My Expectation Was Change After I See My Effect Skill

My Expectation Was Change After I See My Effect Skill
Chapter 14 : Dia Telah Menjadi Dewasa


__ADS_3

"Semangat!!."


"Lakukan yang terbaik, Takashi!!."


"Kuro, kamu lakukan yang terbaik juga."


"Mmm."


Aku maju ke tengah lapangan, di depan aku sekarang adalah Takashi.


Takashi memakai knuckle kayu dan aku juga memakai pedang kayu, juga kami hanya memakai baju putih yang biasa kami pakai.


Perhatian semua orang di lapangan sekarang ada di aku dan Takashi.


Kenapa begini ?, yah ini karena-.


Beberapa jam yang lalu.


 


"Jadi begitu ya, makasih Livia."


"Ya tidak masalah, ini juga buat kamu."


Livia mengajari aku cara mengetahui jam di dunia ini. Setelah itu Livia memberi aku nampan yang ada di tangannya.


"Terimakasih, apakah kamu semalam tidur nyenyak ?."


"Ya, apakah kamu membaca surat aku kemarin ?."


"Aku membacanya, dan juga kamu hanya perlu mengatakan itu padaku."


"Maaf tentang itu, aku malu mengatakan itu secara langsung."


"Begitukah, katakan saja pada aku lain kali."


"Aku akan dan juga aku akan pergi berkerja dulu, semangat latihannya untuk hari ini."


"Mmm, iya kamu juga lakukan yang terbaik."


Livia pergi dari kamar aku, dan aku masuk ke kamar aku untuk makan.


Kertas yang di tulis Livia kemarin bertulis.


[Maaf Kuro, aku tidur duluan dan aku tidak jadi menunggu kamu selesai mandi. Karena aku lupa besok ada pekerjaan yang penting untuk aku, juga kursi mu ada di kantung penyimpanan aku. Jadi kamu tidak dapat tidur di sana, kamu harus tidur di kasur bersama aku.]


Itu lucu dan juga siapa yang tidak malu untuk mengatakan "Kamu harus tidur di kasur bersama aku".


Juga aku telah di beritahu oleh Livia bagaimana cara mengetahui jam di dunia ini.


Yah itu perlu benda seperti jam dinding, tetapi sekarang di kamar aku tidak ada benda seperti itu.


Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting disini, tetapi aku akan mengatakan itu lain kali.


Setelah aku selesai makan, aku keluar kamar dan pergi ke lantai 4.


Tetapi ketika aku ingin menaiki tangga lantai 4.


"Kuro!!."


Suara itu dari lorong lantai 3 dan yang memanggil aku adalah Yuu.


Disamping Yuu ada Ruby yang memakai baju maid seperti Livia.


"Ada apa Yuu ?."


"Tidak apa apa, juga latihan kita hari ini di lapangan. Bukan di lantai 4."


"Eh, aku baru tau itu."


"Ya, aku juga baru tau itu dari Rika."


"Makasih Yuu, dan juga Ruby kenapa kamu sangat kesal. Apakah aku menaggangu waktu kalian ?."


Kamu tau ?, Ruby memasang muka kesal yang berada di samping Yuu.


"Tidak bukan itu, aku hanya penasaran siapa gadis bernama Rika itu ?."


"Rika ?, ah itu salah satu teman sekelas kami di dunia sebelumnya."


"Aku mengerti dan terus apakah aku boleh tanya sesuatu lagi ?."


"Tentu."


Yuu sesekali ingin menyela kami yang sedang berbicara, tetapi dia selalu diam ketika Ruby melihatnya.


"Mmm, jika boleh tau apa hubungan Yuu dengan gadis bernama Rika itu ?."


"Ah, itu sebenarnya rahasia Yuu. Tetapi kamu sebagai pacarnya mungkin harus mengatahui tentang ini."


"Apa itu ?."


"Kuro tolong ja-."


Yuu terdiam lagi, karena Ruby menutup mulut Yuu dengan tangan kanannya.


"Tolong lanjutkan, Pahlawan Kuro."


"Ba-baiklah, Yuu sebenarnya dulu sangat dekat dengan Rika dan juga Yuu dulu pernah suka dengan Rika. Bahkan Yuu pernah menyatakan rasa sukanya ke Rika, tetapi perasaan Yuu belum terjawab sampai sekarang. Rika masi belum mengasih jawaban ke Yuu dan semenjak itu mereka tidak dekat lagi."


"Jadi begitu, Yuu mengatakan bahwa dia tidak pernah suka ke siapa pun sebelumnya. Jadi dia berbohong ya kepada aku."


"Ku-."


Aku melihat Yuu yang sangat merasa bersalah dan Ruby memasang muka tersenyum tetapi matanya sama sekali tidak tersenyum.


Ruby memegang mulut Yuu dengan sangat kencang bahkan aku bisa merasakan kekuatan di tangannya itu.


Apa aku menceritakan sesuatu yang harusnya tidak aku ceritakan ?.


"Pahlawan Kuro, aku akan membawa Yuu sebentar dan juga lakukan yang terbaik saat latihan."


"Ya, terimakasih. Juga aku pergi duluan Yuu."


Aku pergi turun meninggalkan Yuu dan Ruby, aku tidak ingin menggangu waktu romantis mereka.


Juga jam berapa sekarang, aku melihat benda yang ada di dinding dan aku memfokuskan pandang aku ke benda itu.


Benda itu menunjuk pukul 10.21.


Baiklah aku akan pergi ke tempat lapangan latihan.


Nah sekarang aku sudah sampai di lapangan, Yuu sama sekali belum datang.


Hari ini lapangan sangat ramai, ada siswa Class Mage juga.


Para perempuan Class Mage memakai baju hitam, tidak seperti kami para Class yang memakai senjata.


Tetapi di kiri lapangan ada beberapa perempuan yang sedang mengayunkan pedang.


Mereka merupakan Tsuhira, Rika, dan beberapa siswa perempuan lainnya.


Mereka dilihat oleh para laki laki tetapi, mereka tetap fokus mengayunkan pedangnya.


Tunggu sebentar, kenapa Class Mage menggunakan senjata ?.


Aku tidak mengerti disini, aku berharap Old Man akan mejelaskannya.


Aku mengabaikan para perempuan yang mengayunkan pedang, karena aku iri dengan mereka tau ?.


Mereka mengayunkan pedang tanpa masalah, sedangkan aku. Kalian pasti tau sendiri tentang itu.


Huuh, aku mengalihkan padangan aku dari itu. Dan melihat ke kanan lapangan.


Disana ada Hikari, Arata, Sugumi, dan beberapa siswa lainnya.


Mereka sedang berkumpul di sekitar Hikari, seperti biasa meskipun dia sudah bertunangan. Dia masih di keliling perempuan.

__ADS_1


Aku berjalan ke kanan juga untuk berkumpul dengan teman sekelasku.


Meskipun aku mengatakan untuk berkumpul, aku duduk lebih jauh dari pada yang lain.


Aku sesekali mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Hikari, bagaimana kamu bisa dekat dengan Putri ?."


"Hemm, itu kebetulan karena aku menolong Floem yang hampir jatuh dari tangga."


"Apa serius ?, kenapa Putri bisa hampir jatuh ?."


"Dia kelelahan karena sesuatu tetapi, Floem tidak memberitahu aku."


"Begitukah, bolehkah aku bertanya lagi ?."


"Itu boleh tetapi."


Ketika aku melihat mereka. Mata aku bertemu dengan mata Hikari, setelah itu dia jalan ke tempat aku.


Ada apa dengan aku ?, apakah aku menggangu mereka yang sedang bicara ?.


"Kuro."


"Ada apa Hikari ?."


"Mmm, apakah kamu baik baik saja ?."


"Ya aku baik, kenapa kamu bertanya itu ?.."


"Tidak, aku hanya khawatir tentang yang kemarin."


"Kemarin ?."


"Tentang kamu di bawa oleh Putri Eilis."


Aku teringat tentang yang terjadi kemarin, aku menyetuh bibir dengan jari aku.


"Kuro, kenapa kamu memerah ?."


"Eh, tidak apa apa dan juga kenapa kamu khawatir tentang aku ?."


"Begitukah, nah karena Floem berkata kepada aku bahwa Putri Eilis itu berbahaya."


"Jadi begitu, kamu menayakan kabar aku."


"Ya, apakah kamu di apa apakan oleh Putri ?."


"Eh tidak, aku tidak di apa apaiin. Dia hanya menanyakan sesuatu hal yang tidak ku mengerti."


"Begitukah, jadi Putri Eilis tidak jahat ya ?."


"Mungkin."


"Kenapa mung-."


"SIALAN KAMU KURO!!!."


Suara teriakan memotong Hikari yang sedang berbicara, aku melihat siapa yang berteriak dan itu adalah Yuu yang sedang berjalan ke arah aku.


Yuu berjalan semakin dekat ke arah aku dengan sedih.


"Tunggu, Yuu ada apa ?."


"Karena kamu!."


"Kenapa karena aku ?."


Yuu sekarang berdiri di depan aku yang sedang duduk di tanah, bukankah Yuu lebih tinggi sekarang ?.


"Ya karena kamu Ruby ngambek dan dia tidak memberi aku makan sore untuk hari ini!!."


"Eh, serius ?."


"Ya, itu semua karena kamu!!."


"Maaf Yuu, tetapi Ruby harus tau itu sebagai pacar kamu sekarang."


Yuu berjalan di samping aku dengan lemas dan duduk.


"Huuh, tetapi terimakasih Kuro. Mungkin jika kamu tidak bercerita tentang itu pada Ruby, aku tidak akan berani juga bercerita tentang itu padanya dan akan terus merahasiakannya."


"Begitukah, tetapi maaf. Apakah hubungan kamu baik baik saja dengan Ruby sekarang ?."


"Mungkin, aku akan bersujud nanti sore di depan Ruby karena aku berbohong padanya."


Yuu mengatakan itu sambil tersenyum, wajah sedih yang dia miliki seperti sudah hilang.


Ngomong ngomong Hikari sudah balik ke tempat sebelumnya, dan dia masih melihati aku.


Aku mengabaikannya tatapannya karena aku tidak mau berbicara tentang Putri Eilis itu.


Juga disini aku penasaran tentang Yuu yang sudah berpacaran dengan Ruby, apakah dia sudah kehilangan anunya ?.


Aku harus menanyakan tentang itu, jika tidak aku akan mati karena penasaran.


"Bagus jika kamu meminta maaf padanya, dan juga Yuu ini mungkin konyol tetapi ini membuat aku sangat penasaran."


"Apa itu ?."


"Apakah kamu sudah tidak perjaka ?."


Ketika aku menanyakan tentang itu pada Yuu, dia tersenyum dan menggaruk garuk pipinya.


"Yuu bisakah kamu jawab ?."


"Itu."


Yuu menganggukan kepalanya sambil tersenyum malu malu.


"Yuu, kamu serius ?."


"Ya."


"E-eh, aku tidak menyangka kamu akan melakukannya Yuu. Juga kapan kamu melakukan itu ?."


"Itu 2 hari yang lalu."


Yuu mengatakan itu sambil tersenyum bangga dan mengajukan jempolnya ke arah aku.


"Begitukah, aku di tinggal oleh kamu Yuu. Sekarang kamu sudah dewasa."


"Begitulah, maaf meninggalkan kamu."


"Tidak apa apa, dan juga selamat untuk kamu Yuu."


"Kamu jangan memasang wajah sedih begitu, aku yakin kamu suatu saat akan menjadi dewasa juga."


Aku berharap itu terjadi, tetapi sepertinya tidak mungkin untuk aku.


Tidak ada perempuan yang ingin sama aku, bahkan jika itu terjadi pasti itu adalah mimpi yang sangat indah.


"Aku berharap begitu."


Aku berbicara berbagai hal bersama Yuu, sampai Old Man datang ke lapangan.


"KALIAN SEMUA BERKUMPUL!."


Old Man mengatakan itu dan kami pergi ke arah Old Man yang berada di lapangan.


"Baiklah, kalian semua hari ini akan berlatih satu lawan satu."


"Satu lawan Satu ?."


"Ya kamu akan melawan teman mu sendiri, latihan hari ini adalah untuk membiasakan kalian dalam pertarungan. Mengerti ?."


"""""YA."""""

__ADS_1


Old Man ini konyol, bisakah kamu tidak menggunakan Intimidasi itu.


Aku sedikit takut dengan tekanan itu, seolah se akan melihat singa di depan aku.


"Baiklah, nah kalian duduk di pinggir lapangan dan aku akan memanggil kalian satu satu."


Semua siswa yang berbaris, sekarang bubar dan pergi ke sisi lapangan.


Old man masi berada di tengah lapangan, sambil melihati kami yang duduk di sisi lapangan.


"Aku lupa disini, Class mage akan ikut berlatih juga tetapi ingat disini."


"Class Mage juga bisa mempelajari Skill menggunakan senjata, tetapi karena Class Mage semuanya perempuan. Aku tidak akan membiarkan perempuan melawan laki laki, itu adalah prinsip aku. jadi tidak ada namanya perempuan lawan laki laki."


"Eh, ada apa dengan itu."


"Benar apa yang di katakan Old Man, aku tidak ingin melawan para perempuan."


"Aku juga, jika aku melawan perempuan. Mungkin aku akan di benci oleh mereka."


"Ya lebih baik kita tidak melawan perempuan."


"Bagus kalian lelaki sejati, aku bangga dengan kalian para Pahlawan lelaki."


Old Man mengatakan itu dengan tersenyum bangga, huuh. Dia mempunyai tampang sangat mengerikan, tetapi hatinya lembut terhadap perempuan.


Tetapi aku juga mungkin begitu, aku tidak ingin melawan perempuan.


"Baiklah, ada pertanyaan ?."


"Aku."


Yang bertanya adalah Tsuhira.


"Kamu Pahlawan Api, ada apa ?."


"Aku ingin melawan para lelaki!."


"Kenapa ?."


"Tidak apa apa, aku percaya dengan kekuatan aku yang bisa mengalahkan mereka."


"Begitukah, aku tidak masalah jika itu kamu."


"Baik terimakasih."


"Eh tunggu, aku tidak ingin melawan Tsuhira."


"Aku tidak ingin di benci olehnya."


"Aku sudah membenci kalian, jadi jangan pedulikan tentang itu!."


""""Eh.""""'


Mereka terkejut dengan apa yang di katakan Tsuhira.


"Ada lagi pertanyaan ?."


"Aku."


Yang bertanya adalah Takashi.


"Apa itu ?."


"Apakah kita bebas menggunakan skill kita dan senjata apa yang kita pakai ?."


"Ya kalian bebas menggunakan skill kalian, tetapi ingat ini. Jika kalian terlalu tinggi menggunakan skill kalian, senjata kalian akan ancur."


"Kenapa begitu ?."


"Karena aku takut, kalian tidak mengontrol skill kalian dan itu membunuh teman kalian."


"Juga senjata aku kasih adalah senjata kayu, kayu itu sedikit kuat dan dapat menahan kekuatan kalian. Tetapi jika kekuatan kalian itu tidak terkontrol dan dapat membahaya lawan kalian, senjata itu akan ancur sendiri."


"Kenapa begitu ?. Ya karena aku tidak ingin kalian ceroboh dan membunuh teman kalian sendiri."


"Juga senjata kayu adalah senjata paling unik. Karena senjata kayu akan patah sendiri jika kalian kelebihan atau tidak bisa mengontrol skill kalian. Dan senjata kayu juga akan patah jika kalian mengeluarkan rasa niat membunuh tinggi, itu mengapa senjata kayu ini adalah senjata yang unik dan terbaik untuk latihan."


"Jadi, jika kalian gagal mengontrol kekuatan kalian dan memiliki niat membunuh terhadap lawan kalian. Mungkin kalian akan kalah sebelum memukul dengan senjata kayu itu."


"Begitulah, penjelasannya."


"Begitukah, sangat disesalkan."


Semua siswa melihat Takashi yang mengatakan itu dengan muka takut.


"Ada lagi yang ingin bertanya ?."


"Aku."


Sekarang yang bertanya adalah Hikari.


"Ada apa Pahlawan Tetap ?."


"Jangan menyebut aku itu, dan juga aku ingin bertanya tentang aturannya."


"Mmm, itu gampang. Kamu hanya harus membuat lawan kamu menyerah."


"Eh, berarti kita harus memukuli mereka ?."


"Ya, dan juga jangan khawatir tentang luka. Kami mempunyai Healing mage tingkat tinggi."


"Ta-tapi,"


"Lakukan saja!."


"Baiklah."


"Nah baiklah dan untuk Pahlawan Akemi, Saeko, Sora, dan Wakana. Kalian tidak akan ikut latihan ini."


"Ehh, kenapa aku tidak ?."


Yang mengatakan itu adalah Sora dan yang disebut lainnya memasang muka senang.


"Nah untuk Akemi, Saeko dan Wakana hanya Mage Healer. Jadi dia tidak memiliki kekuatan bertarung, tidak seperti class mage lainnya."


"Nah untuk kamu, kamu memiliki skill yaiu hanya skill menjinakan monster. Tetapi kamu sama sekali tidak memiliki skill yang membantu kamu bertarung langsung."


"Tapi aku mempunyai Water Magic."


"Water magic kamu itu tidak berguna untuk ini, karena aku mendengarnya dari Eri. Bahwa skill Water Magic kamu tidak bisa digunakan."


"Ehhhh, Miss Eri mengatakan itu pada mu. Padahal dia berjanji untuk tidak mengatakannya pads siapa pun."


Sugumi menangis dan mendekat ke Tsuhira dan memeluknya dari belakang.


Seperti biasa. Mereka walaupun di lihat seperti Rival tetapi, mereka sangat dekat.


"Kamu harus menyerah Sora, jika tidak kamu akan terluka."


"Aku mempunyai Stat tinggi tau, aku akan tetep ikut."


Tsuhira menyentil jidat Sora.


"Ugh, sakit."


"Meskipun kamu memiliki stat tinggi, itu tetap saja tidak berguna jika kamu tidak memiliki Skill."


"Plak Plak!."


Suara tepuk tangan dari tengah lapangan.


"Kamu sangat benar, seperti yang di harapakan dari True Hero."


"Baiklah dari pada lama kita akan memulai ini."


"Kamu dan kamu yang disana maju!."

__ADS_1


Yang di panggil pertama adalah Kichiro dan Naoki.


__ADS_2