My Honey Ardina

My Honey Ardina
Pengkhianatan


__ADS_3

Damar tidak percaya atas apa yang ia lihat sekarang, ternyata isi paket itu adalah bukti-bukti perselingkuhan istrinya.


“Mas Damar ini ?” Ardina kehilangan kata-katanya, ia melihat ekpresi Damar sangat aneh, tidak bisa ia tebak. Damar terlihat mengepal tangannya, mukanya sudah merah.


“Akan ku kirim mereka berdua ke neraka !” ucap Damar dengan emosi yang menyala-nyala.


Damar lalu bergegas ke ruangannya, Ardina merasa panik memikirkan apa yang terjadi selanjutnya karena itu ia mengikuti Damar masuk ke dalam. Paket itu Damar bawa masuk.


“Hallo ? selidiki semua tentang istri saya, saya beri waktu dua jam !” ucap Damar yang ternyata sedang menelpon seseorang di dalam ruangannya.


“Apa yang ingin kamu lakukan mas Damar ? kamu ingin berbuat apa ?” tanya Ardina.


“Ardina ? pengkhianat pantasnya di basmi, berani-beraninya dia menipuku selama ini ! tidak akan ku ampuni mereka berdua,” pikiran Damar di penuhi dengan api amarah sehingga ia tidak terlalu berminat mengetahui siapa yang mengirim paket itu, yang ia utamakan sekarang adalah memastikan apa yang ia lihat di paket itu tadi. Isi paket itu adalah foto-foto Marsha bersama Rendi, di dalam foto itu mereka asyik berciuman dan bercumbu, bahkan tanggal di foto itu adalah tanggal setelah pernikahan Damar dan Marsha, itu artinya foto itu bukan foto dari masa lalu tapi foto perselingkuhan.


“Jangan berbuat macam-macam mas Damar ! kendalikan dirimu !” Ardina sangat takut, ia melihat sisi lain dari seorang Damar ketika sedang marah.


“Apa kamu masih bisa tenang setelah tau orang yang hidup bersamamu selama ini ternyata selingkuh ? baru 2 bulan dia menjadi istriku, dia sudah membuat ku sangat kecewa,” teriak Damar.


Ardina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia dapat merasakan apa yang di rasakan Damar sekarang. Siapa sih yang tidak kecewa jika orang yang kita percaya malah mengkhianati kita ?


Ardina membiarkan Damar sendirian di ruangannya, meskipun Ardina gelisah karena perasaannya tidak enak.


Prank….


Ardina mendengar suara benda tengah di hancurkan dari ruangan Damar, Ardina gemetar di kursi kerjanya yang berada tepat di depan pintu ruangan Damar.


“Apa anak buahnya sudah melaporkan semuanya pada dia, apa yang akan terjadi selanjutnya ?” Ardina merasa gelisah, ia tidak berani masuk ke dalam.


“Pak Candra ? bukankah pak Candra adalah temannya ?” Ardina berinisiatif menghubungi Candra.


“Hallo pak Candra, pak Damar sedang mengamuk di ruangan nya sekarang,” ucap Ardina.


“Memangnya dia kenapa ?” suara Candra sangat kaget dari seberang telpon sana.


“Pak Damar mengetahui bahwa istrinya selama ini selingkuh,” jawab Ardina.


“Ardina ? jangan dekat-dekat dengan Damar sekarang ! aku akan segera kesana, tunggu aku !” Candra langsung memutuskan sambungan telpon sepihak, dia buru-buru naik ke lantai atas menuju ruangan Damar.

__ADS_1


Candra tau kalau Damar adalah tipe orang yang hangat, namun saat marah Damar sangat kejam dan tidak bisa di hentikan. Candra pernah melihat itu sekali. Dulu waktu SMP saat para geng motor mengeroyok Candra, Damar yang tidak terima temannya di keroyok sontak saja menghajar sampai habis para anggota geng motor itu. Bayangkan saja Damar seorang diri mampu mengalahkan belasan orang. Sungguh mengerikan kata Candra. Setelah itu Candra berdoa agar ia tidak pernah melihat Damar marah lagi, tapi kenyataannya hari ini kemarahan itu kembali di lihatnya lagi.


“Ardina ?” panggil Candra dengan nafas yang masih terengah-engah.


Prank…


Prank…


“Pak Candra dengar sendiri kan ?” ucap Ardina.


“Aku akan menenangkan dia, kamu tunggu di sini, dia paling benci di bohongi, dia akan sangat mengerikan kalau di bohongi,” Candra lalu masuk ke ruangan Damar. Pintu di tutup rapat oleh Candra.


Ardina berusaha menguping dari depan pintu.


“Sudah Damar, kendalikan diri lo !” ucap Candra.


“Gue bakalan bunuh mereka berdua, gue paling benci di bohongi, gue bakalan bikin mereka kaya barang-barang yang gue hancurin sekarang !” teriak Damar.


“Gue tau lo marah, lo harus tenang, kenapa lo jadi kaya gini, kemana Damar yang selalu hangat setiap saat ?”


“Gue gak mau pergi,” ucap Candra.


“Kalau lo gak mau pergi bakalan gue lempar pot keramik ini ke muka lo !” ancam Damar yang masih emosi.


“Terserah lo mau ngapain gue !” Candra tidak mau mendengarkan apa kata Damar.


Ardina makin ketakutan mendengar amukan Damar di dalam. Ia mulai menitikan air mata.


“Jangan sampai terjadi apa-apa sama mereka berdua di dalam,” Ardina sudah tidak tahan lagi, dia dengan cepat membuka pintu.


Saat pintu terbuka…


Trang….


Sebuah pot bunga keramik melayang dan terkena kepala Ardina yang tengah membuka pintu.


“Ardina !” teriak Candra yang sudah berada di depan pintu. Awalnya pot bunga keramik kecil itu ingin di lempar Damar ke Candra karena Candra tidak mau keluar.

__ADS_1


Ardina langsung tak sadarkan diri. Melihat Ardina pingsan kemarahan Damar langsung berubah menjadi kepanikan. Damar mematung dan tidak percaya atas apa yang dia lihat.


“Ardina bangun ! Ardina…” Candra melihat jidat Ardina berdarah.


“Inilah akibatnya kalo lo gak bisa mengendalikan emosi lo ? orang yang gak tau apa-apa jadi korbannya !” kata Candra.


Damar berusaha mengendalikan emosinya, ia langsung berlari ke arah Ardina.


“Ayo kita bawa dia ke rumah sakit Can ?” Damar dengan cepat mengangkat tubuh Ardina keluar. Candra mengikutinya dari belakang.


Ruangan Damar benar-benar seperti kapal pecah, semua barang di sana sudah hancur.


Di rumah sakit Ardina tengah di tangani oleh dokter di IGD. Damar dan Candra mondar mandir dari tadi menunggu dokter mengabarkan keadaan Ardina.


“Candra ?”


“Ada apa ?”


“Hati gue sangat sakit sekarang ?”


“Karena di selingkuhi atau karena Ardina jadi korban lo ?”


“Dua-duanya,”


“Makanya lo itu harus bisa mengendalikan diri ! lo juga harusnya meneliti terlebih dulu sebelum lo menikahi cewek, karena belum tentu apa yang kita lihat adalah yang sebenarnya,” Candra berusaha menasehati Damar.


“Gue selalu hebat dalam segala hal Can, tapi gue bodoh dalam hal wanita, gue bahkan baru tau kalau Marsha ternyata pakai alat kontrasepsi, padahal gue pengen punya anak,” ucap Damar sendu.


“Sekarang apa yang akan lo lakuin ? gue saranin sama lo, lo jangan berbuat macam-macam, cukup lo cerai aja sama dia !”


“Apa lo bilang ? gue gak akan segampang itu melepas pengkhianat, gue akan beri mereka pelajaran yang setimpal, baru kali ini gue di khianati, orang yang gue percaya mengkhinati gue, gue bahkan menerima dia apa adanya, jadi jangan salahkan gue kalau gue ingin melihat dia hancur !” emosi Damar kembali terlihat.


“Lo mau ngelakuin apa emangnya ?” Candra mulai kwatir.


“Lihat saja nanti ! tapi yang jelas, mereka akan menyesali perbuatan mereka, lo denger gue Can, mulai sekarang gue gak akan pernah lagi mau jatuh cinta sama cewek, mereka itu ular !” ucap Damar yang masih berapi-api.


Candra hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tau emosi Damar tidak mudah di redakan. Jika sekarang Candra berkata lebih, ia takut Damar melanjutkan amukannya di rumah sakit ini.

__ADS_1


__ADS_2