dimata Barnard.
"Kenapa anda tersenyum? Apa ada yang lucu?" Lanjut Ima.
Barnard merubah ekspresi wajahnya menjadi wajah seram dengan tatapan mengintimidasi. Tentu itu membuat Ima merinding, tapi dia mencoba untuk terlihat baik baik saja. Padahal wajahnya sudah pucat dibalik cadarnya saat mendapat tatapan seperti itu dari pimpinan mafia.
"Semakin aku biarkan, kau semakin cerewet dan semakin tidak sopan, Ima. Apa kau ingin benar benar dihukum?" Tatapan Barnard semakin tajam dan mengintimidasi.
Ima tidak lagi bisa menyembunyikan rasa takutnya, dia pun menundukkan pandangannya dan menautkan kedua tangannya yang mulai gemetar bahkan terlihat jelas saat dia memegang sendok dan garfu. Sehingga Ima pun berhenti menyantap makan malamnya.
"Mudah saja menghukummu nona Muslimah. Jangan kau kira aku tidak melakukan itu karena aku mulai menyukaimu. Tidak. Aku sedang berencana untuk menghukummu dengan hukuman yang tidak akan pernah bisa kau lupakan seumur hidupmu." Gertak Barnard menakut nakuti Ima.
Mata Barnard terus menatap tajam wajah Ima yang sudah menunduk dalam sejak tadi. Ima bahkan tidak berani lagi untuk menegakkan kepalanya walau sebentar. Dia benar benar takut jika benar Barnard akan menghukumnya. Dalam pikiran Ima, kemungkinan hukuman yang akan didapatnya adalah mafia itu mungkin akan menyentuhnya. Karena memang hanya hal itu yang paling ditakutinya.
"Benarkah, aku boleh menjenguk kedua orangtua ku?" Ulang Ima bertanya lagi untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
"Iya." Jawab Barnard singkat.
Ima tersenyum senang, lalu dia pun melanjutkan makan malamnya dengan lahap. Dia mengabaikan tatapan Barnard padanya yang menatap dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Usai makan malam, Ima langsung kembali ke kamar. Ya, kamar utama menjadi hak milik Ima. Sedangkan Barnard memilih tidur di ruang kerjanya atau diruang bersantainya jika dia sedang berada di rumah. Dia hanya masuk ke kamar utama saat hendak berganti pakaian dan itu pun kalau Ima tidak sedang berada di kamar.
Dan kini Barnard sudah berada di ruang kerjanya. Ada Don yang berdiri di depannya melaporkan sesuatu pada godfather.
__ADS_1
"Aku berhasil menemukannya, Bar. Dia ditahan di markas saat ini. Aku juga menemukan beberapa barang milikmu yang berhasil dicurinya. Dia berencana menyerahkan barang itu pada Tyos." Don memaparkan beberapa lembar foto di atas meja kerja Barnard.
Foto foto itu menunjukkan bagaimana cara pria yang mereka maksud mengkhianati godfather.
"Haruskah aku siapkan si hitam?" Tanya Don yang berbicara santai pada godfahter.
Memang seperti itu, Don akan berbicara santai seperti bicara pada sahabat saat mereka hanya berdua dan saat Barnard juga sedang bersantai. Tapi, saat Barnard dalam mode serius, itu berarti Don harus bicara sopan padanya.
"Tidak usah. Untuk pengkhianat sepertinya, perlu hukuman yang sadis dan menyakitkan hingga dia memohon untuk dibunuh saat itu juga."
"Kau akan menghukumnya di sini? Bukankah kau tidak ingin Muslimah melihat saat kau menghukum para pengkhianat?" Sahut Don.
"Itulah mengapa besok kau harus membawanya keluar dari mansion. Bawa dia berkunjung ke makam kedua orangtuanya." Titahnya pada Don.
Don mengangguk paham. "Aku akan membawanya pergi besok sebelum matahari terbit."
Diam diam, di luar ruang kerja Barnard, Ima rupanya menguping. Dia sengaja mendengarkan pembicaraan Barnard dengan Don.
"Astaghfirullah, apa yang akan mereka lakukan? Apa mereka akan membunuh seseorang besok.." Pikir Ima dalam hatinya.
Ima beruntung bisa menguping saat ini, karena kamera cctv yang ada di depan ruang kerja Barnard sedang rusak dan masih diperbaiki. Ima mengetahui tentang itu tadi pagi, dia tidak sengaja mendengar obrolan dua orang pengawal yang membahas tentang cctv di depan ruang kerja Barnard tengah diperbaiki.
TAK TAK TAK TAK
Ima mendengar suara langkah kaki mendekati pintu. Dengan cepat dia bersembunyi di balik tembok samping ruangan itu. Untungnya tidak ada yang melihatnya sama sekali. Sehingga Ima aman disana. Bahkan Don yang keluar dari ruangan itu pun tidak menyadari kehadiran Ima.
Setelah merasa suasana aman, Ima pun langsung bergegas menuju kamarnya lagi. Dia pun mulai mengatur rencana untuk menggagalkan misi Barnard yang akan menyiksa bahkan membunuh seseorang yang disebutnya sebagai pengkhianat.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Aku harus berusaha untuk menggagalkan rencanya. Tidak. Mafia itu tidak berhak membunuh siapapun. Hidup dan mati manusia bukan ditangannya tapi di tangan Allah." Gumamnya.
Ima terlalu Ceroboh, jika benar dia mencoba ikut campur urusan godfather. Harusnya Ima diam saja dan ikuti saja alur kehidupannya tanpa harus ikut campur urusan manusia paling menakutkan itu. Karena sekalinya Ima ikut campur, maka dia akan benar benar menyesalinya mungkin seumur hidupnya.