My Honey Ardina

My Honey Ardina
Lampiaskan


__ADS_3

Ardina sampai hari ini belum mengatakan pada siapapun bahwa dialah si pengirim paket itu.


“Ardina ? aku masih penasaran, dari mana paket itu berasal !” tanya Candra. Ardina terdiam, ia tidak berani angkat bicara.


“Entahlah pak ! itu tidak penting sekarang pak, ada hal yang jauh lebih penting lagi dari ini yaitu keadaan pak Damar,” Ardina berusaha mengalihkan pembicaraan agar Candra tidak penasaran akan hal itu.


Hari ini Ardina sangat terkejut mendapat laporan dari anak buah Damar tentang apa yang di lakukan Damar tadi malam. Ardina menitikkan air matanya setelah menerima laporan itu.


“Kemana mas Damar yang hangat itu ! tidak akan ku biarkan emosinya semakin menyala ! aku harus menemuinya nanti malam !” Ardina benar-benar menyalahkan dirinya, harusnya Damar tidak usah tau atas perselingkuhan Marsha.


Rendi benar-benar terkejut mendapat telpon dari Marsha terlebih Marsha menceritakan apa yang di lakukan Damar padanya tadi malam. “Kita bunuh saja dia Baby, semuanya sudah terlanjur runyam, kita balas perbuatannya !” Marsha benar-benar senang atas saran Rendi, Marsha sangat membenci Damar sekarang meskipun semua kesalahan berawal dari diri Marsha sendiri.


Malam ini, Damar melakukan kegiatannya lagi seperti malam kemarin. Dia sudah berada di club malam lain, bukan club malam yang kemarin. Sambil meneguk alkohol, ia tengah menanti wanita yang akan menjadi pelampiasannya lagi.


“Apa kamu yakin bahwa dia perawan ? aku hanya ingin menyentuh gadis perawan !” kata Damar kepada pemilik club malam itu.


“Sangat yakin tuan, dia baru di jual pada kami dari beberapa hari yang lalu, dia masih muda, masih berusia 16 tahun,” pemilik club malam itu tau kalau pria kaya hidung belang paling suka dengan daun muda apalagi masih perawan.


“Apa kamu gila menyuruhku tidur dengan wanita remaja ?” teriak Damar.


“Tapi hanya dia yang perawan tuan, kecuali tuan mau menunggu besok lagi untuk memberikan kami waktu mencari wanita yang tuan inginkan !”


“Tidak perlu ! bawakan saja dia untukku !”


“Baik tuan ! wanita itu akan kami bawa ke kamar tuan,” pemilik club itu bergegas menjemput wanita yang ia maksud.


Seluruh orang di ruang rias dan club tengah panik karena wanita yang di pesan Damar berhasil kabur bahkan sebelum wanita itu di bawa ke Damar, mereka berusaha menemukan wanita itu kesana kemari sebelum Damar tau bahwa wanita yang akan ia tiduri sebenarnya menghilang.

__ADS_1


“Cari gadis itu sampai dapat, jika tuan Damar tau maka habislah kita !” titah sang pemilik club, seluruh anak buahnya mencari sampai ke luar club.


Terlihat wanita muda berpakaian sangat terbuka tengah terseok-seok berlari keluar dari club sambil menangis.


Brukk….


Wanita muda itu tidak sengaja menabrak seseorang.


“Kamu tidak papa ?” yang tidak sengaja ia tabrak adalah Ardina, Ardina mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu bangun. Ardina kasihan melihat gadis itu menangis. “Gadis ini ? bukankah dia yang kulihat kemaren pagi ! dia gadis remaja yang di tarik oleh bapak-bapak waktu itu !” batin Ardina.


Gadis remaja itu menerima uluran tangan Ardina. “Terima kasih ?” ucap gadis itu.


“Nama kamu siapa ?” tanya Ardina. “Aku Maira,” jawabnya singkat.


“Maira !” anak buah sang pemilik club malam itu menemukan Maira, ternyata Maira lari tidak jauh dari sana.


“Mau kemana kamu ! ayo ikut kami !” pria berbadan kekar itu ingin menarik tangan Maira.


“Apa dia akan di bawa kepada pak Damar ?” tanya Ardina tiba-tiba. Maira baru tau kalau nama pria yang akan ia layani adalah Damar, apa wanita yang tidak sengaja ia tabrak tadi adalah suruhan Damar untuk menemukannya pikir Maira.


“Saya Ardina, sekretarisnya pak Damar, lepaskan gadis ini !” perintah Ardina.


“Tidak bisa nona, kami masih sayang nyawa kami, pak Damar akan membunuh kami jika wanita yang ia pesan ternyata kabur, ”


“Kalian jangan takut, aku yang akan bertanggung jawab !” ucap Ardina, pandangan Ardina lalu beralih ke Maira. “Pergilah ! lain kali jangan sampai kamu terdampar di tempat hina seperti ini lagi !” Maira terdiam. “Apa kamu tidak mendengarkan aku !” tanya Ardina lagi kepada Maira.


Maira lalu menangis, “yang menjualku ke sini adalah ayah tiriku, ibuku sudah meninggal, ayahku juga sudah meninggal, aku tidak punya tempat untuk pergi !” mendengar perkataan Maira membuat Ardina kasihan padanya.

__ADS_1


“Ya sudah, kamu pulang saja ke rumah ku, alamatnya jalan Mawar No. 4, itu hanya kontrakan kecil, aku akan memberhentikan taksi untukmu, kita bicara lagi nanti ! karena ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan sekarang !” Ardina lalu menghentikan taksi untuk Maira, setelah taksi yang di tumpangi Maira jauh, dia lalu masuk ke club.


Ardina berhasil meyakinkan pemilik club dan anak buahnya untuk menggantikan gadis itu masuk ke kamar yang sudah di pesan Damar.


Untung saja tadi siang Ardina berhasil menyuruh anak buah Damar untuk memata-matai Damar, jadi kegiatan Damar sudah di ketahui oleh Ardina.


Cklek…


Ardina masuk ke kamar itu. Ardina langsung mengunci pintu, betapa kagetnya Damar melihat yang datang bukan gadis pesanannya tapi malah Ardina.


“Apa yang kamu lakukan disini ?” ucap Damar. “Aku sudah mengatakan kalau aku tidak ingin bertemu denganmu dulu sebelum kamu melaksanakan perintahku !” nada bicara Damar masih seperti kemaren, bahkan tambah terdengar mengerikan.


Ardina berusaha bersabar dan tetap bicara lembut. “Aku sudah melaksanakan semua perintah mas Damar ! sekarang mas Damar pulanglah, mau ku antar ke hotel ? atau mas Damar ingin melampiaskan semuanya padaku malam ini ?” Damar terkejut atas apa yang di ucapkan Ardina.


“Apa kamu menyuruh anak buahku untuk memata-mataiku hari ini ? kamu bahkan tau apa yang sudah aku lakukan dari kemaren ? dengar Ardina ! jangan panggil aku mas lagi, panggil aku bapak ! aku tidak ingin akrab dengan bawahanku,” perintah Damar.


“Apa mas takut aku akan membodohi mas, baiklah ! aku akan mengerti posisiku mulai sekarang, anda puas !” Ardina menatap Damar.


“Kalau begitu bersikap lah layak nya bawahan, pulang sana ! aku ingin bersenang-senang malam ini !”


“Apa kamu akan membuat setiap wanita merintih kesakitan setiap kamu jamah ? bahkan Marsha pun sampai pingsan ?”


“Mereka pantas mendapatkannya,”


“Meskipun Marsha pantas mendapatkannya tapi wanita tidak bersalah lainnya yang kamu jadikan pelampiasan tidak pantas mendapatkannya !”


“Kamu sepertinya punya nyawa banyak ya Ardina ? keluar dari tempat ini atau aku akan berbuat lebih, apa kamu mau aku membuatmu seperti mereka ?” nada bicara Damar sudah tidak terkontrol. Api amarah di matanya sejak kemarin masih belum reda.

__ADS_1


__ADS_2