My Honey Ardina

My Honey Ardina
Berubah


__ADS_3

Sebagai sekretaris, Ardina hanya bisa menuruti keinginan Damar. Ardina mengurus surat perceraian Damar dan ia menghancurkan perusahaan milik orangtua Marsha dalam sekejab.


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi Marsha, ayah Marsha sangat kecewa karena atas perintah Damar, Ardina sudah membuat perusahaan itu bangkrut.


“Kamu benar-benar bodoh Marsha ! sekarang apa yang harus kita lakukan ? semua telah lenyap, sekretaris Damar tadi sudah mengambil semuanya,” sungguh ayah Marsha marah besar, Marsha hanya bisa meringis kesakitan, ia tidak menyangka pembalasan Damar begitu mengerikan.


Drutt…


Di tengah-tengah kemarahan ayahnya, HP Marsha tiba-tiba berbunyi. Rendi yang menelpon.


“Marsha ! Damar benar-benar gila ! apa kamu tau apa yang dia lakukan padaku ? dia mengeluarkanku sekejab dari dunia balap, karir ku hancur ! bahkan aku sekarang tengah di rumah sakit, aku habis di kroyok oleh orang-orang Damar,” lutut Marsha semakin lemas mendengar penuturan Rendi. Marsha mengepalkan tangannya.


Sementara itu di rumah kontrakannya, Ardina sedang termenung.“Kenapa tanganku gemetar ? aku seperti monster sekarang, apa aku sudah melakukannya ?” Ardina tidak menyangka bahwa dirinya berhasil melaksanakan perintah Damar, ini pertama kalinya Ardina berbuat jahat.


Lalu apa yang terjadi pada Damar ? setelah tadi siang memergoki istrinya selingkuh, malam ini dia tengah mabuk-mabukan di club malam. Banyak panggilan di HP nya yang tak terjawab, Damar malas mengangkatnya, entah siapa-siapa saja yang menelponnya. Damar yang tidak pernah mabuk malam ini benar-benar kehilangan kesadarnya, dia meracau tidak jelas sambil memeluk dua wanita malam yang seksi. Tidak tahan akan sensasi mabuk, Damar mengajak salah satu dari wanita itu untuk menemaninya tidur, mereka melakukannya di salah satu kamar pelanggan club malam tersebut.


“Ahh… pelan-pelan,” Damar benar-benar kasar melakukannya dengan wanita malam itu, wanita itu meringis kesakitan.


“Sakit… lepaskan milik tuan…” wanita itu tidak tahan lagi, namun Damar tetap memompa dengan kasar dan cepat, sungguh wanita itu tersiksa.


“Kalian pantas di perlakukan seperti ini !” Damar benar-benar telah berubah.


“Tuan ku mohon hentikan… sakit… ahh…” saking tidak kuat lagi wanita itu pingsan, melihat wanita itu pingsan Damar langsung melepaskan miliknya dari wanita itu. Terlihat keluar darah dari dalam milik wanita itu, bukan darah keperawanan tapi darah akibat perlakuan kasar Damar di milik wanita itu.


“Merepotkan saja wanita ini ! belum sejam dia sudah pingsan,” Damar langsung memasang kembali pakaiannya, ia meninggalkan wanita malam yang sedang pingsan itu. Pemilik club itu sampai geleng-geleng kepala melihat Damar yang begitu kasar saat bercinta namun mereka tidak protes karena Damar membayar mereka dengan mahal.

__ADS_1


“Wanita itu payah, belum apa-apa sudah pingsan ! carikan aku penggantinya sekarang juga ! akan ku hancurkan club ini jika kalian membantah !” mereka yang tau siapa Damar hanya bisa menurut.


Lagi-lagi Damar bermain kasar dengan wanita malam yang baru di bawa masuk ke kamar yang lain.


“Tuan… sakit…” wanita malam itu sampai menangis meringis kesakitan.


“Kalian para wanita tugasnya hanya melayani nafsu pria kaya seperti ku ! aku sudah membayar mahal, jadi puaskan aku ! jangan protes !” ucap Damar yang masih memompa kasar.


Wanita malam itu hanya pasrah, dia sudah kehabisan tenaga, perlahan kesadarannya mulai hilang, dia pingsan.


“Payah ! sama saja seperti wanita yang tadi !” Damar lalu bangkit dari wanita malam yang pingsan itu. Sudah dua wanita yang ia buat pingsan malam ini. Damar memasang pakaiannya lagi.


“Pelayanan di sini benar-benar payah !” Damar marah besar ke pemilik club itu.


“Saya akan menggantikannya lagi tuan !” sungguh mereka baru melihat pria paling biadab yang pernah ada.


Setelah meluapkan kekesalannya di club malam itu, pukul 2 dini hari Damar baru pulang ke apartemennya. Kemarahannya kembali memuncak setelah melihat Marsha ada di dalam apartemen itu.


“Apa yang kamu lakukan disini ! bukankah hubungan kita sudah berakhir sejak tadi siang ?” teriak Damar. Para pembantu yang tau bahwa kedua majikan mereka akan segera perang, mereka mengurung diri di kamar dan tidak berani keluar menyaksikan pertengkaran hebat itu.


“Maaf kan aku Damar ! aku bersalah ! tolong jangan hancurkan perusahaan ayahku !” Marsha bahkan berlutut di kaki Damar, tangan Damar sudah mengepal, di ruang tamu apartemen itu pasti malam ini akan terjadi hal yang mengerikan.


“Jangan sentuh aku wanita hina ! aku membenci wanita sepertimu !”Damar menendang Marsha sangat keras agar tangan Marsha lepas dari kakinya.


“Aku rela melakukan apa saja Damar, tolong ampuni aku !” dengan tangisnya yang keras, Marsha masih tetap memohon ke Damar.


“Akan ku buat kau menyesali perbuatanmu !” emosi Damar benar-benar sudah di ubun-ubunnya. “Sini kau !” Damar menyeret paksa Marsha keatas sofa, ia merobek seluruh pakaian Marsha dengan kasar. “Tubuhmu ini sangat hina ! sangat tidak berharga ! bahkan banyak laki-laki hina yang sudah menyentuhnya ! akan ku buat kau malam ini trauma di sentuh laki-laki !” ancam Damar, itu bukan ancaman tapi sebuah kenyataan. Damar pun membuktikannya, ia memperkosa Marsha dengan sadis. Tidak ada perlakuan lembut untuk Marsha. Bibir Marsha sudah agak berdarah ia gigit, Marsha mengerang saat payudaranya di remas kasar oleh Damar, terlebih lagi Damar menjamah miliknya dengan sangat kasar juga.

__ADS_1


“Maafkan aku Damar… hentikan… sakit…” ringis Marsha di bawah dekapan Damar, sofa itu seakan mau patah karena pergulatan panas dan kasar Damar.


Damar mengacuhkan Marsha yang sedang memohon. Ia terus memompa dengan kasar, Marsha sudah tidak tahan lagi menahan sakit, kesadaran Marsha perlahan hilang. Melihat Marsha sudah tak sadarkan diri, Damar langsung melepaskan penyatuannya. “Itu hukuman untukmu ! aku sangat benci di bohongi ! tapi kau berani main-main denganku !” tentu saja kata-kata Damar barusan tak di dengar oleh Marsha karena ia pingsan. Damar meninggalkan Marsha di sana dalam keadaan begitu. Ia sama sekali tidak memperdulikan kondisi Marsha.


Pagi harinya para pembantu benar-benar di kejutkan dengan kondisi Marsha di sofa ruang tamu yang mengenaskan, mereka akhirnya menghubungi dokter. Damar di mana ? setelah Marsha pingsan tadi malam, Damar keluar dari apartemen itu, ia menginap di hotelnya, ia tidak sudi lagi tinggal di apartemennya itu.


Drutt….


Lagi-lagi panggilan dari HP Damar tidak di hiraukan oleh Damar, sudah hampir ratusan panggilan tak terjawab yang masuk. Damar malah sibuk dengan tidur malasnya di hotel. Keadaan Damar masih kacau.


“Telpon dariku dari kemaren masih tidak di angkat,” ucap Ardina kepada Candra. Ya, Ardina dan Candra yang sedang berada di kantor, tepatnya di ruangan Damar, mereka sedang sangat mengkwatirkan Damar.


“Ardina kita harus mencari tau di mana keberadaan Damar, aku sangat mengenalnya, dia sangat mengerikan jika marah, aku tidak bisa membayangkan apa yang ia lakukan dari kemaren untuk melampiaskan kemarahannya,” Candra mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.


“Akan ku hubungi beberapa anak buah pak Damar,” Ardina mendapatkan solusi terbaik, ia berharap akan segera mengetahui dimana Damar berada sekarang.


“Ardina ! aku akan menghendle semua pekerjaan kantor, tugasmu sekarang hanya menenangkan Damar !”


“Apa kita tidak sebaiknya memberitahukan ini ke orangtua pak Damar ?”


“Tidak perlu ! Damar hanya akan makin marah jika orangtuanya tau akan hal ini !”


“Baiklah kalau begitu !”


“Pasti kamu sekarang tengah ketakutan ? apalagi kamu menyaksikan sendiri kehancuran perusahaan orangtua Marsha dan kehancuran karir Rendi !”


“Tapi mereka pantas mendapatkannya pak Candra,”

__ADS_1


“Bersabarlah Ardina, pasti semuanya akan cepat berlalu !” Candra berusaha menguatkan Ardina, setidaknya saat Damar sedang seperti ini, Candra tidak kerepotan sendiri, ada Ardina yang menemaninya di saat seperti ini.


__ADS_2