
Setelah kembali ke ruangannya, Damar lalu mencuci mukanya yang tadi tertumpah cairan pembersih kaca.
“Kok aku harus repot-repot minta maaf sih ke dia ? mana tadi aku sampai ke bagian kebersihan segala untuk menanyakan dia kemana ? aneh ?” gumam Damar yang sudah duduk di kursi kerjanya.
Drutt….
Candra yang menelpon.
“Hallo Can ?”
“Pak Roni meninggal Damar,” ucap Candra dari seberang telpon.
“Apa ?”
“Gue sekarang sedang menuju ke rumah duka, bokap nyokap lo juga sedang ke sana, lo datang juga ya ! lo tau sendiri kan kalo pak Roni kerja menjadi orang kepercayaan keluarga lo sejak bokap lo masih menjadi pimpinan sebelum lo menggantikannya,” kata Candra.
“Oke gue ke sana !”
Pak Roni orang kepercayaan Damar dan keluarganya kini telah tiada. Selama ini pak Roni lah yang menjadi sekretaris Damar sejak Damar di lantik menjadi Presdir. Sebelumnya pak Roni menjadi sekretaris ayah Damar. Pak Roni meninggal akibat stroke tadi pagi, dan jenazahnya akan di makamkan hari ini juga. Terlihat di apartemen pak Roni, semua pelayat sudah datang. Damar dan Candra juga ada di sana.
“Damar ? setelah ini lo harus mencari sekretaris baru ! tapi lo tau sendiri kan mencari orang yang benar-benar dapat di percaya itu sulit, bahkan anak pak Roni pun belum tentu seperti pak Roni,” bisik Candra ke Damar.
“Akan gue atasi masalah ini,” jawab Damar singkat.
Setelah pemakaman pak Roni yang di adakan tadi sore. Damar dan Candra pulang ke rumah masing-masing. Seperti biasa saat di rumah Damar menjadi sangat lelah apalagi Marsha sering pulang malam dengan alasan lembur. Damar membaringkan tubuhnya di ranjang king size nya.
“Siapa yang bisa menggantikan pak Roni ? jika aku mempekerjakan orang yang salah maka habislah aku !” ucap Damar sambil memijit-mijit kepalanya yang sakit. mata Damar terpejam. Tiba-tiba terlintas wajah Ardina di otaknya.
“Ardina ? apa dia bisa di percaya ? tapi dia cuma lulusan SMA ?” tidak tau kenapa terlintas di otak Damar untuk meminta Ardina menjadi sekretarisnya.
__ADS_1
“Tidak ada salahnya untuk mencoba sekali saja, siapa tau dia bisa di percaya, daripada aku mempekerjakan orang baru yang belum aku kenal,” Damar mengeluarkan HP nya dari saku celana. Ia menelpon seseorang.
“Ini saya, kirimkan biodata lamaran kerja Ardina ! Ardina si Office girl itu,” perintah Damar ke orang di seberang telpon sana. Yang ia telpon adalah kepala HRD kantornya.
Setelah memerintah orang tersebut tidak berapa lama kemudian masuk sebuah email ke HP Damar, email itu di buka dan di bacanya.
Pagi harinya Ardina di panggil ke ruang Presdir, ia gugup kenapa bisa di minta ke ruangan itu padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun.
“Duduklah !” titah Damar. Ardina pun duduk di sofa yang di minta Damar.
“Mulai hari ini kamu menjadi sekretarisku menggantikan pak Roni yang meninggal kemarin !”
“Apa pak ? tapi saya tidak punya pengalaman untuk itu, saya bisanya cuma bersih-bersih !”
“Saya tau itu, menjadi sekretaris pengalaman dan pendidikan bukan satu-satunya hal yang saya perlukan, saya hanya memerlukan orang yang bisa di percaya, entah kenapa saya percaya pada kamu, saya akan mengajari kamu selama sebulan ini ! Ardina ini bukan negoisasi tapi ini perintah, jika kamu menolak maka saya akan marah, jika saya marah, saya bisa saja menendang kamu dari perusahaan ini !”
“Apa harus saya pak ?”
“Baiklah pak, saya akan belajar, saya menerima tawaran bapak !”
“Terima kasih Ardina,”
“Tidak perlu berterima kasih pada saya pak, saya yang harusnya berterima kasih karena bapak mempercayai saya,” Ardina tidak menyangka di dunia ini masih ada orang sebaik Damar.
Mulai hari ini Ardina menjadi sekretaris baru Damar. Damar dengan sabar mengajari Ardina, jika Ardina melakukan kesalahan maka Damar berusaha menunjukan bagaimana cara memperbaikinya, sebisa mungkin Damar tidak memarahi nya. Kebaikan dan kesabaran Damar dalam membimbing Ardina membuat Ardina perlahan memiliki rasa yang asing di hatinya, tapi Ardina tidak tau rasa apa itu. Setelah sebulan berlalu, Ardina sudah mahir dalam pekerjaannya dan Damar sudah mulai melepaskan banyak tanggung jawab ke Ardina. Selama sebulan ini juga jika Damar melakukan perjalanan bisnis ke luar kota maupun keluar negeri maka Ardina selalu bersamanya.
Damar merasa nyaman menjadikan Ardina sekretarisnya, keputusannya itu ternyata tidak salah. Bahkan tanpa sadar Damar mulai berbicara santai padanya. Meskipun pada awalnya Ardina tetap mempertahankan bahasa formalnya ke Damar namun lambat laun Ardina terbawa suasana, terlebih lagi selama sekolah dan kuliah dulu sebenarnya Ardina adalah tipe wanita yang ceplas ceplos.
“Gimana kalo kita jadi teman aja, di kantor maupun di luar kantor ? ternyata kamu orangnya menyenangkan juga ya ?” ucap Damar di sela-sela pembicaraan jadwal kerjanya ke Ardina di sofa ruangannya.
__ADS_1
“Dari 2 minggu yang lalu juga kita udah jadi teman pak, apa bapak gak sadar bahasa formal saya perlahan hilang, asal bapak tau kalau kita kelamaan seperti ini, bisa-bisa saya lupa kalau bapak atasan saya,” ucap Ardina.
“Gak masalah, saya lebih suka jadi teman kamu daripada jadi atasan kamu, dengar Ardina, kamu bebas memanggiku dengan sebutan namaku, jangan panggil bapak lagi, saya juga gak terlalu tua kok,” ucap Damar.
“Oke, jangan protes ya kalau aku panggil mas Damar aja,” sungguh Ardina senang dalam situasi ini, keceriaanya yang dulu sempat hilang akibat batal menikah kini perlahan kembali.
“Siap, tapi di depan kolega aku, kamu harus tetap hormat sama aku, oke ?” ucap Damar lagi.
“Sip-sip,” Ardina mengacungkan jempolnya.
“Mas Damar kamu baik banget sih ? aku janji akan selalu menjadi orang yang kamu percaya, aku gak akan pernah mengecewakanmu,” batin Ardina. Sungguh Ardina selama sebulan menjadi sekretaris Damar merasa bahagia.
Setelah selesai membahas pekerjaan dengan Damar, Ardinapun keluar. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya di meja kerjanya. Sambil jari-jemarinya mengetik sesuatu di keyboard komputer, senyum kecil Ardina tidak sengaja tersungging dari bibirnya.
“Ehem,” Candra yang tiba-tiba datang langsung berdehem.
“Pak Candra ?” Ardina kaget dan langsung berdiri dari kursinya.
“Tadinya aku mau masuk ke ruangan Damar, ketika aku lewat meja kamu dan melihat kamu tersenyum aku jadi penasaran, ada yang lucu ya di komputer kamu ?” tanya Candra yang notabennya adalah orang paling kepo.
“Tidak ada yang lucu pak ? mas Damar nya ada di dalam pak, astaga !” Ardina langsung menutup mulutnya ketika menyadari dia memanggil Damar dengan sebutan mas bukan dengan sebutan bapak.
“Wah, jadi kalian sudah sangat dekat selama sebulan ini sampai kamu tidak sadar memanggilnya dengan sebutan mas saking mahirnya menyebut nya begitu ?” Candra tersenyum penuh arti.
“Bukan begitu pak ! saya ? saya dan pak Damar memutuskan berteman untuk membuang rasa bosan karena lelah bekerja,” alasan Ardina sungguh standar.
“Benarkah ? kalau kamu dekat dengan Damar juga tidak papa, setidaknya kamu bisa menghiburnya karena aku kadang tidak punya waktu untuk menghiburnya,”
“Maksud bapak ?” tanya Ardina.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu tau maksudku ! lama-kelamaan kamu akan mengerti sendiri, aku masuk dulu ! lanjutkan pekerjaanmu !” Candra menyudahi obrolan dadakannya dengan Ardina, ia langsung masuk.
“Apa keputusanku selama ini untuk menyembunyikan hal itu adalah benar ? aku bingung jadinya,” batin Ardina.