
Hari ini adalah hari ke 6, aku di dunia lain.
Aku berdiri dari tempat tidurku, kemarin Livia tinggal di kamarku selama 1 hari karna aku berada sedang sakit karena dipukuli oleh Takashi.
Aku berjalan ke kamar mandi masi dalam keadaan mengantuk.
"Baiklah, aku akan mandi lebih awal untuk hari ini."
Aku sekarang berada di dapur, sedang menyiapkan makanan untuk Kuro.
"Pagi, Livia."
"Ah pagi, Marie kamu sedikit lelah apakah terjadi sesuatu ?."
"Kamu tau, semalam aku tidak bisa tidur karna Pahlawan Takashi meminta hal yang membuatku tidak bisa tidur."
"Serius dia meminta kamu melakukan hal itu lagi, apakah kamu sudah melaporkannya pada Putri ?."
"Ya, aku sangat ingin mengatakan ini pada putri tetapi."
"Tetapi ?."
"Ah tidak apa apa, juga kamu sepertinya sangat bahagia merawat "orang yang terbawa itu.""
"Maksudmu Kuro, ya entah bagaimana aku nyaman merawatnya."
"Aku mengerti, juga aku akan menyiapkan makan malam untuk Pahlawan Takashi juga."
"Baiklah, Marie jangan terlalu memaksakan dirimu melakukan hal yang dia mau."
"Ya aku akan mengingatnya."
Marie menjauh dari aku dan dia berjalan dengan lesu, ah ini tidak baik aku akan membicarakan ini dengan Kuro dan sekaligus Putri.
Baiklah aku sudah selesai menyiapkan makanan untuk Kuro,
Dapurku berada di lantai 2 jadi aku perlu menuruni tangga untuk ke kamar Kuro.
"Hai kamu disana."
Ketika aku melihat turun tangga ada yang memanggilku disana ada temannya Kuro.
"Ya ada apa ?."
"Nah, kamu yang merawat Kuro kan ?."
"Iya, aku yang merawatnya ada apa ?."
"Nah, aku adalah temannya Kuro, Yuu salam kenal."
"Ah, salam kenal juga aku, Livia."
Ah Kuro pernah membicarakan tentangnya dia adalah satu satunya teman dekatnya.
"Mmm, terima kasih sudah merawat temanku Kuro. Walaupun dia "orang yang terbawa" kamu tetap merawat dia."
"E-eh, ya tidak masalah aku juga senang merawat Kuro."
Aku panik dengannya yang menunduk kepala sambil mengatakan itu, apakah itu tradisi mereka bilang terima kasih sambil mendudukan kepalanya ?.
"I see, tetapi ketika aku menanyakan Kuro tentang mu dia membuat wajah senang tau."
"Begitukah ?."
"Ya Kuro sebelumnya sangat murung bahkan sebelum datang kedunia ini dia sudah begitu, tetapi semenjak dia kamu merawatnya murungnya telah hilang sedikit demi sedikit."
"I see, percayakan lah Kuro padaku. Aku akan merawatnya dalam 1 bulan ini."
"Begitu, aku percayakan Kuro padamu."
"Baik, aku akan mengatarkan makanan dulu ke kamar Kuro. Selamat tinggal."
"Ah, iya terima kasih maaf megangu waktu mu tiba tiba."
"Tidak masalah."
Aku tersenyum kearah dia dan berjalan menuruni tangga untuk pergi ke kamar Kuro.
Aku sekarang berada di atas kasur sambil melihat lihat statusku Strength ku naik 1 lagi.
"Ah jika 24 hari lagi aku mungkin Strength aku akan mencapai angka 30."
Aku tidak sabar dengan itu.
"Knock Knock."
"Aku akan membukanya, Livia."
Aku berdiri dari kasur membuka pintu kamarku yang disana ada Livia membawa nampan seperti biasa.
"Kamu sangat segar apa terjadi sesuatu, Kuro ?."
"Mmm, karena aku bangun lebih awal hari ini jadi aku langsung mandi."
"I see, aku seperti biasa membawakan kamu makanan dan juga ada yang ingin aku bicara kan."
"Ah lebih baik membicarakan di dalam, ayo masuk."
"Baiklah, permisi."
Aku menutup pintuku, sepertinya Livia sudah terbiasa di kamarku.
"Kamu makan dulu saja, Kuro. Aku akan membicarakan setelah makan."
"Mmm baiklah, aku akan makan dan juga makasih Livia atas makanannya."
"Ya, tidak masalah dan juga aku akan membereskan tempat tidur mu."
Aku mengatakan tidak usah tetapi dia tetap membereskannya, aku memakan makananku 2 telur, sop daging dan 2 gelas susu makanan ini sangat enak bahkan aku tidak bosan memakanya terus.
Aku sudah selesai makan, penasaran apa yang Livia ingin bicarakan jadi aku menghabiskannya dengan cepat.
"Baiklah, aku sudah selesai makan jadi apa yang ingin kamu bicarakan ?."
Aku duduk di kursi dan Livia duduk di kasurku.
"Nah, kamu tau. Aku punya teman maid dia merawat salah satu temanmu yaitu Katashi."
Livia mengatakan dengan wajah serius dan ketika dia mengatakan Katashi aku langsung teringat aku dipukuli oleh dia.
"Ya, apakah terjadi sesuatu ?."
"Mmm, tadi pagi aku bicara dengannya tetapi keadaan sangat lelah bahkan jalan pun sedikit susah."
"I see, apakah terjadi sesuatu ?."
"Iya, sepertinya Katashi memintanya melakukan hal hal yang aneh dan juga ketika aku menanyakan "Apakah kamu sudah melaporkannya pada Putri." dia membuat muka ketakutan."
"I See, jadi begitu ya aku akan menanyakan ini pada Katashi langsung dan juga kamu sebaiknya hati hati dengannya dia merencanakan sesuatu."
"Ya aku akan berhati hati, tetapi kamu tidak harus menanyakan ini pada Katashi takutnya kamu dipukuli lagi oleh dia."
"Ahaha, jika aku di pukuli lagi aku akan senang bisa di rawat mu 1 harian."
"E-eh, Y-kamu terlalu banyak becanda Kuro."
"Hahaha kamu lucu ketika malu."
"Diam!!, dan aku akan kembali berkerja. See you, Kuro."
"Ah, iya see you too."
Livia mengatakan "Diam" dengan pipi memerah dan dia buru buru keluar dari kamar itu sangat lucu.
Bukankah aku membuat achievement lagi disini ?
Baiklah, aku tidak akan menanyakan tentang itu pada Katashi untuk hari ini.
"Katashi, apa kamu melakukan sesuatu pada Maid mu ?."
Jika aku menanyakan hal itu pada Takashi mungkin akan membuat maid itu semakin menderita.
Bisa saja aku mengatakan ini pada Hikari tetapi dia terlalu baik dalam masalah ini.
Aku akan memikirkan itu lagi nanti.
"Baiklah, aku akan pergi ke lantai 4 tempat latihan kemarin."
Aku berdiri dari kursi dan pergi dari kamarku, aku kali ini mengunci kamarku karna Livia mempunyai kunci ke 2 kamarku.
Aku menaiki tangga lantai 2 seperti biasa tempat itu sepi, aku lanjut menaiki tangga lantai 3 di lorong aku melihat Yuu yang sedang berjalan dengan Maidnya.
Yuu memiliki ekspresi senang di mukanya ketika bicara sambil berjalan dengan maidnya dan begitu juga maidnya.
Yuu merasakan tatapan aku segera memanggil ku.
"Kuro, kemari."
Dia menyuruhnya ketempatnya jadi aku berjalan kepadanya.
"Ada apa Yuu, aku baru saja mau pergi ke ruang latihan kemarin."
"Ah, tidak apa apa sebenarnya aku dari kemarin ingin memperkenalkan maidku kepada mu."
"Aku, mengerti."
Ketika aku melihat maid itu dia memiliki rambut merah muda dan matanya berwarna biru, yang dia cantik tidak salah jika Yuu menyukainya.
"Salam kenal, namaku Kuro dan juga aku teman Yuu."
"Salam kenal nuga, namaku Ruby dan aku adalah Maid yang merawat Yuu selama 1 tahun."
"I, see kamu sepertinya sangat disukai oleh Yuu, Ruby."
"E-eh, begitukah aku senang jika memang benar begitu."
"I see, jadi begitu Yuu."
"W-apa yang kamu katakan, baiklah ruby aku akan pergi terlebih berlatih dulu kamu semangat kerjanya."
"Begitukah baiklah, kamu juga semangat latihannya."
Ada apa dengan situasi ini, bukan kah dalam 6 hari ini mereka terlalu dekat ?.
Aku terkejut Yuu yang hanya tertarik dengan anime, manga, dan novel bisa jatuh cinta.
Aku berjalan menaiki tangga bersama Yuu, dan tiba di depan pintu yang kemarin kita berlatih.
Aku membuka pintu itu di tempat itu sepertinya sudah pada berkumpul bahkan Takashi sekarang sedang berbicara dengan temannya.
Miss Eri masi belum datang jadi aku memutuskan untuk mengatakan terima kasihku kepada Hikari.
Aku berjalan ke Hikari yang sedang berbicara dengan temannya, Arata.
"Hikari."
Hikari kaget ketika aku memanggilnya dia sepertinya tidak memperhatikan ku.
__ADS_1
"A-ah maaf, ada apa Kuro ?."
"Nah aku disini untuk mengucapkan terima kasih karena telah menolong ku kemarin."
Aku mendudukan kepalaku sedikit disini.
"Tentang itu ya, sama sama juga lain kali jika kamu butuh sesuatu bilang aku."
"Baik, aku pergi dulu."
"Oke."
Aku langsung pergi karena tatapan murid padaku semua, juga tatapan Takashi yang aneh.
Aku kembali ke tempat Yuu berada.
"Yoo, Kuro kamu ngapaiin ?."
"Mmm, aku cuma mengatakan terima kasih karna dia menolong ku waktu itu."
"I see."
Pintu terbuka yang masuk adalah Miss Eri dan Sage.
Miss Eri dan sage berjalan ke tengah tengah dan berbalik menghadap kami.
"Baiklah hari ini Sage akan melihat perekembangan kalian."
Sage memakai jubah putih seperti pendeta dan menatap kami dengan tatapan menakutkan.
"Aku akan menjelaskannya disini, Sage adalah orang kedudukannya setara dengan raja karena dia pemimpin gereja dari seluruh dunia ini."
Semua siswa termasuk aku terdiam ketika mendengar kata kata itu.
"Bahkan Sage sekarang adalah orang terkuat di dunia ini. Jadi jagalah sedikit sikap kalian mengerti."
"""""Ya mengerti."""""
Semua siswa menjawabnya dengan suara kecil, bukan kah bahaya jika kita salah ngomong sedikit aku akan di usir dari istana ini.
"Nah kalian hari ini Sage akan melihat skill kalian, juga jika sage tertarik dengan kalian mungkin dia memberi hadiah seperti senjata, armor, dan lainnya."
Ketika Miss Eri, mengatakan para siswa mulai memiki tekad yang kuat kecuali aku. Yahh skill saja tidak bisa dipakai paling aku hanya dipandang rendah oleh sage.
"Baiklah, kalian dapat menunjukkannya pada sage mulai dari kamu."
Aku yang di tunjuk pertama kali bukankah ini buruk, Sial..
"Lakukan yang baik, Kuro"
"Ya, Yuu."
Aku maju dengan pasrah, baiklah aku akan menunjukan skillku disini.
"Permisi Miss Eri bisakah aku meminjam pedang yang di meja sana."
"Iya, tidak masalah."
Aku berjalan mengambil pedangku dan kembali kedepan Miss Eri dan Sage.
"Mmm, bukankah kamu anak yang tidak memiliki Class ?."
"E-eh, Iya."
"Aku mengerti jadi tunjukkan skill mu lebih cepat."
Sage bertanya padaku, ah matanya sudah kehilangan minat baiklah aku akan menggunakan skill dasarku saja.
Aku menjulurkan tangan kiri ku setelah itu aku mengangkat pedang yang ada di tangan kanan ku dan memposisikan pedang itu miring, aku menurunkan pedang perlahan dan kulitku kebukan sedikit dan mengeluarkan darah.
Sial ini sangat sakit tetapi mau tidak mau aku harus melakukannya karna satu satunya skill yang bisa kutunjukan adalah ini.
"Auto Recovery (small)."
Aku mengatakan itu segera luka aku perlahan menutup sendiri tetapi darah tidak hilang. Aku buru buru mengelap darah itu dengan bajuku.
Ketika aku melihat Miss Eri dan Sage dan yang lainnya mereka hanya terdiam menatapku seperti melihat orang aneh kecuali Yuu yang bertepuk tangan.
"Kamu hebat, Kuro."
Dia berteriak sambil tersenyum.
"Jadi skillku satu satunya yang bida ku tunjukkan."
Aku mengatakan itu Miss Eri bingung harus mengatakan apa dan Sage tidak merubah ekspresinya.
"Apakah hanya itu skill kamu ?."
"Iya, dan beberapa skill biasa seperti apprisal, detection dan lainnya."
"I see, jadi bagaimana Sage ?."
"Yah dia hanya "orang terbawa" jadi itu biasa aja, baik selanjutnya."
Sage mengatakan itu dengan wajah seolah tidak tertarik, Ah sudah kuduga pasti akan berakhir begini bahkan Sage mengatakan "Orang Terbawa" Sialan.
Aku kembali ketempat dudukku di samping Yuu.
"Jangan pedulikan tentang apa yang di katakan Sage, Kuro."
"Tidak aku, tidak memperdulikan itu lagian aku sudah biasa dikatakan itu."
"I see, tetapi kamu luar biasa Kuro berani melakukan hal itu jika itu aku. Aku tidak akan berani."
"Haha, kamu berlebihan tau Yuu."
Aku terpaksa melakukan itu jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
---
Nama : Katzuhiko Ouma
Age : 16
Race : Human
Lv : 1
Class : Swordman
Title : Hero From Another World
Skill Point : 0
Strength : 75
P Defense : 93
M Defense : 66
Agility : 83
Magic : 74
Skill :
Skill Dasar
- Appraisal Lv 1
- Detection Lv 1
Skill Tree ???
- Sword Technique (Middle)
- Sword Art (Lower-Middle)
- Quick Slash
- Strength Up (Lower)
Seperti yang di harapkan walaupun statsnya hampir sama kaya Yuu dan skill treenya semua berguna.
"Kamu dapat menunjukan semua skillmu, dan kamu juga dapat menunjukkan 1 saja yang paling kamu kuasai."
"I see."
Katzuhiko mengambil senjata yang sebelumnya aku pakai, dia langsung mengangkat pedangnya.
"Strength Up, Quick Slash."
Mengatakan itu dia mulai menggerakan pedangnya kesamping dengan sangat cepat, bahkan Sage sedikit tersenyum ketika melihat itu dan Miss Eri sedikit kaget akan hal itu.
"Baiklah cukup."
Katzuhiko menghentikan gerakannya setelah Miss Eri mengatakan itu.
"Hebat bahkan baru tiba sudah secepat itu, jadi bagaimana Sage ?."
"Mmm, dia berbakat aku akan memberikan sesuatu untuk menambah kecepatan mengayun pedang mu."
"I see, aku akan menunggunya dan juga terima kasih."
"Selamat untuk kamu, selanjutnya."
Yang di panggil selanjutnya adalah Roku Osamu, baiklah aku akan mengecek status temanku lagi.
---
Nama : Roku Osamu
Age : 16
Race : Human
Lv : 1
Class : Axeman
Title : Hero From Another World
Skill Point : 0
Strength : 93
P Defense : 84
M Defense : 78
Agility : 90
Magic : 88
Skill :
Skill Dasar
- Appraisal Lv 1
- Detection Lv 1
__ADS_1
- Poison Resistance Lv 1
Skill Tree ???
- Axe Techniques (Middle)
- Axe Art (Lower-Middle)
- Cannon Axe
- War Axe
Dia memiliki stat yang lebih tinggi dari Katzuhiko dan beberapa skill yang unik.
Dia berjalan mengambil Axe yang tingginya hampir sama seperti Roku dia mengangkat Axe itu tanpa beban.
Dia berdiri di depan Miss Eri dan Sage, selanjutnya dia melapisi Axe dengan Wind magic setelah itu.
"Cannon axe."
Dia melemparkan Axenya dengan sangat kuat dan cepat, Axe itu terbang tetapi tiba tiba berhenti seperti tertabrak sesuatu.
"Wow itu sangat cepat."
Kata Miss Eri, wajah dia terkejut akan hal itu dan juga Sage tersenyum ketika melihat itu.
"Kamu mempunyai kekuatan yang sangat besar dan bahkan skillmu itu harusnya tidak secepat itu tetapi kamu melapisinya dengan Wind Magic jadi itu sangat cepat, baiklah aku akan memberimu semacam Axe untuk kamu pakai nanti."
"F-baik, aku akan mununggunya Tuan sage dan terima kasih."
"Baik, Selanjutnya."
Yang di panggil adalah Yuu.
"Yuu, lakukan terbaik."
"Ya pasti."
Dia maju dan mengambil Spear setelah itu dia menunjukkan skill yang kemarin dia perlihatkan padaku.
"Wow, ini baru pertama kalinya aku melihat skill Spear yang sangat hebat bahkan dengan level mu yang 1 itu luar biasa."
Miss Eri mengatakan itu dengan mata berbinar, bahkan sage bertepuk tangan sambil tersenyum.
"Benar apa yang dikatakan Eri, ini pertama kalinya aku melihat skill spear yang sangat kuat. Aku akan memberi mu Spear kuno yang digunakan oleh dewa pakai."
"Serius ?."
"Ya."
"Aku akan menunggunya dan juga terima kasih."
"Baik, selanjutnya"
Semua siswa telah di panggil hanya tersisa True Hero, Hikari.
"Baik."
Hikari maju dengan tersenyum sepertinya dia sangat percaya diri disini.
Dia mengambil pedang seperti punyaku dan memegang pedang itu dia menyelimuti pedangnya dengan Light Magic setelah itu.
"Limit break, Light Sword."
Mengatakan itu dia mengayunkan pedangnya kebawah setelah itu cahaya meninggalkan pedangnya berbentuk seperti bulan sabit bahkan itu sangat cepat dan tiba tiba berhenti seperti bertabrakan dengan sesuatu yang keras.
Bunyi suara retak bahkan Sage yang tadinya diam langsung terkejut dan berdiri, mengakat tangannya sambil mengatakan.
"Light Barrier."
Cahaya yang di keluarkan dari tangan sage mulai melahap cahaya hikari.
Miss Eri terkejut apa yang baru saja dilihat dan semua siswa termasuk aku.
"Apa apaan itu, kekuatan yang tidak masuk akal bahkan itu membuat penghalang suci itu hampir hancur."
Miss Eri mengatakan itu.
"Hikari apa yang baru kamu lakukan ?."
"Tidak aku hanya mengeluarkan skillku."
"Tidak mungkin, skill kamu itu sangat luar biasa bahkan aku merinding melihatnya."
"Begitukah, maaf bila menakuti kalian."
Hikari mengatakan itu dengan polos, bukankah kamu terlalu mengerikan disini.
"True Hero, Hikari. Kamu sangat luar biasa bahkan kamu hampir memecahkan penghalang tingkat suci, itu kejadian sama dengan True Hero, Tsuhira."
"Makasih atas pujiannya Sage, tetapi maaf aku telah menghancurkan pengahalangnya."
"Tidak apa apa, itu bisa di pasang lagi."
"I see."
Sage mengatakan itu dengan tersenyum, senyumnya sangat berbeda tidak seperti yang di arahkan kemurid sebelumnya.
"Baiklah, nanti aku aman membawakan Pedang Pahlawan yang diberikan oleh tuhan."
"Serius, aku akan menantikannya Sage."
"Ahaha, tidak masalah aku menantikan perkembangan mu."
Sage mengatakan itu dengan tertawa, baru kali ini aku mendengar dia tertawa.
"Baiklah pelatihan hari ini telah berakhir dan juga besok kalian istirahat tidak ada latihan sama sekali, tetapi besok kalian harus datang ke ruang pertemuan ada yang putri ingin bicarakan."
"""""Ya mengerti."""""
Miss Eri, Sage dan semua murid meninggalkan ruangan kecuali aku.
"Baiklah aku akan mengayunkan pedangku seperti biasa."
Aku berjalan mengambil pedang yang di atas meja setelah itu mengayunkannya di pojok ruangan.
Aku terus mengayunkannya tanpa istirahat, pedang yang tadinya lumayan berat sekarang sudah terbiasa di tanganku.
Aku terus mengayunkannya, andaikan aku tau waktu di dunia ini mungkin aku harus menanyakan ini pada Livia.
"Yang terakhir kali."
Aku mengayunkan pedangku untuk terakhir kalinya dengan kuat SWIS! suara angin dipotong di dalam ruangan.
"Baiklah, aku akan kembali sekarang."
Aku menaruh pedangku setelah itu aku keluar dari ruangan.
"Ah, sepertinya sudah mau sore. Baiklah apa yang harus ku lakukan sekarang."
Aku berjalan menuruni tangga untuk pergi ke lantai 3, aku ingin sekali sekali berkeliling istana ini.
"Baiklah, aku akan memutari lantai 3 dulu."
Aku berjalan di lorong sesekali aku berjumpa dengan teman sekelasku itu, Lorong di lantai 3 ini luas bahkan mempunyai lebih banyak kamar dari pada di lantai 1.
Aku terus menjelajahi lantai 3 dengan lancar tanpa ganguan.
Aku sangat lelah ketika hanya dengan menjelajahi lantai 3, huuh sebaiknya aku beristirahat di kamarku dan juga ini sudah sore.
Aku kembali ke tangga lantai 3 ketika aku melihat lorong disana ada Yuu dan Ruby di depan pintu kamar, sepertinya itu kamar Yuu sebaiknya aku pergi karna dapat menggangu Yuu dan Ruby.
Aku turun ke lantai 2 seperti biasa itu sepi, aku ingin tau siapa yang tinggal di lantai 2.
Aku turun dan kembali kamarku sepertinya Livia belum menaruh makan di meja.
"Baiklah, aku akan mandi."
Aku memasuki kamar mandi setelah itu menutup pintu dan menggantungkan bajuku di gantungan belakang pintu.
Aku menguyur badanku dengan gayung dan aku mendengar suara pintu terbuka sepertinya Livia datang ke kamarku.
Aku buru buru menyelesaikan mandi ku dan memakai baju setelah itu membuka pintu kamar mandi.
Yang di dalam ruangan adalah Livia yang sedang duduk di kasurku.
"Hei Livia."
"Livia ?."
Aku memanggil Livia tetapi dia tidak menjawab, aku berjalan kedepannya dan berjongkok untuk melihat wajah Livia.
"Ada apa, Livia."
"Mmm, tidak apa apa. Bolehkah malam ini aku tidur di kamar mu lagi ?."
"Y-ya ?."
"Ya, apa aku boleh ?."
"Boleh, tetapi apa yang terjadi padamu bahkan kamu memasang wajah Pucat.
Saat aku melihat wajahnya dia memasang ekspresinya pucat apa yang terjadi padanya ?.
"Tidak terjadi apa pun, Kuro. Sebaiknya kamu makan dulu nanti makanan mu keburu dingin."
"Maaf, aku harus tau apa yang terjadi padamu bahkan memasang wajah seperti itu ?."
"I-Aku tidak apa apa hanya tidak enak badan, boleh kah aku mandi terlebih dahulu ?."
"I see, kamu sebaiknya mandi dan aku akan memanggil temanku yang mempunyai Healing Magic."
"Tidak, tidak usah aku akan sembuh setelah tidur."
"I see, jika sesuatu terjadi tolong panggil nama ku dengan keras."
"Ya, permisi."
Livia mukanya pucat dan ada ketakutan didalamnya, aku khawatir tentang ini apakah telah terjadi sesuatu dengan Livia ?.
Aku memikirkan itu tetapi aku tidak kepikiran apa pun sampai membuat Livia seperti, Apakah Takashi melakukan sesuatu pada Livia.
"Aku harus menyelidikinya besok."
Livia keluar kamar mandi dan dia langsung naik ke kasurku.
"Maaf, karena aku tidak sopan tapi aku akan tidur lebih awal."
"Ya, tidak masalah juga kamu sedang sakit jadi tidak apa apa silahkan."
"Terimakasi, selamat malam Kuro."
Aku melihat wajah Livia sambil makan dia sepertinya telah tidur, aku tau pasti telah terjadi sesuatu pada Livia.
Aku menggunakan Detection untuk melihat apakah ada orang di depan kamarku tetapi yang terdekteksi hanya Livia yang sedang tidur.
Aku berdiri dari bangku dan berjalan ke pintu untuk mengunci pintu kamarku setelah itu aku menarik kursi membawanya ke samping kasur Livia tidur.
Aku tidur di kursi supaya Livia lebih luas tidurnya dan tidak menggangu dia tidur.
"Selamat malam, Livia."
__ADS_1