My Honey Ardina

My Honey Ardina
Pasrah


__ADS_3

Ancaman Damar tidak membuat nyali Ardina menciut, Ardina sudah memantapkan hatinya untuk mengembalikan sifat Damar yang dulu, ia melakukan itu karena Ardina merasa ikut andil dalam perubahan sikap Damar ini. Ardina mendekat ke Damar yang masih berada di dekat ranjang.


“Kalau begitu jadikan aku seperti mereka ! aku ingin lihat apakah pak Damar memang sudah berubah menjadi binatang ?”


“Jangan sampai kamu menyesal Ardina, aku bukan Damar yang dulu lagi, aku tidak akan pernah berbaik hati lagi dengan orang !”


“Jika aku malam ini sampai mati di tangan pak Damar itu artinya umurku sudah sampai,”


“Kamu terlalu banyak nyali, akan ku buat kau tidak berani membalas kata-kataku lagi !” dengan kasar Damar langsung mendorong Ardina ke atas ranjang, terlihat Ardina hanya pasrah. Damar pun menindih Ardina. Diciumnya dengan rakus bibir Ardina.


“Ini ciuman pertamaku, ini juga pertama kalinya aku melakukan hal ini dengan seorang pria, tapi aku tidak menyesalinya,” batin Ardina. Ardina pun langsung melingkarkan tangan nya ke leher Damar. Ciuman bibir mereka masih berlangsung.


“Kenapa dia begitu pasrah ku perlakukan begini ? kenapa dia seperti ikhlas begini melayaniku, lihatlah dia sekarang malah meladeni perlakuan kasarku dengan kelembutan, dia juga tidak merintih seperti wanita-wanita kemaren karena bibirnya kulumat kasar,” batin Damar. Merasakan perlakuan Ardina yang begitu lembut, entah apa yang terjadi pada Damar, ciuman yang awalnya ia berikan kasar berubah menjadi kelembutan.


“Permainannya sudah lembut, apa kemarahannya sudah reda ?” batin Ardina. Setelah Damar puas mencium bibir indah Ardina, Damar lalu memindahkan bibirnya ke leher Ardina. Di kecupnya dengan lembut leher itu sehingga banyak meninggalkan tanda kemerahan. Ardina begitu menikmati perlakuan Damar.

__ADS_1


“Kalau begini dia memperlakukanku, maka akupun tidak bisa menolak jika dia memintaku melayaninya lagi, apa perkataan ku salah ?” batin Ardina.


“Shitt, kenapa aku malah luluh begini ? kenapa aku sudah tidak marah lagi ? tidak ! hatiku tidak boleh lemah lagi !” batin Damar. Damar sudah banyak membuat tanda kepemilikan di sana. Setelah Damar menyadari api kemarahannya sudah mereda, ia pun menghentikan kegiatan panasnya. Ia langsung bangkit dari tubuh Ardina.


“Jangan lakukan ini lagi ! ayo kita pulang !” ucap Damar. Ardina masih heran atas sikap Damar.


“Apa pak Damar tidak tidak ingin melanjutkannya ?” tanya Ardina heran.


“Bangun lah ! aku tidak bernafsu menikmati tubuhmu !” Damar sebenarnya bohong, ia hanya tidak ingin hati nya lemah lagi.


Ardina bangun dari perbaringannya. Ia menunduk sedih. “Apa aku memang tidak menarik ? apa itu sebabnya calon suamiku dulu tidak mencintaiku ?” batin Ardina.


“Tidak ! aku ingin mengantar pak Damar dulu, aku takut pak Damar kembali ke tempat ini lagi !”


“Malam ini aku tidak akan ke sini lagi, mungkin malam yang lainnya lagi aku baru kesini, Ardina aku mohon jangan ikut campur urusan pribadiku ! jika kamu berani melakukannya maka aku akan memecatmu,” ancam Damar lagi.

__ADS_1


“Aku akan selalu ikut campur dalam urusan mas Damar, aku yang membuatmu begini, aku akan melakukannya sampai mas Damar kembali seperti dulu lagi,” batin Ardina.


“Aku tidak takut di pecat oleh pak Damar,” jawab Ardina singkat dengan penuh percaya diri.


“Oh ya, besok malam aku akan kembali ke sini lagi, jika kamu berani mengggangguku maka besok malam kamu akan langsung ku pecat !” ancam Damar, sorot mata Damar begitu tajam namun nyali Ardina masih besar.


“Kalau begitu aku akan kemari lagi besok malam, jika pak Damar sudah tidak begini baru aku akan berhenti,” ucap Ardina tanpa rasa takut.


“Kita lihat saja besok,” Damar lalu menarik tangan Ardina, Damar membawa Ardina keluar dari tempat itu. Malam ini Damar akan mengantar Ardina pulang.


Masih di dalam mobil Damar, sesekali Damar melihat ke arah leher Ardina yang penuh bekas kecupannya tadi. Damar terlihat kesal.


“Apa dia tidak takut padaku, aku bisa saja melahapnya sampai dia pingsan malam ini,” geram Damar dalam hati.


Dari arah belakang, Damar tidak menyadari bahwa mobil mereka di ikuti oleh sebuah mobil hitam. Ya, orang yang mengemudikan mobil itu adalah Rendi sementara Marsha ada di sebelah Rendi.

__ADS_1


“Sayang, di pertigaan jalanan yang sepi di sana langsung tabrak mobil itu, aku ingin dia mati malam ini juga !” Marsha yang sangat membenci Damar sudah tidak sabar melihat Damar mati.


“Tenang Baby, kita berdua akan mendapatkan apa yang kita berdua mau malam ini, sebentar lagi kita akan melihat mayat Damar,” Rendi dan Marsha yang tadi siang mulai memata-matai Damar akhirnya mendapat kesempatan juga untuk membunuh Damar malam ini.


__ADS_2