My Honey Ardina

My Honey Ardina
Kesibukan Pagi


__ADS_3

Pagi harinya telah tiba, Damar berangkat ke kantor seperti biasa. Begitu pula dengan Marsha, dia juga pergi ke kantor. Dari sebelum menikah sampai sekarang masih menjadi istri Damar, Marsha bekerja menjadi wakil Presdir di perusahaan ayahnya.


Hari ini jam 9 Damar ada jadwal untuk meeting, namun sejak tadi sekretarisnya yaitu pak Roni tidak datang-datang juga. Damar mulai marah, diruangannya ia sudah mondar mandir tidak karuan karena nomor pak Roni tidak aktif.


“Kemana sih pak Roni ? apa si tua itu lupa kalau hari ini aku ada meeting penting, mana nomornya tidak aktif ? menyebalkan, semua dokumen penting ada pada dia lagi, satu jam lagi ada meeting,” gerutu Damar.


Sementara itu Ardina sedang mondar-mandir juga di depan ruangan Damar.


“Masuk tidak ya ? lagipula kenapa sih kepala OB itu minta aku menggantikan tugasnya hari ini untuk memyediakan cemilan untuk pak Damar ? apa pak Damar tidak pernah sarapan di rumahnya setiap pagi sehingga harus setiap hari disediakan cemilan seperti ini ?” Ardina menarik dalam-dalam nafasnya lalu membuangnya, ia memberanikan diri masuk ke dalam. Ia mengetuk pintu.


Tok tok tok


“Masuk !” kata Damar dari dalam.


Ardinapun masuk. Tanpa mengeluarkan kata Ardina lalu membawa cemilan itu ke atas meja sofa. Ardina juga tidak berani melihat wajah Damar.


“Hei kamu !” ucap Damar.


“Ada yang bisa saya bantu pak ?” jawab Ardina.


“Ada tugas untuk kamu, pergilah kealamat pak Roni sekretarisku ke apartemen Darwangsa unit 8 lantai 9 ! ambilkan file untukku, katakan kamu ke sana atas perintahku !” perintah Damar.


“Apa pak ?” Ardina bingung dengan perintah Damar.


“Kamu tidak mendengar ku ? pergilah ke tempat itu, jam 9 kamu harus kembali, kalau telat sedikit saja kamu akan saya pecat, mengerti !” tegas Damar.


“Baik pak…” meskipun Ardina bingung ia tetap melaksanakan perintah Damar. Ia takut di pecat. Ia akhirnya buru-buru keluar dari ruangan Damar. Dengan langkah seribu ia datang ke alamat yang di maksud Damar.


“Untung ada dia, tapi awas kalau dia sampai telat, tapi bisa-bisanya aku menyuruh dia, apa dia bisa di percaya ?” sebenarnya saat Ardina tadi masuk langsung terlintas ide di otak Damar menyuruh Ardina mengambil file yang Damar maksud.


Waktu sudah menunjukan pukul 9, Damar pergi ke ruang meeting. Semua orang di sana sudah berkumpul sebelum Damar datang. Kedatangan Damar langsung di sambut hormat oleh mereka dengan membungkukkan badan. Damar duduk di kursi paling depan.


“Tunggu 5 menit lagi baru meeting dimulai !” ucap Damar dan tentu saja di setujui oleh orang-orang disana.


“Damar ? tumben lo gak on time, biasanya lo marah-marah kalo pekerjaan ditunda-tunda ?” bisik Candra yang posisi duduknya dekat Damar.


“Berkas penting gue ada di pak Roni, dia dari tadi gak ada, makanya gue suruh salah satu office girl di sini buat pergi ke alamatnya,” bisi Damar juga ke Candra.


Tidak lama kemudian.

__ADS_1


Cklek


Pintu ruang meeting terbuka, Ardina masuk tergesa-gesa dengan nafas ngos-ngosan. Melihat keadaan Ardina sekarang membuat semua mata yang di sana memandangnya tapi Ardina tidak menghiraukan hal itu. Ia malah semakin mempercepat langkahnya menuju kursi Damar.


“Maaf pak saya telat ! ini dokumennya !” sodor Ardina.


“Tadi saya mengatakan pada kamu untuk tepat waktu, kamu pikir aku main-main atas ucapan ku tadi, kalau kamu telat maka saya akan…”


“Pak Roni masuk rumah sakit, dia tiba-tiba terkena stroke pak !” Ardina langsung menyela ucapan Damar.


“Apa ?”


“Saya tidak bohong pak, tadi saya dengan secepat mungkin untuk sampai di apartemennya, ternyata kata pembantu disana, pak Roni stroke dan masih koma di rumah sakit, anak-anaknya tidak tau dimana pak Roni menaruh dokumen pekerjaan penting kantor, jadi saya mengobrak-abrik ruang kerja nya pak Roni dulu, dan saya mendapatkan itu setelah susah payah, di situ ada informasi tentang perusahaan jadi saya berpikir mungkin itu dokumen yang bapak maksud ?” jelas Ardina dengan nafas yang masih terengah-engah.


“Dokumen ini memang dokumen yang saya cari, seharusnya kamu menghubungi saya, jangan mencari dokumen dengan menebak-nebak saja ! bagaimana kalau kamu tidak mendapatkan dokumen yang ini tadi, hah ?”


“Saya tidak bisa menghubungi bapak karena saya tidak punya nomor HP bapak,” jawab Ardina.


“Kamu itu banyak alasannya, ya sudah sana pergi ! saya tidak punya waktu untuk berdebat dengan kamu !”


“Sekali lagi saya minta maaf pak,” Ardina pun keluar dari ruang meeting itu.


Keluar dari ruang meeting itu, raut wajah Ardina terlihat sendu.


Setelah menyelesaikan perintah dadakan dari Damar, Ardina lalu melanjutkan pekerjaannya. Kali ini ia di suruh membersihkan kaca di lantai 20. Kaca yang tinggi membuatnya harus menggunakan tangga untuk melakukan tugasnya itu.


“Ternyata bersih-bersih adalah pekerjaan yang paling melelahkan, kalau sampai ada atasan-atasan yang ada di kantor ini berani marah-marah sama office girl seperti kami aku bersumpah akan menuangkan cairan pembersih kaca ini ke mukanya, mereka pikir pekerjaan kami gampang apa ?” Ardina masih tetap semangat untuk bekerja.


“Apa kamu akan menuangkan cairan pembersih kaca itu ke mukaku karena aku marah-marah padamu tadi ?” ucap Damar tiba-tiba saat datang.


Suara Damar mengagetkan Ardina.


“Pak Damar ? aa…” keseimbangan Ardina hilang, tangganya mulai bergoyang.


“Astaga Ardina hati-hati !” teriak Damar, Damar kaget Ardina tidak bisa mengendalikan tangganya.


“Aaaaa…”


“Ardina….”

__ADS_1


Bruk…


Tangga itu jatuh untung saja Damar berhasil menangkap Ardina. Cairan pembersih kaca yang Ardina taruh tadi di tangga terkena wajah Damar. Damar menghela nafas kasar.


“Jadi cairan ini benar-benar kamu tuangkan ke mukaku ?” ucap Damar, Damar memandang lekat mata Ardina secara langsung. Jantung Ardina tiba-tiba berdebar.


“Maaf pak ! turunkan saya pak !” ucap Ardina setengah meronta.


Bruk…


Karena rontaan Ardina di gendongannya membuat Damar sengaja menjatuhkan Ardina.


Au…


Pekik Ardina.


“Tadi kamu yang minta saya lepaskan, ya saya lepaskan lah !” ucap Damar santai.


Ardina mengelus bokong dan bagian belakangnya yang sakit.


“Tapi bukan begitu juga kali pak !” ringis Ardina.


“Terserah saya dong, saya bos nya, sekarang muka ganteng saya harus bagaimana ? baru kali ini ada yang menuangkan cairan pembersih kaca ke muka saya !”


“Sini saya bersihkan pak !”


“Apa-apaan kamu ! itu lap kaca ya, masa kamu mau pakai itu membersihkan muka saya ? muka saya nanti malah makin kotor !”


“Maaf pak ! saya tidak punya sapu tangan bersih untuk membersihkan muka bapak yang ganteng itu !” ucap Ardina.


Damar hanya tersenyum.


“Nanti saya bersihkan sendiri saja,” kata Damar membuat Ardina lega.


“Terima kasih pak, kalau boleh saya tau ada perlu apa ya pak, bapak jadi menemui saya ?”


“Saya mau minta maaf atas sikap kasar saya, saya orang yang on time, saya suka naik pitam jika ada orang yang terlambat, setelah saya pikir-pikir alasan kamu terlambat masuk akal, karena itu juga saya mau minta maaf,”


“Bapak ternyata orang yang sangat baik ya ?” puji Ardina.

__ADS_1


“Saya tidak sebaik itu, saya hanya baik kepada orang yang baik, saya hanya minta maaf jika saya melakukan kesalahan, dan sekarang karena saya sudah minta maaf ke kamu, saya pergi dulu,” tanpa menunggu sahutan dari Ardina, Damar langsung melangkahkan kakinya.


“Jadi dia repot-repot datang ke sini hanya untuk minta maaf ? dari mana dia tau aku sedang bersih-bersih di sini ?” gumam Ardina saat Damar sudah pergi. Ardina pun melanjutkan pekerjaannya kembali.


__ADS_2