
Aku sedang berjalan menuruni tangga.
"Selamat pagi, Kuro."
"Pagi, mama."
Ibu aku sedang berada di ruang tamu dan di sebelahnya ada ayahku.
"Kuro, hari ini kita akan pergi untuk jalan jalan."
"Serius papa ?."
"Iya, sekalian merayakan ulang tahun mu hari ini."
"Ah, kamu ingat itu papa."
"Mana mungkin papa melupakan ulang tahun mu."
Ya, hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 8 tahun. Aku mendekat ke tempat dimana papa dan mamaku duduk.
"Nah, Kuro kamu mau jalan jalan kemana ?."
"mmm, kalau begitu bolehkah kita pergi ke Disneyland."
"Disneyland, baiklah kita akan pergi ke sana."
"Yataaa, terima kasih papa, mama."
"Ya, tidak masalah itu juga untuk merayakan ulang tahunmu."
Akhirnya aku pergi ke Disneyland tempat yang aku ingin datangi sejak kecil.
"Baiklah kami akan bersiap, jadi kamu juga Kuro."
"Baiklah, aku akan bersiap siap."
Aku kembali ke lantai 2 untuk pergi ke kamarku dan bersiap untuk mandi.
"Aku sangat menantikan hari ketika aku pergi ke Disneyland. Aku tidak sabar."
Aku segera mandi, dan memakai pakaian yang biasa ku pakai untuk pergi.
Aku berjalan ke lantai 1. Disana mamaku dan ayahku sudsh bersiap menungguku.
"Kamu ganteng seperti biasanya Kuro."
"Ya benar."
"Haha terima kasih, kalian juga seperti pasangan muda."
"Ehh, dari mana kamu belajar kalimat itu tetapi itu membuatku senang."
"Kuro, kamu mengatakan hal yang lucu tetapi aku senang bisa disebut muda lagi."
"Hehehe, rahasia."
"Baiklah, mari kita pergi."
Sebenarnya aku belajar dari internet, aku berjalan keluar rumah dan menaiki mobil papaku.
"Baiklah kalian semua sudah menggunakan sabuk pengaman ?."
"Sudah, ayo papa aku tidak sabar."
"Hahaha, baiklah ayo kita berangkat."
Papaku dan mamaku duduk di depan dan aku sendirian di belakang.
Liburan kami berjalan dengan lancar, dan juga selama kami berjalan jalan di Disneyland kami sangat menikmati kebahagaiaan itu waktupun cepat berlalu sampai kami tidak sadar bahwa sudah malam.
"Kuro, ini sudah malam ayo kita pulang."
"Mmm, baiklah tetapi lain kita akan pergi ke Disneyland lagi ya ?."
"Ya, kita akan pergi bersama lagi suatu hari."
Kami berjalan keluar Disneyland sambil membicarakan tentang yang kita laakukan hari ini di Disneyland.
Sampai dimobil, aku duduk dibelakang ketika aku melihat muka ayah dan ibu mereka sangat senang.
Ah hari ini adalah hari terbaik.
Setelah beberapa jam aku tiba dipagar rumah ku.
"Hei sayang, apakah tadi aku lupa menutup pagar ?."
"Mmm, tidak kok aku melihatmu menutup pagar dan menggemboknya."
"Hemm, tetapi kenapa pagar itu terbuka dan juga rumah kita menyala."
"Mari kita menceknya, tetapi untuk berjaga jaga mari kita bawa bat yang ada di belakang bagasi mobil dan menelpon polisi."
"Ah, benar. Kuro tolong ambilkan bat yang ada di bagasi mobil dan juga kamu harus menunggu di dalam mobil."
"Ah iya aku akan mengambilnya."
papaku menyuruh aku mengambil bat yang ada di dalam bagasi. Aku segera berdiri dari bangku mobil dan menghadap belakang mengambil bat itu.
"Nah ini batnya."
"Terima kasih, kamu harus berdiam di dalam mobil. Mengerti."
"Ya aku akan."
Aku tidak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan tetapi jika itu yang di perintahkan oleh orang tuaku dengan wajah serius, aku akan melakukannya.
"Nah, sayang apakah kamu sudsh menelepon polisi ?."
"Udah, dalam 30 menit mereka akan sampai sini."
"I see, aku akan turun dari mobil dan mengeceknya."
"Tidak aku akan ikut."
"Kamu tidak bisa begitu, sayang ini adalah tugasku sebagai laki-laki dan suamimu."
"Tidak aku akan ikut."
"I see, tetapi jika terjadi apa apa silahkan lari dan bawa Kuro."
"Ya aku akan, juga Kuro kamu harus mengikuti apa yang dikatakan papamu. Mengerti ?."
"Ya aku mengerti."
Aku disini bingung kenapa situasi yang tadinya bahagia menjadi seperti ini. Ketika aku melihat jendela rumah ku disitu ada seseorang yang melihat mobil kami.
"papa, mama ada orang di dalam rumah, siapa itu ?."
"Kamu melihatnya ya, itu adalah teman papa dan mama."
"Oh teman papa dan mama, tetapi kenapa aku tidak boleh keluar dari mobil dan menyapanya."
"Ah, mama akan menjelaskannya nanti jadi kamu diam saja di mobil."
"Baik aku akan menunggu."
Papa dan mamaku keluar dari mobil sambil membawa bat, mereka berdua masuk ke dalam rumah.
"Aku lelah menunggu ini sudah 20 menit tetapi mereka tidak keluar."
Aku penasaran apa dibacarakan ayah dan ibu pada temannya, mereka sepertinya membicarakan sesuatu yang penting.
"HENTIKAN, DAN JAUHKAN TANGAN KOTORMU DARI HARUTO BANGSAT!!"
Aku terkejut dengan teriakan mamaku.
"Apa yang terjadi ?."
Aku memutuskan keluar dari mobil.
"Maaf ayah, ibu aku melanggar perintah kalian."
Aku berjalan, memasuki rumahku di sana rumahku sangat berantakan dan juga beberapa barang tidak ada.
"Apa yang terjadi ?."
Aku menaiki tangga untuk lantai 2 untuk melihat apa yang terjadi.
Papaku berbaring sambil memegang bat tangannya berdarah, darah keluar dari mulutnya dan didada ayahku ada pisau menancapnya.
A-aku tidak mempercayai apa yang kulihat yang ada di depanku. Aku muntah di tangga dan segera pergi ke tempat papaku yang berbaring.
"D-papa bangun."
"Kumohon bangun."
Aku menangis sambil mengatakan itu tetapi beberapa kali aku memanggil papaku tidak ada respond.
"Papa, apa yang terjadi kamu mengatakan bahwa ada teman mu datang."
"Kuro, jika kamu disini cepat lari!! dan jangan datang kesini."
Suara mama berasal dari kamarku. Mamaku menyuruh ku untuk lari tetapi jika aku melakukan itu aku takut hal yang sama terjadi pada mamaku.
Aku segera membuka pintu kamarku dipojok kamarku ada mamaku yang sedang memegang bat, dan didepannya ada 2 laki laki membawa pisau seperti yang menusuk di dada ayahku.
"Kuro, aku bilang kamu jangan masuk cepat lari dari sini!!."
Ketika ibuku berkata itu 2 laki laki itu melihatku dan mereka berbicara sesuatu.
"Dia masih kecil apa yang harus kita lakukan dengannya."
"Ah aku mempunyai beberapa teman yang akan membeli organ tubuh anak kecil, mari kita jual dia ketemanku."
"I see, kita urus dia terlebih dahulu setelah itu kita bersenang senang dengan perempuan itu."
__ADS_1
"I See, kalau begitu Le-."
Ibuku memukul mereka dengan bat ketika sedang berbicara dan mulai berlari kearah aku.
"Kuro sekarang kita lari."
Tanganku di tarik oleh ibuku keluar dari kamarku dan melawati ayahku yang berbaring dan menuruni tangga.
"****** itu, aku tidak akan memaafkannya."
"Ayo kita kejar."
Kami berlari di lantai ruang tamu tetapi kaki mamaku tersandung dan jatuh.
"Aduh, kuro cepat kamu lari tinggalkan mama."
"tidak, aku tidak mau."
Aku menolak apa yang di katakan ibu.
"Hei kamu ******, aku tidak akan memaafkan mu karna memukulku."
Mereka berjalan mendekati kami sambil memegang pisau.
"Ku mohon biarkan anak ku pergi, kamu dapat melakukan apa pun kepadaku."
"Hooh, kamu memberikan tawaran yang menarik tetapi maaf kami akan membunuh anakmu disini dan mengambil organnya."
Laki-laki itu mengangkat pisaunya dan menusukannya kepadaku.
"Kuro, hindari itu."
Aku secara reflek berhasil menghindari senjata itu tetapi aku terjatuh.
"Wow, kamu hebat dapat menghindari tusukanku."
"Kuro, cepat bangun."
"Ah maaf, Mama aku tidak dapat menggerakan kakiku."
Aku mencobanya paksa tetapi itu tidak begerak. Laki-laki yang 1 lagi mendekati aku sambil membawa pisau dan menusukan pisaunya padaku.
Aku memejamkan mataku sambil mengucapkan "Selamat tinggal, mama dan papa, terima kasih sudah merawatku.", tetapi ketika aku membuka mataku yang tertusuk bukanlah aku tetapi orang yang di depaku.
"Ugh, Kuro kamu anak bodoh sudah kubilang untuk diam di mobil dan jagan masuk rumah. Kamu masi saja tidak mendengarkannya."
"Juga maafkan mama kamu, tidak bisa merawat mu sampai dewasa."
"Tidak, tidak aku tidak mau hidup tanpa mama dan papa."
"Kamu harus tetap hidup, Kuro. Bahkan tanpa haruto dan aku, terima kasih kamu ada cahaya dirumah ini jika tidak ada kamu mungkin rumah ini akan sepi."
"Tidak, tidak aku tidak mauu."
Aku menatap wajah mamaku yang menangis dan tersenyum di depan ku yang masi memeluk aku.
"Sialan!!, ****** kamu menghalangi aku lagi."
Laki-laki lain itu menusuk punggung mamaku lagi.
"Ugh, Ku-ro h-dengar ini terus lah hidup dan m-mama pergi untuk menyusul papa."
"Tidak aku tidak mau, mama pergi."
"A-ah kamu d-jangan mengatakannya sambil menangis."
Mamaku menjatuhkan dirinya di dadaku.
"Tidak, MAMA!!!."
Aku berteriak dan menangis.
"Kamu terlalu berisik, nah selanjutnya giliran mu."
"Hei ada suara polisi dari luar."
"Serius, sial ayo cepat lari, mari kita tinggalkan dia."
2 laki-laki itu belari keluar dari rumahku, dan ada suara tembakan di luar.
"Hhaahh!!."
Aku membuka mataku karena terkejut dan langsung duduk di tempat tidur.
Ahhh itu hanya mimpi tentang masa lalu aku sebelum di adopsi oleh orang tua baruku yang baru.
Aku sudah lama tidak berminpi tentang itu, dulu mimpi itu membuatku trauma bahkan sekarangpun aku masih sedikit trauma dengan mimpi itu.
"Aku rindu dengan papa dan mamaku."
Pintu kamarku terbuka, orang yang masuk adalah Livia dia membawa nampan.
Ketika aku di tanya begitu aku mengusap air mata ku dan teringat tentang yang terjadi di lapangan sebelumnya.
"Ah iya aku sadar beberapa menit sebelum kamu datang dan itu, aku hanya bermimpi tentang keluargaku di dunia sebelumnya jadi aku sedikit merindukan mereka."
Dia berjalan ke meja dan menaruh nampan diatas meja setelah itu Livia mengangkat bangku yang biasa ku duduki ke samping tempat tidurku.
"I see, jadi kamu merindukan keluarga mu di dunia sebelumnya juga bisakah kamu menceritakan tentang keluargamu dan tentang duniamu ?."
Ketika aku di tanya begitu, aku bingung harus menjawab keluargaku yang mana karna aku mempunyai 2 keluarga. Sebaiknya aku menceritakan keluarga ke 2 ku.
"Mmm, Baiklah. Dunia ku sangat berbeda dengan dunia ini monsterpun di sana tidak ada, juga teknologi di duniaku sebelumnya lebih maju dari pada disini."
"Aku mengerti dan juga apakah ada mana dan magic di dunia mu sebelumnya ?."
"Itu tidak ada, sama sekali dunia ku adalah tempat yang aman bahkan magic hanya dianggap fiksi."
"I see, sepertinya di dunia mu begitu damai aku ingin tinggal disana."
"Hahaha, ya begitulah duniaku. Kalo tentang keluargaku, mereka adalah keluarga yang baik bahkan mereka menyangiku dan aku mempunyai kakak perempuan dia sedikit cuek tetapi dia sangat baik."
"I see, kamu sepertinya sangat mencintai mereka kuro bahakann muka yang kamu pasang berbeda ketika mengatakan tentang keluargamu."
"Yah, begitulah aku senang berada di keluarga itu."
"Ya aku bisa memahami kelurgamu entah kenapa, juga aku untuk malam ini akan tidur di kamarmu."
"I see eh tunggu, tidur kamarku ?."
Aku terkejut Livia mengatakan itu.
"Ahaha, iya karna kamu baru saja mendapatkan luka fatal tau ?"
"Serius."
"Iya, bahkan jika kamu dipukuli lebih jauh oleh teman mu, kamu bisa saja meninggal."
Aku tidak bisa berkata kata disini, bahakan aku hampir saja meninggal bukankah aku sangat beruntung ?. Aku akan mengucapkan terimakasih ku besok kepada Hikari dan Yuu.
"I see, syukurlah aku masih idup, juga jika kamu terpaksa tidur disini tidak apa apa. Lagian aku lumayan sembuh sekarang."
"Ah, aku tidak terpaksa juga aku melakukan karena senang bisa merawatmu dan meskipun kamu sudah lumayan sembuh tetap aku tidak bisa tenang."
"maksud mu ?."
Menanyakan itu aku sambil melihat muka livia yang sangat memerah dan mata tidak fokus. Mungkinkah dia demam ?, lebih baik aku menanyakan itu nanti.
"A-ah tidak apa apa abaikan tentang itu, juga aku membawakan mu makan sore. Namun apakah kamu ingin makan terlebih dahulu atau mandi ?."
"I see, aku akan mandi terlebih dahulu jadi kamu bebas melakukan apa yang kamu mau di kamarku anggap saja kamar sendiri."
"Oke, hati hati saat mandi mungkin kamu pingsan lagi."
"Baik."
Aku buru buru berdiri dari kasur dan berjalan ke kamar mandi.
Didalam kamar mandi aku memikirkan apa yang dikatakan Katashi tadi siang.
"Aku sekarang harus berhati hati dengannya, besok aku juga akan memberitahu Livia tentangnya."
Ya aku akan mengatakan itu padanya. Namun jika aku mengatakannya tentang Katashi ingin Livia merawat dirinya itu bisa saja Livia menerimanya karena Katashi ada pahlawan sedangkan aku adalah orang yang ikut terbawa.
Sial!!, aku tidak mau Livia meninggalkan ku tetapi jika itu keputusannya aku tidak dapat berbuat lebih jauh.
Tidak masalah, aku lebih baik mandi. Aku tidak boleh membuatnya menunggu lama.
"Knock kncok."
Saat aku mengerikan badanku dengan handuk, pintu kamar mandi ku diketuk.
"Ya kenapa ?."
"Anu, aku lupa memberimu baju salinan sebelumnya jadi aku akan menaruhnya di depan."
"Ah baik nanti aku akan mengambilnya, terima kasih."
"Ya tidak masalah."
Aku lanjut mengeringkan badanku dan membuka pintu kamar mandi di lantai ada baju putih seperti yang aku pakai sebelumnya.
"Hwah!!, Kuro kamu mesum."
"Ah aku tidak bermaksud mesum tetapi aku hanya lupa kamu berada di kamar ini, untuk malam ini."
Aku buru buru mengambil pakaian ku dan menutup kembali pintu kamar mandiku.
Sial aku akan sujud padaju setelah ini Livia karna membuatmu melihat sesuatu yang seharusnya tidak kamu lihat.
Aku buru buru memakai bajuku, dan celana sebelumnya.
Segera aku keluar dari pintu disitu ada Livia yang duduk di kasurku dengan muka merah.
__ADS_1
"Livia aku minta maaf apa yang terjadi barusan, kamu dapat melakukan apa pun yang kamu mau kepadaku disini "
Aku bersujud di depan sambil mengatakan itu, Livia yang sedang duduk dibangku melihat ku bersujud semakin memerah.
"A-ah, itu tidak masalah juga. Sebelumnya salahku lupa memberikan mu baju ganti, Juga jangan dengan mudah mendudukan kepala mu di depan orang, Kuro."
"Kamu tidak marah ?."
"Tidak tidak buat apa aku marah tentang ... itu."
Ketika livia mengatakan t"entang itu" dia semakin memerah yah dia pasti memikirakan tentang Excaliburku aku juga sedikit malu tentang itu.
"Syukurlah, jadi apa yang harus Aku lakukan untuk mendapatkan minta maafmu ?."
"Ah aku sudah memaafkan mu, Kuro."
"Meski begitu aku tetap merasa bersalah disini jadi apa yang harus lakukan."
Ketika aku mengatakan itu masi dalam posisi bersujud, Livia semakin bingung.
"I see, biarkan aku belum kepikiran jadi lain kali aku akan mengasih tau mu."
"Baik aku akan melakukan apapun."
"Kamu berlebihan bukan, Kuro."
"Hahaha, ya begitulah aku."
"I see, baiklah kuro sekarang kamu harus makan setelah itu tidur untuk istirahat."
"Baik, Putri Livia."
Aku bercanda memanggilnya begitu dan dia sedikit memerah ah aku bisa membuat perempuan memerah ini pencapaian terbaik aku.
Livia berjalan ke meja dan membawa nampannya ke arahku yang sedang duduk di kasur.
"Nah ini makanan mu Kuro, apakah kamu ingin aku menyuapini mu ?."
Ketika ditanya begitu aku bingung apa yang harus ku balas, baiklah Kuro keluarkan sifat lelakimu disini.
"Ya jika itu tidak masalah bagimu aku menerimanya."
"E-eh, baiklah."
Eh jangan katakan dia hanya bercanda dan aku menangapinya dengan serius, ah Kuro kamu terburuk.
Livia duduk dikasurku di sampingku dia membuka plastik yang menutupi nampan setelah itu dia mengambil roti dan menyelupkannya kedalam sop.
"Buka mulutmu, Kuro."
"Mmm."
Aku membuka mulutku dan dia memasukan rotinya kedalam mulutku. Sial rasanya nambah enak bahkan aku mengerti apa yang di rasakan Yuu sekarang.
"Enak sekali dari pada memakannya sendiri."
"A-ah kamu terlalu banyak bercanda, Kuro."
"Tidak, aku serius nah kamu dapat mandi. Aku akan memakan ini sendiri."
"Baik."
Malam ini adalah malam terbaik selama aku berada di dunia lain. Aku meminum susu setelah aku mengahbiskan roti dan sop ku.
"Nah, Livia sedang mandi jadi apa yang harus aku lakukan."
Haruskah aku mengintip dia ketika mandi, tidak itu tidak baik hilangkan pikiran itu jika kamu tidak mau di benci Livia.
"Status"
Nama : Kuro
Age : 16
Race : Human
Lv : 1
Class : ???
Title : Human From Another World
Skill Point : 0
Strength : 15
P Defense : 40
M Defense : 21
Agility : 25
Magic : 10
Skill :
Skill Dasar
- Appraisal Lv 1 > Level 2 (10 Skill Point)
- Detection Lv 1 > Level 2 ( 10 Skill Point)
- Night Vision Lv 1 > Level 2 (10 Skill Point)
- Poision Resistance Lv 1 > Level 2 ( 10 Point)
- Auto Recovery (Lower) Lv 1 > Level 2 (Lower-Middle) (30 Skill Point)
Skill Tree ???
- Gluttony
Stats P Defku sepertinya naik setelah di pukuli oleh Katashi sampai hampir mati.
Baiklah aku akan mencoba Appraisal pada skill Gluttony lagi.
[Gluttony : Tidak bisa dinilai kamu harus melengkapi syarat syarat terlebih dahulu untuk menilai skill ini.]
Ah sama seperti sebelumnya, hhuhh.
"Kuro, apa yang kamu lakukan ?."
"Ah, aku lagi melihat statusku."
"Skill mu ?, tetapi status hanya bisa di lihat menggunakan batu terbatas. Bagaiman caramu melihatnya."
Jadi begitu Status pribadi hanya bisa di lihat oleh batu terbatas, aku mengerti sekarang.
"I see, tetapi sepertinya para pahlawan dan aku yang ikut terbawa dapat melihat Status tanpa batu."
"Begitu, aku mengerti."
Juga sepertinya Livia tidak bisa melihat Hologram di depanku, ketika aku melihat Livia. Dia menggunakan piyama berwarna putih dengan kombinasi rambut panjang silvernya itu sangat cantik.
"Kamu sangat cantik Livia dengan memakai itu."
"T-terimakasi."
Dia memerah lagi dan juga matanya tidak fokus apakah dia beneran terkena demam ?.
"Hei,Livia apakah kamu baik baik saja badan kamu memerah tau."
"I-Aku tidak apa apa, Kuro."
Aku mendekat ke livia dan menempelkan tanganku di dahinya, itu sangat panas.
"Hei kamu sangat panas loh, bukan kah kamu demam ?."
"Tidak aku tidak demam, aku baik baik saja."
Ketika aku memperhatikannya lebih dekat itu bukan seperti demam apakah ini penyakit lain di dunia ini ?, juga bau livia sangat wangi sial aku ingin terus menciumi baunya.
"I-I see, jadi ayo kita tidur karna sudah malam."
"O-Oke."
"Nah aku akan tidur di bangku jadi silahkan kamu tidur di kasurku."
Yah aku sebenernya kasurku cukup luas untuk 2 orang tetapi jika aku tidur dengan Livia mungkin, Livia akan menolaknya jadi aku lebih baik tidur di kursi.
"Tidak, kamu sedang sakit kamu harus tidur kasur."
Livia yang tadinya memerah mengatakan itu dengan ekspresi serius.
"I see, tetapi jika aku tidur di kasur bareng kamu apakah tidak apa apa ?.
"Yah, itu tidak masalah aku tau. Jika itu kamu tau."
"I see, kalau begitu aku akan dikiri dan kamu di sebelah kanan."
"Baiklah."
"Selamat malam, Livia."
"Selamat malam juga, Kuro."
Kamu terlalu mempercayai aku Livia, bahkan meskipun begitu aku tetap laki laki yang lagi masa pertumbuhan jadi bisa saja aku melakukan hal hal aneh padamu, Livia.
Aku berbalik untuk melihat Livia sepertinya dia sudah tidur.
"Livia, terimakasih banyak untuk hari ini."
Mengatakan itu aku mebalik badanku lagi untuk tidur.
__ADS_1