
Aku telah tiba di dunia 7 hari yang lalu, aku adalah pahlawan dari dunia lain.
Sekarang aku sedang dalam perjalanan dengan Putri menggunakan kereta kuda ke kerajaan Riz, yah aku adalah pahlawan yang di panggil dari dunia lain.
7 Hari yang lalu
Aku sedang tiduran pada saat istirahat di sekolah, saat aku terbangun aku dikelilingi oleh orang yang membawa tongkat bahkan di depanku ada perempuan cantik dan disebelahnya orang tua yang memakai mahkota.
"Selamat datang Pahlawan Sejati dari dunia lain, aku disini summon kamu untuk mengalahkan Evil God."
Aku bingung apa yang terjadi bahkan klise seperti harusnya tidak terjadi padaku.
"Maaf, aku menolak untuk itu. Jadi kumohon kirim aku balik ke dunia ku sebelumnya."
Semua orang terkejut oleh apa yang ku katakan, ya benar aku menolak karna aku hanya siswi perempuan biasa bahkan aku mempunyai orang tua dan adik laki-laki yang masih ingin kulihat.
"Maaf, True Hero kami tidak bisa melakukan itu tetapi jika kamu mengalahkan Evil God. Tuhan kami pasti akan mengirim mu kembali ke dunia mu."
Perempuan mengatakan itu dengan wajah panik dan sedikit sedih di mukanya.
"S-sorry, tetapi aku hanya siswi biasa bahkan tidak mempunyai sama sekali keuatan untuk betarung."
"Tidak, Tuhan lah yang memilih mu pasti kamu kuat."
Ketika Putri mengatakan itu dia mengeluarkan batu dari kantung kecil dan membawanya ke arahku.
"Jika kamu tidak percaya coba letakkan tangan mu di atas batu ini."
Aku meletekkan tanganku di atasnya dan aku terkejut yang keluar adalah layar hologram berwarna biru.
Nama : Seika Ukara
Age : 16
Race : Human
Lv : 1
Class : Sword Hero
Title : Hero From Another World
Skill Point : 0
Strength : 255
P Defense : 218
M Defense : 211
Agility : 264
Magic : 231
"Apa ini ?."
"Itu adalah status mu dan skillmu hanya bisa di lihat lewat Apprisal tetapi kami tidak boleh melakukan itu pada Pahlawan."
"Maaf, aku tidak mengerti."
Ya aku mengerti sebenarnya, ini adalah yang sering adikku tunjukan padaku ketika bermain game saat kecil.
Aku berpura-pura tidak mengerti karena, aku berpikir dengan ini aku akan dikembalikan tetapi yang dikatakan Putri sangat berbeda dengan yang ku pikirkan.
"Ah, tidak masalah kami akan mengajari mu tentang itu dan tentang dunia ini.
"E-eh, tetapi."
"Tidak ada tetapi, kamu harus belajar disini mulai 7 hari dari sekarang."
"Kenapa kamu begitu memaksa ?."
"Karena yang aku mengatakan ini untuk kebaikan dirimu sendiri, True Hero."
Aku tidak bisa berkata apa apa disini Putri ini sangat licik bahkan aku tidak bisa melawannya dengan akting gugup aku.
Aku tidak bisa bertemu keluarga ku lagi bahkan aku masi ingin berbicara lebih banyak dengan adikku.
Begitulah ceritaku di pindahkan ke dunia ini, Nama Kerajaan yang summon aku adalah Dorugis.
Aku tidak sabar bertemu dengan Pahlawan lain.
Aku membuka mataku dan melihat kesamping.
Livia masi tertidur, ketika aku melihat ke badanku disana ada kain yang menyelimuti ku.
"Ah, terimakasih Livia."
Entah mengapa ketika aku melihat wajah Livia aku sangat ingin menyetuhnya.
Aku bangun dari kursi ku setelah itu berjalan ke arah Livia mangangkat tanganku ke arah mukanya.
Tidak ini tidak baik Kuro, kamu harus menahan dirimu jika tidak Livia akan membenci mu.
Aku mengatakan itu pada diriku sendiri, Siall!! aku lari ke kamar mandi.
"Hhuuhh, lebih baik aku mandi untuk menenangkan nafsu dan pikiranku."
Aku melepaskan semua yang ku pakai dan mulai mengguyur semua badanku setelah itu aku mengosok gigiku.
"Ah, aku tenang sekarang dan juga mandi di pagi hari sangat dingin."
Aku mengelap badan ku dengan handuk, memakai baju putih yang di berikan Livia kemarin sore di meja dan celana panjang baru.
Aku membuka pintu kamar mandi dan Livia masi tertidur di atas kasurku.
Aku ingin membangunkannya tetapi karena kemarin dia sangat pucat, aku khawatir dia kelelahan jadi aku tidak akan melakukannya.
Aku duduk di bangku sambil melihat lihat statusku.
Strength dan Agility aku naik seperti biasa, aku mencoba menggunakan Gluttony tetapi sama saja skill ini tidak bisa digunakan.
Sama saja bahkan aku mencoba menilainya perlu sesuatu syarat untuk menilainya.
"Hhuuhh, syarat apa yang harus ku lakukan."
"Kuro, ada apa ?."
Livia yang tadinya tidur sekarang duduk di kasur.
"Ah, tidak apa apa."
"I see, maaf Kuro aku merepotkan mu. Juga kamu tidak apa apa tidur sebelahku."
"Tidak masalah, apakah kamu sudah baikan Livia ?."
"Mmm, aku sudah baikan sekarang ngomong ngomong jam berapa sekarang ?."
"Aku tidak tau tentang jam di dunia ini jadi, aku tidak tau jam berapa sekarang tetapi biasanya jam segini kamu telah datang ke kamarku."
"E-eh serius, maaf aku akan mandi setelah itu bekerja dan membawakan mu makanan."
"Ya, silahkan kamu lucu ketika panik Livia."
"E-eh, ya terimakasi."
Livia bangun dari kasur dan buru buru pergi ke kamar mandi.
"Aku senang Livia kembali seperti biasa lagi."
Namun aku harus tetap mencari tau apa yang membuat Livia ketakutan.
"KNOCK KNOCK"
Suara ketukan berasal dari pintu kamarku.
"Ya, siapa ?."
"Aku, Yuu."
"Ah, tunggu sebentar akan ku buka."
Aku bangun dari bangku dan berjalan untuk membuka pintu.
Di sana ada Yuu dan maidnya ada apa pagi pagi ini ?.
"Yuu, ada apa ?."
"Kamu lupa sekarang sudah waktunya pergi ke tempat makan dan juga bawa Maid mu."
"I see, sebentar."
__ADS_1
Aku masuk ke kamar tepat Livia sudah kelar mandi dia memakai pakaian Maid biasanya.
"Livia ayo kita pergi ke tempat makan."
"Ah, aku lupa tentang itu sekali lagi aku minta maaf."
"Ya tidak masalah, ayo."
Aku memegang tangan Livia dan berjalan ke luar pintu kamar.
"W-wait."
Yuu terkejut karena aku membawa Livia dari kamarku.
"Kuro kamu sepertinya sudah lebih berani sekarang."
"Ah, itu banyak yang terjadi aku akan menceritakannya pada mu lain kali."
"Oke, aku akan menunggu jadi ayo kita pergi ke ruang pertemuan."
Kami berjalan ke ruang makan yang di pandu oleh Ruby.
"Kuro, sepertinya Putri ingin berbicara sesuatu yang penting."
"Aku ingin tau tentang itu dan juga kenapa harus membawa maid kita masing masing ?."
"Entah aku di beri tau oleh Hikari."
"I see."
Kami sampai di depan pintu lumayan besar dan Ruby berjalan ke depan dan mendorong pintu itu.
"Wah, ini sangat luas."
"Iya, seperti yang di harapkan dari ruang pertemuan kerajaan."
Di dalam ada teman sekelasku dan banyak wajah yang tak ku kenal.
"Siapa mereka, Livia ?."
Aku menanyakan Livia tentang itu.
"Anu, bisakah kamu melepaskan tangan aku dulu ?."
Ketika dia bertanya dengan pipi memerah, aku baru sadar bahwa aku memegang tangan Livia.
"Ah maaf."
"Y-ya tidak apa apa, nah mereka adalah para bangsawan dan juga ada orang orang penting."
"I see, terimakasih."
Bangsawan seperti yang di harapkan bahkan mereka memakai pakaian mahal dan perhiasan mahal.
"Kuro, ayo kita berkumpul."
"Ya, ayo Livia."
Kami berjalan ke tempat teman sekelasku bahkan mereka membawa maid mereka semua.
"Hei Kuro, kenapa ini sangat ramai aku kira ini hanya pahlawan yang di panggil."
"Aku juga gk mengerti, kenapa ini sangat ramai."
"Ruby, apakah kamu tau sesuatu."
"Mmm, aku tidak tau apa apa."
"Begitukah, ayo kita nantikan apa yang akan Putri bicarakan."
Apakah Putri ingin mengatakan sesuatu yang penting ?.
"Yoo, Livia gimana kabar mu ?."
Suara berasal dari belakang aku, yang datang adalah Katashi.
"E-eh, y-ya aku sangat baik."
"Bagus, kalau begitu mau kah kamu berbicara dengan ku sebentar."
Aku berjalan di antara Takashi dan Livia, Muka Livia sangat pucat ketika melihat Takashi.
Benar pasti ini ada kaitannya dengan Takashi apa yang terjadi kemarin malem.
"Maaf Takashi, Livia sekarang lagi kurang sehat dan juga Livia sedang berbicara dengan ku jadi bisakah lain kali ?."
Katashi pergi dan aku melihat wajah Livia masih pucat, apa yang sebenarnya terjadi disini ?.
"Hei, Livia kenapa kamu sangat pucat."
"E-eh, N-Tidak aku hanya merasa tidak enak badan lagi."
"I see, kalau begitu ayo kita kembali."
"Tidak, tidak apa apa sebentar lagi aku akan sembuh."
Aku tau kalau Livia bukan tidak enak badan tapi dia sangat takut ketika melihat Katashi.
"I see, jangan memaksakan dirimu."
"Ya, terimakasih."
"Bolehkah, aku memegang tangan mu lagi ?."
"E-eh, ya tidak masalah."
Aku langsung memegang tangan Livia karena aku merasa akan kehilangannya jika di lepas, aku tidak peduli apa yang di katakan orang lain.
"Hei semua lihat disana ada Hikari dan Putri."
"Eh, Iya mereka memakai baju seperti pernikahan."
"Eh jangan jangan."
"Oi, Hikari bukan kamu terlalu cepat."
"Sial, Hikari aku diambil."
"Hikari kamu pembohong."
"Hikari kamu seperti protagonist disini."
Di atas panggung ada Hikari memakai seragam putih dan Putri memakai gaun putih.
Hikari dan Putri tersenyum malu ketika mereka menjadi perhatian dan juga disamping Hikari ada Raja sedangkan di samping Putri ada Sage.
Di ruang pertemuan ini sangat ramai bahkan Aku dan Livia menutup telinga kami dengan satu tangan karena satu tanganku memegang tangan Livia.
"Baiklah, tolong tenang."
Sage mengatakan itu dari jauh walaupun tidak berteriak itu kedengeran sampai sini.
Aku menurunkan tangan ku yang memegang kuping dan mendengarkan apa yang Sage katakan.
"Well, hari ini adalah hari yang sangat bahagia karena Putri dan True Hero, Hikari telah memutuskan untuk bertunangan."
Satu ruang pertemuan terdiam karena terkejut ketika mendengar itu termasuk Aku juga dan Livia.
"Mungkin kalian terkejut, tetapi inilah kenyataanya juga pertunangan ini disetujui langsung oleh Tuhan."
"""""WOOOOOHHHHHH."""""
Ruangan kembali ramai ketika mendengar sage mengatakan itu.
Serius Tuhan bahkan menyetujui pertunangan mereka aku ingin tau bagaimana Sage berbicara dengan Tuhan.
Mungkin Tuhan mengirim utusan dan menyuruh utusannya untuk mengatakan itu.
"Hei Kuro, bukankah Hikari tidak adik dia baru 7 hari sudah bertunangan."
"Hahaha, kamu iri Yuu ?."
"Tidak aku tidak iri, karena aku sudah mempunyai Ruby."
"Eh ?, apa maksudmu."
Yuu dan Ruby memerah, bahkan Aku dan Livia terkejut ketika melihat mereka.
"Ya begitu lah aku telah menyatakan cintaku kemarin kepada Ruby."
"Benarkah ?."
Aku menanyakan itu pada ruby dan ia mengangguk kepalanya dengan memerah.
"Jadi kamu melakukannya ya Yuu. Selamat dan juga kamu Ruby ku mohon tolong rawat Yuu meskipun dia rada begitu."
__ADS_1
"Ya aku akan merawat Yuu selamanya dan juga aku senang meskipun dia rada begitu."
"Eh, apa maksud kalian berdua rada begitu."
"Haha, tidak apa apa."
Livia tersenyum sedih ketika mengetahui mereka berpacaran aku ingin tau kenapa ?.
Putri dan Hikari maju kedepan.
"Tamu dan Pahlawan sekalian terimakasih sudah datang ke acara pertunangan ku hari ini."
"Aku juga berterima kasih dan juga maaf mengejutkan kalian teman teman tetapi aku berjanji ke kalian semua aku akan membahagiakan Putri."
Hikari mengatakan itu dengan senyum sangat cerah bahkan Putri memerah mendengar apa yang di katakan Hikari.
"Hhuuhh, entah kenapa ketika aku melihat mereka aku merasa nyaman."
"Ya, aku juga."
"Sial kenapa Putri yang mendapatkan Hikari."
"Ya, aku tidak menerimannya."
Para perempuan marah dengan Hikari dan ada beberapa laki laki yang marah dengan Hikari karena meninggalkan mereka.
Para bangsawan maju satu persatu ke Hikari dan Putri untuk mengucapkan selamat bahkan kami juga, tetapi aku tidak di perbolehkan untuk naik oleh penjaga.
"Maaf kamu tidak di Izinkan untuk naik oleh Sage."
"Eh, baiklah."
Aku dan Livia berbalik ke tempat kami berdiri tadi.
"Maaf Livia kamu tidak bisa mengucapkan selamat ke Putri dan True Hero."
"Emm, itu tidak masalah lagian aku bingung harus mengatakan apa jika aku naik."
Livia mengatakan itu sambil tersenyum ke arahku.
"I see, kamu tau Livia. Aku sangat senang ketika mendengar Yuu berkencan dengan Ruby."
"Ya, aku juga merasa senang ketika melihat mereka."
"Haha, aku tau kamu berbohong kepadaku bukan Livia ?."
"Tidak, aku serius."
"Kamu mendengar Yuu dan Ruby berkencan muka mu sedih tau."
"Eh, begitukah kamu sepertinya salah paham disini."
Salah paham, apakah begitu tetapi aku memang benar melihat muka Livia sedih ketika mengetahui tentang itu.
"Oii, Kuro bukankah kamu terlalu padat ?."
Suara itu dari belakang aku, ya dia adalah Yuu dan ruby sedang berjalan sambil berpegangan tangan.
"Ya, benar Pahlawan Kuro terlalu padat."
"Apa maksud kalian ?."
"Tidak apa apa, nah mari kita lihat siapa yang datang."
Ketika Yuu mengatakan itu aku melihat yang di lihat oleh Yuu.
"Silahkan masuk Pahlawan Sejati, Seika dan Putri Eilis dari Kerajaan Dorugis."
Pintu terbuka dan yang masuk adalah 2 perempuan dan beberapa ksatria yang membawa pedang di sampingnya.
Mereka terus berjalan lurus ke arah Hikari dan Putri Floem.
"Wow Putri itu sangat cantik."
"Ya, benar rambut ungunya itu sangat indah."
"Benar, juga Hero di samping Putri sangat cantik tetapi mukanya mengeluarkan tekanan."
"Iya, benar pasti dia berasal dari jepang sama seperti kita."
"Ya, aku akan mendekatinya sekarang."
"Kamu mengatakan hal yang tidak masuk akal lagi bahkan Tsuhira dan Sora kamu tidak bisa dapatkan."
"Haha, benar."
Aku menikmati suasana ramai ini dengan Livia tetapi Yuu terus berbicara dengan Ruby bahkan sesekali Yuu membuat Ruby memerah.
Aku lelah melihat mereka seperti ini, tapi aku sadar di dunia isekai ini bukan kah kita terlalu santai.
Aku harus membuang pikiran itu terlebih dahulu karena suasana tidak mendukung.
Putri Eilis dan Pahlawan Seika naik dan mengucapkan salam kepada Hikari dan Putri Floem.
Setelah mengucapkan salam Hiakri dan Putri Floem duduk dan sekarang yang di depan adalah Pahlawan Seika dan Putri Eilis.
"Aku adalah Putri Eilis dari kerajaan Dorugis, aku disini untuk berkunjung dan untuk melihat Pahlawan yang summon di Riz."
Semua orang memberi tepuk tangan, sekarang yang berbicara adalah Pahlawan Seika.
"Aku adalah Pahlawan Dorugis, Seika Ukara. Salam kenal aku disini untuk memperkenalkan diriku dan melihat pahlawan yang di Summon di Riz."
I see dia sangat cantik seperti Tsuhira tetapi muka dia sangat membawa tekanan, aku akan mencoba appraisal ke Pahlawan Seika.
[Level Appraisal Tidak Mencukupi]
Aku kira Appraisal ke manusia tidak membutuhkan syarat, sepertinya ada skill yang dapat melindungi diri dari Skill Appraisal.
Aku baru sadar aku di tatap oleh Pahlawan Seika aku buru buru mengalihkan muka ku darinya.
"Baiklah, para Pahlawan yang di panggil di Riz tolong maju ke tengah."
Aku melepaskan tangan Livia yang ku pegang.
"Maaf Livia, aku pergi dulu."
"Ya tidak apa apa."
Aku maju ke tengah, seperti biasa aku berdiri paling belakang dan Yuu terpisah dari ku.
Aku sangat gugup disini, ketika aku melihat sekitar. Para bangsawan memandang aku seperti orang biasa.
Aku mengabaikan tatapan mereka dan mulai mendengarkan apa yang di katakan Putri.
"Heeh jadi ini semua Pahlawan yang di panggil di Riz, oh kamu menarik di sana dari pada pahlawan lainnya."
Ketika Putri mengatakan itu aku di tunjuk oleh Putri dan semua orang melihatku.
"Maaf ?."
"Heeh, kamu menarik jadi bisakah kamu maju ke depan ?."
"Y-ya."
Aku maju ke depan ke depan dan setelah itu bertekuk lutut seperti di lakukan para penjaga ke Raja.
"Heeh, kamu sangat sopan bukan dan juga kamu tidak memiliki class dan juga skill."
"Ya, aku tidak mempunyainya jadi bisakah aku balik ke tempat aku ?."
Aku sangat gugup disini, apakah aku mengatakan sesuatu yang salah ?.
"Hahaha, kamu lucu bukan. Tentu saja tidak boleh."
"E-eh kenapa ?."
"Baiklah aku akan undur diri dari pertemuan ini dan terimakasih."
Bukankah Putri ini sangat aneh ?, bahkan aku tidak dapat menebak apa yang di pikirkannya dan juga semua orang terkejut apa yang di katakan Putri.
"Jadi bisakah kamu mengikuti ku sebentar ?."
"Ya, tentu saja."
Aku melihat Livia yang ekspresinya sedih, maaf Livia aku tidak bisa berbuat apa apa disini.
Aku terus berjalan mengikuti Putri ke luar ruangan.
"Hei, bisakah kamu mengatakan nama mu ?."
"Tentu Putri, namaku Kuro."
"Kuro, begitukah ada yang ingin ku bicarakan dengan mu jadi bisakah kamu tunjukkan dimana kamar mu ?."
"E-eh, ya silahkan lewat sini."
__ADS_1
Aku yang sekarang berjalan di depan dan putri mengikutiku.