
"Selamat Pagi."
Aku membuka mataku setelah itu aku berdiri dari tempat tidur dan aku berjalan pergi ke jendela untuk melihat pemandangan di pagi hari. Di luar jendela terlihat sesuatu seperti kota banyak bangunan seperti rumah biasa dan beberapa rumah bertingkat. Kota itu di kelilingi tembok, juga di diluar tembok itu ada pemukiman lagi dan di kelilingi tembok lebih tinggi.
"Sangat indah, pemandangan ini sangat indah."
Aku terus memandang bangunan di kota itu, bahkan matahari yang berada di atas menyinari kota itu membuat pemandangan lebih indah.
"Aku tidak sabar ingin pergi ke kota itu."
"KNOCK KNOCK, Permisi."
"Ya, tunggu sebentar aku akan membukanya."
Aku tidak menanyakan siapa itu ?, yah aku sudah tau pasti dia adalah Maid yang kemarin memberiku makanan di pagi hari dan minum saat aku berlatih.
"Selamat pagi, Pahlawan Kuro."
"A-ah iya, selamat pagi."
Bahkan aku masi terpukau dengan wajahnya yang sangat cantik.
"Nah sepertinya kamu tidur nyenyak malam ini."
"Ahahaha, iya. Aku sangat lelah setelah latihan jadi aku makan setelah itu tidur."
"Mmmm, aku mengerti nah bagus kalau begitu."
"Ya, terimakasih. Aku sangat terbantu kamu tahu gara-gara kamu datang dan membawakan ku botol minum jika tidak mungkin aku sudah pingsan di tengah lapangan."
"Yah kemarin aku kebetulan, kemarin aku melihat kamu sedang berlatih dan sepertinya kamu menunjukan ekspresi haus jadi aku memberi itu. Jadi jangan khawatirkan itu."
"I see, nah dari pada kita berbicara di depan pintu. Lebih baik kita berbicara di dalam."
"Apakah tidak apa apa ?, baiklah permisi."
Aku menganggukan kepalaku, setelah itu dia masuk dengan wajah sedikit memerah. Aku juga sedikit memerah saat menutup pintu kamarku karena ini pertama kalinya aku mengundang perempuan ke kamarku, juga dia perempuan itu sangat cantik. Aku terlalu terbawa suasana sial!!, sampai aku mengundangnya untuk masuk kamarku.
"Ah, maaf jika kamarku berantakan."
"Tidak masalah tau, bolehkah aku merapikannya ?."
"Ah tidak usah, aku akan merapikannya sendiri tidak perlu repot-repot."
"Baiklah, nah aku membawa makanan mu disini."
Maid itu mengeluarkan kantung penyimpanan setelah itu tangannya memegang nampan yang dilapisi plastik didalamnya ada Roti, telur ceplok, dan 2 gelas air susu. Setelah itu ia menaruhnya di meja.
"Terima kasih atas makanannya, juga ini botol kamu yang kemarin."
"tidak masalah, dan juga aku akan mengambil botol itu dan nampan yang semalam."
Aku memberikan botolnya yang ia berikan kemarin padaku dan setelah itu hening. Sial!! di pada saat ini apa yang harus kulakukan juga ini pertama kalinya bagiku berbicara perempuan begitu lama, juga ketika aku melihat muka maid itu dia juga sedikit bingung tentang situasi ini. Ah iya aku hampir lupa menanyakan namanya.
"Anu, boleh kah kamu mengatakan nama kamu."
"Oh iya, aku lupa memperkenalkan diriku. Nah namaku adalah Livia, juga aku maid magang di istana ini dan aku di tugaskan merawat kamu selama 1 bulan ini."
"I see, Livia nama yang bagus dan juga perkenalkan nama ku Kuro, yah walau kamu sudah tau namaku tetapi. Salam kenal dan juga mohon bantuanya selama 1 bulan ini."
"Terima kasih atas pujiannya, dan tidak perlu khawatir tentang itu aku juga berada dalam perawatan kamu juga dan aku juga senang bisa menjadi Maid pahlawan dari dunia lain."
"Mmm, juga tolong jangan panggil aku dengan sebutan Pahlawan Kuro cukup Kuro saja."
"Apakah tidak apa apa, aku hanya Maid disini bahkan memanggilmu tanpa sebutan Pahlawan itu sangat tidak sopan."
"I see, tetapi panggil aku Kuro saja. Lagian sebutan Pahlawan sangat tidak cocok bagi aku, karena."
"Karena ?."
Aku terdiam disini bila aku bilang "aku hanya orang terbawa" disini mungkin dia menjauhkan ku dan memandang rendah aku. Tetapi jika aku tidak bilang sekarang mungkin dia akan menyesal telah merawatku selama 1 bulan. Lebih baik aku jujur dan setelah itu aku sedkit berharap dia sama seperti sebelumnya.
"Aku hanya orang yang ikut terbawa dan bahkan aku tidak mempunya class dan juga stats sangat rendah bahkan itu bisa disebut Pahlawan."
Ketika aku mengatakan itu dia memasang wajah datar bahkan sama sekali tidak terkejut dan dia membuka mulutnya dan mengatakan itu.
"I see, tetapi aku sudah tau mengetahui tentang itu tau."
"Berarti kamu sudah tau ya, maaf mengecewekan kamu, Karna. Yang kamu rawat bukan pahlawan hanya "orang ikut terbawa"."
"Tidak jangan khawatirkan tentang itu, lagian aku senang tau bisa merawat kamu tau."
Sial!!, Livia mengatakan itu sambil tersenyum. Ah jadi kekhawatiran aku tidak berguna ya.
"Ahahaha terima kasih banyak, Livia."
"Tidak masalah dan juga aku akan kembali bekerja. Nah sebelum itu aku akan memberitahu kamu tentang aktivitas mu hari ini adalah seperti kemarin, jadi kamu lakukan yang terbaik."
"Begitukah, aku akan mengantar kamu keluar dari kamar ini."
"Ahaha jika itu tidak masalah bagi mu, tolong."
Aku membalasnya dengan tersenyum setelah itu aku mengatarnya sampai depan pintu.
"Terima kasih, juga semoga lancar bekerjanya."
"Kamu juga latihannya, see you."
"See you, too."
Aku kembali kedalam kamarku, setelah itu aku duduk di bangku ketika aku memikir kejadian sebelumnya.
"Andaikan saja Livia ada di dunia sebelumnya dan sekelas denganku mungkin aku akan jatuh cinta padanya."
Huh. Nah hentikan hayalan mu dan terima kenyataan dia terlalu baik untukmu, Kuro. aku mengatakan itu dalam hatiku sendiri, baiklah aku akan lebih baik makan dan bersiap-siap untuk latihan.
"Selamat Makan."
Setelah aku pergi dari kamar Kuro, aku langsung pergi ke kamarku yang berada di lantai 2. Sebenarnya aku tidak memiliki pekerjaan setelah membawa makanan ke Kuro, tetapi aku terpaksa berbohong kepadanya.
"Aku merasa sedikit bersalah."
Aku bergumam itu ketika sampai di depan pintu kamarku setelah itu aku mengeluarkan kunci untuk membuka pintu kamarku. Saat aku memasuki kamarku, ruangan itu tidak terlalu berbeda dengan kamar Kuro yang berbeda disini terdapat lemari bahkan beberapa barang barangku.
Aku mulai duduk di tempat tidur dan memikirkan apa yang terjadi ketika aku berada di kamar Kuro.
"Hwahhh, aku tidak percaya memasuki kamar laki-laki selain kamar ayahku."
"Juga dia laki-laki baru ketemui 2 hari dan aku sudah memasuki kamarnya."
"Hwahh!!, aku yang terburuk bukan dan juga ketika mengatakan namaku bagus dengan mata seriusnya menatap aku."
Sebelumnya aku tenang tetapi inilah sifat asli aku yaitu pemalu, dan juga sebenarnya aku banyak bicara tetapi saat aku kerja aku menahannya dengan latihan ku sebelum menjadi maid Istana.
Sekarang hati aku sekarang berdetak kencang ada apa dengan perasaan ini bahagia ini bahkan ini ke 2 kalinya aku merasakannya.
Pertama kalinya pada saat kemarin sore ketika aku sedang berjalan di lorong 2 untuk turun ke lantai 1 sambil membawa nampan yang diatasnya ada makanan untuk Kuro. Tetapi saat aku mau turun tangga yang ada di kananku aku tertarik dengan latihan apa yang dilakukan pahlawan jadi aku kekiri untuk berjalan ke jendela untuk melihat lapangan latihan dan menundukan pandangan ku. Di sana hanya ada satu orang yaitu Kuro dia sedang berlatih mengayunkan pedangnya dengan susah payah, aku terus melihatnya bahkan aku lupa bahwa nampan yang di bawa aku masi ada di tanganku.
"Hei, Livia kenapa kamu masih disini ?."
"Ah maaf, Arne. Aku lupa bahwa aku memberikan makanan ke Pahlawan."
"I See, tetapi aku mendengar bahwa pahlawan yang kamu rawat adalah "orang yang terbawa" bahkan ia tidak memiliki class dan statnya sangat rendah. Itulah yang aku dengar dari Maid lain."
"Ah, aku sudah mengetahuinya tau. Aku menggunakan skill Appraisal ku tadi pagi saat mengatarkan makananya."
"Mmm, apakah kamu tidak tergangu dengan itu ?."
"Tidak, Aku tidak terlalu peduli tentang itu."
"Haha, seperti yang diharapkan darimu. Mungkin jika itu Maid lain mungkin mereka tidak akan mau merawat dia."
"Kamu terlalu berlebihan tau, Arne. Aku melakukan ini karna disuruh putri dan atas kemauanku sendiri, lagian aku hanya maid magang."
"Ah, kamu bahkan sudah bisa menjadi maid tetap tau. Ah tidak usah jawab itu pasti kamu menolaknya."
"Ya, aku punya alesan sendiri untuk itu. Juga aku akan melanjutkan pekerjaan ku."
__ADS_1
"Baiklah, lakukan yang terbaik."
Aku membalasnya dengan mengatakan "Lakukan yang terbaik juga, Arne." Nah Arne adalah ksatria perempuan dia pasti sedang berjalan jalan di lantai 2 seperti biasanya. Aku mulai berjalan ke kamar Kuro dan menaruh makanannya di meja, pintu itu tidak terkunci dan sepertinya ia tidak tau berada dimana kuncinya aku akan mengasih taunya lain kali.
Cuaca sudah gelap, dan pekerjaanku sebagai maid habis pada saat jam 7 malam. Aku sekarang berada di lorong lantai 2 untuk kembali ke kamarku, tetapi aku penasaran apakah Kuro sudah menyelesaikan latihannya. Ketika aku berjalan dan melihat jendela dia masih berlatih bahkan sudah malam hari.
"Luar biasa, meskipun dia tidak mempunya Class dan stats yang terendah dari yang lain kamu tetap berlatih."
Aku mengeluarkan suaraku tanpa sadar dan hatiku berdetak cepat ketika melihat sosoknya berambut hitamnya yang bersusah payah mengayunkan pedangnya. Ketika aku melihat ekspresi mukanya dia sepertinya sangat haus dan lapar mungkin aku harus membawakan dia minum.
Itulah pertama kalinya aku merasakan hatik berdetak kencang, dan juga saat aku berada di dekat Kuro aku sedikit sulit menahan ketenangan aku.
"Mungkin yang aku rasakan yang seperti di katakan ibuku."
Selesai makan dan mandi aku pergi keluar dari kamarku untuk berlatih dengan memakai seragamku yang kemarin, dan sepatu yang kemarin aku pakai untuk latihan kemarin.
"Hei, Kuro."
"Yoo, selamat pagi Yuu."
Saat aku berjalan di lorong temanku, Yuu belari kepadaku.
"Kuro maaf kemarin aku tidak bisa menemani berlatih."
"Ahh, tidak perlu khawatir tentang itu kamu juga pasti ada yang harus kamu lakukan."
"Kamu benar, Kuro. Aku sangat tidak sabar tau bertemu maid yang melayaniku."
"Aku mengerti, eh Melayani ?."
"Ya, kamu tau Yuu Maid melayaniku apapun yang aku katakan."
"Serius ?, berarti apakah kamu sudah tidak perjaka."
"Ah, tidak tidak. Aku belom sampai ke situ, Kuro abaikan tentang itu. Nah kamu tau setelah latihan stats ku ada yang naik, apakah kamu juga ?."
"Ya, Aku juga ada beberapa yang naik dan juga aku telah membaca buku dasar tentang dunia ini apakah kamu sudah membacanya juga ?."
"Ya, aku telah membacanya dan juga tidak sabar untuk pergi ke dungeon terdekat disini dan menjadi petualang."
"Mmmm, aku juga."
Saat aku berjalan bersama Yuu di kepalaku isinya adalah kata kata yang dikatakan Yuu sebelumnya "belum sampai kesitu.". Apakah berarti dia akan melakukannya tetapi jika dia memang ingin itu tidak masalah.
"Baiklah, Kuro. mari kita lakukan yang terbaik untuk latihan hari ini."
"Ya, mari kita lakukan yang terbaik."
Aku sampai di depan pintu ketika itu terbuka di tengah lapangan ada Hikari dan Putri yang sedang berbicara dengan berduanya senyum bahagia di wajah mereka dan di sisi kiri lapangan ada batu besar tingginya 230m bahkan itu. Entah dari mana batu itu muncul, tetapi saat kemarin latihan batu itu tidak ada.
"Hei Kuro, sepertinya putri mendekati Hikari."
"Serius ?, seperti yang diharapkan dari protagonist kelas kita bahkan putripun juga mendekati Hikari."
"Yah mau bagaimana itulah kekuatan Hikari, Bahkan kemarin Putri datang ke kamar Hikari setelah latihan."
"I see, mungkin beberapa teman sekelas kita perempuan iri kepada Putri dan laki laki iri kepada Hikari."
"Haha, iya aku juga berpikir begitu."
Yah itu tidak masalah bagiku, by the way sepertinya yang class Mage berlatih di dalam ruangan jadi mereka tidak ada di lapangan dan juga Old Man itu sudah berada di sebelah kanan lapangan dengan 13 siswa di sana jadi yang berkumpul hanya Aku, Yuu dan hikari yah.
"Baiklah, Yuu. Mari kita kita berkumpul juga."
Ketika aku berjalan untuk berkumpul aku melihat sekilas ke tengah lapangan. Mereka berdua sepertinya sudah selesai bicara setelah itu mereka saling berpisah dan saling melambaikan tangan. Para siswa laki laki dilapangan menatap Hikari dengan cemburu, yah ketika Hikari merasakan tatapan dari para laki-laki ia mulai tersenyum sedikit malu.
"Hey, Hikari sepertinya kamu sangat bahagia disana."
"Ahaha, Iya dan juga Arata bisakah kamu datang malam ini ke kamarku ada yang ingin kubicarakan."
"Tentu saja aku akan datang."
Setelah itu Hikari dan Arata mulai membicarakan hal lain. Old Man yang tadi posisinya duduk sekarang berdiri dan membuka mulutnya.
"Baiklah, kita akan memulai latihan pada hari ini"
"Ah ini yang akhirnya ku tunggu dari kemarin kemarin."
"Benar, Aku ingin belajar menggunakan Skill Swordku."
Teman-temanku ramai ketika Old Man mengatakan akan mengajarkan cara menggunakan Skill Dasar dan Skill Tree.
"Kuro, aku sangat tidak sabar tau menggunakan Skill Dragon Slance aku. Apakah itu keluar naga di tombak aku ingin mencobanya."
"Ahaha. I see, aku juga tidak sabar menggunakan skillku."
Aku mengatakan itu dengan mengaruk pelan kepalaku.
"Nah pertama aku akan megajarkan kalian menggunakan Skill Dasar, Skill dasar bisa di gunakan dengan hanya menyebut nama Skill kalian. Sekarang coba kalian sebut nama salah satu skill kalian."
"I see, jadi begitu aku akan mencobanya "Appraisal"
Hikari yang mencoba pertama kali jadi dia sangat terkejut, setelah melihat ekspresi Hikari siswa lain mulai mengikutinya. Aku tidak terkejut karena kemarin malam aku baru saja mencoba menggunakan Skill dasar, nah aku penasaran tentang apakah skill Appraisal dapat di gunakan ke manusia. Saat aku memfokuskan mataku ke Hikari dan mengucapkan Appraisal keluar layar hologram dan disitu adalah status milik Hikari.
"Luar Biasa."
Aku mengeluarkan suaraku tanpa sadar, status Hikari seperti Cheat.
Nama : Kuro
Age : 16
Race : Human
Lv : 1
Class : Light Hero
Title : Hero From Another World
Skill Point : 0
Strength : 268
P Defense : 219
M Defense : 236
Agility : 233
Magic : 210
Skill :
Skill Dasar
- Appraisal Lv 1
- Detection Lv 1
Skill Tree ???
- Light Sword Technique (Middle)
- Hero Sword Art Technique (Middle)
- Light Magic (Middle)
- Absolute Defend
- Limit Break
Sial ada apa dengan status itu tidak adil Hikari kamu Cheater. Walaupun hanya di beri 100 Skill point kamu memiliki skill yang sangat banyak bahkan itu telah naik ke Middle. Kamu cheater tau Hikari, juga kamu mungkin sudah menjadi protagonist di dunia ini.
"Hei, Kuro"
"Ya, kenapa Yuu ?."
__ADS_1
"Aku barusan menggunkan Appraisalku kepada mu tetapi aku tidak bisa melihat Skill yang berada di Skill Tree kamu. Setelah itu aku mencoba yang ke lain disitu aku dapat melihat skillnya, apakah kamu tau mengapa itu ?. Juga maaf melihat Status kamu tanpa izin."
"I see, tidak masalah dan aku tidak tau mengapa skill treeku tidak dapat kamu lihat"
"Mmm, tetapi kamu memiliki banyak Skill Dasar apakah kamu tidak memilih skill yang berada di Skill Tree kamu ?."
"Ah, Skill Treeku tidak berguna semua jadi aku hanya memilih satu dan sisanya untuk skill dasar."
"I see."
Skill Tree aku tidak bisa di lihat oleh Yuu, dan yang dia bisa lihat hanya sampai Skill Dasar. Aku tidak begitu tau tentang itu lagian skill itu tidak berguna.
"Baiklah apakah kalian sudah mengerti cara menggunakan Skill Dasar kalian ?."
"Ya, aku sudah mengerti dan juga itu sangat luar biasa."
"Ya, benar bahkan aku masi tidak mempercayai bahwa aku bisa menggunakan Skill."
"Hahaha kalian terlalu bergembira hanya dengan itu, dan juga kalian bisa menggunakan Skill Dasar tanpa mengucapkannya tau."
"Serius aku akan mencobanya."
""""Aku juga.""""
Aku sudah tau tentang hal itu jadi aku tidak terkejut dan juga saat aku memperhatikan yang lain layar hologram mereka tidak ada. Berarti setiap layar hologram hanya bisa di lihat oleh orang yang mengaktifkannya. Kecuali status hologram seperti yang kemarin Yuu tunjukan kepadaku.
"Woah!! benar aku bisa menggunakan skill dasarku tanpa bicara, haha ini terbaik dari pada mengucapkannya."
"Ya, betul. Ini lebih nyaman dari pada megucapkannya."
"Benar."
"Baiklah sepertinya kalian paham, jadi aku sekarang akan menjelaskan cara menggunakan Skill Tree."
"Sama seperti skill dasar kalian hanya harus mengucapkannya tetapi ada beberapa skill yang hanya bisa digunakan saat kamu memegang senjata. Aku akan memberikan contohnya."
Old Man berjalan ke sisi kiri lapangan tempat dimana batu besar itu berada. Setelah itu Old Man mengambil pedang besarnya yang berada di punggung setelah memposisikan kakinya yang kiri di depan dan kanannya dibelakang setela itu ia mengangkat pedangnya tinggi tinggi bersiap untuk mengayunkannya kebatu.
"Meteor Strike."
Setelah mengatakan itu dia segera mengerakan kaki kanannya ke depan sambil mengayunkan pedangnya ke batu dengan sangat cepat.
"BOOM!!"
Suara meledak terdengar dari tempat Old Man itu dan batu yang baru saja dia pukul dengan pedang besarnya itu yang seharusnya terbelah dua itu hancur dan juga tanah yang dibawah batu itu sedikit hancur juga.
"Luar biasa, jadi begitu kekuatan skill."
"Benar, sial itu luar biasa."
"Iya, apakah itu kekuatan strength dan skillnya digabungkan menjadi kekuatan seperti itu."
"Mungkin, juga aku sekarang menjadi takut pada Old Man. Aku tidak akan pernah berbuat curang pada saat latihan."
"Ya. Aku juga, aku membayangkan bilang aku di lawan oleh pedang Old Man itu Hiiii. Sangat menakutkan."
"Jangan bayangkan hal yang mengerikan itu."
"Hahaha, sekarang aku tidak sabar untuk menggunakan skillku."
"Sama aku juga."
Old Man berjalan ke tempat kita sambil membawa pedangnya yang besar. Itu sangat mengerikan aku sedikit gemetar ketika melihat sosoknya yang membawa pedang itu.
"Hahaha, kalian jangan melihat aku dengan mata seperti itu. Aku tidak akan memukul kalian."
"I see, tetapi kamu sangat kuat seperti yang di harapkan dari pemimpin ksatira."
"Haha, tetapi meskipun aku kuat. Aku butuh 10 tahun untuk ini mendapatkan kekuatan ini, tetapi untuk kalian para pahlawan mungkin hanya dalam 1 tahun bahkan itu bisa 5x lebih kuat dariku."
"Kamu terlalu berlibahan menilai kami tau, Sir Chris."
"Aku serius, lagian kamu baru di pindahkan sudah memilki stats tinggi dan bahkan memiliki beberapa Skill Tree. Terutama kamu True Hero, Hikari."
Old Man mengatakan itu dengan sedikit senyum dimulutnya. Hikari sedikit malu ketika di sebut True Hero, Dia hanya membalas dengan tawa kecil.
"Baiklah, kalian sepertinya sudah mengerti cara menggunakan Skill jadi silahkan ambil senjata kalian yang kemarin disana dan setelah itu cobalah semua skill kalian, juga jangan lupakan ini menggunakan terlalu banyak skill akan membuat kalian lelah dan tidak bisa memakai skill lagi dalam beberapa jam. Mengerti ?."
"""""Yes Understood."""""
Kami semua mulai berjalan dan mengambil senjata kami. Disini aku mengambil pedang dan mulai berjalan ke bagian kiri lapangan. Baiklah aku akan mencoba menggunakan skill aku disini semoga skill yang kumiliki satu satunya sangat berguna.
"Gluttony."
Saat aku mengucapkan kata itu, tidak ada yang terjadi. Mungkin aku harus melepaskan pedang ku setelah itu aku mengangkat tangan ku mengucapkan skill itu sekali lagi."
"Gluttony."
Ketika aku memgatakannya lagi itu tidak terjadi apa apa, aku akan mencobanya sekali lagi.
"Gluttony."
Tidak terjadi apa apa, mungkin sekali lagi.
"Gluttony."
Sekali lagi
"Gluttony."
lagi
"Gluttony."
lagi
"GLUTTONY!!."
Sial sudah berapa kali aku menyebutnya itu tidak keluar. Bahkan itu sama sekali tidak beraksi SIAL!!, ada apa dengan skill ini. Ketika aku melihat sekelilingku beberapa orang menatapku dengan ekpresi kasian dan sedikit memandang rendah aku.
"Hei Kuro, apa yang kamu lakukan ?"
Temanku, Yuu. Mendatangi ku sambil membawa spearnya.
"A-Ah, tidak apa apa juga kamu lanjutkan latihanmu."
"Kalau kamu kecapean tolonglah istirahat aku akan mengasih tau, Sir Chris."
"Aku tidak apa apa dan juga aku tidak kecapean atau apa pun jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Baiklah jika ada apa-apa tolong panggil aku, Kuro. Aku akan lanjut berlatih."
"Ya, terima kasih. Semangat latihannya, Yuu."
"Kamu, juga."
Yuu pergi ketengah lapangan, dan di sana dia melakukan kuda kuda dan memegang spearnya dengan posisi menusuk setelah itu dia mengatakan "Dragon Slance", Spear yang dia pegang mulai mengeluarkan api meliliti spearnya setelah itu dia mendorong spearnya dengan kecepatan seperti Old Man tetapi sedikit lebih lambat.
"Luar Biasa, Yuu. Kamu sangat kuat."
Bahkan siswa yang lain menatap Yuu dengan kagum, juga di sebelah kanan lapangan ada Hikari yang sedang melakukan beberapa gerakan yang sangat lincah dan juga pedang yang dia pegang mengeluarkan cahaya. Old Man yang melihat itu di sampingnya bertepuk tangan.
"Huuh, kenapa skill yang kumiliki sangat tidak berguna, tidak bisa dipakai, dan tidak mempunyai effect apa pun."
Sialan kenapa hanya aku, juga apa yang harus aku sekarang aku lakukan ?.
Haruskah aku menyerah dalam berlatih ?, dan menikmati hidup di istana selama 1 bulan setelah itu aku... ngapain ?.
Aku harus apa ?, bahkan aku percaya tidak sampai 1 bulan aku akan di usir dari istana jika menikamti hidup.
"Hhuuhh sialan apa yang harus aku lakukan disini."
Aku duduk dilantai dan menatap pedang yang ada di sampingku.
"Haruskah aku berlatih meningkatkan statsku dengan mengayunkan pedang ini ?."
Bahkan ketika aku melihat teman sekelas ku disana mereka sedang berlatih mengunakan pedang dan skill mereka dan Old Man hanya menatap mereka dengan senyum.
"Hhuuhh baiklah aku akan berlatih megayunkan pedangku seperti kemarin."
__ADS_1
Aku mulai berdiri memegang pedangku dan mulai mengayunkannya bahkan dengan stats Strength ku bertambah 3 ini masi sedikit berat.