
"Pemenangnya adalah Yuu."
Yuu memenangkan pertarungan, dia memberikan tusukan terakhir ke arah Arata dengan cepat.
Awalanya Arata bisa menghindari serangan itu, tetapi. Dia kebanyakan menggunakan skill Dodge dan dia menjadi lelah.
Yuu, dia sangat kuat.
"Yuu, kamu sangat kuat. Mari kita latihan bersama lain kali."
"Tentu, kamu juga sangat hebat dalam menghindar."
"Hahaha, makasih."
Mereka bersalaman dan berpisah, Yuu kembali ke tempat sebelumnya yaitu di samping aku.
Ngomong ngomong, Akemi telah pergi ke tempat dia duduk sebelumnya.
"Yuu, kamu sangat cepat."
"Tidak, itu tidak seberapa."
"Eh ?."
"Aku masih perlu berlatih lebih, aku harus melindungi Ruby sekarang. Jadi aku harus kuat."
Dia mengatakan itu dengan wajah serius, dia sangat keren ketika mengatakan itu.
Andai saja, di dunia sebelumnya dia menunjukkan sisi ini kepada perempuan.
Mungkin dia akan menjadi terkenal seperti Hikari.
"Selanjutnya maju adalah kamu dan kamu."
Old Man memgatakan itu, dia menunjuk ke arah Hikari dan Kazu.
Mereka berdua berjalan ke tengah lapangan.
Kazu dia maju dengan gemeteran, tetapi. Hikari maju dengan wajah penuh percaya diri.
Kazu memegang Axe kayu, sedangkan Hikari memegang pedang kayu.
"Kalian bisa memulainya."
Old Man mengatakan itu dan mundur.
Hikari langsung bersiap untuk melawan, dia menjadikan pedang kayunya menjadi bercahaya.
"[Strong Arm],[Axe Control]."
Kazu mengatakan itu dengan gemeteran, dia mengeluarkan keringat di dahinya.
"Kazu, mari kita berlatih bersama."
Hikari memgatakan itu sambil tersenyum, setelah dia mengatakan itu.
Dia langsung berlari dengan sangat cepat.
Kazu kaget dan langsung dalam posisi bertahan.
Hikari mengayunkan pedangnya ke arah Kazu dengan diagonal, tetapi Kazu menahan serangan itu dengan ujung Axenya.
Itu bertabrakan, Hikari terlihat santai. Tetapi, berbeda dengan Kazu. Tangan dia gemeteran, dia seperti menahan sesuatu yang sangat berat.
"Tch, sialan [Power Plus]."
Kazu mengatakan dan mendorong Hikari ke belakang.
Sepertinya skill Power Plus sangat kuat.
Hikari tersenyum, setelah itu dia.
"[Light Magic]."
Dia mengayunkan pedangnya secara horizontal dengan sangat cepat, setelah itu cahaya berpisah dari pedangnya.
Cahaya itu terbang dengan sangat cepat ke arah Kazu, Kazu melihat itu buru buru menjatuhkan dirinya ke tanah.
Itu sangat tipis, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika Kazu kena serangan itu.
"Ak-aku menyerah."
Kazu yang berada di tanah megatakan itu, tubuh dia gemeteran.
"E-eh, kenapa ?."
"Ka-kamu terlalu kuat Hikari, aku hampir terbunuh jika mengenai serangan itu."
"Eh, aku hanya menggunakan setengah kekuatan aku tadi. Jadi itu tidak mungkin."
"Kamu tidak tau kekuatan kamu semana, aku disini merasakan itu."
"Pemenangnya adalah Pahlawan Hikari."
Old mengatakan itu, semua teman sekelasku bertepuk tangan dan menyoraki nama Hikari.
__ADS_1
Aku hanya bertepuk tangan, Yuu yang di samping aku juga.
"Itu kecepatan yang lebih dari aku, bahkan kata Hikari. Dia hanya menggunakan setengah kekuatannya."
"Aku masi kurang untuk melindungi Ruby jika begitu."
Yuu mengatakan itu di samping aku, aku hanya tersenyum ketika dia megatakan itu.
Aku terkejut dengan dia, dia masi menganggap kekuatan yang dia miliki kurang.
Yah, aku tidak tau juga. Itu tergantung pemikiran masing masing.
Juga menurut aku, aku sudah sangat kuat sekarang. Yah, jika itu kemarin mungkin aku akan kehilangan sadaran lagi di tonjok oleh Tsuhira.
"Yang selanjutnya maju adalah kamu dan kamu."
Old Man menunjuk ke arah Tsuhira dan Ouma.
Tsuhira dan Ouma berjalan ke tengah lapangan.
Tsuhira dan Ouma sama sama menggunakan pedang, Tsuhira dengan percaya diri berdiri dan langsung bersiap mengayunkan pedangnya.
"Kamu terlalu bersemangat, baiklah kalian bisa memulainya."
Old Man mengatakan itu dan mundur dari mereka.
"Jangan segan segan terhadap aku, keluarkan semua yang kamu miliki."
Ouma awalnya ragu ragu, tetapi. Dia berlari sambil membawa pedangnya ke Tsuhira.
"[Strength Up]."
Ouma mengayunkan pedanya ke arah Tsuhira secara diagnal.
Tsuhira sama sekali tidak menghindar, dia mengadukan pedangnya dengan pedang Ouma.
Ouma dengan sangat cepat mundur dan maju lagi sambil mengayunkan pedangnya lagi dengan berbagai teknik.
Tetapi, itu semua dengan mudah di tahan oleh Tsuhira.
"Huh huh huh."
Ouma kelelahan, setelah itu dia.
"[Strengh Up],[Quick Slash]."
Ouma mundur setelah itu, dia maju dengan mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arah Tsuhira.
Aku tidak bisa melihat ayunan itu, aku hanya bisa mendengar suara besi bertabrakan.
Suara terus berlanjut selama beberapa detik, setelah itu berhenti.
Ouma kelelahan dan dia mundur sangat jauh dari Tsuhira.
Tsuhira melihat itu dia mulai berlari ke arah Ouma.
"[Fire Magic]."
Tsuhira mengatakan itu, dia memegang pedang dengan tangan kanan saja. Satu tangan lagi, itu mengeluarkan api kecil.
Itu bergerak ke arah Ouma, ouma melihat itu langsung bersiap bertahan.
Bola api di lempar satu per satu ke arah Ouma, tetapi. Itu dengan mudah di lawan dengan pedang kayu Ouma.
Tsuhira terus melemparkan fire magic sambil berlari.
Tsuhira mengayunkan pedang secara aneh, itu adalah gerakan yang tidak bisa ku jelaskan.
Tetapi itu sangat cepat, Ouma yang tadi sedang berurusan dengan bola api itu.
Itu terjatuh berlutut di tanah di hadapan Tsuhira.
"Pe-pemenangnya adalah Rin Tsuhira."
Old Man mengatakan itu, semua siswa terkejut akan itu.
Para perempuan bertepuk tangan, sedangkan para siswa tidak percaya akan itu.
Aku bahkan tidak mengerti, apa yang terjadi.
"Rin, kamu melakukan gerakan yang sangat indah."
Sora mengatakan itu di sisi lapangan.
"Makasih Sora, Ouma kamu juga hebat. Kamu sangat cepat."
Tsuhira mengatakan itu dan kembali.
Ouma memerah ketika dia di puji oleh Tsuhira, dia memerah, dan memasang muka bahagia.
"Tolong sembuhkan Pahlawan itu."
Old Man mengatakan itu dan berjalan ke tengah lapangan.
"Latihan hari ini sudah berakhir, tetapi. Berkumpulah sebelum kalian balik."
__ADS_1
Old Man mengatakan itu dan kami semua berkumpul di tengah lapangan.
Aku seperti biasa duduk di paling belakang.
Takashi, dia sudah sadar dan ikut berbaris.
Dia melihati aku terus, tatapan yang dia miliki sangat tajam dan lebih tajam dari sebelumnya.
Aku takut melihat dengan tatapannya, itu mengeluarkan aura membunuh.
Ini buruk, aku harus mengabaikan tatapan itu.
"Baiklah, kalian semua sudah berkumpul."
"Nah, silahkan yang menang maju ke depan."
Old Man mengatakan itu, aku berdiri dengan sedikit senang disini.
"Ayo, Kuro."
"Mmm."
Aku menganggukan kepala aku dan berjalan bersama Yuu ke depan.
Yang berdiri di depan adalah Aku, Yuu, Hikari, Tsuhira, Raito, dan semua yang menang.
Aku berdiri di depan para teman sekelas aku yang sedang duduk, mereka semua melihati kita dengan sedikit iri.
Kecuali Takashi, dia melihati aku terus.
Aku bertemu dengan matanya, dia tersenyum ke arah aku.
Aku merinding dengan senyum itu, aku buru buru mengalihkan mata aku ke arah lain.
"Baiklah, yang menang aku akan memberikan kalian hadiah."
"Apa itu ?."
"Yah ini tidak seberapa, tetapi. Aku berharap ini akan berguna buat kalian."
Old Man berjalan ke orang yang ada di depan satu persatu.
Dia memberikan kantung kecil dari kantung penyimanan dia miliki.
Aku menerima itu juga.
Kantung ini terbuat dari kain, dan itu seperti milik Livia.
"Itu merupakan kantung penyimpanan, di dalam kantung itu. Aku telah memberikan senjata besi sesuai class kalian, itu dapat kalian gunakan untuk latihan atau apa pun."
"Kantung penyimpanan itu juga buat kalian, jika kalian tidak tau cara memakainya. Tanyakan itu pada maid kalian."
Old Man mengatakan itu, setelah itu dia menyuruh kami balik ke tempat kami sebelumnya.
"Nah, aku akan mengatakan sesuatu disini."
"Kalian besok tidak ada latihan, kalian beristirahatlah dan tidak ada yang boleh namanya berlatih."
"Eh kenapa ?."
"Benar, aku ingin berlatih. Aku kesal karena aku tidak menang.
"Aku juga setuju dengan dia."
"Aku mengerti perasaan kalian, tetapi. 2 hari lagi merupakan latihan kalian yang terakhir."
Semua teman sekalas aku terdiam ketika Old Man memgatakan itu.
"Kalian jangan memasang wajah begitu, aku juga terkejut disini. Tetapi, Putri akan menjelaskan itu setelah latihan kalian selesai."
"Aku sebenarnya masi ingin megajar kalian, tetapi. Itu adalah keputusan Putri, jadi istirahatlah."
"Ak-aku mengerti, apa yang kita lakukan di latihan terakhir ?."
Yang menanyakan itu adalah Tsuhira.
"Latihan itu adalah menjelajahi Dungeon."
Ketika Old Man memgatakan itu, semua teman sekelas aku heboh. Aku merasa senang juga ketika mendengar itu, aku tidak menyangka bahwa aku akan pergi ke Dungeon.
Setelah beberapa saat, Old Man menyuruh kami diam.
"Makanya dari itu, kalian harus beristirahat untuk menjelajahi Dungeon."
""""Roger."""""
"Kalian sangat bersemangat, baiklah. Kalian boleh balik dan beristirahat."
Semua siswa berdiri begitu juga aku.
"Kuro, mari kita kembali."
"Ya."
Aku berjalan bersama Yuu kedalam Istana dan sambil membicarakan tentang latihan tadi.
__ADS_1