
"Heeh jadi ini kamar kamu Kuro."
"Iya, begitulah."
Aku dan Putri Eilis sedang berada di kamarku.
"Nah, Putri apa yang kamu bicarakan."
"Maaf, disini."
Tiba tiba aku tidak bisa menggerakan satu pun badanku.
"Apa yang terjadi padaku."
"Heeh, bukankah kamu unik disini Kuro."
Putri itu tersenyum seperti bulan sabit, apa yang akan dia lakukan kepada aku ?.
"Kamu tidak mempunyai skill dan juga Skill Tree mu tidak bisa di lihat bahkan, biasanya jika orang tidak mempunyai Class dia hanya punya satu Skill Tree yaitu [Reinforcing] dan itu dapat dilihat."
"Tetapi aku sama sekali tidak bisa melihat Skill Tree kamu, aku penasaran apakah kamu membunyikan skill yang aneh ?."
"Tidak, aku sama sekali tidak memiliki Skill di Skill Tree jadi itu tidak bisa di lihat."
"Heeh, begitukah dan juga muka mu seperti menutupi sesuatu."
Aku terpaksa berbohong karena aku yakin jika aku memberitahunya tentang Skill ku Putri akan semakin banyak bertanya.
"Tidak, aku tidak menutupi sesuatu."
"Heeh, jika kamu tidak jujur maka aku akan."
"Putri, apa yang kamu mau lakukan."
"Aku tidak akan melakukan apa pun, tetapi aku hanya penasaran tentang sesuatu."
Putri semakin mendekati aku, bahkan idung kami bersentuhan.
Tiba tiba rasa aneh di bibir aku bahkan itu manis dan juga hangat.
"E-eh ?."
"Heeh, jadi ini rasanya berciuman aku mengerti kenapa ayahku dan mamaku suka berciuman."
"W-tunggu apa yang kamu lakukan Putri Eili."
Ini ciuman pertamaku tetapi jika itu di ambil oleh perempuan cantik seperti Putri Eilis tidak masalah.
Namun yang mengambil adalah Putri kerajaan, bukankah aku akan di bunuh setelah ini tidak aku tidak mau.
"Ketika aku mencium mu, ah entah kenapa aku tenang ketika aku mencium mu. Jadi permisi."
Putri mendekati bibirnya lagi, aku ingin tetapi itu tidak boleh aku harus melakukannya dengan seseorang ku suka.
Aku akhirnya bisa bergerak badan aku dan buru buru menyentil dahi Putri Eili.
"Putri Eili, bisakah kamu menjelaskan apa yang kamu lakukan ?."
"Aduh, kamu berani menyentil dahi Putri aku akan meminta kamu di menghukum mati."
Putri mengatakan itu dengan wajah memerah.
"E-eh, tolong maafkan aku Putri."
Aku panik dan buru buru sujud di hadapan sang Putri.
"Tidak, aku akan menghukum mu mati."
"Serius ?, tolong Putri aku akan melakukan apa pun jadi tolong jangan hukum mati aku."
Muka Putri yang tadi memerah dan ingin menangis sekarang senyum seperti bulan sabit, ah sial aku terkena jebakannya lagi.
"Heeh, begitukah jadi kamu akan melakukan apa pun."
"Tidak, aku tidak mengatakan itu jadi kamu bisa beristirahat di kamarku. Aku akan kembali ke Ruang Pertemuan."
Aku mencoba mengangkat diriku, tetapi itu terjadi lagi seperti sebelumnya.
"Heeh, begitukah jadi berusahalah untuk bangun dan juga kamu telah mengatakan bahwa "aku akan melakukan apa pun" jadi kamu tidak boleh mengikari itu."
"Tidak, aku tidak mengatakan mengatakan itu."
"Heeh."
Putri tertawa dan berjalan mendekat ke arah aku setelah itu dia berjongkok, mata kami bertemu.
"Permisi."
Pintu kamarku terbuka disana ada Livia.
"Kuro, apa yang kamu lakukan disini dengan Putri ?."
"Tolong aku Livia, aku tidak bisa bergerak disini."
"Ya, aku akan datang."
Livia membantu aku bangun dan dia membawaku untuk duduk dikasur ku.
Sepertinya dia tidak memperdulikan Putri yang menatapnya dengan tajam.
Setelah dia membantuku duduk di kasur, Livia berbalik ke arah Putri Eilis.
"Aku akan memperkenalkan diriku."
"Aku, Livia yang merawat Kuro dalam 30 hari."
"Heeh, kamu perawat Kuro ya."
"Ya, begitulah jadi apa yang di lakukan Putri disini ?."
"Tidak aku hanya bermain main dan juga aku akan pergi, terimakasih telah menemani aku bermain Kuro."
Putri pergi dia memasang wajah sedikit kesepian bahkan sedih.
Lebih baik aku tidak terikat oleh Putri itu dia aneh dan tidak bisa di tebak, ya lebih baik jangan memikirkannya lebih jauh.
"Makasi, Livia aku selamat."
"Tidak masalah, juga Putri sepertinya sangat tertarik padamu."
"Ya, lebih baik mengabaikan dia. Jadi apa yang terjadi di ruang pertemuan ?."
"Ah, itu telah berakhir."
"Begitukah."
Livia sepertinya sudah tenang tetapi sebenernya apa yang terjadi dengan Livia.
"Livia, bolehkah aku bertanya sesuatu ?."
"Ya, apa itu ?."
"Kenapa kamu sangat pucat ketika berbicara dengan Takashi ?."
"A-ah, tidak ada apa apa di antara aku dan dia."
Ketika aku bertanya itu ekspresinya sedikit pucat, benar ini tebakan ku pasti ada yang terjadi.
"Begitukah, jika terjadi apa apa bilang padaku."
"Ya, aku akan. Jadi bolehkah aku tidur di sini lagi untuk hari ini ?."
"Mmm, tidak masalah."
Ya lebih baik dia tidur dikamar aku, dan juga aku senang, tentang livia yang tidur di kamar aku.
"Terimakasih, Aku akan bekerja dan pada saat sore aku akan kembali
__ADS_1
"Ah, iya aku akan menunggu."
Livia keluar dari kamarku dan sekarang apa yang harus ku lakukan sekarang.
"Haruskah aku mengayunkan senjata di ruang lantai 4 ?."
Aku ingin melakukan itu tetapi, aku juga sebenarnya sedikit kelelahan. Karena aku terus mengayunkan pedang.
"Baiklah, aku lebih baik tidur."
Aku mengunci pintu kamarku agar tidak ada yang masuk.
Aku berjalan ke arah tempat tidurku dan terjun ke sana.
"Ah, sangat enak."
Aku sekarang berada di kereta kuda bersama Seika.
"Putri, apakah tidak apa apa hanya setengah hari di sana ?."
"Tidak, apa apa aku juga tidak tau apa yang harus ku lakukan disana."
"I see, tetapi apa yang kau lakukan dengan anak itu."
"Oh dia, tidak aku hanya membicarakan sesuatu dan dia menarik tau kamu akan nyaman jika kamu berada di dekatnya."
"Begitukah, tetapi aku tidak tertarik dengan dia."
"Heeh."
Aku hanya menjawab singkat, juga aku sekarang sedang memikirkan sesuatu.
Aku tidak berpikir bahwa hari dimana aku mencium seseorang akan tiba, dan juga entah kenapa aku merasa dia sangat menarik bahkan matanya sangat ingin melindungi seseorang yang dekat dengannya.
Andai aku bisa berada di sampingnya selalu, pasti hari yang aku miliki akan menyenangkan.
Aku ingin mencium dia lagi, aku sangat ingin.
Aku sedang berada di kereta kuda bersama Putri.
Aku tidak mengerti mengapa Putri sangat tertarik dengannya dan juga Putri mengatakan bahwa dia sangat nyaman jika berada di dekat orang itu.
Namun aku merasakan hal yang aneh darinya dan juga dia menggunakan Apprisal kepada ku.
Seharusnya itu tidak di perbolehkan jika menggunakan Appraisal kepada Pahlawan, tetapi aku mengerti ketika melihat mereka semua.
Pengetahuan mereka tentang dunia ini sedikit kurang, dan juga setelah aku mendengar latihan apa saja yang sudah mereka lakukan.
Namun menurutku, mereka terlalu santai.
Kenapa aku bisa mengatakan itu ?, ya itu karena latihan yang mereka lakukan. Sangat berbeda dari latihan aku.
Pada hari pertama aku di latih, dengan di beri tau tentang dunia ini.
Di hari kedua aku di ajarkan cara bertarung dan menggunakan Skill.
Di hari ketiga aku di latih untuk semakin terbiasa bertarung.
Di hari keempat aku pergi ke dungeon tingkat lower dengan pemimpin ksatria kerajaan dan beberapa ksatria lain.
Pertama kali aku memasuki dungeon udara di dalam dungeon itu aneh, dan juga aku merasakan bagaimana perasaan membunuh monster untuk pertama kalinya.
Perasaan yang ku rasakan itu mengerikan tetapi mau tidak mau aku harus melakukan untuk kembali ke dunia lamaku.
Aku berhasil di hari pertama aku menjelajahi dungeon dan aku berhasil mencapai lantai 5 dan juga menaikkan level aku.
Levelku sekarang adalah 13, ya berkat aku naik level. Stats aku naik dan aku dapat membuka skill baru yang dapat membunyikan aku dari skill Appraisal.
Di hari keempat aku menjelajahi Dungeon lagi, tetapi aku hanya di temani pemimpin ksatria.
Di hari kelima dan keenam aku disuruh beristirahat.
"Putri berapa lama kita sampai ke kerajaan Lakuos ?."
Aku bertanya kepada Putri yang duduk di depanku.
"Mmm, dengan kereta kuda mungkin butuh 1 harian."
"Aku mengerti, ada yang ingin ku tanyakan."
"Apa itu ?."
"Apa yang harus ku lakukan setelah 7 hari ini ?."
"Mmm, aku akan menjawab itu besok."
"Baiklah."
Putri sedikit sedih ketika mengatakan itu, aku tau putri selalu memasang wajah seperti itu tetapi ini berbeda.
"Putri apakah terjadi sesuatu ?."
"Tidak, dan juga bolehkah aku duduk di samping mu. Aku sangat ingin berada di dekatmu."
"Begitukah, silahkan."
Aku tidak tau mengapa Putri ingin di dekat aku, tetapi ini bukan pertama kalinya. Bahkan Putri pernah tidur satu kasur denganku.
"Ah, berada di samping Seika sangat hangat."
Putri selalu mengatakan itu, aku sedikit malu setiap kali mendengarnya.
"Seika, kamu memerah tau hehe."
"Ka-kamu sangat jail bukan, Putri."
"Heeh, tetapi aku senang melihat Seika memerah."
Aku tidak bisa berbuat apa apa jika Putri sudah begini, aku teringat tentang Adikku ketika melihat sifat Putri.
Ah gimana kabar Sou, dan juga orang tua ku. Aku kangen dengan mereka, aku berharap mereka baik baik saja disana.
"Seika, bolehkah aku tidur dipundak mu, boleh ?."
"Mmm, tidak masalah."
Putri menempelkan kepalanya di pundakku, aku melihat muka Putri yang tidur di pundak aku. Bahkan ketika dia tidur wajahnya sangat lucu dan cantik.
Aku melihat wajahnya Putri yang tertidur itu membuat aku ingin tidur juga.
"Aku dan Putri akan tidur jadi tolong jaga kami."
"""""Roger."""""
Di jendela kereta ada banyak bayangan orang menaiki kuda mereka adalah kesatria yang menjaga kami selama perjalanan.
Aku membuka mataku dan duduk di kasur.
Aku melihat ruangan sekitar seperti biasa, ada nampan dan baju putih di atas meja.
Aku mendengar suara air dari kamar mandi, sepertinya yang di dalam kamar mandi adalah Livia.
"Baiklah, aku akan makan setelah itu mandi."
Aku berdiri dari kasurku dan berjalan ke meja seperti biasa aku duduk di kursi dan memakan makanan yang di bawa Livia.
"Enak seperti biasanya."
Menu kali ini adalah roti, sate daging, dan 2 gelas air putih. Aku tidak tau daging apa itu tetapi seperti daging ayam, dan juga ada seperti saus kecap di atasnya.
Aku menghabiskan makananku dan setelah itu aku membuka status.
__ADS_1
"### Status."
Nama : Kuro
Age : 16
Race : Human
Lv : 1
Class : ???
Title : Human From Another World
Skill Point : 0
Strength : 17
P Defense : 40
M Defense : 21
Agility : 26
Magic : 10
Skill :
Skill Dasar
- Appraisal Lv 1 > Level 2 (10 Skill Point)
- Detection Lv 1 > Level 2 ( 10 Skill Point)
- Night Vision Lv 1 > Level 2 (10 Skill Point)
- Poision Resistance Lv 1 > Level 2 ( 10 Point)
- Auto Recovery (Small) Lv 1 > Level 2 (Lower-Middle) (30 Skill Point)
Skill Tree ???
- Gluttony
Strength aku sudah mencapai 17 itu adalah pertumbuhan yang bagus untuk aku, mungkin aku akan menaikkan latihan mengayunkan pedangku menjadi 150x atau 200x.
"Kuro, kamu sangat senang apa terjadi sesuatu ?."
Suara itu berasal dari kamar mandi, disana ada Livia yang sedang menggunakan Piyama.
"Mmm, stats aku bertambah kamu tau. Aku sangat senang."
"Begitukah, selamat Kuro."
Livia keluar berjalan mendekat ke arah aku.
Aku gugup disini, karena dia sangat harum dan juga dengan pakaian itu *********** sedikit menonjol.
"A-ada apa Livia ?."
"Hei, Kuro aku ingin tau seperti apa yang layar status mu. Tetapi aku tidak bisa melihatnya disini."
"Begitukah, jika kamu menggunakan Appraisal kepada aku mungkin kamu bisa melihatnya."
"Aku sudah beberapa kali mencobanya, itu bisa tetapi. Aku tidak bisa melihat Skill Tree mu tau."
"Ah, itu juga terjadi padamu. Kamu tau Livia, Yuu dan Putri Eilis bahkan tidak dapat melihat Skill Tree aku tidak tau mengapa."
"Aku mengerti, maaf menggunakan Skill Appraisal pada mu."
"Tidak masalah, jika itu kamu."
Itu benar tidak masalah jika Livia dan juga jika itu teman temanku.
"I see, tetapi kamu harus tau ini Kuro ini tentang dasar dunia ini."
"Apa itu ?."
"Di dunia ini kamu tidak boleh menggunakan Appraisal pada seseorang yang tidak kamu kenal, tetapi jika manusia itu kamu anggap berbahaya itu boleh dan juga aturan itu sekarang sudah di abaikan oleh orang dunia ini. Jadi kamu dapat menggunakan Appraisal jika kamu mau pada seseorang tetapi lebih baik jika kamu menggunakannya tanpa ketahuan, jika kamu ketahuan mungkin itu akan menjadi masalah."
"Begitukah, aku mengerti terima kasih atas informasinya dan juga makanannya."
"Ah, itu tidak masalah."
Livia ada di depanku berdiri dan aku duduk, kami saling menatap karna sudah tidak ada topik yang bicarakan.
Aku harus mencari topik, apa yang harus ku tanyakan disini.
Aku ingin menanyakan tentang kenapa dia pucat ketika melihat Takashi tetapi jika aku menanyakan itu, itu akan membuat Livia menjadi pucat lagi aku tidak ingin.
Wajah Livia sekarang sedang tersenyum aku tidak mau membuat senyum itu ilang.
"Mmm, Livia bolehkah aku bertanya sesuatu ?."
"Y-ya, apa itu ?."
"Sudah berapa lama kamu berkerja sebagai Maid kerajaan ?."
"Ah, sekitar 2 tahun dan juga aku masi magang disini."
"I see, kenapa kamu bekerja sangat lama tetapi masi menjadi maid magang ?."
Ketika aku menanyakan itu Livia memasang wajah sedih.
"Mmm, kamu tau Kuro. Aku sebenarnya menjadi Maid Kerajaan, karena aku menggantikan ibuku yang sedang sakit."
"Aku menggunakan gaji yang ku dapat untuk membayar biaya berobat ibuku."
Aku bingung disini apa yang harus ku jawab, aku tidak terbiasa dengan masalah ini.
"I see, jadi kamu menggantikan ibu mu yang sedang sakit. Juga bolehkah aku tau penyakit apa ibu mu, Livia ?."
"Mmm, itu penyakit yang langka yang di sebut Manaver. Itu adalah penyakit tergangunya aliran mana, yang menyebabkan orang tidak sadarkan diri. Selama dia masi memiliki penyakit Manaver."
"Begitulah mengapa aku tetap menjadi maid magang selama 2 tahun. Itu untuk membayar perawatan ibu aku."
"I see, apakah ada yang ku bisa bantu disini Livia ?."
Aku menanyakan itu pada Livia tetapi dia menjawab dengan tersenyum.
"Tidak, kamu sudah membantu banyak karena jika aku merawat mu biaya untuk penyakit ibu akan di tanggung oleh kerajaan."
"Begitukah, aku senang mendengarnya jadi apakah kamu mau menjadi maid tetap setelah selesai menjadi Maid aku ?."
"Tidak tau. Aku belum kepikiran akan hal itu, tetapi jika aku tidak punya pilihan lain aku akan menjadi Maid tetap kerajaan."
Livia mengatakan itu dengan tersenyum, tetapi aku berharap Livia tetap akan menjadi Maid kerajan.
"I see, jika kamu butuh sesuatu katakan padaku walaupun aku tidak bisa membantu banyak."
"Kamu jangan khawatir, aku senang mendapatkan kesempatan ini dan juga aku bahagia merawat orang seperti Kuro."
"E-eh, baik terimakasih aku juga senang di rawat oleh mu Livia."
"Aku bersyukur jika begitu, jadi dalam 23 hari lagi tolong bantuannya."
"Y-ya aku juga."
Aku tidak ingin memikirkan apa yang terjadi setelah Livia selesai dengan tugasnya menjadi Maid aku, aku tidak ingin dia berhenti menjadi maid kerajaan karena sesuatu alesan. Tetapi jika itu keinginan Livia aku tidak bisa berbuat apa pun.
"Livia, sekarang aku ingin mandi kamu dapat beristirahat di kamarku."
"Maaf aku menginap di kamar mu lagi, dan juga aku akan menunggu kamu mandi."
"Jangan khawatir tentang itu aku senang kamu tidur di kamarku dan juga jangan memaksakan diri untuk menunggu aku, Livia."
Aku mengatakan itu berdiri dari kursi dan mengambil baju putih yang di berikan oleh Livia dan aku berjalan ke kamar mandi untuk mandi.
__ADS_1