My Honey Ardina

My Honey Ardina
Bersatu


__ADS_3

Besok harinya Ardina kembali mengemas barang-barangnya. Hari ini ia akan pergi ke Papua. Orangtuanya mengantar Ardina ke bandara.


“Jaga dirimu baik-baik Ardina !” titah sang Papa.


“Mama dan Papa juga jaga kesehatan ya ? aku akan mengunjungi kalian bulan depan,” ucap Ardina.


“Iya sayang, semoga kamu tidak betah disana biar kamu kembali lagi ke Bandung,” doa sang Mama.


“Mama kok doain aku tidak baik gitu ?” protes Ardina.


“Demi kebaikanmu sayang,” ucap Mama.


Pesawat yang di tumpangi Ardina sebentar lagi lepas landas. Hati Ardina terasa sangat kacau.


“Pergi tidak ya ?” Ardina mulai ragu-ragu.


“Aku tidak jadi pergi aja,” Ardina terlihat ingin beranjak dari tempat duduk nya namun pramugari segera menyuruhnya duduk. Pramugari mengatakan padanya pesawat akan segera lepas landas. Kini Ardina mau tidak mau harus pergi. Ia menyesali keputusan gegabahnya itu.


Setelah lebih dari lima jam pesawat itu mengudara, pesawat itu akhirnya mendarat juga. Semua penumpang turun dari pesawat. Dengan langkah gontai Ardina turun juga dari pesawat.


“Aku harus beli tiket lagi ! hatiku mengatakan aku harus pergi ke Jakarta lagi, aku benar-benar merindukan mas Damar, aku mencintai dia, aku tidak bisa melupakannya meskipun aku sedang berusaha, apa aku memohon saja padanya untuk menerima aku ?” batin Ardina.


Ardina pun segera bergegas membeli tiket pesawat lagi. Saat ia menarik kopernya langkah Ardina langsung terhenti, di depannya sekitar 10 meter Ardina tidak sengaja melihat Damar. Damar tersenyum kearahnya.

__ADS_1


“Apa aku sudah gila ? bayangan mas Damar hadir lagi padahal kan dia ada di Jakarta,” Ardina meruntuki dirinya sendiri, ia pun tidak menghiraukan keberadaan Damar, Ardina terus melangkah ke depan, namun…


Bruk…


“Au...” pekik Ardina.


Ardina terkejut kepalanya sakit menabrak dada itu. “Apa ini nyata ?” Ardina mendongakkan kepalanya, Damar masih tersenyum ke arahnya.


“Kamu akhirnya datang juga ? baru pulang ke Bandung dan sekarang kamu mau pergi lagi ? untung Candra dengan cepat mendapatkan informasi kalau kamu akan bekerja di Papua mulai hari ini,” kata Damar.


“Mas Damar ?”


“Setelah mengirimiku surat cinta harus nya kamu bertanggung jawab ! kamu bahkan sudah memberitahukan Daddy dan Mommy kalau kamu menyukaiku, jangan salahkan aku kalau mereka meminta aku menikahimu ! ayo pergi dari sini, kamu di pecat dari rumah sakit itu !” Damar menggenggam tangan Ardina, Ardina masih bingung mengenai situasi seperti apakah itu.


“Maksud mas Damar ?” meskipun ia tengah bingung tapi Ardina tidak menolak sama sekali perlakuan Damar.


“Apa yang membuat mas melakukan semua ini, mas mau bawa aku ke mana ?” Ardina di bawa oleh Damar berjalan menuju tempat landasan, kini mereka sudah sampai di depan sebuah pesawat pribadi milik Kingdom Company yang sudah terparkir di bandara itu.


Setelah menyeret Ardina mendekati pesawat, Damar lalu berhenti dan memeluk Ardina dengan erat.


“Apa kamu sangat bodoh ? apa kebodohanmu melebihi kebodohanku sehingga tidak mengerti maksudku ? kamu itu dokter kenapa otakmu tidak bisa cepat tanggap dengan sebuah pernyataan cinta ?” ucap Damar dengan lembut.


“Pernyataan cinta ?”

__ADS_1


“Aku mencintaimu Ardina, aku ingin menikahimu ! aku tidak ingin kehilanganmu ! maafkan aku ! maaf karena aku baru menyadari semua perasaanku sekarang,” kata Damar lagi.


Ardina hanya diam.


“Dengar Ardina ! jika pun kamu menolakku aku tetap akan memaksamu menjadi milikku, aku tidak menerima penolakan, tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang termasuk kamu sendiri,”


Ardina membalas pelukan Damar.


“Siapa yang mau menolak mas Damar ? bukankah mas Damar juga tau kalau aku mencintai mu mas ? aku mencintaimu, makasih ya mas sudah menyusulku, padahal aku sekarang berencana kembali ke Jakarta,”


Damar kaget mendengar ucapan Ardina, ternyata Ardina tadi ingin putar balik lagi ke Jakarta.


“Benarkah ?” tanya Damar memastikan.


“Iya mas, aku tidak bisa jauh darimu, aku akan ikut kemanapun kamu pergi, aku mau menikah denganmu,”


Damar begitu senang mendengar penuturan Ardina barusan. Damar pun melepaskan pelukannya. Dengan tiba-tiba sebuah ciuman ia berikan pada Ardina.


Cup…


“Ciuman tadi untukmu, mulai sekarang kamu milikku,” pipi Ardina memerah mendengar ucapan Damar.


“Setiap hari aku akan memberikanmu ciuman, bahkan lebih dari itu, siap-siap sampai di Jakarta kita akan menikah, Candra sudah mengurus semuanya, nanti malam bersiaplah ! aku tidak akan melepaskanmu meskipun kamu merintih semalaman,” kata-kata Damar itu berhasil membuat pipi Ardina semakin memerah bagai tomat.

__ADS_1


Ardina dan Damar akhirnya masuk ke dalam pesawat. Sungguh Ardina bahagia di tempat pelariannya dulu dia menemukan cinta yang baru. Cinta pengganti itu bahkan lebih dari yang Ardina harapkan. Damar juga tidak menyangka akan mendapat sebuah cinta yang tulus setelah dia pernah di lukai. Ardina dan Damar berharap hubungan mereka setelah ini akan selalu romantis dan baik-baik saja. Mengenai kelanjutan hidup mereka, silahkan para pembaca membayangkannya sendiri !! he he


#Selesai#


__ADS_2