
Haiii balik lagi bareng Ryntimtam disini. Oh ya, sindrom peterpan hampir sama dengan Little space. Hanya saja yang membedakan adalah jika sindrom peterpan dialami pada seseorang yang tak mau dewasa.
Dia akan selalu bersikap seperti anak-anak karena tak mau mengikuti fase kedewasaan.
Oh dan jangan lupa vote dan komen ya๐
...Enjoy ther reading๐...
.......
.......
.......
.......
Author Pov๐
H+4 setelah menikah.
ANYA menghela napas panjang saat Adit tak mau mengikuti intruksi Dion, dia tak mau menggerakan kakinya walau pelan, tak mau menggerakan tangan kanannya walau sekali.
Adit bagai batu yang hanya diam memperhatikan raut wajah kesal milik Dion.
"Kamu kenapa lagi sih Dit? Kemarin kan udah ada kemajuan, tapi sekarang kok gini lagi." ujar Dion tenang.
Anya sendiri setuju dengan ucapan Dion, terjadi keanehan pada Adit. Dia sama sekali tak mau mengikuti apa yang Dion katakan.
"Adit! Kamu kenapa?" seru Anya tak jauh dari tempat terapi jalan. Adit menoleh, dia hanya memberikan senyum saja pada Anya.
Membuat kekesalan Anya seakan meluap begitu saja. Dia mengelus dadanya sabar "Ayo Adit, mulai lagi yah." bujuk Dion.
Bukan apa, rencana Dion tak akan bisa berjalan sempurna jika Adit tak sembuh. "Huft, Adit. Kamu seharusnya kasihan sama Anya, kalau kamu gini terus dia bisa cari suami baru!" Adit mengerjab pelan.
Kemudian mendengus tak peduli. Hampir saja Dion melempar data ditangannya. "Oke, waktu selesai. Pindahkan Adit ke kursi rodanya Suster." perintah Dion.
Suster dibelakang Adit mengangguk. Dion berjalan menuju Anya "Bisa keruangan Kakak sebentar. Ada hal penting yang harus disampaikan padamu." ujarnya serius.
__ADS_1
Anya mengangguk, dia mengikuti langkah Dion, sedangkan Adit hanya menatap kepergian Anya dengan tatapan nanarnya. Dia merasa bersalah saat ini.
.
.
Anya duduk dikursi biasa dia tempati saat berada diruangan Dion. Dia menanti hal apa yang akan Dion katakan padanya. Hal penting yany berhubungan dengan Adit.
"Begini Anya. Jika Adit seperti ini terus, banyak kemungkinan buruk yang akan menimpanya."
"Salah satunya?"
"Salah satu terburuknya adalah kematian."
"Salah satu yang tidak buruk."
Dion menghela napas panjang "Dia akan lumpuh permanen, dan itu akan menjalar sampai kepalanya. Dia tak akan bisa menggerakan bola matanya, tak bisa bicara, tak bisa menggerakan kepalanya. Dia akan diam saja seperti boneka ataupun mayat hidup."
Anya menunduk, itu berita buruk. "Lalu apa yang harus aku lakukan?" lirihnya.
Dion tak tega melihat Anya bersedih seperti ini "Kamu harus membuatnya semangat kembali dalam terapi. Jika ini terus-terusan terjadi, Kakak gak jamin Adit bisa hidup lebih lama." Anya terdiam, kemudian mengangguk.
Lalu mengelus rambut Anya pelan "Semangat Anya, Adit pasti akan sembuh. Dan rencanaku dalam memisahkan kalian bisa dilaksanakan."
Anya menghela napas lagi, benar. Anya harus semangat demi kesembuhan Adit. Jika bukan Anya maka siapa lagi, tugasnya menikahi Adit untuk menjadi penyemangatnya.
Tapi jika Adit tak menganggap Anya sebagai semangatnya untuk hidup, maka untuk apa Anya berada disamping Adit.
Jika Adit saja tak menganggapnya.
...๐๐๐๐๐...
Sejak berada dimobil 5 menit yang lalu, tak ada perbincangan sama sekali. Hanya diam saja yang ada, Anya tak mengajak Adit bicara sedangkan Adit takut untuk bicara.
"Ada yang mau kamu bilang ke Aku?" tanya Anya datar. Tatapan matanya hanya lurus kejalanan, Adit menatap sendu Anya kemudian menggenggam tangannya.
Tapi Anya melepaskannya begitu saja.
__ADS_1
"Anhh-ya.." lirihnya pilu, Anya bahkan melepaskan pegangan tangan Adit, sakit sekali epribadeh.
"Ada yang mau kamu katakan?" tanya Anya lagi.
Adit menunduk pelan "A-af." bisiknya parau, suaranya terdengar seperti menahan sesuatu. Mungkin menahan tangisan.
"Maaf untuk apa?"
"Khha-khit..kha-ha..."
"Enggak tuh. Kamu gak salah dan gapernah salah."
Adit semakin menunduk mendengar nada sarkas diucapan Anya. Tak terasa air mata mulai turun membasahi pipi Adit.
"Khaa-khit..khaa-ha..heuks..Khaa-khit..ha-mau..khe-hat..heuks..aaaaaa heuks..a-af." tangisnya kuat.
Anya tak menjawab. "Khaa-khit ha-hut..heuks..Khaa-khit..kha-ha-han..nhya-hi-hin..Anhh-ya..heuks..aaaaaa..heuks..a-af..heuks.."
"Kamu gak bakal nyakitin aku kalau kamu sehat Adit."
Adit menggeleng pelan "A-khu..nhha-hat..Anhh-ya..heuks..Anhh-ya..heuks..a-nis..kha-hau..heuks..A-khu..khe-hat..heuks.." tangisnya.
Anya memilih menepikan mobilnya dan mendengarkan ucapan Adit lebih seksama "Aku nangis kenapa?" tanya Anya.
"A-khu..khe-hin-ku..heuks..ha-nti..kha-hu...in-ha..khe-rhai.."
"Makannya kalau sehat nanti, jangan selingkuh biar gak Anya cerain"
Adit mengangguk. "Besok ikuti kata Kak Dion."
Adit mengangguk. "Harus mau sehat,"
Adit ngangguk lagi. "Tugasku nikah sama kamu itu demi membuat kamu sehat Adit. Tapi kalau kamunya tetap gamau sehat setelah nikahi aku, maka sia-sia saja semuanya. Lebih baik aku meninggalkan-"
"HAAAAAAAAAA..heuks..KHA-HO-HEH!!..heuks..ANHH-YAAAAAAAA..hueks...HAAAAAAAAA"
Anya meringis pelan, dia memeluk Adit agar tangisannya berhenti, benar yang Anya katakan, jika Adit tetap tak mau sehat maka untuk apa adanya Anya.
__ADS_1
...Lebih baik Anya pergi saja kan....
...Bersambung๐...