
Waktu menujukan pukul delapan diri hari. Matahari sudah menampakkan dirinya namun gadis itu belum juga bangun dari tidurnya beda dengan David yang sudah rapih dengan pakaian santai nya. Sarapan sudah terhidang di atas meja. Selama hidup sendiri David selalu mengerjakan apapun sendiri jadi ya anggap saja dia masih singgel.
Dari pada tidak mengerjakan apapun lebih baiknya mengerjakan berkas berkas yang sudah lama tidak ia kerjakan. Biarkan saja gadis itu toh nanti juga dia bangun kalau sudah teras lapar.
Matahari semakin naik membuat cahaya masuk melalui celah celah jendela Fiona terbangun karena cahaya matahari mengenai wajannya. bantal guling menjadi sasarannya saat ini dengan cepat dia menutupi wajahnya dengan bantal itu.
“Astaga udah jam berapa, “ Fiona mengambil ponselnya dengan cepat ia berlari keluar setelah melihat jam sudah menujukan pukul sembilan.
“Kenapa Bpk tidak bangunin saya? “ ucap Fiona dengan nada kesal.
David diam dengan wajah yang begitu heran, ada apa dengannya? Fiona mandi dengan cepat, jangan sampai Alex menunggu terlalu lama bisa marah nanti.
“Sarapan dulu, “ ucap David yang melihat Fiona akan pergi.
“Nanti saja, “ jawab Fiona.
“Sarapan dulu atau ...! “
“Kenapa Bpk selalu mengatur saya begini sih, saya sudah terlambat. “ cerocos Fiona.
“Sebentar saja, “ ucap David mau tidak mau Fiona menurutinya.
“Mau ke mana? “ tanya David tiba tiba membuat Fiona mendongkak menatapnya.
“Bertemu Alex,” jawab Fiona menaruh piringnya
“Bay bay, “ ucap Fiona sambil berlari David hanya menatapnya tanpa mencegah atau pun melarangnya.
Taxi Online sudah berhenti tepat di depan Cafe dengan cepat Fiona turun karna dia sudah terlambat begitu lama itu semua gara - gara pak tua yang selalu membuat hari harinya terasa membosankan.
“Sory aku terlambat, “ Fiona langsung duduk begitu saja.
“Aku sudah satu jam loh nunggu kamu. “. Alex sengaja merajuk membuat Fiona langsung memeluknya.
“Maaf, “ renggek Fiona.
“Sudah lah, aku sangat merindukan kamu, “ sebuah pelukan Alex berikan Fiona tersenyum dengan bahagia namun ada rasa bersalah yang tersisa di dalam hatinya.
“Hay gaes, “ sapa bela yang baru saja datang bersama Clara.
“Hay, “ jawab Fiona.
“Eric mana? “ tanya Fiona.
“Entahlah, “ jawab Clara.
“Kaya enggak tahu dia aja palingan lagi berantem, “ ledek bela. Tawa mereka terdengar begitu ramai sedangkan Clara memajukan bibirnya
“Akhir pekan ini mau ke mana? “ tanya bela.
“Liburan ke vila Eric aja, “ jawab Clara membuat yang lain menatapnya.
__ADS_1
“Ide bagus, kapan lagi kita hengout bareng. “ ucap bela antusias.
“Kamu ikut? “ tanya Alex
“Fiona udah pasti ikut lah, “ baru saja Fiona ingin menjawab bela udah lebih dulu menjawabnya.
“Iya dong ikut, “ jawab Fiona. Biarkan pak tua itu urusan nanti.
Ponsel bergetar dengan cepat Fiona melihat siapa yang menghubunginya? Hanya nomor saja tidak ada namanya. Dengan malas Fiona mengangkatnya.
“Halo, “ jawab Fiona.
“kamu di mana pulang ini sudah sore, “ terdengar suara David di sana. Fiona kembali melihat layar ponselnya teryata pak tua itu yang menghubunginya dari mana dia dapat nomor ku?
“Hemm, “ takut Alex curiga dengan cepat Fiona mematikan ponselnya nya.
“Siapa? “ tanya Alex.
“Entahlah hanya orang iseng, “jawab Fiona asal. Lebih baik ponselnya di non aktifkan biar pak tua itu tidak mengganggunya lagi.
Tidak terasa waktu sudah menjelang malam sudah jam sebelas malam tapi Fiona belum juga kembali. David yang menunggu dari tadi sudah tidak bisa diam. Sungguh dia sangat kawatir ke mana perginya Fiona. Ponselnya pun sudah tidak aktif.
Suara mesin motor terdengar dari luar, David berjalan melihatnya namun dari balik jendela.
Alex menarik tangan Fiona hendak mencium nya namun dengan cepat Fiona menahan nya. Walau bagai mana pun dia sudah sah menjadi istri orang.
“iya sayang, sudah sana masuk, “ suruh Alex. Filma melangkah dengan perlahan sedangkan Alex sudah pergi menjalankan motornya
Fiona masuk dengan sangat hati hati, pintu di buka gelap yang ia lihat. Dengan pelan Fiona melangkah masuk. Namun detik berikutnya lampu semua menyala membuat Film begitu terkejut. David yang sedari tadi berada di balik jendela akhirnya keluar.
“Dari mana aja sampai selarut ini? “ tanya David sambil bersedekap dada.
“Bpk mengagetkan saya, “ ucap Fiona sambil mengelus dadanya.
“Dari mana! “tanya nya lagi dengan wajah serius.
“Ketemu Alex, “ jawab Fiona tanpa ragu.
“Fiona apa kamu lupa kamu sudah menikah! “
“Apa Bpk juga lupa bila saya sudah punya pacar,” jawab fiona tidak mau kalah.
“Tapi tidak seperti ini, ok kamu aku ijinkan keluar dengan Alex tapi tidak sampai selarut ini! “
“Terserah Bpk saja saya capek, “ Fiona melangkah menuju kamar.
“Fiona aku belum selesai bicara, “ David yang emosi hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar.
David menyabar ponsel nya karena saat itu beda itu bergetar.
__ADS_1
“Halo Mom, “ jawab David karena saat itu Laura menghubunginya.
“Maaf Momy mengganggu kamu malam - malam begini.”
“Tidak apa – apa Mom. “
“Fiona mana, ada yang Momy mau bicarakan sama kalian berdua, “
“Fiona di kamar sebentar David panggil, “
Pintu di buka membuat Fiona berteriak karena pada saat itu Fiona sedang mengganti bajunya namun dengan cepat David memperlihatkan ponselnya,
“Sayang kamu sedang apa? “ tanya Laura dari sana.
“Momy, aku kangen, “ ucap Fiona sambil merapikan bajunya.
“Sama Momy juga kangen sama kalian, Fiona, David! “ panggil Laura.
“Iya Mom, “ jawab Fiona.
“Lusa Momy sama Dedy mau pergi, apa kalian mau ikut? “
“Mau ke mana Mom? “ tanya filna penasaran.
“Oma masuk rumah sakit, jadi Momy berniat pulang sampai keadaan oma membaik, kasihan oma di sana sendiri, sebab itu Momy mengajak kalian. Apa kalian bisa? “
“Aku sih enggak ada acara Mom, tapi, “ mata Fiona beralih melihat David.
“Aku sebentar ya ingin sekali ikut melihat kondisi oma, tapi besok aku ada pertemuan penting dengan rekan bisnis aku Mom, tapi jika Fiona mau ikut silahkan,” Ucap David tidak enak hati.
“Jangan, kalau kamu tidak bisa ikut Fiona lebih baik bersama dengan mu, “ cegah Laura yang tahu betul sifat putrinya itu.
“Tapi Mom, “ fiona ingin protes tapi Laura lebih dulu bicara.
“Ikuti kata suami kamu, “ ucap Laura tampa bisa di bantah
“Mom, aku udah mengerti mana yang boleh atau tidak,” protes Fiona.
“Momy hanya bicara itu saja. Maafkan Momy mengganggu istirahat kalian, baik - baik ya sayang, I Love You, “ panggilan berakhir membuat Fiona menjauh dari tubuh David karena saat itu mereka sedang berpelukan.
“Kenapa Bpk tidak mau ikut? “
“Tadi kan aku udah bilang, aku ada pertemuan penting.”
“Kenapa sih selalu saja buat saya kesal,” Fiona berlari masuk ke kamar tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. kenapa semuanya begitu egois tampa memikirkan perasaan ku.
__ADS_1