
...Haiii balik lagi bareng Ryntimtam disini. Oh ya aku mau beri kalian 1 informasi, bahwa Demensia tidak selalu terjadi pada orang yang sudah tua....
Terkadang remaja dan orang dewasa juga sering mengalaminya.
Oh ya dan jangan lupa vote dan komen ya🍃.
...Enjoy the reading🍃...
.......
.......
.......
.......
Author Pov🍃
ADIT diam, tapi matanya terus memperhatikan gerak-gerik Anya saat ini. Anya tengah menyetrika pakaian sembari duduk dikarpet berbulu.
Sedangkan Adit duduk disofa dengan tayangan Avengers di tv, setelah selesai berenang tadi pagi. Anya kembali memandikan Adit dan memakaikannya pempers.
Tak lupa menyuntikan makanan dari selang dihidung Adit.
Seharusnya sekarang Adit tidur siang, tapi dia tak mengantuk sema sekali saat ini. "Anhh-ya.." panggilnya pelan, dia kembali meraih 2 lembar tisu dan menyeka liurnya.
Anya berhenti menyetrika, kemudian menoleh kebelakang "Ada apa?" tanya nya.
Adit diam. "Kenapa Adit?" tanya nya lagi.
Adit tetap diam, Anya mendengus sebal kemudian melanjutkan setrikaannya. Adit bingung mau ngapain, akhirnya dia memilih untuk melatih bibirnya.
Adit menggerakan tangan kanannya menuju rahang bawahnya, kemudian menaikan rahangnya agar tertutup, tapi hasilnya malah.
"Uhuk!!" dia kesedak liurnya sendiri, Anya tersentak dan menoleh lagi. Dengan cepat dia bangkit dan mengelus punggung Adit agar batuknya berhenti.
"Kamu ngapain sih!? Bisa sampe kesedak gitu." oceh Anya kesal, dia khawatir Adit kenapa-napa. Adit menatap sedih Anya, bibirnya bergetar pelan.
"A-af.." cicitnya takut.
Anya menghela napas panjang, bukan maksudnya marah sama Adit, cuma Anya khawatir jika Adit sakit atau segala kemungkinan buruk lainnya.
Gadis itu memeluk Adit erat dan mengelus punggungnya "Aku gak marah, cuma jangan diulangi lagi. Aku khawatir Adit." Adit mengangguk patuh.
Adit menatap Anya begitu Anya melepaskan pelukan mereka, perlahan Adit menempelkan bibirnya ke pipi Anya.
Membuat gadis itu shock. "Anhh-ya.." cicit Adit, dia takut gadis itu jijik dengan liurnya. Tapi yang dia dapatkan adalah serangan pelukan dan ciuman bertubi dari Anya.
"Menggemaskan!" serunya tak terkendali.
Adit hanya mampus tertawa geli saat serangam bibir dari Anya menyerang wajahnya. Tapi tak apa, yang penting Anya senang.
"Oh iya Dit."
__ADS_1
"Eung?"
"Besok bakalan ada temen aku yang datang, dia mau nginap disini 3 hari. Gapapa kan?" mau bagaimana pun Anya perlu meminta izin pada Adit karena pria itu adalah suaminya.
Adit mengerjab pelan. "Khi-ha-ha?" tanya Adit, dia takut jika nantinya Anya akan malu jika temannya melihat kondisi Adit.
"Sahabat aku, namanya Depri."
Adit diam, boleh atau tidak ya?
"Kalau gak boleh juga gak papa kok."
Adit menggeleng pelan "Ho-heh, kha-ha-pa." jawab Adit.
"Boleh, gapapa"
Anya ragu jadinya "Serius?" tanya Anya memastikan. Adit mengangguk pelan "He-iyush" balasnya.
Anya mengangguk "Makasih sayang."
Gapapa kan? Gak papa kan mengizinkan teman Anya disini? Tak akan ada masalah kan?. Tapi Adit punya perasaan aneh tentang ini.
Apa yang akan terjadi ya.
"Dit. Bau gosong."
Adit mengerjab pelan, begitu juga dengan Anya. Tapi seketika mata gadis itu melebar dan dia langsung turun dari atas tubuh Adit.
Adit hanya tertawa pelan "Han-hi, khe-hi, kha-hi" ujar Adit menenangkan kericuhan yang Anya sebabkan.
Anya merengut "Tapi ini kemeja pemberian Depri.." lirih Anya sedih, kemeja hadiah dari Depri saat ulang tahun Anya yang ke 17 tahun.
Adit terdiam, segitu sayangnya Anya dengan Depri sampai menyesali kemeja yang gosong bolong itu. Jujur, Adit cemburu dengan kalimat itu.
...Ternyata Anya masih menyimpan barang pemberian pria lain....
...........
PRANG!!
Adit memejamkan matanya erat saat pecahan piring terdengar sangat nyaring, dengan takut dia membuka matanya dan menatap kearah pelaku pelemparan piring.
Disana, istrinya, gadis kesayangannya tengah mengatur napas memburu akibat emosinya. Wajahnya merah padam, darah menetes dari sela jari Anya akibat pecahan piring.
Tangan Adit gemetar "A..-nya." cicitnya takut.
Anya menatapnya penuh amarah.
"Kenapa kamu berubah sih Dit, aku jadi jahat karena harus ngomong gini. Kamu brengsek setelah sehat, aku nyesel pernah semangatin kamu buat sembuh. Tapi yang aku terima dari kerja keras aku nyembuhin aku itu NOL! Gak ada sama sekali Adit!!" marah Anya.
Dia mengusak kasar rambut indahnya dan kembali menatap Adit yang hanya berdiri gemetaran karena takut.
"A-nya..a-ku..bi-sa..je-la-sin." lirih Adit memohon, air mata sudah menggenang dipelupuk matanya. Liur yang sudah dinyatakan hilang dan terkontrol kini kembali keluar.
__ADS_1
Adit tak bisa menahan sesak, kepalanya pusing dan liur keluar semakin banyak. Anya sendiri hanya mendengus dingin.
"Udah berapa bulan Dit?" tanya nya dingi.
Adit diam saja, dia masih ketakutan saat ini. Kakinya terasa lemas tak bisa digerakan. Ini seperti seolah Adit akan kembali lumpuh.
Anya menggeram. "UDA BERAPA BULAN ADIT!?" jeritnya emosi disertai air mata yang jatuh dari kedua matanya. Anya gabisa diginiin, sakit sekali hatinya.
Adit memejamkan kembali matanya, bibirnya bergetar kemudian berkata "Du-a...hiks..bu-lan.." isaknya.
Anya terpekur, hatinya serasa diremat sampai hancur menjadi bubur. "Ha..hahaha, bagus. Selama itu dan aku baru tau sekarang, hebat sekali." desisnya geram.
Adit menggeleng ribut, dia berjalan mendekati Anya dan menahan tangannya, tapi Anya menghempaskan tangan Adit sampai siempunya jatuh kelantai.
"Hiks..A-nya..hiks..de-ngerin..a-ku..du-lu.." mohonnya.
Anya menggeleng singkat "Aku mau cerai. Aku lebih mencintai Adit yang cacat daripada Adit yang sehat." Adit membeku.
Dia tak bisa berbuat apapun karena kakinya mati rasa, sama seperti dulu saat dia lumpuh. "A-nya..hiks..A-NYA!!..hiks..A-NYA..JA-NGAN..TING-GA-LIN..hiks..A-KU!!..HUAAAAAAAAAAAAA A-NYA KU-MOHON..hiks.." Adit berusaha mengejar.
Dia menyeret kedua kakinya dan mengesot menuju pintu keluar, dimana Anya sudah berlalu pergi menggunakan mobil miliknya.
Meninggalkan Adit yang menangis histeris sendirian disana.
"hiks..A-NYAAAAAA!!"
klik!
"ADIT BANGUN!!"
Adit membuka matanya segera, napasnya terengah-engah dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.
Dia melirik Anya yang menatapnya khawatir "Kamu mimpi buruk?" tanya Anya pelan, dia membantu Adit duduk dan bersandar dikepala ranjang.
Meraih tisu guna menyeka air mata dan keringat diwajah Adit. Adit masih diam, Anya masih disini, masih bersamanya.
Seketika dadanya sesak, air mata menetes kembali "Heuks..Anhh-ya..heuks..HAAAAAAAA ANHH-YAAAAAA" dia menjerit histeris sembari memeluk Anya erat dengan tangan kanannya.
Anya kaget tentu saja, ada apa dengan Adit, kenapa dia menangis sehisteris ini.
Baru kali ini Adit menangis histeris dan Anya tak tau penyebabnya apa, dia hanya mampu mengelus punggung Adit dan menenangkannya.
Ada apa dengan suaminya ini.
Aku gamau sehat, aku takut apa yang aku mimpiin jadi nyata. Aku takut nyakitin kamu kalau aku sehat, aku gamau sehat. Biarin aja aku cacat asalkan kamu tetap disamping aku. Racau batin Adit.
Dia sangat takut dengan mimpinya tadi, serasa nyata dan sangat menyeramkan.
Adit..jadi was-was dengan dirinya sendiri, bagaimana jika yang tadi adalah gambaran masa depan setelah Adit sehat?
...Apakah..akan seperti itu?...
...Bersambung🍃...
__ADS_1