My Expectation Was Change After I See My Effect Skill

My Expectation Was Change After I See My Effect Skill
Chapter 17 : Pertama Kali Berjalan Jalan Di Kota


__ADS_3

Aku sekarang berada di kamar aku, ada cahaya di kamar aku. Cahaya tersebut berasal dari cahaya matahari.


Livia tidak tidur di kamar aku kemarin malam.


Nah, hari ini adalah hari ke-9 aku di dunia lain.


Hari ini, tidak ada latihan. Karena, Old Man menyuruh kita untuk beristirahat.


"Tok tok."


"Ya tunggu sebentar Livia."


Aku berjalan dengan hati yang sedang senang, ini adalah hari yang aku nantikan dari kemarin.


Aku membuka pintu kamar aku.


Disana ada Livia yang sedang memakai baju Maid, dia tersenyum ke arah aku.


Dia hari ini tidak membawa nampan, yah aku mengatakan "untuk tidak membawa nampan besok" saat sore dia datang ke kamar aku.


"Pagi, Livia."


"Pagi dan juga ada apa dengan kamu, kamu sangat bersemangat."


"Begitukah ?."


"Mmm."


Livia menganggukan kepalanya.


"Yah aku tidak sabar dan lebih penting, masuk lah dulu."


Aku mengundang Livia masuk, aku sudah terbiasa mengundangnya. Jadi itu tidak masalah.


"Permisi."


Livia masuk ke kamar aku, dia juga sepertinya sudah terbiasa dengan itu.


Aku masuk dan menutup pintu kamar aku.


"Kuro, apakah benar tidak apa apa ?."


"Maksudnya ?."


"Aku tidak membawa makanan untuk kamu."


"Jangan khawatir, apakah kamu sibuk hari ini ?."


"Mmm, tidak aku tidak sibuk. Semua Maid libur sekarang."


Aku senang mendengar itu, aku sangat bersemangat.


"Jadi begitu, apakah kamu mengingat tentang apa yang kemarin kamu katakan kepada aku ?."


"Tentu aku mengingatnya, aku yang mengajak kamu jadi mana mungkin aku


lupa. Juga aku menantikan hari itu."


Livia mengatakan itu dengan wajah memerah, apa yang terjadi ?.


"Ada apa Livia ?."


"A-ah tidak tidak, kenapa memangnya ?."


"A-aku juga tidak ada latihan hari ini, apakah kamu mau melakukan itu hari ini ?."


"Ehhhhh ??, tentu aku mau."


Livia mengatakan itu dengan wajah bersemangat.


Ah, aku mengerti sekarang. Jadi dia menantikan itu juga, aku sedikit senang mengetahui itu.


"A-ah maaf, aku terlalu bersemangat."


"Te-tenang saja, aku juga disini."


"Ji-jika be-begitu, a-aku akan bersiap dulu."


"Aku akan menunggu."


"Mungkin ini tidak sopan, aku akan meminjam toilet kamu."


"Umm, tidak masalah. Anggap saja kamar ini kamar seperti kamar kamu."


Aku mengatakan itu dan Livia yang memerah buru buru pergi ke kamar mandi.


Kamu tau ?, kemarin Livia mengajak aku berjalan jalan di kota. Untuk sekalian membeli jam untuk di kamar aku.


Aku sangat bersemangat dengan itu, aku menerima itu dengan sangat cepat.


Aku senang disini, aku senang karena 2 hal.


Pertama aku bisa jalan jalan ke kota dunia ini untuk pertama kalinya, kedua aku bisa berjalan jalan berdua dengan Livia.


Aku sangat menantikan hari itu, tetapi. Itu lebih cepat dari pada yang aku kira.


Aku sangat senang disini.


Aku tidak sabar.


---


"Maaf membuat kamu menunggu."


Livia mengatakan itu, dia berada di depan kamar mandi.


"Sangat cantik."


Serius, dia lebih cantik dari biasanya. Dia memakai dress berwarna putih, belahan oppainya sedikit kelihatan, dan dia memiliki kulit yang sangat putih, halus.


"Ma-makasih."


Livia mengatakan itu dengan wajah memerah, ini buruk. Hati aku berdetak kencang.


Suasana ini sangat canggung, aku ingin mengakhiri suasana canggung ini.


Aku tidak bisa berpikir jernih disini.


Aku berjalan ke arah Livia dan memegang tangan dia, aku membawa dia keluar kamar aku.


Aku berjalan di lorong sambil memegang tangan halus Livia, aku merasa sangat nyaman ketika memegang tangan Livia.


"A...anu."


Livia mengatakan itu, aku menghentikan langkah aku.


"Kenapa ?."


Aku menanyakan itu dan menatap mata Livia, mata berwarna silvernya sangat indah.


"Maaf disini, apakah kamu tau dimana pintu keluar istana ini ?."


"Eh."

__ADS_1


Aku terdiam ketika ditanya begitu oleh Livia.


Aku merasa malu disini, aku terlalu canggung sehingga tidak memikirkan tentang itu lagi.


"Huft."


Livia menahan ketawa, aku memggaruk kepala aku dengan tangan kiri.


"Maaf, tadi terlalu canggung jadi aku tidak berpikir jernih."


"Mmm, tidak masalah. Ikuti aku."


Livia sekarang yang memegang tangan aku, aku melihat punggung Livia di depan aku.


Punggungnya tertutup oleh dress, lehernya tertutup oleh rambutnya yang panjang.


Tetapi, aku penasaran dengan sesuatu. Aku seperti melihat sesuatu berwarna biru di pundak Livia.


Aku menggerakan tangan aku, ke pundak itu.


"Uhh."


"Ada apa dengan pundak kamu Livia ?."


"A-ah, tidak apa apa. Abaikan itu, kita sebentar lagi sampai."


Livia menarik aku lebih cepat, aku tidak bisa melihat ekspresinya.


Itu seperti memar.


Aku berhenti dan menahan tangan Livia yang memegang aku.


Langkah dia berhenti.


Dia berbalik ke arah aku, dia memasang muka sedikit kesakitan.


"Ada apa dengan memar itu Livia ?."


"Mmm, tidak apa apa. Itu hanya luka kecil."


"Tidak itu bukan luka kecil."


"P-percayalah pada aku."


"Tidak, kemarin saat aku bertanding Takashi mengatakan bahwa dia memukul kamu."


Aku mengatakan itu di lorong yang sangat sepi.


Aku melihat wajah Livia, dia memasang wajah yang tidak ku mengerti.


Wajah senang dia sebelumnya hilang dari wajahnya.


"Livia, apakah itu bekas luka di pukul oleh Takashi ?."


Aku menanyakan itu, tetapi. Livia hanya diam tidak menjawab apa apa.


"Livia, katakan ya atau tidak. Sudah cukup."


Dia terus diam dan tidak menjawab aku, dia seperti orang ketakutan.


"Apakah, kamu di ancam oleh Takashi untuk tidak mengatakan apa apa ?."


Aku mengatakan itu, wajah Livia sedikit berubah.


Tebakan aku sepertinya benar.


Aku tidak bisa berbuat apa apa disini, aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan Takashi.


Bahkan kemarin, aku bisa menang melawan Takashi karena peraturan.


Aku mengabaikan pikiran itu.


Setidaknya aku harus tau disini tentang, ancaman apa yang di berikan Takashi kepada Livia.


"Kamu di ancam apa oleh Takashi ?."


"It-."


Livia mengatakan sesuatu, tetapi setelah itu berhenti.


Dia memasang ekspresi takut, khawatir, dan berbagai hal.


"Tenanglah Livia, katakan saja."


Aku memegang tangan Livia lebih kencang, tangan dia gemeteran.


Dia membuka mulutnya.


"A-aku akan mengatakan itu setelah kita selesai jalan jalan, aku ingin menikmati hari ini."


Livia mengatakan itu sambil tersenyum yang di paksakan.


Aku melihat itu, tidak dapat berbuat apa apa disini.


"Kamu harus mengatakan itu, berjanjilah."


"Mmm, aku janji. Jadi mari kita nikmati hari ini Kuro."


Livia mengatakan itu dengan wajah tersenyum, dia menarik ke salah satu pintu.


Ketika dia menarik aku, aku selalu melihati pundak Livia.


Aku ingin melindungi Livia, andai saja aku mempunyai Skill. Aku ingin melindungi orang terdekat aku.


Andai saja, aku mempunyai skill yang bisa aku gunakan.


Satu satunya skill yang aku miliki sangat tidak berguna, itu tidak bisa di gunakan, bahkan tidak memiliki effect apa pun.


Huuh, lebih baik aku mengabaikan pikiran itu dan menikmati hari ini bersama Livia.


---


"Wow, ini sangat besar."


Aku sekarang berada di depan pintu Istana bersama Livia.


Serius di depan istana ini sangat luas, bahkan ada tembok raksasa yang sangat panjang, ada penjaga juga yang berdiri di atas tembok, dan ada pintu besar di depan kami.


"Ini keren Livia."


"Tentu saja, ini adalah kerajaan terbesar di dunia ini."


"Jadi begitu."


Aku merasakan tatapan para penjaga ke arah aku, bahkan ada yang melihat aku dengan penasaran.


"Lihat disana ada Pahlawan."


"Ehhh, serius ?, dimana ?."


"Disana, lihat perempuan di sampingnya juga sangat cantik."


"Ehh, tunggu. Dia adalah Pahlawan yang "terbawa"."

__ADS_1


"Serius ?, sayang sekali. Aku kira dia adalah Pahlawan beneran."


"Tidak, dia hanya orang yang ikut "terbawa". Sayang sekali perempuan itu bersama orang itu."


Aku mendengar itu sedikit sedih, tetapi aku mengabaikan itu. Aku sudah terbiasa dikatakan itu oleh orang.


"Kuro ayo, jangan pedulikan orang itu."


"Mmm, aku tidak terlalu peduli."


"Ikuti aku."


Tangan aku masih di tarik oleh Livia, dia membawa aku kedepan gerbang yang sangat besar.


Ketika sampai, Livia melepaskan tangan aku dan pergi.


Livia berbicara dengan salah satu orang yang memakai Zirah besi dan memegang pedang.


Orang itu melihat Livia dengan memerah, setelah itu dia kembali sadar dan membuka pintu kecil di sebelah gerbang.


"Kuro, kemari."


Livia berjalan ke pintu kecil itu, aku mengikutinya dari belakang.


Aku menundukan kepala aku ke orang sebelumnya, dia menatap aku dengan wajah aneh.


"Tch, kamu hanya orang yang ikut terbawa dan mendapatkan wanita secantik itu."


Dia mengatakan itu dan menutup pintu kecil itu.


"Jangan pedulikan itu Kuro, mari kita pergi ke kota."


Aku berbalik dan mengikuti Livia yang di depan aku, dia berjalan sambil berloncat loncat pendek.


Aku tersenyum melihat itu, aku sedang berjalan di jembatan.


Di sisi kanan dan kiri aku ada kolam air.


Air itu sangat jernih, bahkan tidak ada satupun sampah yang mengambang.


Aku melihat ke depan, disana banyak bangunan bangunan bertingkat.


Semua bangunan itu sangat mewah.


"Bangunan apa itu Livia ?."


"Ah, itu adalah rumah para bangsawan."


"Jadi begitu, pantesan semua bangunan itu sangat mewah."


"Mmm, begitulah bangsawan."


Seperti di novel, semua bangsawan memiliki rumah yang sangat mewah.


"Apakah kamu juga salah satu bangsawan juga Livia ?."


"Emmm, tidak. Aku adalah rakyat biasa."


"Tapi kamu memiliki wajah seperti perempuan bangsawan yang waktu itu ada di pesta."


"Begitukah, aku merasa senang di anggap itu oleh kamu."


Livia mengatakan itu, tetapi wajah dia sedih.


Aku ingin bertanya, kenapa dia memasang wajah seperti itu.


Tetapi. Aku tidak ingin menghancurkan suasana bahagia ini.


Aku terus mengikuti Livia, aku sekarang berada di rumah para bangsawan.


Livia mengatakan ini adalah kawasan bangsawan, jadi semua orang disini adalah bangsawan.


Tidak ada rakyat biasa disini, kecuali rakyat biasa yang memiliki hubungan dengan para bangsawan.


Aku sekali kali melihat orang di berjalan dengan kereta kuda, mereka semua duduk di dalam kereta menggunkan baju mahal.


Aku dapat melihat itu, karena ada celah di bagian kereta kuda.


"Ini adalah pusat dari kota bangsawan."


Livia mengatakan itu dan kami berhenti, aku melihat melihat sekeliling.


Ada beberapa toko, ada toko emas, toko obat, dan banyak lagi.


Dan di tengah tengah ada kolam air mancur.


Di depan kolam air mancur ada patung berwarna abu abu besarnya 3m.


"Apa itu ?."


"Itu adalah Pahlawan tetap kerajaan ini sebelumnya."


"Hebat, itu sangat tinggi."


"Tentu, dia adalah Pahlawan yang sangat berjasa bagi kerajaan ini."


Livia mengatakan itu sambil tersenyum, dia juga melihati patung yang besar itu.


"Kuro."


"Ya ?."


"Mari kita pergi, aku merasakan banyak tatapan."


Aku melihati sekeliling, para laki laki berpakaian mewah melihati Livia dengan wajah mesum.


Tangan aku di tarik oleh Livia, ke salah satu jalan besar.


Seperti sebelumnya, jalan ini samping kanan dan samping kiri hanya di penuhi dengan Rumah para bangsawan.


Kecuali di sekitaran Pusat kawasan bangsawan, aku sedikit lelah dengan rumah yang ku lihat.


"Kuro, kamu lihat gerbang besar di sana ?."


"Mmm, apa itu ?."


"Itu adalah gerbang menuju ke kawasan rakyat biasa."


"Rakyat biasa ?, apakah itu beda dengan kawasan bangsawan ?."


"Itu berbeda, kamu akan melihat perbedaan yang sangat jauh ketika kamu sudah sampai kawasan rakyat biasa."


"Serius ?, aku semakin tidak sabar."


Aku berjalan mengikuti Livia di belakangnya.


Aku akan menikmati hari ini.


Ini seperti berkencan, tetapi. Aku tidak yakin Livia menganggap seperti itu.


Aku yakin Livia hanya menganggap ini bagian dari pekerjaannya.


Dia melakukan ini karena pekerjaan dia sebagai Maid aku.

__ADS_1


Jika bukan karena itu, dia mungkin. Tidak bakal mau mengajak aku untuk jalan jalan di kota.


__ADS_2