
Suara deresnya air hujan begitu terdengar sermiwing angin begitu terasa menusuk seluruh badan. Angin yang begitu kecang membuat tubuh Fiona begitu kedinginan apa karena hujan terlalu deras?
“Mas mau ke mana?” Tanya Fiona. Fiona bingung melihat David keluar kamar membawa selimut.
“Mau tidur aku udah mengantuk, “ Jawab David. Terbiasa tidur di sofa membuat David sama sekali tidak berpikiran untuk tidur di kamar bersama Fiona. Bantal di letakan di sofa iya langgung merebahkan dirinya selimut di tarik hampir menutupi seluruh badannya. Fiona yang berada di dalam kamar begitu kesal, kenapa tidak tidur di sini aja? Dengan perasaan kesal Fiona mendekati David yang sudah menutup matanya. Fiona berdiri di dekat David. David yang merasa ada seseorang di dekatnya perlahan lahan membuka matanya. Dia begitu terkejut melihat Fiona berdiri di depannya sambil cemberut.
“Ada apa? “tanya David heran.
“Tidur di kamar aja Mas di sini terlalu dingin, “ucap Fiona malu.
“Enggak aku di sini aja, aku udah terbiasa tidur di sini, “jawab David, dia sama sekali enggak terpikirkan masalah lain.
“Terserah Mas aja lah saya juga nggantuk mau tidur, “ucap Fiona kesal.
David terdiam tapi tidak lama kemudian iya mengerti apa yang Fiona maksud. David tersenyum kemajuan yang sangat bagus, dia yakin lambat laun Fiona akan mencintainya. Selimut ditarik dengan cepat David berjalan menuju kamar di mana Fiona sedang berbaring di sana. Dengan sangat pelan david naik ke ranjang.
Jantung Fiona berdetak begitu kencang ini pertama kalinya dia tidur satu ranjang dengan seorang pria walau pun itu suaminya. David diam saja iya enggan berbuat sesuatu apa lagi dia tahu Fiona belum mencintainya walaupun Fiona sendiri mengatakan akan mencoba mencintainya.
Perlahan lahan kelopak mata Fiona mulai terbuka Fiona diam saja memandangi David yang tidur di sampingnya. Tidak di pungkiri suaminya begitu tampan. Detak jantungnya kembali terdengar begitu kencang melihat tangan David melingkar di perutnya, dengan perlahan Fiona memindahkan tangan David yang mendidih perutnya. Dengan sangat hati-hati iya turun dari ranjang karena waktu susah pukul tujuh pagi.
Tidak membutuhkan waktu lama Fiona sudah rapi iya ingin segera membuat sarapan sebelum David bangun.
Makanan sudah terhidang di atas meja hanya membuat nasi goreng tidak lah sulit baginya, fiona memandangi nasi goreng yang terlihat sempurna dengan berkata. “Semoga saja rasanya enak, “ Fiona tersenyum puas.
Setelah selesai dengan nasi gorengnya Fiona berniat membangunkan David yang masih begitu nyenyak mungkin karena cuaca yang begitu mendung.
“Mas bangun, “ucap Fiona mengguncang David begitu keras.
“Jam berapa? “ tanya David tanpa membuka matanya.
“Jam delapan, Mas. “
Fiona begitu terkejut melihat David langsung lari begitu saja ke kamar mandi.
“Mas, Mas ada apa? “ tanya Fiona yang begitu terkejut. Tidak mendapatkan jawaban Fiona memutuskan menunggu di meja makan.
__ADS_1
“Ada apa si Mas? “ tanya nya setelah David keluar dari kamarnya.
“Aku lupa kalau hari ini ada meting yang sangat penting. “
“Jam berapa Mas? “
“Aku tanya Jordan sebentar, “ ucap David membuat Fiona mengerut kan keningnya, siapa Jordan? Melihat reaksi Fiona david hanya cuek saja.
Selama david menghubungi Jordan Fiona hanya diam mendengarkan david yang sedang berbicara serius dengan seorang pria yang biasa sebut Jordan itu.
“Jordan bilang meting jam sembilan, “ ucap David setelah sambungan teleponnya terputus.
“Jordan siapa Mas? “ tanya Fiona yang begitu penasaran dari tadi.
“Teman kerja aku, “ jawab david sambil menarik bangku.
“Asisten? “ tanya Fiona. David hanya diam sambil memakan nasi orangnya.
“Saya boleh ikut enggak Mas? “ tanya Fiona membuat David menghentikan makannya.
“Kalau Mas enggak keberatan saya mau ikut, saya bosan terus terusan berada di dalam rumah. “
“Aku sama sekali tidak keberatan sayang, “ seketika wajah Fiona begitu merah menahan malu, baru kali ini mendengar David memanggilnya seperti itu.
Setibanya di kantor Fiona begitu gugup itu karena semua mata melihat ke arahnya. David dapat melihat kegelisahan Fiona iya segera merangkul pinggang Fiona, iya begitu kaget tapi iya biarkan saja.
“Santai saja, “ mereka berjalan tanpa menghiraukan mata yang melihat ke arahnya.
“Pasti simpanan pak David, “ ucap karyawan yang sedari tadi melihatnya.
“Kayanya sih lebih muda juga dari kita,” Ucap temannya.
Fiona dapat mendengarnya ingin sekali rasanya ia merobek mulut wanita itu, kalau tidak sedang bersama mas David sudah iya jambak rambutnya sampai rontok.
__ADS_1
“Kenapa? “ tanya David setelah sudah sampai ruangannya.
“Mas boleh enggak sih saya menjambak rambut wanita itu, “ ucap Fiona dengan nada kesal.
“Wanita mana? “ tanya David pura -pura.
“Wanita ganjen yang ada di bawah tadi, enak aja saya di hilang wanita simpanan“ Fiona berbicara begitu ketus.
“Biarkan saja, “ucap David dengan santai.
“Mas kok gitu, “ film begitu kesal mendengar ucapan David, Fiona hendak membuka pintu namun di halangj oleh David.
“Kamu mau ke mana? “ tanya David dengan heran.
“Mau ngasih pelajar sama perempuan sialan itu, “
“Tidak perlu, biar mereka di urus sama Jordan, sekarang duduk lah, aku ada meting kamu tunggu di sini sebentar jangan ke mana pun, bila ada yang kamu inginkan kamu hubungi saja Mery, “ David hendak melangkah namun dengan cepat Fiona menariknya.
“Siapa Mery Mas? “ Tanya Fiona dengan ekor mata yang begitu tajam, David ingin sekali menggodanya namun waktu yang begitu terbatas membuat iya hanya mengelus rambut lurus Fiona. Fiona begitu kesal David belum menjawab pertanyaannya sudah pergi begitu saja.
Sudah satu jam lamanya Fiona berada di ruangan David namun laki -laki itu belum juga kembali. “Apa saja sih yang di bicarakan mereka kenapa begitu lama sekali,” gerutu Fiona sambil membulak balikan majalah yang sedari tadi iya baca. Pintu ruangan terbuka Fiona melihat ke arahnya dengan wajah yang cemberut sedangkan David tersenyum sambil berjalan ke arahnya.
“Maaf membuat mu menunggu begitu lama,” ucap David tidak enak hati.
“Saya menyesal ikut Mas ke sini, tadi aku pergi saja ke Cafe Clara, “cetus Fiona seraya membuang muka ke arah lain. David hanya tersenyum lebar melihat tingkah Fiona yang begitu mengemaskan.
“Yaudah sebagai permintaan maaf aku sekarang kita pergi belanja, “ mendengar itu fiona langsung bangkit berdiri rasa kesalnya hilang begitu saja terganti dengan senyuman yang terukir dari bibirnya.
“Mas enggak lagi menipu saya kan? “ tanya fiona memastikan, jangan sampai dia sudah begitu senang mas David hanya mengerjainya saja.
“Mana mungkin aku menipu kamu, ayo, “ ajak David menggandeng tangan Fiona, kesempatan tidak boleh di sia siakan, Fiona berjalan dengan begitu senang.
__ADS_1