
Aku masi berada di berada di sebelah kiri lapangan. Saat ini aku sedang mengayunkan pedangku untuk ke 95xnya meskipun yang lain sudah kembali gara gara kelelahan memakai skill mereka.
"Sekali lagi ini yang terakhir."
Aku mengayunkan pedang terakhirku. Hhuuhh sangat melelahkan, aku melepaskan pedangku setelah itu aku duduk di lapangan melihat matahari yang mulai tengelam Ahh latihan hari ini aku sedikit cepat."
Aku mengatakan itu sambil tersenyum melihat matahari yang mulai tengelam.
"Baiklah aku akan balik ke kamarku."
Aku berdiri dan menaruh senjataku di meja sebelumnya. Setelah itu aku berjalan menuju pintu masuk istana seperti biasa lorong itu penuh dengan cahaya lilin yang tertempel di dinding.
"Yoo, Kuro."
Ketika aku melewati tangga di sana ada Hikari yang memanggil aku. Jarang sekali dia berbicara kepadaku.
"Ah hikari, ada apa ?."
"Kamu baru saja selesai berlatih ?."
"Iya, begitulah."
"I see, apakah kamu tidak terlalu memaksakan dirimu ?."
"Tidak kok, aku melakukan ini karna aku mau."
"I see, dan juga sepertinya kamu tidur di kamar lantai 1."
"Iya aku tidur di sana, jika boleh tau kamu tidur di lantai berapa ?."
"Aku tidur di lantai 3, dan juga siswa lainnya."
Berarti hanya aku sendiran yang di tidur di lantai 1.
"I see, dan juga aku pergi dulu ke kamarku. See you."
"Baiklah, see you too Kuro."
Hikari menaiki tangga dan aku juga mulai berjalan ke kamarku.
Aku sampai di depan pintu kamarku aku membuka pintu kamarku. Dimeja seperti biasa ada makanan yang dibawakan oleh Livia dan ada kertas putih diatasnya.
"Aku akan memakannya nanti."
Aku berjalan ke depan meja setelah itu mengambil kertas dan membacanya.
[Kuro, ini aku Livia. Aku membawakan makan soremu seperti biasa dan juga maaf telat mengasih tau tentang ini, kunci kamarmu berada di bawah tempat tidurmu dan juga aku memberi kamu baju ganti yang sudah gantungkan di belakang pintu kamar mandi. Jadi tolong nikmati makanannya dan tidurlah dengan nyenyak.]
"Ah, Livia kamu terlalu baik dan juga terima kasih."
Setelah mambacanya aku ingin langsung memakan itu tetapi aku harus segera mandi karna badan ku bau keringat.
Aku berjalan ke kamar mandi, setelah itu membuka pintu itu dan tidak ada yang berubah. Hanya saja di belakang pintu ada baju putih seperti yang dipakai Yuu dan temanku yang lain, ****** *****, dan juga celana panjang hitam.
"Ah sangat segar seperti biasanya."
Aku keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos putih dan sambil membawa seragam dan celana sekolahku setelah itu aku menaruhnya di atas meja.
"Ah baju yang ku gunakan sangat enak di kulit bahkan celananya juga, tidak seperti seragam sekolahku itu kasar aku tidak betah memakainya."
"Baiklah sekarang aku akan makan."
Aku duduk di bangku setelah itu membuka plastik yang ada di nampan dan didalam nampan itu ada roti, telur ceplok, dan 2 gelas susu seperti tadi pagi.
"Selamat makan."
Seperti biasa itu sangat enak, bahkan aku tidak bosan dengan makanan ini, aku meminum gelas susu terakhir dan bangun dari kursi setelah menghabiskan makanan ku.
"Nah sekarang apa yang harus ku lakukan."
Aku bingung harus melakukan apa jadi aku mencoba mengakat tangan ku dan mengucapkan.
"Gluttony."
Hasilnya sama tidak terjadi apa pun, aku mencoba mengatakannya sekali lagi tapi tetap saja tidak terjadi apa apa.
"Hhuuhh."
Aku mengeluarkan suara frustasiku, Aku berjalan ke tempat tidur dan tiduran di atas sana.
"Status"
---
Nama : Kuro
Age : 16
Race : Human
Lv : 1
Class : ???
Title : Human From Another World
Skill Point : 0
Strength : 15
P Defense : 38
M Defense : 21
Agility : 25
Magic : 10
Skill :
Skill Dasar
- Appraisal Lv 1 > Level 2 (10 Skill Point)
- Detection Lv 1 > Level 2 ( 10 Skill Point)
- Night Vision Lv 1 > Level 2 (10 Skill Point)
- Poision Resistance Lv 1 > Level 2 ( 10 Point)
- Auto Recovery (Lower) Lv 1 > Level 2 (Lower-Middle) (30 Skill Point)
Skill Tree ???
- Gluttony
Rasa frustasi aku hilang sedikit ketika melihat stats strength ku berubah.
"Baiklah, aku akan berlatih lagi besok."
Aku sangat lelah jadi sebaiknya aku tidur.
"Selamat malam."
__ADS_1
Aku sekarang berada ada di kamarku sendirian, aku sedang memikirkan apa yang terjadi kemarin malam saat aku da datang ke kamar pahlawan.
"Pahlawan Hikari terlalu baik, dan juga ia bahkan selalu mengkhawatirkan teman."
Yah itu lah tunjuanku untuk melihat sifatnya Pahlawan Hikari, namun aku khawatir dengan sifat baiknya. Karena itu dapat menusuknya dari belakang.
Juga tadi siang aku menghampirinya ke tempat latihan Pahlawan Hikari untuk melihat sifatnya lebih jauh dan semakin dekat dengannya.
Namun sifat yang di tunjukan hanya itu itu saja, dan juga aku mengerti kenapa Pahlawan perempuan lain menyukai Hikari ya terutama mukanya, sifatnya yang peduli, dan rasa aneh seakan selalu dilindungi jika berada di dekatnya.
Lebih penting lagi untuk bertunangan dengannya aku masih belum bisa memutuskannya.
"Aku akan mendekatinya lagi dan memutuskan dalam 1 bulan ini."
Aku membuka mataku, dipenglihatan ku adalah atap berwarna putih seperti biasa setiap kali aku bangun tidur.
"Selamat pagi."
Hari ini adalah hari ke 4 aku berada di dunia lain dan tinggal di istana, juga 26 hari lagi sebelum kita meninggalkan istana untuk menjelajahi dungeon.
Aku tidak tau sesudah pelatihan dasar ini selesai kita akan masi bisa tinggal di istana atau tidak.
Namun itu masi lama, mungkin kita akan di beri tahu oleh putri.
Aku berdiri dari tempat tidurku dan melihat jendela seperti biasa di pagi hari.
"KNOCK KNOCK."
"Ya, tunggu sebentar."
Seperti biasa itu pasti Livia, aku berjalan untuk membuka pintu.
"Selamat pagi, Kuro."
"A-ah selamat pagi, Livia."
Livia seperti biasa tersenyum ketika mengatakan itu dan pipinya sedikit memerah itu sangat cantik.
"Aku disini seperti biasa mengantarkan makan pagimu."
"Terima kasih atas makananya."
"Tidak masalah , juga apakah kamu sudah menemukan kunci kamarmu ?."
"Ah, aku sudah membaca surat mu namun aku lupa untuk mengambil kunci itu karena sangat lelah. Jadi aku akan mengambilnya setelah aku bersiap siap untuk pergi latihan."
"I see, apakah kamu tidur nyenyak semalam ?."
"Ya aku tidur nyenyak dan juga terima kasih atas bajuku, dan yang lainnya itu sangat nyaman."
"Bagus jika kamu nyaman dengan memakainya, dan juga bisakah kamu memberikan aku seragam mu ?
"Ya itu tidak masalah, aku akan segera mengambilnya."
Ya aku kembali kedalam ke kamarku dengan membawa nampan yang berisi makanan dan meletakannya di meja.
Aku mengambil seragam sekolah aku dan kembali kepintu.
"Nah, ini seragam ku maaf jika itu bau."
"Ahaha, jangan pedulikan tentang itu. Aku akan meminjam seragam ini sementara untuk mencuci seragama ini."
"I see, jika itu tidak merepotkan mu."
"Tidak apa apa, ini juga adalah bagian dari tugasku."
"A-ah, iya aku kesulita tidur semalam."
"Kesulitan ?, apakah terjadi sesuatu jika itu yang ku bisa bantu aku akan membantu mu."
"A-ah tidak apa apa aku hanya sulit tidur memikirkan sesuatu, a-dan aku akan akan kembali bekerja jadi permisi."
"I see, juga jangan terlalu memaksakan diri mu."
Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Livia bahkan pipinya memerah sekali kali.
"Mungkinkah dia demam ?, aku berharap dia baik baik saja."
Aku menutup pintu kembali dan duduk di bangku.
"Baiklah, aku akan makan."
Di nampan ada kentang, sop daging, dan 2 gelas air susu. Kentang itu mudah digigit bahkan meskipun teksturnya kasar tetapi ini sangat halus, bahkan ketika aku menyelupkannya ke sop daging itu sangat enak.
Aku meminum gelas terakhir, setelah itu aku berdiri dari bangku bersiap untuk mandi.
"Baiklah, aku akan mandi setelah itu aku akan pergi ketempat latihan."
Aku membuka pintu kamar mandi, di atas papan dekat bak mandi di situ ada pasta gigi.
"Ah, terima kasih Livia. Aku merasa tidak nyaman tidak mengosok gigiku dalam 4 hari."
Aku keluar dari kamar mandi, nah sekarang aku sedang barjalan ke arah tempat tidurku.
"Kata, Livia itu ada di bawah tempat tidur ya."
Aku berjongkok dan menurukan kepalaku untuk melihat kebawah tempat tidur.
"Ah, disana."
Kunci kamar berwarna abu-abu, aku mengambil kunci itu dan mulai berdiri.
Berjalan ke depan pintu kamarku untuk mencoba memakai kuncinya.
"I see, jadi begitu menggunakan berbeda dengan bumi ini sedikit mudah kamu hanya harus mencoloknya dan tidak perlu memutarnya."
Baiklah aku akan pergi berlatih, tetapi aku tidak akan mengunci kamarku. Jika tidak, Livia tidak bisa memasuki kamarku untuk menaruh makanan untukku.
Namun jika ada yang ingin mengambil sesuatu itu tidak masalah, karena di kamarku tidak ada barang bagus untuk diambil.
Aku sekarang sedang berjalan di lorong, aku ingin tahu apa latihan hari ini. Tetapi percuma saja bagiku, jika latihan itu menggunakan Skill.
"Hhuuhh"
"Hei, Kuro. Pagi pagi seperti kamu sudah mengeluh."
"Ah, Yuu. Yah bagaimana mau lagi."
"Bagaimana lagi ?, maksud mu ?."
"Ah tidak apa apa, juga kamu sedikit bersemangat bukan ?."
"Ah Iya, kamu tau sekarang aku bisa menggunakan semua skill ku dan itu semua kuat jadi begitulah."
"I see, kamu hebat bukan Yuu. Kamu bahkan sangat keren ketika menggunakan dragon scale mu."
"Ahaha, Makasih atas pujian mu tetapi aku akan berusaha lebih keras, untuk lebih terbiasa menggunakan skillku."
"I see, aku juga akan melakukan terbaik untuk bisa menggunakan Skillku."
__ADS_1
"Ya mari kita lakukan."
Aku mengatakan "aku juga" dengan nada kecewa bahkan aku tidak dapat menggunakan skillku, Hhuuhh sialan.
Aku terus berjalan sambil bicara sampai ke depan pintu latihan.
"Baiklah, latihan apa yang kita harus lakukan hari ini."
Yuu mengatakan itu dengan wajah penuh semangat, aku membuka pintu latihan. Di tempat latihan seperti biasa ada Old man dan murid murid, juga sepertinya putri tidak datang menemui Hikari hari ini.
"Ayo, kuro kita ikut berkumpul."
"Ya."
Kami duduk bersila di hadapan Old Man.
"Nah, kalian bebas mau latihan seperti apa hari ini. Tetapi aku menyarakan kalian berlatih menggunakan Skill kalian agar membiasakan diri menggunakan skill."
"Baiklah, aku akan mengikuti saranmu."
"""""Aku juga."""""
"Nah hari ini aku tidak bisa menami kalian latihan disini, aku ada urusan untuk hari ini jadi kalian lakukan yang terbaik. Mengerti ?."
"""""Yes understood."""""
Old Man itu pergi dan semua siswa termasuk aku mulai berjalan mengambil senjata kami seperti biasa.
Setelah aku mengambil pedangku yang biasa, aku segera pergi ke kiri lapangan seperti kemarin dan mulai berlatih mengayunkan pedangku.
"Yoo, Kuro apakah sedang berlatih."
Yang memanggil aku adalah Katashi. Di tangannya terpasang seperti sarung tinju, yah itu adalah senjata dia Knuckle.
"Ah, iya aku sedang berlatih mengayunkan pedangku."
"I see, dan juga aku boleh menanyakan sesuatu ?."
"Tentu saja."
Di membuag wajah tersenyum tetapi di balik senyum itu ada sesuatu yang dia sembunyikan.
"Nah, setiap murid kam mempunyai maid peribadi ?."
"Ah iya, ada apa dengan itu ?."
"Kamu tau ?, maid ku sangat ramah bahkan dia mau melakukan apa yang ku mau. Tetapi aku sedikit bosan denganya bisakah kamu menukarnya dengan maid mu ?."
"Hah ?, apa maksud mu ?"
"Kamu tau, aku tertarik dengan maid mu yang bernama Livia. Ketika di hari pertama kali kita di pindahkan aku tertarik dengannya saat para maid berukumpul dan berjalan kearah kita dia yang pertama kali mencuri mataku tetapi maid lain yang datang padaku. Jadi bisakah kamu mengatakan "Teman ku, Katashi ingin kamu merawat dia dan juga kamu tinggal bilang saja ke maid aku untuk menggantikan pekerjaan mu merawatku." itu kepada maid mu ?."
Apakah dia gila, mengatakan itu padaku untuk menukarkan Livia dengan maidnya dan juga apakah menukar maid di perbolehkan aku akan menyakannya.
"Maaf, apakah itu bisa ?."
"Iya, aku sudah melakukannya dengan temanku kemarin malam."
Wow bukankah dalam 4 hari ini bahkan sudah menukarkan maidnya dengan maid temannya. Tetapi untuk menukarkan Livia dengan maid lain aku tidak akan melakukannya, karna Livia bukan barang yang dapat di tukarkan.
"Maaf, Katashi aku tidak akan melakukannya dan juga aku merasa nyaman jika di rawat Livia."
"Hah ?."
Ekspresi Katashi berubah menjadi marah, ketika aku mengatakan itu.
"Ya, aku tidak akan melakukannya juga Livia bukan barang yang dapat di tukar."
"I see, jadi kamu menolaknya. Hhuuhh aku sudah mencoba yang terbaik menunjukan ekspresi baik ku tetapi kamu tetap menolaknya "orang ikut terbawa"."
Dia tertawa sebentar setelah itu, dia berjalan sambil mengepalkan tinjunya. Aku merasakan bahaya di sini aku harus menghindarinya.
"Iron fist."
Aku menghindarinya tetapi itu tidak sempat, Katashi tinjunya begerak dengan sangat cepat dan itu memukul perutku dari bawah.
Aku berlutut di tanah sambil memegang perutku yang rasa sakitnya sangat gila.
"Ugh, sakit sekali. H-Tolong jangan lebih jauh."
"Ha apa yang kamu katakan "orang ikut terbawa" ?."
Ketika aku meminta tolong kepadanya dia semakin mendekatiku dan meninju pipi kananku dengan Knucklenya.
Sial!! sakit sekali aku terjatuh dengan posisi miring.
"Ugh, tolong ampuni aku."
"Tidak, aku belum puas."
Mengatakan itu dia mengangkat kerah baju ku dan meninju pipi kiriku.
"Ugh, S-hentikan katashi."
"Tidak, kamu menolak ku. Juga aku nanti akan memaksa maid mu untuk merawatku."
"H-tolong jangan libatkan dia, Katashi."
Ketika katashi mengatakan "memakasnya" aku sedikit marah tetapi aku tidak bisa berbuat apa apa. Siall!! Livia maafkan aku, kamu terlibat dalam masalah ini.
"Hahaha, aku tidak peduli. Aku akan memaksanya dan juga pasti ia terpaksa merawatmu, pasti dia sangat ingin merawat pahlawan asli dari pada kamu "orang ikut terbawa"."
Ah, aku terdiam ketika ia mengatakan itu. Benar aku tidak tau perasaan asli Livia, mungkin dia terpaksa merawat ku.
Aku terus di tinju oleh katashi, itu sangat sakit SIALAN!!!.
"KATASHI!, hentikan itu."
"Cih, pahlawan sejati telah tiba."
Hikari dan semua murid mendatangi aku dan katashi.
"Lepaskan Kuro dan minta maaf padanya, Katashi!!."
"Baiklah, aku akan melepaskannya tetapi aku meminta maaf padanya. Apakah kamu gila Hikari ?, dia hanya "orang ikut terbawa"."
Kerah baju ku di lepaskan oleh Katashi, dan aku terjatuh di tanah setelah itu Hikari dan Yuu mendatangi aku.
"Arata! tolong panggilakan panggil penjaga untuk menyembukan luka Kuro."
"Ya, aku akan."
Ugh sial semua badanku sangat sakit, aku hampir kehilangan kesadaran ku disini. Aku meggigit lidahku untuk menjaga kesadarakan ku.
Selanjutnya ketika aku melihat Katashi dia seolah tidak tertarik pergi dengan muka merencanakan sesuatu. SIAL!! aku takut dia merencanakan sesuatu yang membahyakan Livia.
"Hei kuro, kenapa ini bisa terjadi ?."
"A-ah tidak, itu salahku karna melawannya."
"Tidak, aku tau sifatmu. Kamu tidak akan melawannya jika ada sesuatu yang penting mau diambil darimu."
"Ah, tidak. Aku melawannya karna aku mau."
__ADS_1
"I see, tetapi apa yang menyebabkan kamu melawannya."
Ketika aku ingin menjawab itu, aku kehilagan kesadaran.