My Honey Ardina

My Honey Ardina
Ungkapan dan Perpisahan


__ADS_3

Ardina pergi menemui Damar di hotel tempat Damar menginap. Ia sudah tau kamar nomor berapa kamar Damar. Ardina menghela nafas pelan, setelah itu ia mengetuk pintu kamar Damar. Tidak ada sahutan dari dalam.


“Aku sudah memastikannya tadi dari anak buah mas Damar kalau dia masih ada di kamar hotel, apa dia sengaja tidak mau membuka pintunya ?” gumam Ardina. Ardina tidak tau kalau Damar sebenarnya berdiri di balik pintu.


“Jangan datang ke sini Ardina ! jangan perduli padaku Ardina ! aku tidak ingin hatiku luluh ! aku takut menjadi bodoh lagi !” batin Damar. Damar tau pasti Ardina akan datang ke hotelnya pagi ini setelah melihat Damar tidak masuk kantor. Ia memang sengaja tidak datang ke kantor untuk menghindari Ardina.


“Aku harus jauh-jauh dari dia, aku tidak ingin di perdaya wanita lagi, aku takut dengan mereka, mereka tidak boleh tau kalau aku takut pada mereka,” batin Damar lagi.


Ardina masih setia mengetuk dan menunggu Damar membuka pintu kamarnya.


“Apa dia tidak lelah ? sudah sejam dia berdiri di depan sambil mengetuk ?” batin Damar. Damar masih sama, dia masih betah berdiri di balik pintu.


Beberapa menit kemudian tidak terdengar lagi keberadaan Ardina di luar pintu.


“Apa dia sudah pergi ?” Damar sangat ingin keluar memastikan keberadaan Ardina. Di hatinya ada rasa kecewa jika memang benar Ardina sudah pergi tapi ia tidak mengerti kenapa bisa ia merasakan hal itu. Damar memutuskan membuka pintu.


Cklek…


“Pak Damar…” ucap Ardina sehingga membuat Damar kaget.


“Kamu belum pergi !” Damar berusaha berbicara dengan nada tinggi padahal dia sekarang tidak emosi, sejak tadi malam emosinya sudah reda.


“Aku tidak akan pergi sebelum pak Damar membuka pintu ! asal pak Damar tau aku sejak kecil terkenal sebagai orang yang pantang menyerah,” kata Ardina.


“Berhenti terlalu ikut campur dalam kehidupanku Ardina ! aku malas melihat wajahmu ! pergilah sebelum aku pagi ini memecatmu !” gertar Damar.


“Bukankah aku sudah katakan aku tidak takut dengan ancaman pak Damar ?”


“Kamu jangan terlalu percaya diri Ardina ! kamu harus mengerti posisimu !”


“Aku akan berhenti dari pekerjaanku jika pak Damar mau tapi tidak gratis,”


“Hahaha, kamu berani bernegosiasi denganku ?”

__ADS_1


“Aku hanya ingin pak Damar kembali seperti dulu, jangan biarkan pengkhianatan mantan istri pak Damar membuat pak Damar berubah menjadi binatang !”


“Jangan melewati batas Ardina ! kamu sudah membuatku marah, mulai saat ini kamu aku pecat !” ucap Damar.


Ardina terdiam.


“Jangan muncul di hadapanku lagi ! jangan ikut campur urusanku lagi ! pergi atau aku akan menyuruh anak buahku menyeretmu keluar secara paksa dari hotel ini !” ancam Damar.


“Mas Damar ?”


“Berani kamu memanggilku dengan sebutan mas ?”


“Aku kan sudah mas pecat artinya aku bukan bawahan mas lagi ! sekarang aku bebas memanggilmu dengan sebutan apapun sesukaku,”


Damar kalah argumen.


“Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum aku meninggalkan hotel ini,” ucap Ardina.


“Mengatakan apa ?”


“Apa pedulimu padaku !”


“Karena mas sudah menyelamatkanku waktu itu di pasar malam, hanya dengan mencurahkan rasa kepedulianku ini aku bisa membalas jasa mas Damar, selama aku bekerja kepada mas Damar mas juga tidak pernah memarahiku kecuali sekarang, karena itu aku peduli padamu mas, karena sekarang aku tidak berada di sisimu lagi, aku akan menunjukan rasa peduliku dengan cara lain,” jelas Ardina.


Damar terlihat diam namun dalam hatinya ia merasa bahagia.


“Jika kamu sudah menyelesaikan apa yang menjadi tujuanmu kemari, sekarang pergilah !” perintah Damar.


“Jaga dirimu mas !” Ardina pun pulang.


Sepulang Ardina dari hotel, Damar merasa ada yang hampa dari dalam dirinya, dia menyesal memecat Ardina.


“Ada apa sama jantung aku ? jangan sampai aku luluh lagi hanya gara-gara wanita berbuat baik padaku ? apa aku memang pria bodoh ?” Damar pun langsung menepis perasaannya.

__ADS_1


Damar meraih HP nya dan menghubungi anak buahnya.


“Hallo, bereskan Rendi dan Marsha ! aku beri waktu satu jam, mereka harus mendekam secepat mungkin di penjara !” titah Damar.


Setelah emosi Damar tadi malam redam, Damar memutuskan untuk memenjarakan Rendi dan Marsha saja, ia sudah tidak lagi berniat membuat mereka membunuh diri mereka sendiri.


“Sudahlah ! sepertinya memang aku bukan pria tegaan, biarlah aku puas dengan mereka yang hanya mendekam di penjara,” keputusan Damar.


Di perjalanan pulang ke kontrakan kecilnya, Ardina masih memikirkan Damar. Di dalam taksi ia mulai menguraikan benang rumit tentang bagaimanakah perasaannya sesungguhnya pada Damar. Apakah itu hanya sebagai balas budi atau memang karena dirinya sudah mencintai Damar. Ia mulai bingung tentang perasaannya itu.


“Mas Damar ? aku tiba-tiba merindukanmu ? bukankah baru tadi aku melihat wajahmu ? apa aku sudah gila ?” entah kenapa mood Ardina sekarang berubah drastis. Ia merasa ada bunga-bunga yang menghiasi hatinya sekarang.


“Aku harus mencoba menghubungi mas Damar lagi siapa tau dia mau mempekerjakanku lagi,” Ardina lalu mengambil HP nya di dalam tas nya. Layar HP itu di usapnya untuk membuka kunciannya. Mata Ardina terpaku ketika melihat notifikasi sosial medianya masih banyak sama seperti pertama kali ia meninggalkan Bandung dulu.


“Aku buka saja sebentar,” entah kenapa saat ini hati Ardina begitu ringan membuka sosial medianya yang sudah lama ia tidak pedulikan.


Banyak pesan masuk di sana. Mulai dari teman-teman dokternya, orangtuanya sampai Rizky dan Ririn. Tangan Ardina mengucap layar itu membuka pesan dari mereka semuanya.


“Sayang ! Mama sama Papa merindukanmu, kamu ada dimana ? kenapa nomor mu kamu ganti ? kenapa sosial mediamu tidak aktif lagi ?” Mama.


“Pulanglah Ardina, kamu anak Mama yang paling baik, Mama dan Papa tidak bisa hidup tanpa kamu !” Mama.


“Ardina, aku masih menyayangimu sebagai sahabatku, kamu wanita yang sangat baik, aku berdoa agar kamu mendapatkan pengganti yang lebih baik dari aku,” Rizky.


“Maafkan aku Ardina karena kami kamu pergi ? tolong kembalilah, kami merindukanmu,” Ririn.


“Apa kamu tidak peduli lagi pada rumah sakit ? IGD sangat kacau tanpa kamu, operasi darurat disini sangat melelahkan karena satu dokter bedahnya mengundurkan diri,” Teman Sejawat.


“Sebentar lagi aku akan jadi ibu dan Rizky akan jadi ayah, aku berharap anak ku nanti akan bertemu denganmu, karena kamulah akhirnya aku dan Rizky punya anak, sahabatku yang sangat ku sayangi kembalilah ! kami disini sangat kacau karena di tinggal olehmu,” Ririn.


“Ardina kembalilah, kalau kamu tidak kembali bisa-bisa aku menceraikan Ririn, bisa-bisa juga Ririn setuju bercerai denganku ? kami berdua tidak bisa hidup bahagia jika sahabat kami tidak bahagia, kamu adalah segalanya bagi kami, apa kamu tidak kasihan pada keponakanmu, kami sebentar lagi akan punya anak,” Rizky.


Air mata Ardina tiba-tiba menetes.

__ADS_1


“Apa sudah saatnya aku kembali ? mereka sangat merindukanku ? seperti nya aku sudah sangat lama meninggalkan orang-orang yang berharga untuk ku di Bandung ?” ucap Ardina. Tiba-tiba Ardina terpikir untuk pulang.


__ADS_2