My Honey Ardina

My Honey Ardina
Pekerjaan Baru


__ADS_3

Setelah Ardina melamar pekerjaan baru menjadi office girl di Kingdom Company akhirnya ia di terima juga. Ia sudah boleh bekerja mulai minggu depan. Hari pertama ia bekerja, ia berusaha keras untuk beradaptasi dengan pekerjaan asing itu. Ia yang tidak pernah mengepel, menyapu, bergulat di dapur, mulai sekarang ia harus membiasakan diri. Saat ia tengah menyapu ruang divisi pemasaran tiba-tiba HP nya berbunyi.


Ting


Sebuah pesan dari rumah sakit tempatnya melamar 3 minggu yang lalu masuk.


“Maaf anda gagal dalam tes !?” itulah inti pesan tadi.


“Sudah tau, bakatku sebagai dokter sekarang tidak berguna lagi, pasrah saja lah !” Ardina menghela nafas pelan. Ia melanjutkan pekerjaan menyapunya.


Terlihat di ruang pojok, ada Candra yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Candra adalah manajer pemasaran di Kingdom Company.


“Pekerjaan ini tidak ada habis-habisnya, aku juga ingin pergi berlibur, menyebalkan,” gerutu Candra.


Candra melihat ada office girl yang sedang bersih-bersih.


“Hei kamu !” panggil Candra ke Ardina.


“Ada apa pak ?” Ardinapun menghentikan kegiatan menyapunya, ia melangkah menghampiri Candra.


“Buatkan aku kopi, kopi manis !” perintah Candra.


“Baiklah pak,” Ardina segera keluar membuat kopi yang di perintah Candra.


Hanya perlu waktu beberapa menit, kopi itu akhirnya sudah jadi, pelan-pelan Ardina membawa kopi itu kepada Candra. Tangan Ardina gemetar membawa secangkir kopi itu.


Bruk…


“Astaga ?” Ardina terperanjak, gara-gara ia tidak melihat kedepan, ia tidak sengaja menambrak dada seseorang, alhasil kopinya tumpah di baju orang itu.


“Kamu itu punya mata tidak sih ? lihat bajuku kotor sekali !” teriak laki-laki itu, Ardina memberanikan diri menatap orang itu.


“Mas Damar ?” batin Ardina.

__ADS_1


Damar terkejut melihat siapa yang menabraknya di depan ruang divisi pemasaran.


“Kamu ? ” ucap Damar.


“Maaf mas, eh pak maksudnya, maaf pak saya tidak sengaja, aduh bagaimana ini ? baju bapak kotor ? saya harus apa pak ? maafkan saya !?” Ardina benar-benar takut Damar akan marah. Ardina takut di pecat karena baru dua hari bekerja.


“Sudah tidak papa, asal jangan ulangi lagi ! ” niat Damar yang awalnya ingin menemui Candra malah harus ia batalkan karena bajunya tertumpah kopi. Ardina masih merasa tidak enak akan hal itu.


“Sekali lagi maafkan saya pak ?!” ucap Ardina pelan.


“Aku baru tau kalau kamu salah satu karyawan ku ? kamu gadis yang di pasar malam itu kan ?”


“Benar pak,” jawab Ardina.


“Selesaikan sana tugasmu ! jangan lupa pel lantainya ! tuh kopinya juga kena lantai ! mau tidak mau aku harus mengganti bajuku,” Damar pun dengan wajah kesal beranjak dari tempat itu. Sementara Ardina pergi ke dapur kantor lagi untuk membuatkan kopi yang baru untuk Damar.


Pertemuan keduanya dengan Damar yang tidak mengenakan membuat Ardina salah tingkah.


“Aku sudah membuat dia marah tadi, aku tidak berani lagi bertemu dengannya, aku harus menghindarinya !” Ardina bertekat sebisa mungkin menghindari Damar selama ia bekerja di kantor.


“Gadis itu kenapa sih selalu bersembunyi saat bertemu aku ? perasaan aku tidak pernah menakut-nakuti nya ?” Damar sebenarnya melihat tingkah Ardina yang setiap kali tidak sengaja melihatnya, Ardina langsung bersembunyi. Namun Damar mengabaikan tingkah Ardina itu.


Hingga tiga minggu berlalu, Ardina masih tetap sama, ia masih tetap bersembunyi jika tidak sengaja melihat Damar. Sore ini sepulang dari kantor, ketika keluar dari lift, Damar yang tidak sengaja melihat Ardina berjalan ke arah pintu keluar langsung memanggil Ardina.


“Hei kamu ?” panggil Damar.


Ardina yang mendengar panggilan itupun langsung kelimpungan, ia mencari cara untuk bersembunyi lagi dari Damar.


“Apa kamu ingin mencari tempat bersembunyi lagi ?” tanya Damar.


Ardina merasa kikuk karena kelakuannya bisa terbaca oleh Damar.


“Saya tidak bersembunyi kok pak, saya tidak punya salah apa-apa kepada bapak, jadi untuk apa saya bersembunyi ?” Ardina berusaha memberikan alasan yang masuk akal.

__ADS_1


“Kamu tidak bisa membohongi saya ! saya bukan orang bodoh, tapi sudahlah, itu sama sekali tidak penting bagi saya”


Ardina hanya tersenyum.


“Apa kamu mau pulang ?” tanya Damar.


“Iya pak, saya mau pulang,” jawab Ardina.


“Hati-hati di jalan !” Damar sebenarnya ingin menawarkan tumpangan kepada Ardina, tapi ia mengurungkan niatnya karena merasa jika dia sampai menawarkan tumpangan maka itu kelihatan aneh. Ardina kan bukan siapa-siapa dia, Ardina hanya sebatas karyawan di kantornya.


“Baik pak !” jawab Ardina.


Damar mendahului Ardina keluar dari pintu kantor. Seperti biasanya hari ini Ardina naik angkot lagi pulang, biaya angkot jauh lebih murah dari taksi ataupun ojek. Untung sore hari angkot di sana masih ada.


“Jadi dia naik angkot ? rata-rata semua orang sekarang naik ojek online, sungguh aneh ?” Damar yang belum melajukan mobilnya dari depan gedung kantor melihat Ardina masuk ke dalam angkot tadi.


Setelah angkot Ardina melaju, Damar pun juga melajukan mobilnya. Damar sudah biasa menyetir mobil sendiri, jadi ia tidak pernah memakai jasa supir. Meskipun Damar adalah orang yang kaya raya tapi ia sangat jarang hura-hura, dia adalah sosok pemuda yang baik, berbeda sekali dengan pimpinan-pimpinan perusahaan yang lain.


Sudah genap sebulan Damar dan Marsha menikah, namun bagi Damar rumah tangganya benar-benar hambar, sama sekali tidak berwarna, bahkan dia dalam sebulan ini baru 3 kali menyentuh Marsha. Damar selalu beralasan sedang lelah setiap kali Marsha menggodanya karena pada kenyataannya Damar memang lelah, entah kenapa dia tidak bergairah menyentuh Marsha. Seperti malam ini, Damar pun juga beralasan yang sama. Meskipun demikian, ia tetap ingin secepatnya punya anak dari Marsha.


“Marsha, kapan ya kita punya anak ?” tanya Damar sambil memeluk Marsha di atas ranjang.


“Mungkin suatu saat sayang ? Bagaimana mau punya anak, kamu saja jarang menyentuh aku ?” protes Marsha.


“Maaf Marsha, gara-gara kesibukanku dan tubuhku selalu lelah, aku jadinya sering tidur duluan,” ucap Damar menyesal, padahal harusnya meskipun dia lelah jika melihat istrinya di rumah lelahnya akan hilang, tapi melihat wajah Marsha tidak mempengaruhi rasa lelahnya.


“Tidak papa sayang,” ucap Marsha lembut.


“Asal kamu tau saja Damar, aku tidak mau punya anak dari kamu, kamu bahkan tidak bisa memuaskan aku diatas ranjang, beda sekali dengan Rendi yang selalu membuatku mendesah hebat saat bercinta, kalau bukan karena hartamu sudah aku ceraikan kamu, sial, kenapa sampai sekarang aku tidak bisa menguras hartanya, gara-gara dia memiliki banyak anak buah aku jadi tidak bisa menyembunyikan sebagian asetnya, untung aku pandai menyembunyikan hubunganku dengan Rendi, aku sudah tidak tahan jadi istrinya, aku mau bebas, aku harus mencari cara lain untuk mengambil hartanya,” batin Marsha.


“Marsha aku lelah, ayo kita tidur, besok aku kerja lagi,” kata Damar.


“Selamat malam Damar sayang,” Marsha langsung mencium singkat bibir Damar sebelum Damar terlelap.

__ADS_1


Selama ini bukannya Damar tidak mampu mencari tau aktivitas Marsha di luar, tapi karena Damar tidak berminat mencari tau kehidupan pribadi istrinya. Entahlah kenapa, Damar pun juga tidak mengerti hatinya sendiri. Meskipun ia memiliki banyak anak buah namun dia tidak pernah meminta anak buahnya untuk memata-matai aktivitas Marsha di luar rumah, karena itu Damar tidak tau mengenai hubungan Marsha dan Rendi.


__ADS_2