My Honey Ardina

My Honey Ardina
Datang Lalu Pergi Lagi


__ADS_3

Ardina sekarang tengah berbahagia karena sudah berkumpul di tengah-tengah keluarganya. Saat kemaren Ardina pulang, kedua orangtuanya begitu kaget bercampur bahagia. Ardina menjelaskan pada orangtuanya kalau dia sudah tidak sakit hati lagi, ia sudah ikhlas atas pernikahan kedua sahabatnya itu. Kedua orangtuanya sangat bahagia akhirnya sikap putri mereka kembali seperti dulu. Ardina melarang kedua orangtua nya memberi tahu Rizky dan Ririn atas kepulangannya, Ardina ingin memberikan kejutan pada mereka siang ini atas kedatangannya. Orangtua Ardina setuju. Ardina belum memberitahukan kedua orangtuanya mengenai Damar.


Siang ini dengan dandanan yang natural namun sangat cantik Ardina mengemudikan mobil nya yang dulu untuk datang ke rumah sakit. Ardina masih belum tau apakah ia akan bekerja kembali atau tidak di rumah sakit itu, tapi kedatangannya kali ini hanya untuk bertemu dengan dua sahabatnya itu.


Sesampai di rumah sakit Ardina memarkirkan mobilnya. Setelah itu ia melangkahkan kakinya menuju tempat dua sahabatnya bertugas. Dimana lagi kalau bukan IGD. Ardina melihat suasana IGD yang ia rindukan, di mana ia dulu mengobati pasien-pasiennya yang gawat darurat. Ardina juga melihat Rizky dan Ririn tengah sibuk memeriksa pasiennya. Setengah jam Ardina berdiri menatap mereka namun Rizky dan Ririn belum menyadari kehadiran Ardina. Ardina masih betah saja berdiri di sana.


Setelah menangani pasiennya, mata Rizky tidak sengaja melihat Ardina.


“Ardina ?” Rizky tidak menyangka melihat Ardina kembali di sana. Wajah sahabat yang telah memberikan kebahagiaan untuknya dulu.


Mendengar Rizky memanggil nama Ardina membuat Ririn kaget. Ririn yang sekarang tengah berada di dekat Rizky akhirnya juga mengarahkan pandangannya ke arah pandangan yang di tuju Rizky.


“Sayang itu Ardina ?” ucap Ririn. Rizky dan Ririn lalu berlari ke arah Ardina. Sesampai di sana mereka berdua langsung memeluk Ardina.


“Ardina kamu kemana saja ? kami merindukanmu ?” Ririn menangis saat Ardina membalas pelukannya.


“Kamu jahat ! apa kamu ingin melihat kami bercerai ? hampir saja anak kami yang belum lahir kehilangan keluarganya yang utuh,” Rizky juga menangis, meskipun ucapannya begitu pedas namun ia benar-benar merindukan Ardina.


“Aku ke sini untuk melihat koponakanku, maafkan aku karena baru kembali ? aku janji tidak akan pergi lagi,” Ardina menitikkan air matanya juga.


“Ayo kita ke ruangan ku, kita bicara di sana !” Rizky menarik tangan Ardina menuju ruangannya dan Ririn mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Di sana mereka bertukar cerita. Ardina menceritakan semua yang dia lakukan di tempat pelariannya. Termasuk tentang Damar.


“Apa kamu begitu mencintai Damar ?” tanya Rizky.


Ardina mengangguk. “Perasaan ini tidak pernah ku rasakan sebelumnya, dulu waktu aku merasa menyukaimu, aku tidak pernah sekacau ini, aku bahkan sangat merindukannya sekarang,” jawab Ardina.


“Apa kamu berencana kembali lagi ke Jakarta ? apa kamu tidak ingin kembali bekerja di rumah sakit ini lagi ?” tanya Ririn.


“Aku masih bingung dengan keputusanku, aku belum bisa menetukan pilihan kedepannya,” ucap Ardina.


“Apa dia juga mencintaimu ?” tanya Rizky memastikan.


Ardina menggeleng.


Ardina hanya diam. Ardina merasa apa yang di ucapkan Ririn benar. Ardina tidak ingin kecewa lagi.


Setelah temu kangen dengan dua sahabatnya, Ardina lalu pulang ke rumah. Ia senang bisa mengikhlaskan Rizky hidup bahagia bersama Ririn tanpa rasa kecewa lagi. Kini di rumahnya Ardina hanya berbaring lesu dan malas-malasan.


“Apa aku pergi jauh saja dari sini agar aku melupakan cintaku yang tidak jelas ini ?” pikiran Ardina untuk kembali pergi datang lagi. Entahlah apa yang terjadi padanya setiap kali dia kesulitan dia selalu berpikir untuk pergi.


“Baiklah ! aku sebaiknya pergi lagi,” keputusan Ardina sudah bulat.

__ADS_1


Ia tidak ingin kali ini pergi tanpa pamit dengan kedua orangtuanya karena itu ia akan memberitahu kedua orangtuanya kali ini. Malam ini di meja makan Ardina sedang mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan keinginannya tanpa menyebut nama Damar. Selesai makan malam, Ardina mulai mengutarakan keinginannya.


“Mama Papa, Ardina sudah memutuskan akan bekerja di salah satu rumah sakit di Papua, salah satu cabang rumah sakit Harapan Bangsa,” kata Ardina. Rumah sakit Harapan Bangsa tempat Ardina bekerja dulu memiliki beberapa cabang di seluruh Indonesia termasuk di Papua.


“Apa ? Ardina kamu baru kembali kemaren kenapa sekarang mau pergi lagi ? apa kamu sudah mengirim surat lamaran lagi ke rumah sakit tempatmu bekerja dulu ? apa surat lamaran kerja kamu yang baru sudah di setujui ?” sebenarnya Mama dan Papa Ardina tidak ingin anaknya pergi lagi.


“Ardina tadi siang sudah mengirim surat lamaran Ardina, karena Ardina pernah bekerja di sana dan pekerjaan Ardina dulu sangat memuaskan, mereka langsung setuju menerima Ardina kembali,” Ardina menyesal membuat keputusan sepihak. “Mama dan Papa tenang saja, Ardina akan pulang sebulan sekali, rumah sakit di sana sangat memerlukan Ardina,” Ardina berusaha meyakinkan kedua orangtuanya.


“Nak, kami tidak bisa hidup tanpamu, apa harus kamu pergi, jujur saja kami keberatan,” kata Papa Ardina.


Ardina hanya diam, ia sadar kedua orangtuanya memang masih belum rela membiarkan dia pergi lagi terlebih dia baru saja kembali. Melihat ekspresi Ardina sendu kedua orangtuanya merasa tidak tega.


“Apa ada hal yang membuatmu ingin pergi lagi ?” firasat orangtua tidak pernah salah.


“Tidak ada Ma Pa,” ucap Ardina bohong.


Papa dan Mama nya tau kalau Ardina sekarang sedang berbohong namun mereka juga tidak ingin memaksa Ardina bercerita.


“Baiklah ! kami akan mengizinkanmu ke Papua asal kamu harus menemui kami sebulan sekali, kapan kamu berangkat ?” Ardina senang akhirnya Papa nya menginzkan dia pergi.


“Besok pagi Pa Ma,” kedua orangtua Ardina kembali terkejut, bagaimana mungkin Ardina sudah tidak sabaran lagi untuk pergi padahal dia baru saja kembali.

__ADS_1


Mereka sudah tidak bisa lagi mencabut izin tadi, “Baiklah nak, tapi ingat pesan kami tadi ya ?” kata Papa Ardina lagi.


“Terima kasih Ma Pa,” Ardina senang sudah mendapat izin.


__ADS_2