My Lumpuh Husband

My Lumpuh Husband
14


__ADS_3

Jadi kan aku mau buat cerita Female Alpha sama Male Omega, tapi bukan werewolf. Ini cuma dunia yang pake sistem Alphaxomega.


Belum aku buat sih, nunggu Nerd Boyfriend tamat aja. Bentar lagi tuh tamat.


Oh ya, jangan lupa vote dan komen yaπŸƒ


...Enjoy The readingπŸƒ...


.......


.......


.......


Author PovπŸƒ


ADIT terisak pelan, dia sudah dibawa pulang kerumah Ayah dan Bundanya, mau tak mau Adit harus menurut. Jika tidak dia tak akan pernah bertemu dengan Anya lagi selamanya.


Dia saat ini sedang maka, dan tentu saja disuapi. Jihan dengan telaten memasukan bubur kemulut anaknya, dia begini saja sudah bahagia.


Melihat Adit yang tak perlu lagi makan pakai selang, sudah biaa dikunyah walau harus memakan waktu yang sangat panjang.


"Uda dong, anak Bunda jangan nangis terus. Ini buburnya lagi, terakhir ini." Jihan menyeka air mata dipipi Adit yang kembali jatuh.


"Hiks..Nda..hiks..A-nya..hiks.." adunya pelan.


"Iya bunda tau, Anya pasti segera bangun."


"A-dit..hiks..ha-ngen..hiks..A-nya.."


"Kalau Anya sadar, nanti kamu ikut kesana ya."


"Hiks..he-ner?"


"Iya nakku."


Adit tersenyum mendengarnya, setidaknya dia boleh bertemu Anya jika Anya sudah sadar nantinya. Itu membahagiakan Adit yang tadinya tengah dirudung duka.


Tak lama, Kardi masuk keruang santai dengan membawa laptopnya. Adit menatapnya lekat. "A-yah." panggilnya.


Kardi menoleh "Kenapa Nak?" tanya nya lembut.


Adit menimbang apakah dia harus mengatakan ini atau tidak. "S-o-al..ra-cun..i-tu" ujarnya perlahan. Kardi lantas mendekat dan berjongkok didepan Adit.


"Ada sesuatu yang kamu tau?" tanya Kardi perlahan.


Adit mengangguk. "Ke-ma-yu"


"Kemayu? Siapa?"


"He-pri."

__ADS_1


"Oh si Depri. Ada apa dengannya?"


"Di-a..yang..kha-sih..ra-cunnya."


Mereka terdiam "Kamu gaboleh asal tuduh Nak." tegur Jihan. Bibir Adit mengerucut sebal "Pe-riksa..a-ja..C-c-tv..ru-mah." lah iya juga ya, rumah mereka kan ada Cctvnya.


Kardi tersenyum lebar, dia mengusak gemas rambut Adit "Pintar banget anak Ayah. Makasih ya Dit." Adit mengangguk diselingi senyum senangnya.


Adit teringat akan satu hal, pasalnya saat Anya pergi kepintu rumah pagi ini. Hanya tersisa dia dan Depri dimeja makan, dan tanpa Depri sadari jika Adit tak sebodoh itu.


Ruang makan ada Cctvnya, dan tindakan Depri tertangkap jelas disana. "Nah selesai, ayo ganti popoknya lalu kita tidur ya." Jihan berdiri, dia meletakan piring bekas makan Adit kemudian mendorong kursi rodanya.


"Nda."


"Kenapa Dit?"


"A-dit...b-i-sa..s-e-mbuh..kan?"


Jihan mengangguk yakin "Bisa dong, buktinya aja kamu udah mulai bisa ngomong lancar. Itu sebuah kemajuan yang bagus, baru nanti perlahan kamu bisa jalan." ujar Jihan.


Adit mengangguk, hal yang dia takutkan hanya 1 selain perselingkuhan, yaitu Demensianya kambuh.


Disaat Demensianya kambuh, Adit bagaikan bayi baru lahir. Tak tau apapun, dia hanya bisa menatap langit-langit rumah dengan nulut terbuka.


Tak lupa dengan liurnya. Bahkan jika bisa, dia pasti akan berteriak histeris.


...Semoga saja dalam waktu dekat, Demensianya tak akan kambuh. Masalah belum selesai dan akan runyam jika demensianya kambuh....


Buagh!


"Ampun bang! Depri ngaku salah bang!" seruan itu tak Gian perdulikan, dia masih asik memukul dan menendang tubuh Depri. Sampai suara milik Fian menghentikannya.


"Sudahlah Gian, dia bisa isdet." celetuknya malas.


Gian mengatur napasnya yang ngos-ngosan, dengan geram dia kembali menendang Depri sampai tersungkur "Babinye! Berani kau meracuni suami Anya! Bangsat!" semburnya marah.


Depri meringis pelan, kemudian mengesot menjauh. Sakit njir badannya. Gian menyugar rambut hitam lebatnya dan berjalan mendekati Fian.


"Gimana Anya? Udah sadar belum?" tanya nya. Fian menoleh sekilas kemudian mengangguk "Tapi ada sedikit masalah akibat dari racun itu."


"Hah? Apa dia?"


Fian menghela napas lesu, rumit sekali kondisi yang adiknya alami ini, Fian ragu jadinya. "Woi Fian! Ada apaan?" sentak Gian kesal.


"Gini, Anya mengalami kerusakan pada memorinya."


Gian terdiam, raut wajahnya menunjukan ketidak percayaan atas ucapan Fian barusan. Fian yang sadar itu lantas melanjutkan ucapannya.


"Itu hanya efek samping, pas dia sadar nanti mungkin dia gabakalan ingat siapa-siapa." jelas Fian lesu.


Gian menggeleng pelan "Hanya sementara kan?" tanya Gian memastikan. Fian mengangguk pelan.

__ADS_1


"Yaudalah kalau cuma sementara, tapi kalau tadi selamanya baru aku bertindak. Enak aja Anya kesayangan mau ngelupain abang yang selalu kasih dia uang jajan."


Fian hanya menatap malas Gian yang masih mengoceh sendiri, lebih baik dia pergi kerumah sakit dan menjenguk adik kecil tersayanganya.


"Oh ya, kalau Anya lupa. Terus nasib si Adit sopo jarwo gimana?" tanya Gian kepo.


Fian mendelik, suka-suka dia aja ganti nama anak orang. "Ya mana kutau!" ketus Fian.


"Dih, Pms kau Fian?"


"Bacot!"


"Ciee yang Pms nih yee."


"Gian otak lo korlset apa gimana sih!?"


Gian tertawa pelan "Udalah, ngapain marah-marah. Santai aja mah." Fian hanya mendengus kesal, terkadang Fian tak suka pada sifat lain Gian, menyebalkan, sangat menyebalkan.


...πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ...


Jihan berusaha menenangkan Adit yang terus menangis histeris, masalahnya sejak mereka datang kerumah sakit karena berita sadarnya Anya.


Justru itu yang membuat Adit shock setengah hidup. "Dia kenapa nangis sih Bu?" tanya Anya yang merasa terusik dengan tangisan Adit.


Aulia menepuk pelan bibir Anya "Gaboleh gitu sama suami sendiri!" tegurnya.


Anya mendelik "Sejak kapan Anya nikah sama dia!?" ketusnya tak suka.


Adit yang mendengar itu sakit hati, dia menatap Anya dengan mata sayu berurai air matanya. "Heuks..Anhh-ya..heuks..hu-pa..heuks..sa-ma..heuks..A-diiiiit huaaaaaaa" tangisnya histeris.


Anya menutup kedua telinganya "BERISK!!" jeritnya kesal. Kepalanya berdenyut hebat mendengar tangisan Adit.


Teriakan Anya membuat Adit semakin menangis histeris. "HUAAAAAAAAAAAAAA ANHH-YAAAAAAAAAAA" para orang tua bingung harus apa.


"Bu..kepala Anya sakit..suruh dia keluar bu.." lirih Anya, kepalanya makin berdenyut kuat. Azran dengan sigap memeluk tubuh mungil putrinya itu.


"Maaf ya Kardi, Jihan. Kayaknya untuk sementara sampai efek racun itu hilang. Adit jangan ketemu Anya dulu." ujarnya segan.


Jihan dan Kardi mengangguk mengerti. "Kami paham, kalau gitu kami pulang dulu ya. Semoga Anya cepat sembuh." ujar Jihan.


Aulia dan Azran mengangguk, saat Kardi hendak mendorong kursi roda Adit, pria itu malah memegang kuat besi pinggiran ranjang Anya.


"Da..heuks..Da-mauuuuu!!...heuks..A-dit..heuks..mau..heuks..S-A-MA..ANHH-YAAAAAAAAAA!!" raungnya tak terkendali.


Kardi menghela napas panjang, kemudian melepaskan cengkraman Adit dengan sedikit memaksa. Kemudian mereka keluar dari kamar inap Anya.


Teriakan dan raungan Adit masih terdengar bahkan sudah menggema dilorong rumah sakit.


...Kasihan sekali..ckckckckckc....


...Bersambung πŸƒ...

__ADS_1


__ADS_2