My Expectation Was Change After I See My Effect Skill

My Expectation Was Change After I See My Effect Skill
Chapter 18 : Pertama Kali Berjalan Jalan Di Kota (2)


__ADS_3

Kami sekarang berada di depan gerbang, gerabang ini tidak sebesar gerbang kerajaan.


Ini sedikit lebih kecil dari itu, gerbang ini terbuat dari kayu sama seperti gerbang kerajaan.


Ada pintu kecil juga di sisi kiri gerbang, dan ada dinding tinggi sama seperti sebelumnya.


"Livia, apa gunanya dinding itu ?."


Livia yang berada di samping aku, dia tadi sudah berbicara kepada penjaga.


Tetapi, dia diminta untuk menunggu sebentar.


"Umm, dinding gunanya untuk melindungi setiap kawasan, dan juga dinding di bangun untuk memisahkan setiap kawasan juga."


"Jadi begitu, ada berapa kawasan di kerajaan ini ?."


"Umm, itu cuma ada 3. Kawasan bangsawan, rakyat biasa, dan setengah manusia."


"Nah, setengah manusia tidak memiliki dinding. Mereka hidup di luar dinding."


"Ehh, mengapa ?."


"Itu kejadian yang sangat lama, mereka memberontak ke kerajaan Riz karena sesuatu."


"Mereka tidak boleh tinggal di dalam dinding, karena Kerajaan takut mereka memberontak lagi."


"Aku mengerti, setengah manusia-."


"Permisi, kalian bisa lewat."


Ketika aku ingin "menanyakan setengah manusia itu apa", ada suara yang memotong aku.


Yang memotong pertanyaan aku adalah ksatria yang memegang spear.


"Apa yang ingin kamu tanyakan tadi Kuro ?."


"Ah, aku akan menanyakan itu nanti."


"Baiklah."


Livia mengajak aku melewati pintu kecil, aku menundukan kepala aku ke arah penjaga untuk mengucapkan terimakasih.


Dia melihati aku dengan mata berkilau, aku tidak tau mengapa.


Aku tidak ternganggu dengan itu, aku memasuki pintu kecil bersama Livia.


"Sangat ramai."


Serius di pemandangan depan aku, banyak orang yang sedang berjalan, bahkan ada rumah yang sedang, bertingkat, dan juga ada sesuatu bangunan yang sangat besar.


Itu sangat berbeda dari kawasan bangsawan.


"Aku kangen dengan suasana ini."


Livia mengatakan itu sambil tersenyum, dia sangat cantik ketika aku melihatnya dari samping.


"Livia, apakah kamu tinggal di sini dulu ?."


"Ya, ini adalah tempat tinggal aku dulu."


"Jadi begitu, dimana kamu tinggal ?."


"Umm, itu di dekat sisi tembok."


Livia mengatakan itu sambil tersenyum ke arah aku.


Aku ingin tau bagaimana rumahnya, juga kawasan ini juga sangat besar. Bahkan lebih besar dari kawasan bangsawan.


Aku dari sini bisa melihat dinding yang sangat besar, dinding itu melingkari kawasan ini.


"Mari kita pergi ke sana."


Sama seperti sebelumnya, aku harus melewati jembatan tetapi. Jembatan ini sedikit menurun, dan di ujung jembatan ada penjaga yang memegang Axe.


Ada juga orang di sisi jembatan, mereka memakai kaos biasa. Mereka yang tadinya melihati sisi jembatan, sekarang mereka melihati aku dan Livia.


"Lihat wanita itu, dia sangat cantik."


"E-eh, bukankah dia adalah Maid kerajaan ?."


"Serius ?, kamu tau dari mana."


"Aku pernah menjadi penjaga kerajaan sebelumnya."


"Pantesan dia sangat cantik, siapa pria di sampingnya ?."


"Tidak tau, aku tadi menggunakan appraisal untuk melihatnya. Dia adalah orang dunia lain, dia memiliki stat yang sangat kecil dan bahkan dia tidak memiliki Class, Skill Tree, dan hanya mempunyai skill dasar yang tidak berguna."


"Ehhh, aku pernah mendengar dari salah satu teman penjaga aku. Ada pahlawan yang hanya ikut terbawa."


"Berarti itu dia ?, pantesan aku merasa di sangat lemah."


"Tch, membosankan dan kukira dia adalah Pahlawan beneran."


"Huuh, membosakan. Jangan lihati dia Fresia."


"Aku tidak tertarik dengan laki laki lemah seperti itu."


"Ya lebih baik kamu lihati aku saja."


Aku langsung menerima tatapan tajam, aku sedikit tertekan disini.


Aku terus di tarik oleh Livia, tangan dia memegang aku dengan sangat kuat.


"Kuro, abaikan perkataan mereka."


"Mmm."


Aku menjawab dengan sedih, bahkan rumor tentang aku sudah tersebar di dunia ini.


"Ehhh, bukankah kamu Kuro ?."


Ada yang mengatakan itu dari samping, dia memakai kaos sama seperti aku. Dia membawa perempuan di sampingnya, dia cukup cantik.


"I-iya, aku Kuro."


"Aku Naoki, apakah kamu ingat aku ?."


"Tentu, kamu yang kemarin menang."


"Haha, benar. Kamu tau ?, kamu kemarin sangat keren ketika terus berjuang melawan Takashi."


"Be-begitukah, terimakasih."


"Umm, tidak masalah. Aku pergi dulu, aku ingin menikmati kencan aku dengan Lin."


Naoki pergi mengatakan itu sambil memegang maid yang di sampingnya, Livia yang di depan aku memasang muka sedih.


"Livia, ada apa ?."


"A-ah, tidak apa apa. Ayo kita nikmati hari ini."


"Mmm."


Livia terus memegang tangan aku, aku sedikit malu disini.


---


Kami berjalan melewati penjaga yang membawa spear.


"Kita sudah sampai, mari kita berkeliling terlebih dahulu."


"Umm, maaf merepotkan kamu."


"Merepotkan ?."


"Umm, kamu selalu yang memimpin jalan."


"Tidak masalah, lagian ini merupakan pertama kalinya bagi kamu."


Livia mengatakan itu sambil tersenyum.


"Makasih."


"Umm, baiklah mari kita ke sana."


Livia menunjuk ke salah satu jalan besar, itu di sangat ramai. Banyak orang yang berjalan di sana.


Livia melepaskan tangan aku, dia berjalan paling depan dengan bersemangat.


Aku mengikutinya dari belakang, untuk berjaga jaga aku menggunakan detection.


Kemarin aku di beri tau oleh Yuu, bahwa Detection dapat merasakan orang yang berniat jahat kepada kamu.


Aku mengucapkan [Detection] dalam hati, aku langsung merasakan banyak kehadiran.


Kehadiran semua orang yang berjalan di samping aku, semua yang berada di lingkaran detection aku. Aku bisa kehadiran mereka dengan dekat.


Di samping kanan aku adalah bangunan yang bertulisan penginapan dan ada juga orang yang berdagang di depan penginapan itu.


Sedangkan di samping kiri adalah toko senjata, toko zirah, dan berbagai toko.


Aku melihat ada orang yang memakai baju besi, itu seperti yang di pakai Old Man. Dia memasuki toko senjata.


Ada juga perempuan yang memakai jubah dan membawa tongkat, dia pergi ke dalam toko sihir.


Aku jadi ingin pergi ke toko kanan aku, tetapi. Aku lagi pergi bersama Livia.

__ADS_1


Livia berhenti di depan aku.


"Kuro, lihatlah itu."


Livia menunjuk ke salah satu bangunan yang sangat tinggi, itu seperti menara.


"Apa itu Livia ?."


"Itu adalah Menara Jam, kamu dapat melihat jam di dunia ini dari situ."


"Aku mengerti, itu sangat tinggi."


"Benarkan, apakah kamu ingin beli sesuatu ?."


"Umm tidak, aku tidak mempunyai duit."


"Tenanglah, aku yang akan membayar itu."


Livia mengatakan itu dan mengambil kantung penyimpanan dia.


Dia berjalan ke salah satu pedagang yang menjual buah berwarna merah, aku juga mengikutinya.


Livia menggerakan tangannya di udara sambil memegang kantung penyimpanan.


Setelah itu, di tangannya ada dua koin berwarna coklat.


"Aku membeli 2 Apple ini."


"Tentu, totalnya 2 koin perunggu kecil."


"Makasih."


Livia mengatakan itu dan mengambil 2 apple yang ada di meja, dia berjalan ke arah aku.


"Coba ini Kuro."


"Apakah tidak apa apa ?."


"Mmm, tenanglah."


Aku mengambil itu dari tangan Livia.


"Makanlah Kuro, kalau kamu suka bilang saja. Aku aka membelinya lagi."


"Ti-tidak usah, aku cukup satu."


"Jangan malu malu."


Livia mengatakan itu dan memakan Apple itu di samping aku, aku juga mencoba memakan Apple ini.


"Crunch." (Sfx)


Ini seperti Apple biasa, ini manis, dan tidak berbeda dengan Apple di dunia aku sebelumnya.


"Gimana enak ?."


"Iya, buah ini juga ada di dunia aku sebelumnya."


"Ehhh, serius ?."


"Ya."


Livia dia memasang ekspresi terkejut, dia lucu ketika begitu. Aku hanya tersenyum dan memakan Apple yang di berikan.


---


Kami sekarang ada di jalan yang sangat besar di kawasan rakyat biasa.


"Livia apa itu ?."


Aku menunjuk ke arah bangunan yang sangat besar, itu ada logo pedang dan perisai.


"Itu adalah Guild Petualang."


"Guild Petualang ?."


"Ya, itu adalah tempat untuk mendaftar menjadi petualang dan juga Guild adalah yang mengatur para Petualang."


"Serius ?."


"Ya, Guild Petualang adalah pusat dari kota ini tau ?. Bahkan kerajaan Riz, tidak hanya terkenal karena Kerajaan terbesar. Tetapi, Kerajaan Riz terkenal karena para Petualang yang sangat kuat."


"Aku baru tau itu, Kerajaan Riz sangat hebat."


"Tentu, lihat disana."


Livia menunjuk ke pintu Guild.


Pintu Guild terbuka, di sana ada 4 orang yang memakai baju zirah dan membawa pedang, tongkat, perisai, dan axe.


"Apakah tidak apa apa ?."


"Umm, tenanglah. Itu sudah biasa bagi kita untuk menilai para petualang."


"Aku mengerti, aku akan mencoba. Permisi."


Aku menggunakan Apparaisal ke salah satu orang yang membawa pedang.


---


Nama : Fizer


Age : 18


Race : Human


Lv : 8


Class : Sword


Title : - Party Leader : Clouds Party



Bronze Adventure


Strength : 47


P Defense : 37


M Defense : 35


Agility : 49


Magic : 21


Skill :


Skill Dasar


- Appraisal Lv 1


- Poison Resistance (Lower)


- Fire Magic Resistance (Lower)


Skill Tree


- Sword Technique (Lower-Middle)


- Quick Slash


- Strength Up



---


Dia lebih kuat dari aku, tetapi dia sudah Lv 8. Meskipun dia sudah Lv 8 stat dan skill dia kalah dengan status teman aku.


Aku tidak boleh membandingkan dia dengan teman aku yang merupakan Pahlawan.


Dia sepertinya merasakan tatapan aku, dia berbalik dan menatap aku. Setelah itu, dia mengalihkan matanya ke arah Livia.


"Kuro, mari kita beli jam."


"Ba-baiklah."


Livia mengatakan itu dan menarik tangan aku, Livia sepertinya sadar akan tatapan laki laki itu.


Bukankah semua orang yang melihat Livia memerah ?, aku tau bahwa Livia memang sangat cantik.


Tetapi, laki laki yang melihat Livia selalu membuat wajah memerah.


Aku sedikit tidak menerima Livia dilihat oleh muka seperti itu.


---


"Nah, jam mana yang kamu mau Kuro ?."


"A-aku tidak tau, aku serahkan kepada kamu Livia."


Aku sekarang berada di dalam sebuah toko, toko ini menjual berbagai jam.


"Baiklah, aku akan pilih ini."


Livia memilih jam yang berbentuk kotak, di dalamnya ada gambar 2 orang yang sedang berpegangan tangan.

__ADS_1


"Berapa harga jam yang ini ?."


"1 Perunggu besar saja."


"Baiklah, terimakasih aku akan mengambil ini."


"Terimakasih."


Livia mengambil itu dan memasukan jam itu ke kantung penyimpanannya.


"Kenapa kamu pilih jam itu ?."


"E-eh, tidak apa apa. Aku hanya merasa ini bagus."


Livia mengatakan sambil memerah di pipinya.


"Begitukah, menurut aku juga itu bagus."


Aku mengatakan itu, Livia memasang ekspresi lega.


"Kita sudah membeli jam, apakah kamu ingin balik ke istana Kuro ?."


"Bisakah kita berjalan jalan sedikit lebih lama lagi ?."


"Tentu, aku juga sebenarnya masi ingin."


"Baiklah, tolong pimpin aku lagi Livia."


"Te-tentu."


Aku berjalan jalan dengan Livia di kota, aku sesekali di belikan sesuatu oleh Livia.


Aku merasa tidak enak disini, aku akan menggantikan duitnya. Jika aku sudah tau bagaimana cara menghasilkan duit.


Aku terus berjalan dan sekali kali aku di goda oleh Livia.


Aku merasa sangat bahagia hari ini, aku senang berada di dekat Livia.


"Brrr."


Bunyi itu berasal dari perut aku.


"Kamu lapar Kuro ?."


"Be-begitulah."


Aku malu disini, Livia yang melihat aku dengan wajah tertawa.


"Fufu, ayo kita makan di suatu bar."


Livia mengatakan itu dan menarik tangan aku ke suatu bar.


"Apa yang ingin kamu pesan ?."


"Aku tidak tau, aku akan makan yang sama seperti kamu pesan aja."


"Kenapa ?."


"Aku tidak tau, makanan di dunia ini."


"Benar juga, aku lupa. Baiklah mari kita pilih menu ini aja."


Livia menunjuk ke daftar menu, dia menunjuk ke tulisan yang tidak aku bisa baca.


Tetapi, aku mengerti entah kenapa. Itu memiliki arti Top Sale.


Aku hanya menganggukan kepala aku, Livia tersenyum dan memanggil pelayan yang berpakaian Maid.


"Kami memesan ini dan.."


Livia menahan kata katanya dan menatap aku.


"Kamu ingin minum apa, Kuro ?."


"Air putih saja."


"Oke."


"Maaf, tadi aku memesan ini dan 2 air gelas putih."


"Baik, tunggu sebentar."


Pelayan itu pergi, ke salah satu meja seperti kasir.


Aku penasaran disini, apakah keadaan uang Livia baik baik saja ?.


"Livia, apakah kamu memiliki uang yang cukup ?."


"Tenang saja, aku memiliki cukup."


"Tetapi, uang untuk pengobatan ibu kamu ?."


"Tidak apa apa, itu sudah di tangani oleh Kerajaan."


"Eh sudah ?, bagaimana keadaan ibu kamu sekarang ?."


"Ya, juga Ibuku sudah sadar kemarin."


"Serius ?."


"Ya."


"Selamat Livia, aku ikut senang disini."


"Mmm, makasih. Aku juga senang ketika mendengar bahwa ibu aku sudah sadar."


"Ini semua berkat kamu Kuro."


"E-eh kenapa aku ?."


"Karena aku menjadi Maid kamu, ibuku jadi di tangani oleh kerajaan. Jika aku tidak menjadi maid kamu, ibu aku akan selalu sakit. Terimakasih."


Aku terdiam disini, Livia di depan aku mendudukan kepalanya.


"Mmm tidak masalah, juga angkat kepala kamu Livia."


Livia mengangkat kepalanya, dia tersenyum ke arah aku. Dia sedikit meneteskan air mata.


Aku melihat itu panik dan buru buru membersihkan air mata itu dengan tangan aku.


Livia memerah di depan aku.


"Ku-kuro, ti-tidak usah di lanjutkan."


"Tidak apa apa."


Aku membersihkannya, aku merasakan pipi Livia memanas.


"Sudah selesai, maaf menyentuh muka kamu tanpa izin."


"Y-ya.... tidak apa apa."


Aku duduk kembeli, ke posisi sebelumnya, aku merasakan tatapan orang banyak.


Semua orang di bar yang sedang makan, melihati kami.


"Mereka pasangan yang cocok, kamu harus begitu pada aku lain kali."


"Tidak, aku tidak seberani cowo itu."


"Aku ingin menjadi muda lagi, setelah melihat mereka."


"Aku juga, aku ingin seperti mereka."


"Jangan memperlihatkan adegan itu kepada kami yang tidak mempunyai pasangan sialan!."


"Kamu jangan berteriak, tapi. Aku juga iri melihat itu."


Aku dan Livia saling menatap, kami berdua malu.


Serius, aku sangat malu disini. Aku baru saja melakukan yang biasanya di lakukan oleh pasangan.


Aku ingin berteriak disini, aku sangat bodoh tidak memperhatikan suasana.


"Kalian pasangan yang cocok, makanlah ini. Aku menantikan hubungan kalian lebih lanjut, jika kalian sudah menikah datang lah ke bar ini. Aku akan merayakan itu."


Perempuan yang sebelumnya memakai baju maid mengatakan itu, setelah itu dia pergi.


Tubuh aku menegang ketika mendengar yang Maid itu katakan, aku melihat Livia yang di depan aku.


Muka dia sangat memerah, mata dia tidak fokus.


Ah, ini buruk.


Aku harus mengatakan sesuatu disini.


"Li-Livia ma-ri kita makan."


"Y-ya."


Aku memakan dengan malu disini, Livia juga dia sesekali melihati aku.


Bahkan mata kami beberapa kali bertemu.


Kami memakan makanan kami dengan suasana canggung.


Suasana ini sangat canggung.

__ADS_1


__ADS_2