
Tidak lama kemudian dokter yang menangani Ardina keluar mengabarkan keadaan Ardina kepada Damar dan Candra. Kata dokter luka Ardina tidak terlalu parah, hanya cukup di baluti perban dan usahakan selama seminggu ini jangan sampai terkena air. Mengetahui keadaan Ardina tidak parah, Damar dan Candra bisa bernafas lega. Mereka lalu menghampiri Ardina yang sudah siuman.
“Kamu baik-baik saja kan Ardina ?” tanya Candra.
“Seperti yang kalian lihat !” jawab Ardina.
Damar hanya diam saja, tapi mata Damar mengisyaratkan penyesalannya atas kejadian yang menimpa Ardina.
“Kalau aku tau akan begini jadinya, ku buang saja paket itu pagi tadi,” jerit Ardina dalam hatinya.
“Ardina ! kamu istirahat saja hari ini di rumah sakit, kamu boleh kembali bekerja besok ! Candra ? kamu kembali ke kantor ! Ardina bukan anak kecil yang harus di tunggui !” kata Damar.
“Terus kamu mau kemana ?” tanya Candra ke Damar.
“Aku akan menyelesaikan masalahku siang ini juga !” kata Damar dengan nada dingin. Tanpa basa-basi lagi, Damar lalu keluar.
“Pak Candra ? apa bapak tidak bisa menghentikan dia ? dia sangat mengerikan saat sedang marah ? aku takut dia akan membunuh istrinya dan selingkuhan istrinya itu,” ucap Ardina cemas.
“Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri ! Damar bukan tipe orang yang mau mendengarkan orang lain, jika dia sedang kesal, jangan dekat-dekat dengan dia kalau kamu tidak mau berakhir begini lagi !”
“Tapi bagaimana kalau terjadi apa-apa sama dia pak ?”
“Itu resikonya sendiri karena tidak bisa mengendalikan amarahnya, akupun sudah tidak mau ikut campur dalam urusan cintanya, jika aku bertindak terlalu jauh, bisa-bisa nyawaku yang melayang,” ucap Candra lagi.
Ardina baru menyadari kalau Damar memiliki sisi lain yang mengerikan. Ardina menitikkan air matanya.
“Hei Ardina kamu kenapa menangis ? apa kamu takut pada Damar ?” tanya Candra cemas.
Ardina menggeleng.
“Jangan takut padanya Ardina, dia hanya bersikap mengerikan dengan orang yang membohongi nya saja ! selama kita selalu jujur padanya, kita akan selalu aman !” ucap Candra lagi.
Ardina hanya mengangguk.
“Kalau begitu aku kembali lagi ke kantor ! pekerjaan ku di sana masih banyak, tidak papa kan aku tinggal kamu di sini sendirian ?” Candra sebenarnya tidak enak meninggalkan Ardina tapi ia tidak punya pilihan lain.
“Saya baik-baik saja pak, saya bukan anak kecil yang harus terus di jaga,” ucap Ardina.
__ADS_1
“Kalau begitu saya pergi dulu ? sampai bertemu besok di kantor !” kata Candra.
“Iya pak Candra,” ucap Ardina.
Setelah berpamitan dengan Ardina, Candra lalu keluar dan akan kembali ke kantor.
“Tidak akan kubiarkan sesuatu terjadi pada mas Damar,” tidak lama setelah Candra pergi, Ardina lalu duduk dari ranjang rawatnya, dia keluar dari rumah sakit dan berencana mencari keberadaan Damar.
Sekarang Damar sedang mengemudikan mobilnya dalam keadaan kesal, dia dalam perjalanan ke kantor Marsha.
Drutt…drutt…
HP Damar berbunyi, Ardina yang menelpon. Untung Damar mau mengangkatnya.
“Hallo ?” ucap Damar dengan nada ketus karena sekarang ia masih kesal.
“Mas Damar ada dimana sekarang ?” tanya Ardina dari seberang telpon.
“Aku menuju kantor Marsha, aku harus memberi dia pelajaran sekarang juga,” ucap Damar.
“Mas Damar kendalikan diri mas Damar dulu baru menemui Marsha, aku tidak ingin mas Damar membuat keributan di sana,” pinta Ardina memohon.
Mobil Damar kini sudah sampai di depan kantor Marsha, Damar pun keluar dari mobilnya. Semua orang di kantor itu sudah tau kalau Damar suami Marsha jadi mereka tidak bertanya tujuan Damar datang ke kantor itu. Tanpa berkata apapun lagi, Damar langsung naik lift menuju ruangan Marsha.
Sesampai di lantai 5 tepatnya di ruangan Marsha, Damar tidak mendapati Marsha di sana. Damar pun bertanya ke sekretaris Marsha yang ada di sebelah ruangan Marsha.
“Mana bu Marsha ?” tanya Damar dengan nada sinis.
“Hari ini jadwal bu Marsha kosong pak jadi dia pergi keluar sebentar, pak Direktur sedang ada meeting dengan klien pak,” jawab sang sekretaris.
Terlihat Damar mengepalkan tangannya.
“Apa dia ke apartemen selingkuhannya lagi ? apartemen Darwangsa lantai 9 ? kurang ajar ! akan ku bunuh mereka berdua,” batin Damar.
Damar pun pergi ingin melabrak langsung Marsha dan selingkuhannya itu.
Sesuai dengan informasi di paket yang ia dapat, Marsha sering ke apartemen Rendi, di apartemen Darwangsa lantai 9, di sana lah mereka melakukan perselingkuhan.
__ADS_1
Setiba di apartmen Darwangsa, Damar langsung menuju lantai 9 unit 33. Muka Damar semakin murka saja. Setiba di depan pintu apartemen itu Damar menghentikan langkahnya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya. Ia mengetuk pintu apartemen itu sesopan mungkin. Tidak lama kemudian pintu itu di buka. Pembantu apartemen itu yang membuka.
“Apa Rendinya ada ?” tanya Damar sesopan mungkin.
“Ada pak, dia sedang sibuk bersama kekasihnya, bapak siapa ya ?” tanya pembantu wanita paruh baya itu.
Mendengar jawaban pembantu itu emosi Damar kembali menyala-nyala lagi. Tangannya mengepal semakin keras saja.
“Saya mau masuk ! minggir !” Damar menerobos masuk tiba-tiba.
“Bapak siapa ? kenapa menerobos masuk ke apartemen orang seenaknya ?” pembantu itu bingung melihat sikap Damar namun Damar tidak mengubris keberadaan pembantu itu di sana, ia tetap sibuk dengan tujuannya datang ke apartemen Rendi.
“Marsha… keluar kamu tukang selingkuh…” teriak Damar sehingga membuat keributan di dalam apartemen Rendi.
“Marsha…” Damar berteriak sambil mencari-cari keberadaan Marsha.
Pembantu tadi yang merasa heran dengan sikap Damar akhirnya mengerti juga situasi seperti apa ini, karena sudah paham akan situasi ini, pembantu itu diam membisu.
Damar mengedarkan matanya kesetiap ruangan termasuk kamar-kamar di apartemen itu, namun kamar itu tidak di kunci dan kosong.
“Dimana mereka ?” Damar masih melangkahkan kakinya sampai ke belakang balkon apartemen. Di sana Damar mendengar desahan-desahan yang membuat telinganya semakin panas.
“Ahh… sayang jangan cepat-cepat ! itu aku sakit…” meskipun Marsha mengatakan itu tapi dia begitu menikmati aktivitas mereka.
“Tidak bisa Baby ! punyamu selalu membuatku ketagihan, ahh…” jawab Rendi.
“Ahh… sayang payudara aku sakit, tangan kamu juga kekencengan di sana… !” ucap Marsha lagi.
“Habisnya bagian sini juga bikin aku nafsu Baby, ahh…” ucap Rendi lagi dengan suara nakal.
Ternyata mereka sedang bercumbu di sofa yang terletak di balkon belakang. Mendengar hal itu emosi Damar sudah berada di ubun-ubun. Damar pun tidak tahan lagi, dia langsung menghampiri pasangan yang berselingkuh itu.
“Dasar tukang selingkuh !” ucap Damar yang tiba-tiba datang.
Sontak saja kedatangan Damar membuat Marsha dan Rendi yang sedang bercinta langsung melepas tiba-tiba penyatuan tubuh mereka, mereka dalam keadaan tanpa busana.
“Pengkhianat ! aku tidak percaya akan melihat adegan langsung ini ?” ucap Damar dengan nada tinggi.
__ADS_1
Rendi dan Marsha merasa kelimpungan. Mereka tidak bisa mengelak karena mereka sudah tertangkap basah.