My Honey Ardina

My Honey Ardina
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Ardina dan Damar masih melajukan mobilnya, sebentar lagi mobil itu akan sampai di pertigaan, Rendi langsung menancapkan gas mendahului mobil Damar.


“Malam ini akan ku kirim kau ke neraka Damar !” geram Rendi. Mobil Rendi melaju semakin kencang, saat mobilnya sudah sejajar dengan mobil Damar, Rendi pun semakin memojokkan mobil itu. Damar dan Ardina kaget merasakan situasi ini.


“Pak Damar kenapa mobil itu sepertinya ingin mencelakai mobil kita ?” Ardina merasa ketakutan.


Damar mengalihkan pandangan matanya ke mobil yang semakin memojokkan mobilnya.


“Ardina ! jika aku tidak salah menebak, mungkin sebentar lagi mobil itu akan menabrak mobil kita,” Damar pun berinisiatif menghentikan mobilnya tiba-tiba. Langsung ia rem full mobilnya itu.


“Sayang kenapa mobil Damar berhenti ?” ucap Marsha yang melihat mobil Damar tiba-tiba berhenti.


“Baby kita sepertinya salah langkah, seharusnya tadi tidak usah aku pojokkan mobil Damar,” Rendi masih melajukan mobilnya.


“Bagaimana ini ? apa rencana kita menabraknya tidak berhasil,” Marsha merasa ketakutan. “Aku takut dia tau kalau yang tadi memojokkan mobilnya adalah mobilku sayang,” Marsha benar-benar kwatir.


“Jangan kwatir Baby, kita hadapi dia bila perlu dengan kekerasan,” Rendi menghela nafas kasar.


Ardina sempat memperhatikan plat mobil yang tadi ingin mencelakai mobil mereka. Ardina yang yang memiliki otak cerdas tentu saja langsung hafal nomor plat itu.


“Pak aku ingat nomor plat itu, aku akan mencari tau pemilik mobil itu,” kata Ardina.


“Lakukanlah pekerjaanmu dengan baik !” setelah situasi aman, Damar melajukan mobilnya kembali. Sementara Rendi dan Marsha gagal melancarkan aksinya malam ini.


Mobil Damar sudah sampai di kontrakan kecil milik Ardina.


“Cepat keluar ! aku lelah, aku ingin tidur !” titah Damar.


“Baik pak,” Ardina menurut, ia keluar dari mobil Damar. “Sampai ketemu besok pagi pak Damar,” lanjut Ardina tapi perkataan Ardina tidak di gubris Damar. Setelah keluarnya dari dalam mobil, Damar langsung melajukan mobilnya kembali.


“Aku akan membuktikan ucapanku mas Damar, jika besok kamu masih sama seperti kemaren dan tadi maka aku tidak akan tinggal diam, aku tidak takut kamu pecat,” gumam Ardina.

__ADS_1


Ardina ingat kalau ada Maira di dalam rumahnya. Ia pun mengetuk pintu dan pintu itu di buka oleh Maira.


“Kak Ardina sudah pulang ?” tanya Maira.


“Kamu sudah makan dan ganti baju ?” Ardina malah bertanya balik ke Maira.


“Iya kak, baju kakak aku pinjam dan aku tadi makan makanan di atas meja makan kakak,” Maira hanya menjawab sambil menunduk.


“Tidak papa, apa kamu sudah lama menungguku ?” tanya Ardina lagi.


“Tidak juga kak, apa aku boleh bertanya pada kakak ?”


“Tanya apa ?”


“Apa laki-laki yang memesanku tadi tidak marah ? orang-orang club mengatakan dia bukan pria sembarangan,”


“Jelas dia sangat marah, tapi kamu tenang saja ! semua sudah aku atasi,”


“Sama-sama Maira, oh ya Maira besok aku akan ke kantor polisi untuk melaporkan perbuatan ayah tirimu itu ! dengan begitu kamu akan mendapat perlindungan dari komisi perlindungan anak, jadi kamu siap-siap ya besok pagi !”


“Terima kasih kak, aku beruntung bertemu kakak,”


“Kalau begitu kamu tidurlah, aku akan ganti baju dulu baru aku tidur !”


“Baik kak,” jawab Maira menurut.


Saat pagi sudah menjelang, Ardina dan Maira berangkat ke kantor polisi untuk melaporkan perbuatan ayah tiri Maira itu. Setelah mendapat laporan, polisi langsung memproses laporan mereka secepat mungkin.


“Maira, kamu harus kuat menghadapi semua ini ya, ini adalah cara Tuhan mendidik kamu menjadi dewasa, setelah ayah tirimu nanti di tangkap maka kamu akan mendapat perlindungan dan jaminan dari komisi perlindungan anak,” Ardina memeluk Maira. Mereka saling mengucapkan salam perpisahan di kantor polisi.


“Terima kasih atas segalanya kak, aku tidak akan melupakan kak Ardina, jika aku besar nanti aku akan membalas kebaikan kakak,” Maira membalas pelukan Ardina.

__ADS_1


“Sukseslah lebih dulu baru kamu bisa membalas kebaikanku ! kalau kamu merindukanku, kamu hanya perlu menghubungiku ! nomor HP ku tadi yang ku berikan padamu tidak akan pernah ku ganti sampai kapanpun,” ucap Ardina.


“Tentu kak, aku akan segera menghubungimu kembali,” setelah mereka saling mengucapkan salam perpisahan di kantor polisi maka tugas Ardina selesai. Maira kini sudah menjadi tanggung jawab komisi perlindungan anak.


Di kantor polisi tadi Ardina juga sudah mencari tau mengenai pemilik mobil yang ingin mencelakai mereka tadi malam. Ternyata mobil itu milik Marsha, dan tentunya Marsha tadi malam tidak sendiri, dia pasti bersama Rendi pikir Ardina. Setelah menyelesaikan urusannya di kantor polisi, pagi ini Ardina langsung bergegas menemui Damar di kantor, ia berharap Damar hari ini sudah masuk kerja.


Sesampai di kantor, Ardina nyatanya tidak melihat Damar. Di lobi, di ruang CEO bahkan dimana pun, batang hidung Damar tidak kelihatan.


“Apa mas Damar tidak masuk kantor lagi hari ini ? apa aku harus menyeretnya lagi agar kembali ke kantor ?” Ardina berencana akan pergi ke hotel tempat Damar menginap. Ia pun turun ke lantai dasar menggunakan lift.


Ting


Pintu lift terbuka dan di dalam lift keluarlah Candra. Wajahnya tampak lesu. Candra keluar dari lift dengan muka kusutnya, ia bahkan tidak menyadari kehadiran Ardina yang ada di hadapannya. Ardina heran melihat wajah Candra begitu.


“Pak Candra !” Ardina memutuskan mengagetkan Candra dengan menepuk bahunya. Candra pun kaget.


“Ardina !”


“Apa yang bapak lakukan di lantai paling atas ? bukankah ruangan bapak bukan ada di lantai ini ?” mendengar ucapan Ardina, Candra pun sadar akan kepikunannya.


“Maaf Ardina aku sedang tidak fokus ?” ucap Candra.


“Apa pak Candra sedang memikirkan pak Damar sehingga bapak sampai begini ?” Ardina hanya menebak.


“Aku sudah tidak mau ikut campur masalah Damar lagi, ada urusan yang lebih penting dari itu,” kata Candra.


“Urusan apa pak ?” Ardina penasaran.


“Maaf Ardina aku tidak bisa mengatakannya, ya sudah Ardina aku mau kembali ke ruanganku, jangan bertanya apapun lagi padaku ! aku ingin menenangkan pikiranku hari ini !” Candra kembali masuk ke dalam lift bersama Ardina. Ardina pun hanya diam, dia tidak tertarik ikut campur urusan Candra. Bagi Ardina urusan Damar jauh lebih penting. mereka berdua saling diam di dalam lift.


“Kenapa kamu kembali Talita ? harus ku apakan hatiku ini ? kenapa kamu tiba-tiba muncul di depan pintu rumah ku kemaren dan dengan gampangnya kamu mengatakan kembali ke Indonesia karena ingin menemuiku ? apakah ucapanmu benar Talita ? bukankah kamu selalu menolakku dulu ? bukankah di hatimu cuma ada Damar ? apa yang kamu inginkan sebenarnya dariku Talita ?” batin Candra.

__ADS_1


__ADS_2