
Haiiii rindukah kalian padaku heuum? Kayaknya enggak. Ada yang nungguin ini up? Kayaknya enggak. Ada yang tau racun Ricid? Kayaknya enggak.
Racun Ricid, adalah racun alami yang diekstraksi dari biji minyak jarak. Ini bisa masuk ke tubuh manusia lewat inhalasi, suntikan, atau konsumsi.
Ini menghambat kemampuan tubuh Anda untuk membuat protein daengan menghambat sel untuk merakit asam amino yang diperlukan. Ujung-ujungnya membuat tubuh menjadi shock dan menyebabkan kematian.
Oh, jangan lupa vote dan komen ya, banyak-banyak dong. Aku kangen liat notif komen dari kalian💔.
...Enjoy the reading🍃...
Author Pov🍃
20 menit setelah sarapan, Anya saat ini tengah mencuci piring bekas makan mereka tadi. Ditemani Depri yang asik memainkan laptopnya dimeja bar.
Dan Adit yang tengah menonton kartun kesayangannya. Dora the explorer.
"Anya, gue mau pulang nih ntar sore." celetuk Depri tanpa memandang kearah Anya.
"Oh, bagus tuh."
Depri mendecih pelan "Lo gak kangen ama gue ntar?" tanya nya sedikit ngambek. Anya terkekeh pelan, kemudian meletakan piring dan cangkir cuciannya.
Dia mengeringkan tangannya dengan kain lap, lalu melepas celemek gambar muka Adit dari tubuh idealnya.
"Ngapain gue kangen sama lo, kemayu." cibirnya bercanda. Depri mendengus sebal kemudian melanjutkan pekerjaanya.
Anya berjalan menuju ruang santai, dia hendak memeriksa keadaan Adit. Biasanya Adit akan bersuara jika menonton tv, tapi kini dia diam saja.
"Iih, o-doh!..i-tu..g-u-nung-nya..ish!..o-on." omelnya sebal. Nah baru ini dia bersuara lagi.
"Adit, sayang-"
Deg-Deg!
Jantung Anya tiba-tiba berdetak semakin cepat, dan juga berdenyut serta sesak diwaktu bersamaan. Dia meremat kausnya erat. Napas saja terasa susah untuk keluar, apa yang terjadi.
"Heuuk!!..uhuk..A-dit.." rintihnya saat napas mulai sulit dilakukan. Adit menoleh, matanya langsung melotot tak percaya.
"A-NYA!?" teriaknya histeris.
Depri sampai tersentak, dia berbalik dan melihat Anya sudah meringkuk dilantai dengan tangan yang terus meremat kausnya. Segera Depri berlari kearah Anya dan menggendongnya.
"Nya! Nya bertahan, sebentar Anya!" racaunya panik, Adit tak bisa melakukan apapun. Bahkan ketika Depri pergi menjauh dengan Anya digendongannya yang sudah banjir keringat dan busa mulai keluar dari mulutnya.
Mata Depri bertubrukan dengan Adit, giginya bergemelatuk kuat "Lo racuni dia kan!? Lo nyuruh dia minum susu yang udah lo racuni kan!?" serunya emosi.
Adit tak bisa mengelak, memang dialah yang meminta Anya meminum susunya. Tapi sumpah Adit gak ada maksud apapun.
"LO GAK BERGUNA ADIT! SEANDAINYA GUE GAADAK MUNGKIN ANYA UDAH MATI KALAU SAMA LO!"
Adit membeku, ucapan itu serasa menghantamnya kuat sampai hancur, menyakitkan sekali, benar..Adit gak berguna..
Adit tak bisa jalan, mau tak mau dia menggerekan kursi rodanya dengan tangannya. Dia bergerak cepat menuju telepon rumah. Tangannya bergetar hebat dan detak jantungnya tak kalah cepat.
__ADS_1
"Hiks..A-nya..hiks..ja-ngan..ting-galin..hiks..A-dit." racaunya pilu.
Dia mendial nomor orang tuanya terlebih dahulu. Ini mengerikan, Adit tak tau jika hal mengerikan ini akan menimpanya.
Kenapa ada racun? Siapa yang masukin racun itu? Kenapa Anya?
Semua pertanyaan itu terus berseliweran dikepala Adit. Dia sampai tak tau harus berbuat apalagi jika Anya meninggal akibat racun itu.
Adit akan kembali kesepian, dia akan kembali terpuruk dan keadaannya semakin buruk.
..........
ADIT tak henti-hentinya menangis, sampai membuat rahangnya kembali kaku dan mulutnya tak mau lagi menutup. Bahkan mulutnya semakin menganga lebar.
Jihan berulang kali menyeka air mata dan liur Adit.
"Nda..heuks..nda..heuk..Anhh-ya..heuks..Anhh-ya..nda..heuks.." adunya pada Jihan. Jihan menahan air matanya sekuat tenaga, dia memeluk putranya erat.
Aulia dan Azran sudah datang, dan mereka sedang menunggu penjelasan dari Adit maupun Depri setelah Dokter keluar dari ruang operasi.
"Jagoan ayah gaboleh nangis, harus kuat ya Nak. Kalau kamu nangis terus entar Anya sedih, berhenti nangis ya." ujar Kardi lembut.
Adit tak perduli, dia terus menangis sampai sesenggukan sendiri.
"Anhh-ya..heuks..a-af..heuks..huhuu..heuks..a-af..heuks.." masih terekam jelas wajah pucat dan penuh kesakitan dari Anya tadi, membuat Adit gemetar dan menangis semakin kuat.
"Aaaaaa!!..heuks..Anhh-yaaa..heuks..khaa-han..heuks..khi-ha-hin..a-khu..heuks.."
Yang paling dewasa dan terlihat arogan dengan segera melihat mereka dengan tatapan tajam. "Kenapa kalian gak kasih tau kami soal pernikahan Andin? Apa kami gak berhak tau soal adik kami?" tanya nya langsung.
Aulia dan Azran mengkode Jihan agar diam, begitu juga pada Kardi. Biar mereka yang menangani putra mereka ini.
"Bukan begitu Gian. Kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian sampai tidak sadar jika adik kalian sudah tidak tinggal bersama kami lagi di rumah." ujar Aulia tenang. Namun tatapan matanya dingin mengintimidasi.
Fian berdecak sebal, dia baru pulang dari Tur keliling dunianya karena acara Fashion Show internasionalnya, pulang-pulang malah dapat kabar dari pembantu kalau adiknya udah nikah. Bahkan saat ini masuk Rumah sakit lagi.
"Tapi gak gini juga Bu, kami inikan saudara Anya. Ibu gak anggap kami sebagai abangnya sampai-sampai keadaannya dirahsiakan seperti ini?" tudingnya pada Aulia.
Aulia menghela napas malas "Tanya diri kamu sendiri, ponsel yang tak pernah aktif. Sekedar mengabari kami saja kau tak mau, bagaimana bisa Ibu mengabarimu soal Anya." ketusnya kesal.
Fian terdiam, telak. Memang benar dia sangat sulit untuk dihubungi.
"Ibu, tapi tentang pernikahan Anya..ibu juga merahasiakannya dari Rian. Padaha Rian gak sesibuk mereka Bu, tapi kenapa..hiks..ibu tega.." diantara yang lain memang Rianlah yang terlalu cengeng.
Dia menurunkan sifat cengeng dan manja Azran. Rian sesenggukan, dia tak malu menangis padahal usianya susah 25 tahun "Maaf, Ibu lupa." jawab Aulia santai, tapi malah membuat tangis Rian semakin kuat.
"Huaaaaaaa Ibu jahaaat!..hiks..Rian gak suka ya!" raungnya kuat kemudian memeluk ibunya.
Masya Allah, badan El-men hati Dancow. Ckckckck.
Gian tak memperdulikan tangisan adik keduanya. Dia menatap kearah Adit yang masih memangis sesenggukan dipelukan Jihan "Siapa orang ini?" tanya nya datar.
Mereka tersentak. "O-oh, dia adalah Adit. Anaknya Tante Jihan dan Om Kardi." jawab Azran lembut.
__ADS_1
Gian menaikan sebelah alisnya "Dia siapanya Anya?" tanya nya lagi.
"Dia suaminya Anya" Celetuk Aulia datar. Raut Gian yang semula datar kini berganti, menjadi keras dan ketat.
"Ibu nikahin adik Gian, demi ngerawat laki-laki gak berguna ini!? IBU TEGA NIKAHIN ANYA SAMA PRIA YANG GABISA BUAT DIA BAHAGIA BU!? Baik fisik maupun batinnya tak akan bahagia." urat-urat leher Gian menonjol.
Dia emosi, benar-benar emosi.
Jihan dan Kardi tak mengelak, karena memang begitulah kenyataannya. Anya menikahi Adit demi merawat dan menjaganya.
Hening, hanya ada suara tangisan sesenggukan Adit dipelukan Jihan. Tak lama pintu operasi terbuka dan menampilkan Dokter yang nampak lelah. Terlihat dari raut wajahnya.
"Dok, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Fian langsung.
Dokter menghela napas panjang "Kami berhasil mengeluarkan racunnya, tapi untuk beberapa waktu Nona Anya dinyatakan Koma karena racun sempat merusak sistem saraf otaknya. Tapi syukurlah tak ada efeknya. Hanya rasa pusing yang akan hadir saat dia tersadar nanti."
Gian kembali berang. "Racun? SIAPA YANG BERANI MERACUNI ADIKKU!?" teriaknya emosi.
Mereka juga tak menyangka, jika penyebabnya karena racun. Mereka kira Anya jatuh dari tangga atau terpeleset dikamar mandi.
"Adit yang ngeracunin Anya bang."
Mereka semua menarik napas kaget, Adit? Si cacat itu yang ngasih racun? "Kamu jangan sembarangan! Adit gak mungkin gitu!" seru Jihan emosi.
Depri mendengus sinis. "Dia ngasih racun ke susu yang Anya minum. Tanya aja sama orangnya langsung, orang jelas aku lihat juga." ujar Depri santai.
Kardi langsung melepaskan pelukan Adit bersama Jihan kemudian menatapnya lembut. "Benar itu Adit? Adit kasih minum Anya susu?" tanya Kardi tenang.
Adit sesenggukan. "Heuks..i-iya..heuks..kha-pi..heuks..ha-dit..heuks..ngak..heuks..kha-sih..khra-cun..heuks..huhuuuu...heuks..Anhh-ya.."
"Jelas kan, dia emang udah niat jahat-"
"Kau tau, tapi kenapa kau tak menghentikannya?"
Depri kicep saat mendengar pertanyaan Aulia. Menantu manisnya tak mungkin ngeracuni Anya, jelas-jelas Adit bucin banget sama Anya kok.
"Y-ya, k-karena-"
"Gagap lo?"
Depri tersentak, kemudian mendecih dan pergi berlalu dari sana. Sedangkan Gian kini menatap datar dan penuh permusuhan pada Adit. "Dia gaboleh jenguk Anya selama dirumah sakit." perintahnya mutlak.
Mendengar itu membuat Adit pucat, dia menggeleng berulang kali "G-AK!!..heuks..HA-NGAN..heuks..Ha-dit..heuks..kho-hon..Aaaaaaa heuks..huhuuuu." tangisnya histeris.
Dia mencondongkan tubuhnya, berusaha berdiri, tapi sayang kakinya masih mati rasa dan membuatnya malah jatuh ke lantai. Dia menangis memelas.
Adit gamau gini, dia mau disamping Anya saat gadis itu masih tak sadarkan ini. "Anggap ini sebagai hukumanmu karena lalai dalam menjaga Anya." setelah berkata seperti itu, Gian dan kedua lainnya pergi.
Mereka harus menyelidiki sesuatu, dan Adit hanya bisa meraung kuat, dia tak mau begini, Adit gamau dilarang seperti ini. Bagaimana jika dia nanti kangen sama Anya?.
...Apa yang akan Adit lakukan!?....
...Bersambung tahun depan🍃...
__ADS_1