
Jangan lupa vote dan komen yaaa💃.
...Enjoy the reading🍃...
.......
.......
.......
Author Pov🍃
ANYA sesekali melirik ke arah pintu kamar inapnya, tangisan mengerikan milik Adit kembali terdengar hari ini, sudah 2 hari terlewat sejak Anya bangun.
Dan kerjaan Adit hanya menangis didepan pintu sembari mengintip dari kaca yang ada dipintu. Anya gemas sekali, dia menangis sembari memanggil Anya.
"Hiks..hiks..A-NYAAAAAAAA..hiks..huhuuuu..huaaaaaaaaaaaa..hiks..A-dit..hiks..ma-u..hiks..MA-SUUUKKK!!..hiks..HUAAAAAAAAAAA"
kan bener, dia nangis seperti hari kemarin. Anya tertawa pelan, lucu sekali sih wajahnya. Basah karena air mata, hidungnya merah, bibir mungilnya yang bergetar sembari sesenggukan.
"Kamu kenapa ketawa?" tanya Gian tak suka. Anya menatap abangnya itu.
"Ah, Anya lucu aja liat Adit. Kasih aja dia masuk, Anya udah ingat kok."
Gian mendelik, kemudian menggeleng kuat "Gaboleh! Dia harus dihukum karena sudah lalai!." ketus Gian sembari menyuapkan potongan apel kemulut Anya.
"Tapi kan-"
"Shut! Gausah bacot. Sekarang makan lagi terus istirahat."
Anya merengut sebal, dia terus mengunyah apel dengan tatapan mata yang tertuju pada Adit yang terus menangis. Kasihan sih, tapi mereka masih belum bisa bertemu.
Setelah 2 menit menghabiskan apelnya, Gian pamit sebentar ke kamar mandi. Dan kesempatan itu Anya gunakan untuk bertemu Adit.
Dia segera bangun dan turun dari kasur, kemudian berjalan sembari menggeret tiang infusnya. Adit yang melihat Anya berjalan menuju pintu lantas tersenyum lebar.
"A-nya! A-nya si-ni A-nya!" serunya girang.
Anya tertawa pelan, dia membuka pintu kamarnya kemudian melihat Adit yang mengenakan hodie putih oversize, wajahnya terlihat kurus namun bersyukur karena mulut Adit tak lagi terbuka.
Dia sudah berhasil mengendalikan rahang dan bibirnya. "Jangan gitu, iler kamu netes tuh." celetuk Anya sembari menyeka liur Adit yang menetes. Adit tersentak, dia langsung menutup mulutnya rapat.
Anya menutup pintunya pelan, kemudian berjongkok didepan Adit "Kamu kok keluar Nya?" tanya Kardi.
"Bosen dikamar terus Yah."
__ADS_1
"Ayah titip Adit bentar ya, Ayah mau ke kantin. Laper."
Anya mengangguk, setelah Kardi pergi Anya kini berfokus pada Adit "Gamau peluk Anya apa nih?" tanya Anya pura-pura ngambek.
Adit menggeleng, kemudian bergerak kedepan guna menempelkan tubuhnya ke tubuh Anya, tangan kanannya memeluk punggung Anya.
"Ka-ngen..hiks..A-dit..hiks..ka-ngen A-nya..hiks..huhuuu"
Anya mengelus bahu Adit pelan "Anya juga kangen sama Adit, selama ini Adit gak nakal kan?" tanya Anya.
Adit menggeleng. "A-ditkan..a-nak..hiks..ba-ik.." gerutunya sebal.
Anya mengangguk, dia menciumi bahu Adit berulang kali, betapa dia merindukan Aditnya ini. Sangat amat merindukannya.
"Udah makan?"
"U-dah."
"Pake apa?"
"Bu-burlah..e-mangnya hiks..bi-sa..ma-kan..hiks..apa-lagi..se-lain..hiks..bu-bur.."
"Oh iya, bener juga."
Mereka masih asik berbincang didepan kamar Anya, sebenarnya Gian tak ke toilet, cuma pura-pura dan kali ini dia biarkan Anya berduaan bareng si Adit sopo jarwo itu.
.........
Adit tersenyum amat lebar nan manis kali ini, dia bahagia karena akhirnya Anya diperbolehkan pulang, tapi sedikitnya ada rasa kesal karena Abang iparnya ikut pulang ke rumah mereka.
Bukan Fian ataupun Rian, tapi Gian tanpa T.
"Jadi selama abang disini, Anya gaboleh deket-deket sama Adit. Paham?" titah Gian tak terbantahkan.
Adit mengerutkan dahinya tak suka, apa-apaan ini. Dia gak dibolehin deket sama istrinya, peraturan macam apa ini!?. Gian yang sadar hal itu kini mendelik.
"Apa!? Kau mau melawan!?." semburnya galak. Adit menggeleng pelan. "Eng-gak..bang.." ujarnya malas.
Dia memilih meraih tangan Anya dan menggenggamnya erat, kemudian menciumi telapak tangan Anya. Sesekali menjilatinya "Rin-du..A-nya..ba-nget.." lirihnya melas.
Anya terkekeh pelan, dia mengusap pelan kepala Adit, kemudian dia mencium punggung tangan Adit lama. Dan juga beralih pada pipi embul Adit.
"Anya juga rinduuuu Adit."
Mereka asik uwu-uwuan, tanpa sadar jika ada satu jomblo karatan yang mupeng gara-gara aksi mereka. "Bujang, sopankah begitu?" sinis Gian kesal.
__ADS_1
Anya dan Adit menoleh "Sipapasi paga." celetuk Anya random, Gian mendelik kesal, dengan sengaja dia menarik telinga Anya.
"Ngelece ya sama Abang. Mau abang lelepin di kolam lele!?"
"Pasipapa paga? Sipapasi papasi papasi paagaaa."
Gian semakin kesal sedangkan Adit tertawa geli. Lucu sekali melihat wajah tampan Gian memerah menahan emosi, dengan cepat dia menggeret kopernya dan berjalan menjauh.
"Ah abang, kamarnya ada disebelah ruang cuci. Santuy aja kamarnya luas kok!" seru Anya saat Gian sudah agak jauh, Gian menggerutu kesal dan hanya memberikan jari manisnya.
Agak sopan begitu kan?.
Anya tertawa melihat kekesalan Gian padanya, memang lebih asik gangguin Bang Gian ketimbang 2 lainnya. Jika menganggu bang Fian maka dia akan berceramah panjang kali lebar.
Jika dia menjahili Bang Rian maka pria itu akan menangis dan mengadu pada Ibu mereka. Tapi jika menjahili Gian, maka mereka akan baku hantam saat itu juga. HAHAHHAHAH.
Namun sayangnya, baku hantam tak lagi mereka lakukan, karena pernah sekali mereka lakuin itu.
Dan tali beha Anya langsung putus seketika. Alhasil Anya berteriak histeris dan menendang nunut serta bola pingpong milik Gian.
Sejak saat itu, mereka gapernah baku hantam lagi. Hehe.
Anya kini berjongkok didepan Adit, dia menciumi seluruh sisi wajah milik Adit, apalagi kali ini Hipersalivasi milik Adit sudah berkurang banyak.
Dia hanya liuran disaat bangun tidur, kelaparan, lagi bengok, ataupun jika lagi terpesona.
"Kangen banget sama Adit, kangenku ini asli no tipu-tipu club." gumam Anya lembut.
Adit tersenyum tipis, dia menyentuh pipi Anya dan mendekatkan wajahnya, dengan perlahan dia mencium bibir Anya lembut dan **********.
Anya hanya terdiam membeku, tak membalas ******* Adit. Saat napas mulai terasa sulit barulah Anya mendorong tubuh Adit dan meraup udara sebanyak mungkin.
"Hahhh, hampir mati aku." desah Anya lega, dia memegang dadanya dan terasa sangat berdebar.
Dia melirik Adit yang hanya menatapnya dengan mata sayu "A-ku..mau.." bisiknya lirih, napas hangatnya menyapu wajah cantik Anya.
"Kamu mau apa Dit?" tanya Anya lembut. Dia menahan kedua tangan Adit yang hendak membuka 2 kancing kemeja teratasnya. "Dit!?" serunya panik.
Serasa mau diperkosa heyyy.
Adit mencium bibir Anya lagi "Ma-u..A-nya.." lirihnya, dia sesekali melenguh pelan. Anya melirim kebawah dan terlihatlah bagian tertentu disana menggembung.
Jangan bilang. "I-tu..u-dah..gak..ka-ku lagi..ja-di..a-ku..mau.." bisiknya berat.
...Anya meneguk ludahnya kasar, sial. Adit tengah menagih hak nya sebagai seorang suami pada Anya....
__ADS_1
...Bersambung🍃...