
Rumah berlantai dua masih terlihat sepi itu karena Fiona belum bangun dari tidurnya, sebenar nya gadis itu sudah bangun namun ia enggan untuk beranjak dari kasurnya apa lagi sekarang ia harus bertemu dengan pria yang tidak jelas menurutnya.
“Fiona Cedric, “ Teriak Laura, sudah jam sebelas tapi gadis itu belum bangun juga. Fiona mendengar tapi dia diam saja.
“Setengah jam lagi kamu tidak turun, Momy akan menghubungi Dedy mu, “ Laura melangkah menuju kamarnya. Mendengar itu dengan malas Fiona bangun, kamar mandi adalah tujuannya. Dia mandi begitu lama biarkan saja pria itu menunggu. Mendengar bunyi ponsel membuat Fiona mempercepat mandinya.
Handuk di ambil dengan cepat, Fiona meraih ponselnya. Senyumnya mengembang setelah melihat nama Alex yang menghubunginya.
“Kenapa baru menghubungi aku? “ tanya Fiona.
“Percuma, tidak akan kamu angkat, kamu baru bangun kan? “ tanya Alex memastikan.
Tawa Fiona terdengar, benar yang di katakan Alex percuma dia menelepon tidak akan di angkat juga. Fiona begitu senang mendengar suara alex kekasihnya namun teriakan Laura kembali terdengar membuat Fiona menggerutu kesal.
“Sayang nanti aku hubungi kamu kembali, Momy manggil, “ sambungan telepon di putuskan dengan malas Fiona turun menghampiri Laura yang sedang berada di sofa.
“Mom kenapa cerewet sekali? “ gerutu Fiona menghempaskan bokongnya di samping Laura.
“Momy tidak akan cerewet bila Dedy kamu tidak menghubungi Momy terus. Dedy selalu menanyakan kamu,” Cecar Laura yang kesal.
“Kalian berdua sama saja, selalu menindas. “ gerutu Fiona
“ Cepat pergi, “ suruh Laura, karena dia Pusing Arlon selalu menanyakan Fiona berulang ulang kali.
“ Kenapa Momy yang terlihat tidak sabar, “ Fiona melihat Laura penuh selidik.
“ Hay Dedy mu membuat kepala Momy pusing, “ Fiona terkekeh mendengarnya.
“Bila begitu Momy saja yang bertemu dengan pria itu, “
“Hay, Momy bisa di gantung hidup - hidup sama si tua bangka itu” Fiona terkekeh mendengarnya.
Seorang pria tengah duduk menunggu di sebuah restoran siapa lagi bila bukan David, pria tampan meskipun usianya sudah menginjak kepala tiga tapi David masih terlihat gagah dan menawan. David seorang pengusaha sukses bekerja dan bekerja membuat David belum menikah hingga saat ini.
Bosan sudah pasti, sudah dua jam ia menunggu tapi gadis itu belum juga menampakkan batang hidungnya, apa dia harus menghubungi Arlon lagi?
Mobil berhenti di sebuah restoran dengan gayanya Fiona berjalan mencari pria yang di maksud Dedynya itu.
Melihat seorang wanita yang tampak kebingungan David memutuskan bila itu Fiona. David melambaikan tangan membuat Fiona berjalan ke arahnya.
“Fiona Cedric? “ tanya David memastikan, Fiona langsung duduk tanpa di suruh membuat David tersenyum tipis.
“Bpk yang akan di jodohkan dengan saya? “ tanya Fiona tanpa basa basi matanya menatap David dengan intens. Tidak di pungkiri walaupun sudah tua tapi masih terlihat tampan. David mengangguk membuat Fiona tersenyum sinis.
“Kenapa Bpk mau di jodohkan, kenapa tidak menolak saja, Bpk kan sudah tua masa mau menikah dengan saya, lagi pula saya sudah punya pacar pak, “ucap Fiona tanpa perasaan.
“Kamu punya alasan untuk menolak, aku pun punya alasan untuk menerima perjodohan ini, “
__ADS_1
“Tapi saya sudah punya pacar, “ ucap Fiona sengaja.
“ Tidak perlu kawatir, kita akan merahasiakan pernikahan ini, “ Fiona melotot mendengarnya bagai mana mungkin pria ini bisa berpikir seperti itu tapi ide nya tidak lah buruk
“Apa setelah menikah saya masih boleh berhubungan dengan pacar saya? “ tanya Fiona.
“Terserah asal masih batas kewajaran. “jawab David santai
“Tapi pak, aku mau pernikahan kita tidak ada yang mengetahuinya sekalipun sahabat saya. “
“Terserah, “jawab David melangkah meninggalkan Fiona. Fiona hanya terdiam bagai mana mungkin dia menikah dengan pria yang sudah tua.
Tapi dia tidak mau di sebut tidak bisa menepati janji. Biarkan dia menerima perjodohan ini. Mungkin dengan dia menikah kedua orang tuanya akan terlihat bahagia, Fiona tahu semua yang di lakukan kedua orang tuanya semata mata untuk menjaga dirinya.
“Apa kamu sudah bertemu? “ Kini Arlon yang menghubungi Fiona langsung .
“Hem, “ jawab Fiona dengan malas.
“ Tidak baik bicara sama orang tua seperti itu, “ Ledek Arlon.
“ Sudah Dedy ku yang tampan, Puas,”ucap fiona dengan kesal sedangkan arlon hanya terkekeh.
“ Jika begitu Dedy senang mendengarnya, cepat kembali Dedy tunggu di rumah. “ ucap Arlon dengan senyuman di wajahnya.
“ Bagai mana apanya? “ tanya Arlon heran
“Fiona, apa mereka sudah bertemu, “
“Sudah.”
“Akh, aku sudah tidak sabar, “ seloroh Laura membuat Arlon geleng – geleng kepala. Yang mau menikah siapa yang heboh siapa.
“Kenapa Dad? “ tanya Fiona setelah tiba di rumah.
“Bagai mana?” tanya Laura
“Apa?” Fiona tidak mengerti apa yang di maksud Momy nya .
“Tampan tidak, calon suamimu, “ Laura mengedipkan sebelah matanya.
“Tidak, dia terlalu tua,” jawabnya tanpa ragu.
“Ded, dia terlalu tua buat aku,” Rengek Fiona, siapa tahu Dedynya berubah pikiran.
“Tidak apa – apa sayang,” ucap Laura.
“Jika begitu Momy saja yang menikah dengannya, “ ucap Fiona kesal.
__ADS_1
“Hay Dedy masih ada, “ protes Arlon.
“Nanti Dedy aku carikan Momy baru, yang penting aku tidak jadi menikah dengannya.”
“Jangan macam – macam Fiona, yang terpenting dia belum seperti Dedy kan? “ Tanya Laura dengan serius.
“Memangnya aku kenapa? “
“sudah tua bangka. “ celetuk Laura
“Hay gini - gini aku masih bisa membuat kamu menjerit di bawah tubuhku, “protes Arlon.
“Ck kalian selalu saja, Dad plis, “ Fiona menakutkan kedua tangannya.
“Jalani saja sayang, Momy yakin kamu bisa, “
“Bila dalam satu bulan aku belum bisa mencintainya, aku meminta pisah Dedy dan Momy tidak boleh melarang.”
“Tapi sayang perceraian itu tidak baik, “ sela Laura
“Aku capek mau istirahat, “ Fiona berlari masuk ke kamar, Walau bagai mana pun Fiona begitu mencintai Alex, ada rasa bersalah yang dia rasakan..
Menangis adalah jalan satu satunya, walaupun tidak bisa merubah apapun setidaknya bisa membuat dirinya tenang, semua barang yang ada di kamar tidak luput dari amarahnya.
“Kalian jahat, “ teriak Fiona membuat Laura merasa bersalah.
“Ded, “
“Tidak perlu banyak bicara, “sela Arlon, Laura hanya menghela napas tidak berani membantah ucapan suaminya jika itu memang benar.
Sementara David yang baru saja tiba di kantor hanya menghela napas senyumnya terukir kembali setelah mengingat pertemuannya dengan Fiona.
“Anak itu kenapa tidak berubah sama sekali kenapa semakin terlihat lucu,” Gumam David senyumnya kembali terukir membuat rekan kerjanya begitu heran. Jarang - jarang melihat David senyum seperti itu.
“Kenapa? “ tanya Jek rekan kerja David. “ habis menang togel? “ Tanyanya asal.
“lebih dari itu, “ jawabnya.
“Wah aku jadi penasaran," ucap fiona.
“Jangan terlalu kepo nanti cepat... “
“Mati, “sambung Jek dengan cepat.
Jek langsung terdiam dia memilih meneruskan pekerjaannya dia tidak peduli lagi dengan David yang masih senyum – senyum sendiri.
__ADS_1