My Expectation Was Change After I See My Effect Skill

My Expectation Was Change After I See My Effect Skill
Chapter 9 : Menggunakan Sihir


__ADS_3

Aku berada di mobil.


"Bu, kenapa nama ku Kuro ?."


"Mmm, Kuro artinya gelap karna saat aku melahirkan kamu itu terjadi sesuatu dan ketika kamu telahir sesuatu itu berakhir kamu tau itu lah mengapa aku mengasih nama mu Kuro."


"I see, Kuro aku senang dengan nama itu."


"Ahaha, dan juga aku memberi mu nama Kuro untuk ..."


--


Ahh baru kali ini aku bermimpi tentang itu.


"Ada apa kuro."


Aku berbalik ke arah suara itu, Livia di samping ku sedang berbaring menghadapku.


"Imut."


"E-eh ?."


Aku tanpa sadar mengatakan itu yah mau bagaimana lagi muka dia sangat imut.


"Ah, tidak apa apa. Apakah kamu tidur nyenyak kemarin malam."


"Ya, entah bagaimana aku bisa tidur nyenyak. Bagaimana dengan mu, Kuro ?."


"Ah, aku tidur nyenyak juga."


Sebenarnya aku tidur hanya sebentar aku sangat gugup tidur dengan perempuan yang sama umurnya denganku.


"Baguslah, aku akan mandi Kuro. Juga aku harus menyiapkan mu makanan."


"I see, silahkan."


Livia berdiri dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.


"Livia, kamu bisa tidur nyenyak bahkan itu sekasur dengan cowo ?."


Aku penasaran Livia mengangap ku apa didalam hatinya. Mari abaikan tentang itu.


Hhuuhh aku lupa yang dikatakan mamaku dulu aku berharap suatu saat mengingatnya.


"Hwah, ini pertama kalinya!!!."


Suara teriakan berasal dari kamar mandi aku khawatir tentang ini jadi aku berjalan ke pintu kamar mandi dan mengetuknya.


"Ada terjadi sesuatu, Livia ?."


"Y-ya, tidak terjadi apa apa."


"I see, panggil aku jika terjadi apa apa."


Aku berbalik dan duduk di kasur.


"### Status"


Nama : Kuro


Age : 16


Race : Human


Lv : 1


Class : ???


Title : Human From Another World


Skill Point : 0


Strength : 15


P Defense : 40


M Defense : 21


Agility : 25


Magic : 10


Skill :


Skill Dasar


- Appraisal Lv 1 > Level 2 (10 Skill Point)


- Detection Lv 1 > Level 2 ( 10 Skill Point)


- Night Vision Lv 1 > Level 2 (10 Skill Point)


- Poision Resistance Lv 1 > Level 2 ( 10 Point)


- Auto Recovery (Small) Lv 1 > Level 2 (Lower-Middle) (30 Skill Point)


Skill Tree ???


- Gluttony


Tidak ada yang berubah, baiklah aku akan mencoba skill Gluttony lagi.


"Gluttony."


Tidak terjadi apa apa, hhuuhh.


Aku menutup statusku berdiri di depan jendela, pemandangan disni tidak membuatku bosan aku ingin berjalan jalan di kota itu suatu saat.


Pintu kamar mandi terbuka disitu ada Livia yang memakai seragam maidnya seperti biasa.


"Kuro, aku akan pergi nanti aku akan balik lagi untuk membawa makanan. Jadi tolong tunggu."


"Baik, aku akan menunggu."


Aku menemani Livia ke depan pintu kamarku, setelah itu dia mengeluarkan kunci seperti kunci kamarku dan mencoloknya.


"Ah, ini adalah sesuatu yang harus dipunyai setiap maid. Jadi maaf aku tidak bilang tentang ini."


"I see, itu tidak masalah bagiku apa lagi kamu yang memegangnya."


"Oke, aku akan pergi dulu."


Livia menjauh dari kamarku dan aku terus menatap sosok itu yang berjalan pergi itu.


"Mungkin mulai besok ia tidak merawatku lagi."


Karena aku akan memberitahunya tentang apa yang di katakan Tsuhira. Itu demi kebaikan Livia juga pasti keingina Livia merawat pahlawan bukan orang yang ikut terbawa.


"Ya, itu adalah keputusan, Livia."


Namun jika Livia merawat Katashi aku takut Katashi melakukan hal yang tidak tidak pada Livia.


Bahkan dia merencanakan sesuatu yang tidak bisa kutebak. Sial!! aku takut dia merancanakan hal yang melibatkan Livia.


Aku sebaiknya tidak memikirkan hal itu, lebih baik aku mandi untuk menenagkan pikiran aku.


Aku kembali ke kamarku dan berjalan ke kamar mandi.


"Ah, bau Livia."


Ketika aku membuka pintu kamar mandi itu wangi Livia apakah dia memakai sabun atau semacam parfum aku ingin tau.


Baiklah aku akan mandi setelah itu makan dan pergi ketempat latihan.


Aku mengeringkan badanku dengan handuk, setelah kering aku memakai baju dan celana. Aku membuka pintu kamar mandi.


"Ah, Livia kamu sudah balik."


"Ya begitu, silahkan kamu makan."


"Ya, aku akan dan juga ada yang ingin kubicarakan."


"Apa itu ?."


"Tentang temanku yang memukuli kemarin."

__ADS_1


Aku menceritakan semuanya pada Livia.


"Aku mengerti, tetapi aku tidak akan melakukannya."


"I see, kenapa ?."


"Yah, dia Katashi kan. Dia pernah berbicara padaku ketika bertemunya di lantai 2 juga aku merasakan firasat buruk di dekatnya."


"Begitukah, berarti seterusnya aku tetap di rawat dengan mu ya."


"Iya lagian aku sudah nyaman merawatmu, tolong makan dan aku akan pergi untuk bekerja."


"Ya, terima kasih livia."


"Tidak masalah."


Livia mengatakan nyaman merawatku dan juga ia tidak jadi merawat Katashi. Aku senang ketika dia mengatakan itu, Ahh baiklah aku akan makan dan pergi untuk berlatih.


Aku berjalan di lorong untuk pergi ke tempat latihan.


"Yoo, Kuro. Kamu sepertinya sudah sehat penuh."


"Yah, entah bagaimana aku penasaran mereka memberi obat apa padaku."


"Tidak, mereka menggunakan healing magic tau ?."


"Serius ?, magic oh. Lagian ini di dunia lain jadi itu pasti."


"Haha, kamu sepertinya baru tau itu."


"Ya entah bagaimana."


"Kuro, kau tau kemarin maid kamu ketika mendengar kamu pingsan ia sangat khawatir. Bahkan dia minta tolong aku untuk membiarkan dia merawat mu sampai kamu sembuh."


"I see, pantas saja dia berada di kamarku ketika aku bangun."


"Ya begitu dia sepertinya sangat menyukai mu, Kuro."


"Haha itu tidak mungkin dia terlalu cantik untukku dan juga dia mana mungkin suka denganku yang biasa saja."


"Ah kamu mengatakan itu setiap kali aku bilang ada yang menyukaimu."


"Ahaha, terima kasih untuk kemarin. Kamu menyelamatkan ku Yuu."


"Tidak masalah lagian kamu sahabat ku."


Yuu mengatakan itu dengan senyum, Sahabat ya. Lain jika dia meminta bantuan pasti aku akan bantu.


Aku membuka pintu tempat latihan di tengah lapangan semua siswa berkumpul bahkan ada Tsuhira dan sugumi dan siswa Class Mage.


"Hei sepertinya kita harus berkumpul ke situ."


"Ya, ayo."


Aku berbaris di paling belakang mendengarkann penjelasan apa yang dikatakan Old Man dan Eri.


"Baiklah, semua sudah berkumpul hari ini kami akan melakukan pertukaran. Yang tadinya belajar Mage sekarang berada di bawah bimbinganku dan Yang dibimbingku sebelumnya sekarang di bawah bimbingan Eri. Mengerti ?."


"""""Yes Understood."""""


Ah sepertinya pertukaran bimbingan aku ingin tau apakah aku dapat menggunakan magic.


"Baiklah, sekarang yang Class mage ikuti aku dan Class yang menggunakan senjata tolong ikuti Eri."


Aku dan Murid lain mengikuti Eri.


"Wah ruangan ini sangat luas bahkan lebih dari lapangan latihan."


"Iya, ruangan apa ini ?."


"Aku tidak tau, tetapi kenapa tempat ini sedikit berat."


"Entah aku juga tidak tau."


Aku sekarang berada di salah satu ruangan di lantai 4. Ruangan yang kumasuki sangat luas bahkan lebih dari lapangan tempat ini seperti perpustakaan karena memiliki banyak buku.


"Nah, kalian sekarang berada di ruang latihan ku. Kalian akan belajar menggunakan magic disini."


"Ah iya, kita memiliki skill magic tetapi kita tidak bisa memakainya."


"Aku tidak percaya kita bisa menggunakan magic."


"Ya, sama."


Para siswa berisik ketika mereka dapat menggunkan magic aku juga begitu semangat tetapi percuma bagi aku karna tidak memiliki skill sihir.


"Nah, Aku aka menjelaskan tentang magic. Magic adalah sesuatu yang bisa dihasilkan dari tubuh kita, Magic mempunyai beberapa element yaitu Fire, Water, Earth, Wind dan juga element yang jarang di punyai Cahaya dan Gelap."


"Juga Mana adalah sesuatu yang dimiliki setiap manusia di dalam diri mereka, tetapi setiap orang memiliki kapasitas mana berbeda."


"I see, terimakasih atas penjelasnya Miss Eri."


"""""Terimakasih juga miss Eri."""""


Mungkin karena perempuan mereka semua sedikit menjaga sikap mereka dari pada sebelumnya saat bersama Old Man.


"Ya, tidak masalah. Nah sekarang aku harus mengetahui element apa kalian dan seberapa besar mana kalian dengan cara meletakan tangan kalian di crystal ini."


Yang pertama maju adalah Hikari.


"Kamu letakkan tangan mu diatas sini dan tutup mata fokus terhadap dirimu sendiri ketika kamu merasakan aliran tolong lepaskan itu ke crystal ini."


"I see, aku akan melakukannya permisi."


Hikari menutup matanya dan cahaya sedikit demi sedikit keluar dari crystal. Semakin lama semakin besar dan crystal itu penuh dengan cahaya emas.


"Baiklah cukup, kamu memiliki elemen Cahaya dan juga mana kamu sangat tinggi bahkan itu lebih tinggi dari pada penyihir terhebat kerajaan, Sage."


"Ah jadi begitu, aku memiliki elemen cahaya dan mana banyak. I see terima kasih Miss Eri."


"Ya tidak masalah kamu mungkin terkuat di dunia ini dalam beberapa bulan."


"Kamu terlalu memuji ku."


"Hikari bukan kah kamu protagonist di dunia ini ?."


"Iya, bahkan aku percaya Hikari pasti protagonist disini."


"Dia juga membuat ekspresi biasa saja ketika dia mengetahui dia menjadi terkuat."


"Hikari cheaterrrrrr."


"Ya benar dia cheater."


"Baiklah, selanjutnya."


Teman sekelasku berisik ketika mereka tau tentang hikari yang cheat dan selanjutnya yang di panggil adalah Yuu.


Yuu meletakkan tangannya di crystal itu yang keluar cahaya merah dan cahaya yang keluar sedikit lebih kecil dari Hikari.


"Kamu memiliki elemen api dan mana mu sanggat tinggi sama seperti sage."


"Woah, serius ?."


"Ya."


"Terima kasih."


"Tidak masalah, selanjutnya kamu."


Yang dipanggil selanjutnya aku. Aku hanya bisa pasrah disini jadi mau gimana lagi.


"Ah kamu yang waktu itu latihan di malam hari."


"Ahaha, iya ada apa."


"Tidak, aku hanya melihatmu sekilas saat sedang berjalan jalan."


"I see jadi, permisi."


Aku meletekkan tanganku di atas crsytal dan aku menutup mataku setelah itu memfokuskan sesuatu yang mengalir seperti dikatakan Miss Eri.


Aku terus memfokuskan dan keluar cahaya di crystal itu berwarna putih dan bercahaya kecil.


"Ah sudsh cukup, aku tidak tau apa element mu tetapi kanu memilki mana yang sedikit seperti orang di dunia ini."

__ADS_1


"I see, terima kasih miss Eri."


"Jangan menyerah kamu dapat meningkatkan mana mu jika terus memakai magic."


"Makasih, miss Eri aku akan melakukannnya mulai besok."


Aku berbalik ketempat sebelumnya.


"Seperti yang diharapkan dari kamu "orang yang terbawa.""


"Katashi bisakah kamu diam ?."


"Heeh kamu menyuruh ku, Yuu ?."


"Ya, ada dengan itu."


Yuu dalam posisi bertarung dan Katashi mengikutinya.


"Yuu tidak masalah aku sudah biasa jadi tidak usa di lanjutkan."


"Tidak, aku sedikit marah disini. Aku akan membalaskan dendam mu disini."


"Tidak aku, tidak dendam kepada Katashi jadi yuu cukup."


Hikari datang karena terjadi keributan.


"Katashi kamu hentikan oke, kita sekarang masi dalam pelatihan."


"Hheehh kamu tidak memiliki hak untuk menyuruhku, disini hikari."


Ketika Katashi mengatakan itu dia langsung berjalan menuju Yuu sambil mengepalkan tangannya dan Yuu bersiap untuk bertahan.


Ah ini terjadi lagi aku di lindungi oleh seseorang lagi oleh orang yang kuanggap penting, Sialan!!.


Katashi mengangkat tangannya seperti dia menonjok aku dan yuu siap menhan untuk mencounter tetapi.


"Kalian Hentikan."


Tekanan berat yang lebih besar dari initimidasi Old Man berasal dari Eri.


Katashi dan Yuu dengan cepat berbalik ke arah itu dengan sedikit ketakutan di wajah merah.


""W-kami mengerti.""


"Kalian tidak boleh berantem selama pelajaran ku dan juga ini peringatan, jika kalian melakukannya lagi aku tidak akan mengajari kalian tentang magic, mengerti ?."


""""""Kami mengerti.""""""


Setelah itu, tes kami berlanjut sampai siang.


"Nah, kalian semua hebat memiliki mana seperti Class Mage kalian sangat hebat seperti yang di harapkan dari para pahlawan."


"Baiklah selanjutnya aku aka mengajarkan kalian cara menggunakan sihir."


Miss Eri menjelaskannya.


"Jadi yang harus dilakukan untuk menggunakan magic adalah menyebarkan mana keseluruh tubuh kalian dan pusatkan mana di urat nadi tangan kalian selanjutnya kalian harus menyebut nama skill magic yang kalian miliki."


"I see, tetapi aku tidak memiliki nama skill magic hanya memiliki Light Magic apa yang harus aku lakukan."


"Jika itu, kamu hanya harus fokus membayangkan sesuatu yang ingin kamu buat selanjutnya kamu hanya harus mengatakan nama Magic kalian. Semakin kalian jelas membayangkan semakin kuat juga magic itu.


"I see, berarti aku hanya harus membayangkan sesuatu dan magic itu akan merubah bentuknya seperti yang aku bayangkan.


"Benar, biasanya setiap magic memiliki namanya sendiri seperti Fire Strom tetapi untuk kamu itu spesial seperti Tsuhira dia dapat membuat apa pun dengan sihir apinya hanya dengan membayangkannya."


"I see, terima kasih atas penjelasannya miss Eri."


"Tidak masalah, sepertinya hanya True Hero yang memilki skill itu."


"Ah, begitu kah ?."


Wow bukan kah Skill Magic yang di miliki Hikari dan Tsuhira sanhat kuat bahkan mereka hanya harus membayangkannya.


"Ya, dan juga kalian dapat melapisi senjata kalian dengan sihir kalian itu metodenya sama seperti mengeluarkan sihir tetapi kalian harus memusatkan mana kalian di senjata yang dipegang."


Aku mengerti itu berbeda dengan skill Dragon Scale Yuu yang mengeluarkan api seperti naga di spearnya.


"Aku akan memulai latihan, sekarang kalian harus melepaskan skill magic kalian tetapi ada beberapa yang belum membuka skill magicnya jadi yang belum silahkan kalian mengambil senjata yang ada di sana dan melapisi pedang kalian dengan elemen yang kalian punya."


Siswa yang belum mempunyai skill msgic berjalan ke tempat senjata termasuk Aku dan Yuu. Hikari dan 4 siswa hanya diam di tempat dan mulai melakukan latihan.


"Ah jagan takut untuk mengeluarkan magic apa pun karna ruangan ini memiliki pertahanan tingkat suci dan juga jika kamu terus menggunakan magic terus mana mu akan habis dan itu membuatmu kehilangan kesadaran."


"""""Oke dimengerti."""""


Tingkat suci ?, sepertinya setiap sihir mempunyai tingkatan dan juga dengan kehabisan mana kita bisa kehilagan kesadaran.


"Kuro, tolong lihat aku."


Kuro yang disamping ku memanggilku. Ketika aku melihat kuro dia memegang Spear yang di lapisi api di ujungnya.


"Wow, kamu sangat keren Yuu."


"Haha, ini tidak seberapa coba lihat yang ini. Dragon Scale!."


Ketika dia mengatakan itu api yang dispearnya membentuk naga dan Yuu mendorong tombak itu ke atas setelah itu api berbentuk naga berpisah dengan tombaknya.


"Yuu, itu lebih hebat dari pada yang kamu gunakan kemarin."


"Yah entah bagaimana aku bisa menggabungkan itu."


"I, see aku akan berlatih juga."


"Baik, lakukan yang terbaik."


Aku menjauh dari Yuu, dan pergi kebagian pojok ruangan karna aku harus menghindari tatapan Takashi dia dari menatapku dengan aneh dari tadi.


Aku tidak akan melibatkan Yuu lagi, meskipun dia kuat tetap Yuu tidak harus mencampuri urusan ku dengan Takashi.


Aku fokus mengalirkan manaku ke senjata ketika tetapi tidak ada yang terjadi, serius bahkan untuk menyelimuti pedangku dengan elemenku tidak bisa.


"Hhuuhh."


Aku tersial disini bukan ?, baiklah aku akan mengayunkan pedangku seperti biasa.


Aku terus mengayunkan pedangku sampai 100x, sekarang aku sudah terbiasa dengan beratnya jadi aku bisa selesai lebih cepat dari biasanya.


"Baiklah, aku akan akhiri pelajaran hari ini, Jadi kalian bisa balik ke kamar kalian dan jika kalian memang masi ingin berlatih tidak apa apa tapi jangan terlalu memaksakan diri menggunkan mana kalian."


""""Baik, terimakasih telah mengajarkan kami untuk hari ini.""""


"Ya, tidak masalah besok kalian masi di bawah bimbinganku."


"Jadi begitu, aku menantikannya."


"Aku juga menantikannya miss Eri."


Yah entah mengapa mereka senang dibimbing oleh Miss Eri, aku juga.


Teman sekelasku semuanya sudah pergi hanya ada aku saja disini yang sedang mengayunkan pedang.


"Baiklah, ini ayunan terakhir."


Aku mengangkat pedang tinggi tinggi dan mengayunkannya kebawah. SWIS! suara angin dipotong di ruangan.


"Ah, ini melelahkan."


Aku menaruh pedangku di meja sebelumnya.


Aku keluar dari ruangan membuka pintu, berjalan di lorong lantai 4 dan melihat jendela yang di kiriku itu untuk melihat pemandangan seperti apa jika melihat kota di tempat lebih tinggi.


"Waah sangat indah, ini luar biasa."


Ya itu lebih luar biasa dari pada melihatnya di kamarku, ini masi sore jadi matahari belum tenggelam.


Aku menikmati pemandangan itu beberapa menit dan berjalan menuruni tangga. Di lantai 3 adalah tempat dimana teman temanku tidur di lorong sepertinya ada beberapa yang lagi mengobrol di lorong sambil duduk di sofa.


Aku sebaiknya menghindari tatapan mereka aku buru buru turun ke lantai 2. Dilorong lantai sepi tidak ada pun orang jadi aku turun ke lantai 1 dan pergi ke kamarku.


Aku membuka pintu kamarku di sana tidak ada livia hanya ada nampan dan baju putih.


"Baiklah aku akan makan, mandi setelah itu tidur."


Hari ini tidak ada masalah aku berharap kedepannya juga tidak ada.

__ADS_1


__ADS_2