
Tidak ingin terlalu berlarut memikirkan apa yang saat ini terjadi pada dirinya. Ima pun akhirnya bergegas mandi, lalu berganti pakaian. Setelah berpakaian rapi, dia melirik angka pada jam elektrik yang tertempel di dinding kamar. Ternyata sudah hampir jam satu siang.
"Alhamdulillah sudah Zuhur." Gumamnya.
Muslimah pun langsung melaksanakan sholat zuhur menggunakan mukena yang dibelikan Rere tadi. Setelah sholat Muslimah langsung membuka al-qur'an dan membaca surah yaasin.
Air matanya membasahi pipi, hingga membuat kain cadarnya ikut basah oleh bulir bening itu. Senyuman ayah bundanya setiap kali menyambut saat dia pulang bekerja masih terlihat jelas dalam ingatannya.
Hhiikkss…
"Ayah, bunda.. Ya Allah, sabarkan aku. Aku sangat merindukan ayah dan bunda." gumam Ima dalam tangisannya.
Suara lembut bunda saat memanggilnya, suara lembut ayah saat memberikan nasihat nasihat, semuanya masih terngiang ngiang di telinga Ima.
Bagaimana mungkin Ima bisa baik baik saja, sementara kedua orangtua tercintanya baru saja dimakamkan dua hari yang lalu. Harusnya saat ini Ima berada dimakam untuk menjenguk kedua orangtua-nya. Tapi, dia malah terkurung di tempat ini. Tempat yang Rere sebut mansion. Dan yang lebih anehnya, Ima dikurung oleh seorang mafia pemilik mansion ini.
Mendengar kata mafia saja sudah membuat Ima ketakutan. Tapi, rasa takut itu dia tepis sementara. Karena dia masih dalam keadaan berduka.
Tok…
Tok…
Suara ketukan pintu kamar. Ima mengira Rere yang datang, hingga tanpa melepas mukenanya dan dalam keadaan tidak memakai cadarnya, dia pun langsung melangkah kearah pintu.
"Selamat siang nona Muslimah." Sapa dua orang wanita yang membuka pintu kamar. Mereka adalah Hani dan Qira.
Wajah kecewa Ima tampak jelas begitu mendapati bukan Rere yang datang, tapi dua koki yang membawakan makan siang untuknya.
__ADS_1
Melihat wajah Muslimah membuat Hani dan Qira terpesona. Tapi, mereka cepat menundukkan kepala saat menyadari mereka telah lancang menatap wajah majikan mereka.
"Kami membawakan makan siang untuk nona Muslimah."
Mereka menata makanan itu di atas meja yang sama seperti pagi tadi. Makan siang yang mereka bawa adalah goreng ayam mentega, udang goreng tepung dan tidak ketinggalan sambal juga sepiring penuh nasi.
Setelah menata makanan, mereka pun langsung pamit undur diri. Tapi, sebelum mereka benar benar pergi, Ima menghentikan mereka.
"Bolehkah saya melihat lihat ke luar melalui balkon?" Tanya Muslimah ragu.
Qira dan Hani saling bertatapan sebentar, lalu Hani melangkah mendekati pintu kaca yang mengarah ke balkon. Melihat itu membuat Ima tersenyum senang. Dia pun langsung melangkah menuju balkon dengan masih memakai mukenanya. Ima menutupi sebagian wajahnya dengan ujung mukenanya, sebagai pengganti cadar sementara.
"Jika nona bosan, tuan Barnard juga memberikan izin pada nona untuk berkeliling mansion. Tapi, harus bersama Rere atau madam Osi." Gumam Qira menjelaskan.
Mereka baru mendapat titah dari majikan mereka beberapa jam yang lalu. Bahkan Rere dan madam Osi pun belum tahu mengenai titah terbaru itu.
"Benarkah saya diizinkan keluar dari kamar ini?" Tanya Ima yang masih belum sepenuhnya percaya.
Muslimah tersenyum senang. Segera saja dia menekan tombol merah pada remote yang diberikan Rere tadi.
"Kami permisi, nona." Pamit mereka dengan menundukkan kepala memberi hormat pada Muslimah.
"Terimakasih.." Muslimah ikut menundukkan kepalanya.
Setelah kedua orang itu keluar dari kamarnya, Muslimah pun langsung membuka mukenanya menyisakan gamis navy dan hijab panjang serta dalamnya. Lalu, dia pun memakai kembali kain cadarnya yang tadi dilepas saat sholat.
Saat hendak melangkah menuju pintu, matanya tidak sengaja melihat makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.
__ADS_1
"Aku lupa, ternyata aku belum makan siang." gumamnya.
Ima kembali melepas kain cadarnya. Lalu dia duduk di sofa yang yang ada di depan meja.
"Bismillah…"
Ima mulai menyantap makan siang itu. Dan yang menjadi kesukaannya adalah cah kangkung dan udang goreng tepung. Sementara ayam goreng mentega tidak disentuhnya sama sekali. Karena memang Ima tidak terlalu menyukai ayam.
Saat sedang menyantap makan siangnya, Rere pun tiba setelah memdapat panggilan dari Muslimah yang beberapabsaat lalu menekan tombol merah pada remote.
"Rere, apa kamu sudah makan?" Tanya Ima tersenyum pada sahabatnya itu.
"Sudah, nona." Jawab Rere juga sambil tersenyum.
"Berhenti memanggilku begitu, Re."
"Tidak bisa, nona. Tuan Barnard akan marah."
Mendengar itu membuat Ima diam. Dia sangat tidak suka saat membahas tentang pria menakutkan itu.
"Ada apa nona memanggil saya?" Rere berdiri di hadapan Muslimah.
"Mmh, bisakah kamu menemani aku berkeliling di mansion ini. Aku merasa pengap di sini, Re. Ingatan tentang ayah dan bunda juga terus membayang di pikiranku. Aku ingin menghirup udara segar di luar sana.." Sahutnya menjelaskan keinginannya pada sahabatnya itu.
"Kalau begitu habiskan dulu makan siangnya, nona. Setelah itu saya akan membawa nona berkeliling mansion." Tutur Rere.
"Aku membencimu, Re. Aku tidak suka kamu memanggilku seperti itu."
__ADS_1
"Maafkan saya, nona. Tapi, ini adalah tugas saya."
Ima menatap dalam kedua bola mata Rere yang tampak sendu. Melihat itu membuat Ima merasa jarak diantara mereka semakin terasa. Padahal tujuh tahun lalu, mereka begitu dekat, bahkan sering makan sepiring berdua dan minum satu gelas berdua.