My Expectation Was Change After I See My Effect Skill

My Expectation Was Change After I See My Effect Skill
Chapter 19 : Livia Menceritakan Tentang Itu


__ADS_3

Aku dan Livia keluar bar dan berjalan di jalan besar yang sangat ramai.


Aku mengikuti Livia, yang ada di depan aku.


Suasana masi canggung karena kejadian sebelumnya.


"Li-livia, kemana kita selanjutnya ?."


"Ki..Kita akan kembali ke istana."


"Baiklah, tolong pimpin jalan aku lagi."


"Ya."


 ---


Kami sekarang sedang berada di kawasan bangsawan.


"Kuro, maaf. Gara gara aku, kita pulang sampai mau malam."


"Mmm, tidak masalah aku senang di sini."


"Aku mengerti, jika kamu senang juga. Aku ikut senang, dan juga maaf mengajak kamu jalan jalan sampai mau malam."


"Aku yang mengajak kamu, jadi jangan minta maaf. Juga harusnya aku yang minta maaf."


"Tidak aku lah yang mengajak kamu pertama kalinya."


Kami berjalan sambil mendebatkan siapa yang seharusnya minta maaf disini.


Akhirnya kami berdua lelah mendebatkan itu dan berakhir dengan ketawa.


"Hari ini sangat menyenangkan, lain kali aku akan mengajak kamu lagi Livia."


"Aku menunggu itu, aku senang juga disini."


"Aku senang, aku harap kamu tidak terpaksa melakukan ini."


"Emm tidak, aku tidak terpaksa. Aku melakukan ini karena aku mau."


"Benarkah ?."


"Mmm."


Livia ada di depan aku, aku tidak bisa melihat wajah seperti apa yang dia pakai sekarang.


Aku senang, ketika mendengar itu.


Kami terus berjalan di hari yang mau gelap ini, aku berjalan bersama Livia di jalan besar menuju Istana.


Istana sudah kelihatan dari sini, itu sangat besar dan juga Istana di kelilingi oleh dinding yang besar.


Itu terlihat lebih besar dari sini, dari pada di liat dari dalam.


Pemandangan Istana dari bawah sangat indah.


Aku terus berjalan balik sambil menikmati pemandangan yang aku lihat.


---


"Terimakasih Livia, untuk hari ini."


"Aku juga, apakah kamu lapar ?. Aku akan membawakan kamu makanan."


"Tidak, tidak perlu. Aku disini hanya ingin menanyakan sesuatu."


"Apa itu ?."


Kami berdua sudah sampai di Istana, sekarang aku dan Livia sedang berada di dalam kamar aku.


"Aku kemarin di beri kantung penyimpanan oleh Sir Chris, aku ingin tau bagaimana cara menggunakan itu ?."


"Ah, begini kamu tinggal-."


Aku mendengarkan semua yang Livia katakan.


Jadi kamu hanya tinggal mengatakan [Storage] sambil memegang kantung penyimpanan, setelah itu akan muncul sesuatu kotak di depan kamu. Di kotak sana kamu akan melihat ada List Item, kamu tinggal pencet barang yang ada di List Item kamu. Nanti itu barang itu akan muncul sendiri di tangan kamu.


Aku mengikuti apa yang di katakan Livia, aku memegang kantung penyimpanan. Setelah itu, aku mengatakan [Storage] dalam hati.


Itu keluar layar hologram biru di depan aku.


 ---


List Item


- 1 Pedang Besi


---


Aku menggerakan tangan aku dan memencet tulisan [Pesang Besi] di layar.


Setelah itu, ada cahaya biru muncul di tangan kiri aku.


Aku merasakan berat dan melihat tangan kiri aku.


Disana ada pedang besi yang biasanya aku ayunkan.


"Kamu berhasil melaukannya, Kuro."


"Ya, entah bagaimana."


"Bisakah kamu melihatkan gerakan kamu ke pada aku ?."


Aku menengang ketika Livia mengatakan itu, aku disini bingung.


Apa yang harus aku tunjukkan, aku sama sekali tidak memiliki skill.


"Ma-maaf Livia, aku tidak mempunyai skill yang bisa ku tunjukkan."


"Emm tidak apa apa, tunjukkan ayunan pedang kamu seperti malam itu saja sudah cukup."


Livia mengatakan itu di depan aku sambil mata memohon.


"Ba-baiklah, jangan kecewa."


Aku menaruh kantung penyimpanan aku di meja, setelah itu aku menjauh sedikit dari Livia.


Aku memposisikan kaki kiri aku di depan dan aku memposisikan kaki kanan aku di belakang.


Aku memegang pedang secara Vertikal.


Setelah itu, aku bersiap mengeluarkan semua kekuatan aku. Untuk mengayunkan pedang ini.


Aku memajukan kaki kanan aku sambil mengayunkan pedang yang di tangan aku dengan seluruh kekuatan aku.


"Swisss.."


Suara angin yang di potong di dalam ruangan.


Aku sedikit lelah mengayunkan pedang dengan semua kekuatan aku.


"Kuro, gerakan kamu sangat indah."


"Be-benarkah ?."


"Mmm, kamu tau ?. Aku beberapa kali melihat gerakan kamu saat berlatih."


"Serius ?."


"Ya, itu tidak memboskan."


Livia mengatakan itu sambil tersenyum, aku senang di puji begitu.


"Mmm, terimakasih."


Aku kembali ke meja dan mencoba memasuki pedang.


Seperti yang di lakukan Livia saat dia memasukan jam.


Tetapi.


"Kenapa tidak masuk ?."

__ADS_1


"Tentu, kamu harus mengatakan [Storage]. Jika kamu ingin memasukan benda ke dalam tas penyimpanan."


"Aku mengerti, makasih."


"Mmm."


Aku mengatakan [Stroge] dalam hati, setelah itu cahaya biru muncul di pedang dan menghilang.


"Ah, aku lupa mengeluarkan jam kamu."


Livia mengatakan itu dan mengeluarkan jam dari kantung penyimpanannya.


Setelah itu dia memberikan jam itu pada aku.


"Makasih, aku akan menaruhnya di atas meja."


"Mmm."


Aku menaruh jam di atas meja, aku menyenderkan jam itu di dinding agar tidak jatuh.


"Selesai, ini cocok."


"Benar, jam itu cocok."


"Nah, sudah selesai disini."


"Mmm."


"Livia, aku ingin kamu mengatakan tentang yang tadi pagi."


"E-eh, ba-baiklah."


Livia duduk di kasur dan aku duduk di bangku meja menghadapnya.


"Jadi begini-."



Aku sedang berjalan di lorong lantai 2.


Aku mendengar suara teriakan dan tangisan.


Suara itu adalah suara yang aku kenal, juga ada suara laki laki yang marah.


"Lakukan itu dengan aku, Marie."


"Kumohon beri aku istirahat, aku sangat lelah hari ini."


"Tidak, aku sangat ingin melakukan itu hari ini."


Aku berlari ke suara itu.


Di lorong ada Pahlawan Takashi dan juga ada Marie, Pahlawan Takashi sedang berdiri di depan Marie yang sedang menangis di lantai.


"A-aku lelah, Pahlawan Takashi."


"Kamu ingat ?, perintah Pahlawan adalah mutlak."


"Ta-."


Ketika Marie ingin mengatakan itu, Takashi memukul menendang perut Marie.


Aku marah melihat itu dan berjalan ke arah Takashi.


"Hentikan, Pahlawan Takashi."


"Hooh, bukankah kamu Livia. Maidnya Kuro ?."


"Benar, apa yang kamu lakukan pada Marie ?."


"Itu bukan urusan kamu, ini adalah urusan aku sendiri."


Pahlawan Takashi mengatakan itu dan berjalan ke arah aku.


Aku kesal dengan wajah ketawa dia miliki.


"Marie adalah teman aku, itu adalah urusan aku juga."


Aku terkejut dengan apa yang dia katakan, dia mengatakan itu sambil melihati tubuh aku.


Aku sedikit takut dengannya.


Dia gila.


"Ja-jangan Livia, jangan mau."


"Kamu diam saja lacu-."


"PLAK!"


Ketika dia ingin mengatakan itu, aku langsung menampar pipi Pahlawan Takashi.


"Ugh, ini sakit. Kamu berani menampar aku ?."


Dia mengatakan itu di depan aku, dia mengeluarkan aura membunuh.


Aku merasakan bahaya, aku mundur sedikit dari Takashi.


"Jangan mundur Livia, aku membenci orang yang memukul duluan setelah itu kabur."


Dia berjalan mendekat ke arah aku, aku mencoba berlari.


Tetapi.


"Sakit, hentikan."


Aku merasa sakit di pundak aku, aku melihat rasa sakit itu.


Disana ada tangan Takashi yang menahan pundak aku dengan kekuatan yang aneh.


"Kamu ****** bangsad, rasakan ini karena berani menampar aku."


Aku sudah sebisa mungkin mencoba melepaskan badan aku, tetapi kekuatan dia sangat kuat.


Dia hanya menahan aku dengan satu tangan, dan satu tangannya lagi bersiap untuk memukul kepala aku.


Aku berhasil menghindari itu, tetapi. Itu malah kena pundak aku.


Rasa yang sangat sakit dari semua rasa sakit yang pernah aku alami.


"Aughhh."


"Kamu mengeluarkan suara yang bagus disana, rasakan ini lagi."


"Hentikan Pahlawan Takashi, jangan lakukan lebih jauh. Aku akan melakukannya dengan kamu lepaskan Livia."


Ketika Takashi ingin memukul aku, dia berhenti karena teriakan Marie.


"Hooh, tawaran yang menarik."


Takashi melepaskan aku, setelah itu dia mendorong aku ke tanah.


Dia berjalan ke arah Marie, dia memungungi aku yang ada di tanah.


"Jika kamu mengatakan ini pada siapa pun, apa lagi putri. Aku akan melakukan yang lebih kejam pada kamu dan Kuro."


Setelah mengatakan Takashi mengatakan itu, Marie yang ada di lantai di angkat oleh Takashi dan di bawa ke kamar yang di belakang Marie.


Aku melihat itu dengan ketakutan, aku berdiri dan berlari ke lantai 1.


Untuk pergi ke kamar Kuro.


 ---


"Jadi begitulah yang terjadi."



Aku mendengar cerita Livia, itu membuat aku sangat emosi.


Aku langsung ingin ke kamar Takashi sekarang, Tetapi. Aku tidak memiliki kekuatan untuk melawannya.


"Livia, apakah kamu sudah melaporkan ini kepada Putri ?."

__ADS_1


"Tidak, aku sebagai maid tidak boleh berbicara dengan Putri secara langsung."


"Kenapa ?."


"Itu adalah aturan, jika kita ingin melaporkan ini kepada putri kita harus berbicara dengan Chief Maid dulu."


"Apakah kamu sudah melaporkan ini kepada Chief Maid ?."


"Aku sudah mencoba, tetapi. Chief Maid selalu menghindari aku."


"Eh kenapa ?."


"Itu karena aku maid magang, ibuku sebelumnya mempunyai masalah dengan Chief Maid. Jadinya aku di rendahkan oleh Chief Maid."


Pikiran aku sekarang tidak stabil, aku sangat emosi sekarang. Aku ingin memarahi Chief Maid itu, aku ingin memukul Takashi juga disini.


"Jangan membuat muka seperti itu, aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri."


"Tidak, aku akan membantu kamu. Aku akan mengatakan ini pada putri besok."


"Jika begitu aku sangat tertolong, tetapi. Tolong hati hati pada saat bertemu Pahlawan Takashi."


"Emm, aku sudah berhati hati dari saat dia memukul aku. Juga kemarin aku membuat dia semakin membenci aku."


"Eh kenapa ?."


"Yah itu gara gara-."


Aku menceritakan tentang apa yang terjadi kemarin.


"Jadi begitulah."


"Eh, apakah tubuh kamu baik baik saja ?."


Livia langsung berdiri dan menyentuh tubuh aku.


Aku disini malu dan mencoba untuk menenangkan Livia, tetapi dia terus memaksa aku untuk membuka baju.


Aku menyetil jidat Livia yang ada di depan aku.


"Ughh, sakit."


"Maaf, terimakasih telah mengkhawatirkan aku. Aku baik baik saja, kemarin teman aku menggunakan Healing Magic kepada aku."


"Mmm, maaf salah aku juga disini. Aku senang kamu menang, tetapi. Jangan memaksakan diri kamu lain kali."


"Mmm, terimakasih. Aku akan mengingatnya."


Aku memaksakan itu karena, aku ingin tau apa yang dia lakukan kepada Livia dan juga aku terlanjur emosi kemarin.


Aku melihat Livia, dia memegangi jidatnya yang aku sentil.


Aku penasaran dengan luka yang di sebabkan oleh Takashi.


"Livia, apakah pundak kamu baik baik saja ?."


"Mmm, itu hanya memar."


"Apakah itu bisa disembuhkan oleh Healing Magic ?."


"Aku tidak tau, mungkin itu bisa."


"Jika begitu, besok aku akan meminta tolong teman aku untuk menyembukan kamu."


"Ti-tidak usah, aku sudah memesan Potion tingkat rendah."


"Potion ?."


"Mmm, itu adalah botol ramuan yang bisa menyembuh luka."


Itu seperti barang di game Rpg yang aku mainkan, pasti kalian tidak asing dengan nama Potion jika kalian sering main game Rpg.


"Begitukah, apakah itu sudah cukup untuk menyembuhkan memar itu ?."


"Mmm, mungkin."


"Katakan jika itu tidak berhasil, aku akan menyuruh teman aku untuk menyembukan kamu jika potion itu tidak berhasil."


"Mmm, kamu berlebihan tau Kuro. Ini hanya luka kecil."


"Meskipun begitu, aku khawatir."


"Kamu seperti yang di katakan oleh Yuu."


"E-eh ?, apa yang dikatakan olehnya ?."


"Tidak apa apa, apakah kamu besok latihan ?."


"Mmm, aku ada latihan. Latihan besok adalah pergi ke Dungeon."


"Du-dungeon ?."


Livia mengatakan itu dengan wajah terkejut, aku penasaran kenapa dia memasang wajah begitu.


Pikiran aku sekarang udah rada mendingan disini.


"Ada apa Livia ?."


"Ke-kenapa ke Dungeon ?."


"Aku juga kurang tau, tetapi. Sir Chris mengatakan bahwa besok adalah hari terakhir aku latihan."


"Ehhhh, serius ?."


"Iya."


Livia memasang ekspresi terkejut dan juga khawatir di depan aku.


"Apakah kamu baik baik saja besok ?."


"Mmm, tenanglah aku akan baik baik saja."


"Kamu jangan terlalu meremehkan Dungeon tau, kamu harus tau tentang ini Kuro."


"Tidak, aku tidak meremehkan. Juga apa itu ?."


Livia memasang wajah sangat khawatir, aku baru pertama kalinya melihat dia seperti ini.


Apakah di dalam Dungeon sangat berbahaya ?.


"Dungeon itu sangat berbahaya, aku tidak terlalu tau banyak tentang Dungeon. Tetapi, aku pernah mendengar bahwa di dalam Dungeon banyak monster mengerikan dan jebakan. Jadi kamu harus hati hati besok."


"Aku mengerti, aku akan berhati hati jika begitu."


"Umm, kamu lebih baik istirahat. Aku takut kamu kelelahan besok."


"Aku mengerti, kamu jangan terlalu khawatir Livia."


"Mmm."


Livia menenangkan dirinya di depan aku, aku entah kenapa merasakan hati aku berdetak lumayan cepat. Ketika tau Livia sangat mengkhawatirkan aku.


Setelah beberapa saat Livia memasang, wajah tenang seperti biasa.


"Huuh, maaf tentang tadi. Silahkan kamu istirahat, aku akan kembali ke kamar aku."


"Aku mengerti, selamat beristirahat Livia. Terimakasih banyak untuk hari ini."


"Ya, aku juga terimakasih untuk hari ini. Aku akan kembali, tidurlah dengan nyenyak."


"Umm, mari aku antar."


Aku mengatar Livia ke pintu kamar aku, aku membukakan pintu kamar.


Livia menundukan kepalanya ke arah aku, setelah itu dia pergi menjauh dari kamar aku.


Livia masi memakai dress berwarna putih itu.


Aku berbalik dan menutup pintu kamar aku.


"Hari ini sangat melelahkan dan juga sangat menyenangkan, aku lebih baik istirahat untuk besok."


Aku mengatakan itu, tetapi. Aku tidak langsung tidur, aku malah pergi untuk mandi.

__ADS_1


__ADS_2